Seni Seviyorum Aisyah
Makan Bersama Raka
"Tante gak mau makan?" tanya Raka saat mendengar Adiba ingin pergi ke mall.
Aisyah masih menggenggam tangan Bundanya menahan agar tetap di sampingnya namun Adiba tentu paham maksud Raka mengajak Aisyah makan malam diluar jadi dia memutuskan untuk tidak ikut campur urusan anak muda tugasnya hanya mengawasi saja di sini.
"Iya Bunda kenapa gak ikut makan bareng kita saja sih?" ujar Aisyah dengan wajah nelangsa, dia sangat gugup jika berduaan dengan Raka.
Adiba tersenyum kepada Aisyah yang menurutnya masih sangat polos, "Gak apa-apa sayang, Bunda mau belanja sebentar nanti juga kalau sudah selesai akan balik lagi lagian, ini kan acara kalian. Nak Raka Bunda titip Aisyah!"
"Siap Bunda," sahut Raka seraya tersenyum, mata Aisyah menatap Raka penuh tanda tanya. "Eh gak apa-apa kan Raka manggil Bunda juga?" Raka terkekeh karena sejak tadi dia juga begitu canggung dengan Bundanya Aisyah.
"Iya gak apa-apa kok, ya sudah Bunda pergi dulu ya!" Adiba mengusap kepala Aisyah dengan lembut sebelum berlalu pergi.
Kini tinggalah Raka dan Aisyah berdua dengan suasana hati yang begitu dingin bersamaan dengan debaran jantungnya yang terus menompa, Aisyah berusaha menahan dirinya agar bersikap biasa dan menutupi perasaan hatinya saat ini sedangkan Raka sendiri tidak pernah bosen untuk memandang cewek depannya yang begitu anggun dan cantik alami ya itulah Aisyah.
Raka berdekhem sebelum mengatakan sesuatu untuk menghilangkan kecanggungan ini, "Aisyah kamu mau makan apa? biar aku yang pesan," ujarnya sembari memberikan daftar menu kepada Aisyah.
"Seafood aja deh, aku lagi ingin makan seafood," sahut Aisyah setelah melihat daftar pada menu makanan di restoran ini.
"Wah baru saja aku mau mesan seafood, kamu kebetulan ingin makan seafood atau emang suka?" tanya Raka mengetahui selera makan Aisyah sama dengannya.
Aisyah tersenyum. "Hmm aku memang asli suka seafood sih kamu sendiri?" Kini giliran Aisyah yang bertanya tentang makanan yang Raka sukai.
Raka menangguk mengiyakan, "Ya aku memang suka, waah apa mungkin Tuhan sudah menakdirkan kita untuk berjodoh ya hehehe." Raka bergurau mengetahui hal itu.
'Aishh kenapa dia terus berkata seakan-akan tidak ada wanita yang akan baper dengan perkataannya, tahan Aisyah kau harus menahannya' gumam Aisyah dalam hatinya.
"Jangan bercanda, cepatlah pesan aku sudah lapar nih!" kata Aisyah menyuruh Raka untuk segera pergi agar dia bisa bernapas lega.
"Baiklah." Raka pun mengangkat tangannya memanggil pelayan wanita yang sedang berdiri tidak jauh darinya, "Mba saya mau mesan seafood dua porsi dengan es teh manisnya dan jus alvucadonya," ujar Raka kepada pelayan itu sembari melihat menu makanannya.
Tidak bisa dibohongi oleh Aisyah bahwa Raka memang sangat bisa dalam mengajak cewek jalan Aisyah jadi penasaran apakah Raka pernah berpacaran atau tidak jika pernah siapa cewek beruntung yang pernah menjadi kekasihnya Raka.
"Baru kali ini loh aku makan dengan cewek yang selera makannya sama denganku," ungkap Raka sembari tersenyum menunjukan deretan giginya yang rata.
"Kalau sama Hawa gimana?" tanya Aisyah memberanikan diri.
"Dia mah alergi sama seafood Syah, kamu kan sahabatnya masa gak tau?"
"Emang biasanya kamu makan apa kalau jalan sama Hawa?" Aisyah penasaran dengan apa yang dilakukan oleh Raka dan Hawa ketika berdua.
"Gak pernah makan diluar aku biasa makan bareng di rumahnya sendiri itu pun bersama Ummiku," ungkap Raka. "Makan bareng kamu itu berbeda dengan yang lain Syah."
'Hah, maksudnya apa ya?' pekik Aisyah mendengar apa yang barusan cowok itu katakan.
"Berapa banyak kamu mengajak cewek-cewek makan? aku kira kau sudah berubah ternyata masih playboy juga." Jujur saja Aisyah jadi begitu sensitif dengan perkataan jujur Raka.
Raka menatap Aisyah dengan sendu sembari menyeringai, "Kamu cemburu Aisyah?" goda Raka sembari terkekeh.
"Buat apa aku cemburu, yang benar saja kau Raka?" sahut Aisyah dengan rasa kesal di sana. "Apa hakku untuk cemburu?"
Raka terkekeh karena berhasil membuat Aisyah kesal karena ucapannya tiba-tiba pelayan datang dengan membawa nampan yang birisi makanan dan minuman yang Raka pesan.
"Silahkan di makan tuan!" ujar wanita itu sembari menunduk sopan.
Aisyah menerima makanan tersebut tapi mendadak ponselnya berdering menampilkan pesan dari seseorang, "Aku ke kamar mandi sebentar ya!" katanya dan berlalu pergi setelah mendapatkan persetujuan dari Raka.
Fatimah mengirim pesan kepada Aisyah untuk menanyakan keadaan sahabatnya itu namun mendengar bahwa dia sedang bersama dengan Raka hal itu membuatnya terkejut bukan main dia takut Raka sedang mempermainkan perasaan sahabatnya lagi. Fatimah langsung menelpon Aisyah.
"Mengapa bisa terjadi Syah, bukankah kamu sudah berjanji akan melupakannya apa yang sebenarnya terjadi denganmu Aisyah?" seru Fatimah dengan nada kesal karena sebelumnya Aisyah tidak menceritakan apa-apa dengannya.
"Sebelumnya aku sudah berjanji dengannya Fat, maafkan aku belum bisa cerita kepadamu tapi kamu tenang saja aku pastikan setelah ini aku tidak akan lagi bertemu dengan Raka." Fatimah mengerut heran bukan maksudnya menyuruh Aisyah untuk menjauhi Raka, "Sepertinya kamu salah paham Syah, aku tidak pernah menyuruhmu untuk menjauhi Raka yah, aku hanya khawatir tapi yasudah selamat bersenang-senang ya ingat besok kita akan pergi ke pantai kau tidak lupa bukan?"
"Iya aku tidak akan melupakannya," sahut Aisyah sembari menganggukan kepalanya di pikirannya kini penuh dengan banyak rencana dan ambisi yang ingin dicapai.
Tidak ingin mengganggu acara Aisyah, Fatimah pun memutuskan untuk mematikan teleponnya, "Ya sudah selamat bersenang-senang ya! pikirkan terlebih dahulu sebelum memutuskan suatu tindakan apapun yang akan kau lakukan, aku akan selalu mendukungmu ingat baik-baik Aisyah dah assalamualaikum."
'Pikirkan terlebih dahulu sebelum memutuskan suatu tindakan! seketika aku merasa ragu apakah tindakanku akan berakhir dengan rasa sesal atau justru kebahagian?' gumam Aisyah sembari memandang ponselnya dengan pikiran yang entah ke mana.
Setelah membasuh wajahnya dengan air Aisyah kembali menghampiri Raka yang sepertinya habis menerima telepon juga.
"Ada apa?" tanya Aisyah bermaksud menanyakan apakah terjadi sesuatu dengan seseorang di telepon.
Raka meletakan ponselnya di atas meja, "Kau tahu adikku Ameera kan?" ujar Raka memberi jeda saat Aisyah mengangguk dia kembali melanjutkan perkatannya, "Dia ingin sekali diajari olehmu dia mengagumi selama ini tapi aku selalu mengabaikannya jika dia bertanya kamu kepadaku," ungkap Raka sudah lama dia ingin memberitahu tentang adiknya tapi Aisyah selalu menjauh saat itu.
Berita itu membuat Aisyah kaget, "Ameera megangumiku? atas dasar apa dia mengagumiku jelas-jelas kakaknya jauh lebih hebat dariku," kata Aisyah dari sudut pandangnya terhadap Raka.
Mendengar itu Raka tertawa kencang, "Hahaha yang benar saja kau Aisyah aku sama seperti laki-laki pada umumnya kaulah yang luar biasa sudah cantik, muslimah, pintar pula wajar saja anak-anak di sekolah membicarakanmu."
'Tapi kenapa kau tak tertarik denganku Raka?' pekik Aisyah yang jelas hanya berani berkata dalam hati saja, Raka mengambil jus alvucadonya yang sudah setengah begitu pun dengan Aisyah yang memang sejak tadi merasa haus.
"Sudah berhenti merendah semua orang tahu kau cowok yang pintar," seru Aisyah yang tidak mau kalah.
Raka membetulkan duduknya, "Kau terus memujiku Aisyah padahal kau tahu betul kekuranganku, aku rasa semua cewek yang menyukaiku mereka salah besar jelas-jelas Reyhan paling pantas mendapatkan itu semua," lirih Raka dengan tersenyum getir yang terkadang pikirannya selalu mengarah ke sana.
"Setiap orang mempunyai kekurangan dan kelebihan, aku sengaja tidak memuji karena aku merasa kamu akan bersikap arogansi maaf jika pendapatku salah tapi itulah yang aku lihat darimu dan ingat tidak semua cewek suka karena kelebihanmu saja mungkin dari kepribadian atau ketulusan hatinya," tegas Aisyah dengan sedikit emosi dia mencoba memperbaiki cara pandang Raka terhadap cewek yang menyukai dirinya termasuk dia sendiri.
Kini Raka kembali melahap makanannya, "Kau mau bermain ke rumahku dan bertemu dengan Ameera?" katanya setelah menghabiskan nasi di mulutnya.
"Boleh, kabarkan saja kapan waktunya Rak, jujur aku masih tidak percaya kau begitu berani sekali bertemu dengan ke dua orangtuaku aku kira kau tak akan berani melakukan itu," ujar Aisyah dia masih merasa ini semua hanya mimpi, dia bisa pergi dan makan berdua dengan Raka.
"Aku bukan laki-laki pengecut dan cara itulah yang bisa aku lakukan untuk mengajakmu keluar, apakah sebelumnya kamu tidak pernah diajak makan sama laki-laki Aisyah?" Ya Raka begitu penasaran apakah Aisyah pernah jalan dengan laki-laki atau tidak.
Dengan cepat Aisyah menggelengkan kepalanya, "Memangnya kau kira aku sedekat itu dengan laki-laki hah? aku lebih suka jalan dengan sahabatku dibanding dengan laki-laki yang hanya bisa bersikap manis didepan tapi hatinya masih mencari-cari wanita lain."
Raka terkekeh. "Woww, kau memang pandai berkata-kata Aisyah btw makasih sudah mau makan malam bersamaku, habiskan aku sudah membayar banyak untuk makanan ini," jelas Raka dengan tersenyum.
Adiba saat ini sudah selesai berbelaja namun tidak langsung menghampiri Aisyah dia lebih memilih untuk minum di depan caffe itu sembari mengawasi putrinya dan laki-laki yang tidak asing di telinganya.
Bagaimana menurut kalian apakah Adiba mengetahui bahwa selama ini anaknya diam-diam telah menyukai Raka atau memang mencurigai dari gerak-gerik anaknya? sehingga nama Raka tidak asing lagi ditelinganya dan dia pun membiarkan ke dua anak muda itu untuk berbincang-bincang.