Seni Seviyorum Aisyah
Pentingnya Kebersamaan
Aisyah sedikit menyesal karena tadi lupa untuk bertanya tentang hubungan Raka dengan Hawa, apakah sahabatnya itu akan baik-baik saja saat Raka pergi dengannya? "Ah Hawa mengapa kita terjebak dalam cinta segitiga? Aku tidak mengira jika kamu dan Raka memiliki hubungan adik kakakan, yang nyatanya itu adalah hubungan pacaran yang tertunda, kalau misalkan kalian saling suka kenapa gak pacaran aja kenapa harus adik kakakan? Mentang-mentang Hawa adalah adik kelasmu Raka," oceh Aisyah berdialog sendiri.
Setelah mengetahui kebenaran itu Aisyah diam dan sedikit cuek dengan Hawa entah kenapa hatinya begitu sakit ditambah lagi sikap Hawa begitu sinis terhadapnya seakan-akan tidak menyukainya padahal awalnya mereka sahabatan hanya karena lelaki mereka jadi salah paham dan bertengkar meski hanya menendang kekesalan dalam hati saja.
Pagi harinya Aisyah terbangun di jam tiga pagi dia kaget karena lagi-lagi Raka hadir dalam mimpinya, Aisyah merasa telah memiliki Raka di dunia mimpi bukan di dunia nyata diraihnya ponsel miliknya yang terletak di atas nakas.
Jam di ponselnya menunjukan jam 03:25 WIB dengan perlahan Aisyah bangkit dari tidurnya, selagi dikasih kesempatan sama sang yang maha kuasa untuk bangun di jam segini dia pun tidak ingin meninggalkan salat tahajud yang pahalanya sangat luar biasa apalagi doa-doa yang kita ucapkan setelah salat tahajud itu termasuk doa yang cepat dikabulkan oleh Allah SAW, dan Bundanya pun pernah mengatakan bahwa 'jika seseorang dibangunkan di pagi hari petang itu artinya Allah sedang rindu kepada kita dan menginginkan kita untuk menghadap kepada-Nya (melaksanakan salat tahajud)'
Dingin itulah sensasi yang Aisyah rasakan saat tangannya terkena air keran rumahnya, kau tahu Aisyah sangat tidak suka dengan dinginnya air hingga kini tidak dia telah menyelesaikan wudhunya dengan cepat tapi sempurna.
"Asyhadu allaa ilaaha illallaah, wahdahu laa syariika lahu, wa asyhadu anna muhammadan 'abduhu wa Rasuuluhu. Allahumma j'alnii minat tawwabiina, waj'alnii minal mutathahiriina waj'alnii min 'ibaadikash shalihiina." Aisyah melafadkan doa setelah berwudhu dengan pelan.
Entah mengapa air mata Aisyah menetes ketika dia melantunkan surat arrahman saat rokaat ke dua rasa bersalah atas perbuatan selama ini, hingga saat berdoa pun air mata Aisyah masih menetes dia mengalir begitu saja meski sudah mencoba untuk berhenti pikirannya teringat akan para sahabat-sahabatnya.
Sudah dua hari Aisyah mengajar TPA di yayasan Umminya Fahri ada rasa senang dalam dirinya ketika ilmu yang dia punya bisa bermanfaat bagi orang lain, Aisyah juga sudah melaksanakan bimbingan tahfidznya bersama Ummi Riska asal Aceh itu dia juga lulusan Kairo Mesir banyak sekali pengalaman yang ingin Aisyah dengar darinya mengenai belajar di negara luar dia juga tidak ragu-ragu bercerita mengenai impiannya untuk bisa kuliyah di Turky.
Setelah melaksanakan salat tahajud Aisyah membaca al-quran sembari menunggu hingga adzan subuh berkumandang terdengar ketukan pintu yang Aisyah duga itu adalah Bundanya yang ingin membangunkan dirinya.
"Kamu sudah bangun, Nak?" tanya Adiba saat melihat anaknya memakai sudah memakai mukena.
"Alhamdulillah Bun, tadi aku terbangun jam tiga," jelas Aisyah dengan nada lirih.
Adiba tersenyum mendengarnya, "Apa kamu sudah berkemas ingin pergi liburan?" tanyanya membawa Aisyah masuk ke dalam.
Ya seperti biasa Aisyah tidak dapat menyembunyikan perasaannya kepada Bundanya itu yang selalu bisa menebak atau mungkin pirasat orangtua sangat tajam kepada anaknya.
"Aku hanya sedikit bingung Bun, mendadak aku tidak ingin pergi meninggalkan orang yang aku sayangi Bun." Aisyah bercerita dengan lirih kepada Bundanya yang ingin tahu apa yang sedang Aisyah rasakan sehingga wajahnya terlihat murung padahal ingin pergi untuk jalan-jalan.
Setelah kemarin mendapat kabar jika Aisyah lolos tes Ytb Turkey dia merasa bahwa setiap kebersamaannya dengan sahabatnya sangat begitu penting, dia ingin menghabiskan waktu untuk bersama mereka sebelum pergi meninggalkan merantau menimba ilmu pengetahuan dan meraih masa depan yang cerah.
"Itu memang hal biasa sayang apalagi dua bulan lagi kamu bakal lulus sekolah jadi itu hal yang wajar, ingat di setiap pertemuan pasti ada perpisahan dan kita gak boleh menyesali pertemuan itu apalagi melupakan orang-orang yang sudah menyayangi kita." Aisyah menjelasan persoalan yang anaknya alami.
Mendengar penjelasan Bundanya Adiba membuat Aisyah mengerti akan arti sebuah pertemuan yang memang sudah ditakdirkan oleh sang kuasa, 'kalau gitu aku berterima kasih karena sudah dipertemukan dengan orang-orang baik seperti sahabat-sahabatku itu' gumam Aisyah dalam hatinya.
Saat sedang asik bercerita dengan Adiba ponsel Aisyah berdering menampilkan pesan dari grup persahabatannya yang sedang membahas liburan dan grup kelasnya yang membahas tentang ujian kelulusan.
*Reyhan
"Sudah jangan membahas ujian dulu sekarang kan waktunya liburan nikmati saja liburan kalian."
*Rian
"Gue setuju sama lo bro @Reyhan."
*Fatimah
"Jangan lupa datang ya gays besok gue ulang tahun jangan mentang-mentang liburan kalian gak datang, gue tunggu kado-kado dari kalian semua wkwkw canda kado."
*Reyhan
"Gue lupa maaf besok ada acara keluarga jadi gak bisa datang."
Perkataan Reyhan saat itu membuat Fatimah kesal dan memancing semua teman-teman kelas untuk bergosip tentang hubungan atau kedekatan Reyhan yang tidak ada arah, ngena banget sih Aisyah jadi kasihan dengan Fatimah tapi dia juga menyalahkan Reyhan yang sudah memancing teman-temannya yang sudah tahu suka bergosip dan julid.
"Bunda mau masakin kamu udang dan cumi ya untuk bekal kalian di pantai," ujar Adiba sembari tersenyum hangat.
"Ah tidak usah Bun, aku malas bawa bekal saat jalan-jalan aku lebih suka beli langsung di sana," jelas Aisyah dengan wajah cemberut, "Ya sudah aku mandi dulu Bun aku takut mereka akan sampai duluan."
Jam sudah menunjukan pukul tujuh pagi Aisyah dengan bergegas menyiapkan dirinya dia berharap ini adalah hari yang menyenangkan baginya dan sahabat-sahabatnya, tidak lupa dia pun membawa kacamata dan baju salinan untuk pergi liburan ke pantai.
"Assalamualaikum Aisyah!" seru Fatimah saat diberikan izin untuk masuk ke rumahnya Aisyah oleh sang supir.
"Waalaikumsalam hay Fatimah, apakah yang lain sudah siap?" Aisyah keluar dari kamarnya saat mendengar suara Fatimah yang menggema di seluruh ruangan rumahnya.
Jika bukan hari yang bahagia dia mungkin sudah mengomel karena sikap Fatimah yang seperti itu di dalam rumahnya, betapa terkejutnya Aisyah melihat penampilan Fatimah yang begitu cantik dengan rambutnya yang digerai serta memakai kaca mata.
"Kalian sudah mau pergi?" Adiba muncul dari balik dapur mendengar percakapan Aisyah beserta Fatimah.
Fatimah pun menghampiri Adiba dan mencium tangannya dengan sopan, "Sudah Bun kita pamit pergi berlibur dulu ya Bun, jika mau oleh-oleh katakan saja biar aku yang akan membelinya untukmu."
"Hehehe, kamu bisa saja Fatimah terserah kamu Bunda tidak pernah meminta sesuatu namun jika dikasih tentu saja akan diterima," terang Adiba sembari terkekeh.
"Baiklah Bunda, ya sudah kita berangkat dulu ya Bun," kata Fatimah sembari berpamitan. "Sini biarku bawa tasmu Aisyah!" ujar Fatimah meraih tas yang dipegang Aisyah.
Aisyah mencium Bundanya dengan lembut, "Dah aku pergi dulu Bunda salam untuk Ayah jika pulang nanti!" katanya dan berlalu pergi menyusul Fatimah.
"Hati-hati Nak!" seru Adiba sedikit teriak.
Aisyah menoleh sebelum menghilang di balik pintu, "Baik Bunda, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, Aisyah anak yang begitu aktif dan ceria dia berbeda dengan Katya yang cenderung menghabiskan waktunya bersama buku dan al-quran, sikap Mas Haris yang terus mengatur Aisyah malah akan membuat gadis itu tidak merasa kepuasan, Bunda percaya sama kamu Nak kalau kamu bisa jaga diri kamu baik-baik," lirih Adiba yang masih memandang senyuman Aisyah yang sedang bercanda dengan para sahabatnya.