SIMPANGAN RASA

Karena Aku Ingin Memberikan Jaminan

“Aku ingin kita menikah secepatnya.” Ujar Bintang yakin.

“Bin, ini pernikahan loh. Kita tidak bisa tergesa-gesa. Aku juga belum mengatakan semuanya kepada Ayah dan Bunda.” Rayu seketika gelagapan.

“Bukankah kemarin Ayah sama Bunda sudah tahu tentang kita? Kamu bilang, kamu sudah bicara pada mereka kalau kamu dan Bagas memutuskan pertunangan kalian.”

“Iya. Kalau itu tentu saja aku sudah membicarakannya. Tapi aku belum menyampaikan apapun tentang rencana kita untuk menikah. Lagian kan kamu juga baru bilang sekarang tentang pernikahan. Kemarin-kemarin nggak ada tuh obrolan ini.” Rayu memberengut sedikit kesal.

“Oke Rayu sayang. Aku ngaku deh kalau aku yang salah. Habis mau bagaimana lagi. Aku sudah benar-benar tidak sabar untuk segera menikah denganmu. Kalau boleh sih, aku maunya besok.”

“Hei, ini pernikahan bung. Semua butuh proses. Nggak bisa seenaknya aja. Apalagi ini pernikahan impianku. Menjadi yang pertama untuk kita dan semoga saja ini menjadi pernikahan yang terakhir.”

“Amiin... aku juga berharap kalau aku menikah hanya sekali seumur hidup. Apalagi dengan kondisiku saat ini. Tapi kalau aku meninggal, kamu harus janji bahwa kamuakan menikah lagi dan hidup bahagia dengan penggantiku.”

“Bintaaaaannngggggg... itu mulut coba dijaga dulu. Kalau ngomong jangan suka sembarangan deh.” Rayu setengah berteriak karena marah.

“Hehehe... iya maaf maaf maaf. Aku nggak akan mengulanginya lagi deh. Tapi ngomong-ngomong, bagaimana tanggapan Ayah dan Bunda saat kamu menceritakan tentang aku? Kamu kan belum cerita semuanya. Aku penasaran loh. Apalagi aku tokoh utama dalam cerita kamu itu.”

Rayu menerawang. Mengingat kembali kejadian beberapa hari lalu ketika dia menceritakan pertemuannya dengan Bintang. Awalnya kedua orang tua Rayu senang mendengar kabar keberadaan Bintang. Namun, suasana berubah hening dan mencekam ketika Rayu mengatakan hubungannya dengan Bagas telah kandas. Apalagi saat Rayu sampai pada cerita kalau dirinya lebih memilih Bintang untuk menemani hari-harinya kelak. Ayah sampai tersedak mendengar semua penuturan Rayu. Bunda diam tidak bereaksi saking kagetnya.

Keheningan itu berlangsung selama hampir sepuluh menit. Ayah dan Bunda kompak memandang wajah putrinya itu dalam-dalam. Untunglah tidak ada orang lain selain mereka bertiga. Jadi pembicaraan ini tidak melebar kemana-mana.

“Ray, kamu serius dengan ucapanmu itu?” Seperti biasa, suara Ayah akan terdengar pelan tapi menyudutkan. Rayu sering merasa segan jika berhadapan dengan Ayah yang penuh wibawa.

“Iya Ray. Bunda nggak mau anak Bunda ini mengambil keputusan ketika sedang emosi. Coba kamu pikirkan lagi baik-baik Ray. Kamu pertimbangkan dengan matang. Kamu harus tahu semua resikonya. Jangan menuruti nafsu atau ego sesaat. Nanti kamu menyesal.” Akhirnya Bunda mampu bersuara. Bunda menghampiri Rayu dan duduk di sebelahnya. Perlahan Bunda mengusap kepala Rayu. Kasih seorang ibu yang tidak pernah mengenal akhir.

“Maafkan Rayu ya Ayah. Maafkan Rayu, Bunda. Rayu tahu kalau kabar ini pasti mengejutkan Ayah sama Bunda. Tapi Rayu sudah yakin dengan keputusan ini. Rayu dan Bagas juga sudah membicarakan semuanya. Justru Bagas yang memutuskan pertunangan kami. Bagas meminta Rayu agar tetap berada di sisi Bintang. Tidak meninggalkannya dalam kondisi apapun. Bagas juga sudah bicara langsung dengan Bintang. Rayu janji, Rayu dan Bagas hanya putus sebagai tunangan. Kami kembali ke status semula yaitu sebagai sahabat dekat.”

“Tapi tetap saja keputusan ini pasti sangat berat untuk Bagas.” Sela Bunda.

“Rayu tidak punya pilihan juga Bun. Bagas sudah menentukan semuanya dan bilang kalau ini yang terbaik untuk kami.”

“Ayah paham apa yang Bagas pikirkan. Bagas tahu kamu dan Bintang masih saling mencintai. Bagas tidak mau kamu terus menerus dibayang-bayangi masa lalumu. Apapun keputusan kalian, Ayah tidak bisa ikut campur terlalu jauh. Tapi Ayah minta kamu dan Bagas bisa sama-sama dewasa menyikapi semuanya. Ingat, keputusan kalian ini melibatkah dua keluarga, bukan hanya kamu dengan Bagas. Ada Ayah Bunda dan orang tua Bagas juga.” Ayah mengingatkan. Semua kata-kata penuh dengan intonasi penekanan.

“Ray, lagian ya Bunda masih tidak habis pikir. Kenapa sih kamu mau aja kembali ke Bintang? Padahal apa yang kurang dari Bagas. Bunda tahu banget gimana cintanya Bagas sama kamu. Dari dulu loh Bagas itu selalu ada untuk kamu. Kalau Bunda jadi Bagas sih ya mending Bunda cari perempuan lain aja. Ngapain capek nungguin kamu. Terus sekarang tiba-tiba aja kalian putus. Padahal udah tunangan dan tinggal menentukan tanggal pernikahan. Bunda malu sama keluarga Bagas. Bunda juga sedih membayangkan bagaimana hancurnya perasaan Bagas.” Bunda tetap saja menyesali keputusan yang diambil Bagas.

“Sudah Bun, sudah. Namanya jodoh kita tidak memaksakan. Mungkin Rayu dan Bagas memang tidak berjodoh. Bagaimanapun kita berusaha, ya pasti akan berpisah juga. Sekarang, tinggal bagaimana caranya kita bicarakan ini secara baik-baik dengan keluarga Bagas. Ayah tidak mau keluarga kita dan keluarga bermusuhan. Semua harus berakhir baik, sama seperti sebelum kalian bertunangan. Sejak awal kalian datang kepada Ayah dan mengatakan kalau kalian ingin menjalani hubungan yang serius, Ayah sudah memastikan kepada Bagas bahwa Ayah sudah menganggapnya seperti anak sendiri. Kalau ke depannya kalian tidak berjodoh, berpisahlah secara baik-baik. Ayah tidak mau kehilangan anak. Sekarang kamu harus memantapkan hati kalau memang Bintang adalah pilihanmu.” Ayah menutup omelan Bunda.

“Iya Ayah. Sekali lagi Rayu minta maaf karena mengecewakan Ayah sama Bunda.” Rayu menunduk. Tidak berani menatap kedua orang tuanya. Tak lama, Rayu merasakan pelukan hangat Bunda. Mendapat perlakuan seperti itu, Rayu tidak tahan untuk tidak menangis. Maka tumpahlah air matanya di pelukan Bunda.

Rayu bersyukur memiliki orang tua yang bijaksana seperti Ayah dan Bunda. Entah apa jadinya jika keduanya tidak memberikan restu.

Keesokan harinya, kedua keluarga pun bertemu membicarakan pertunangan anak mereka yang harus dibatalkan. Sorot mata kecewa tetap terlihat jelas. Apalagi di mata Bunda dan Mama. Dua perempuan yang sudah menganggap Rayu dan Bagas sebagai anak-anaka mereka. Bunda dan Mama terus saja saling meminta maaf dan berharap Rayu serta Bagas masih bisa berjodoh. Sementara Bagas dan Rayu hanya bisa diam saja menyimak obrolan kedua orang tua mereka. Tidak ada lagi yang bisa mereka lakukan.       

***

“Setelah keluar dari rumah sakit nanti, aku harus segera menemui Ayah dan Bunda. Aku harus meminta maaf kepada mereka karena sudah mengacaukan masa depan putri kesayangannya. Kadang aku menyesal dan tidak percaya kalau akhirnya kita bisa bersama lagi.” Bintang menatap langit-langit kamar.

“Jadi kamu menyesal nih aku putus dengan Bagas?” Ledek Rayu.

“Bukan begitu. Aku masih berpikir, kehidupan macam apa yang nantinya bisa aku berikan kepadamu. Sementara aku sendiri harus berjuang melawan sakitku.”

“Tentu saja kita akan melewati semuanya bersama. Kamu tidak perlu menghadapi semuanya sendiri lagi.” Rayu meyakinkan.

“Aku sudah meminta Mas Ferdian agar besok ke sini membawa seluruh surat-surat asetku.”

“Untuk apa?’

“Kamu akan menjadi istriku. Maka aku harus memastikan kehidupanmu kedepannya sebagai Nyonya Angkasa tidak akan sengsara. Karena aku ingin memberikan jaminan kepadamu.” Seloroh Bintang.

Rayu hanya tersenyum menanggapinya.

***


Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!