SIMPANGAN RASA
Siapa Rayu?
Rena menatap foto di depannya. Kemarin Rena ke rumah Bagas. Meski setengah terpaksa karena diajak oleh orangtuanya. Ketika obrolan di meja makan mulai membahas hubungannya dengan Bagas, Rena undur diri dengan alasan tidak enak badan. Akhirnya Rena disuruh istirahat di kamar Bagas. Kalau ada Bagas, pasti dia tidak akan memberi ijin Rena memasukin kamarnya.
Tidak ada yang istimewa dalam kamar Bagas. Kamar ini sangat menunjukkan Bagas sekali. Simpel tapi terasa hangat. Semua tersimpan dengan rapi.
Mata Rena berhenti pada bingkai foto di atas meja tulis. Terlihat dalam foto itu, Bagas sedang duduk berhadapan dengan seorang perempuan. Bagas menatap lekat ke wajah si perempuan yang sedang menunduk. Meski wajah keduanya tampak dari samping, namun Rena melihat jelas ada begitu banyak cinta dalam mata Bagas. Rena yakin, foto itu diambil secara tidak sengaja. Mungkin oleh teman mereka.
Sebelum memutuskan menikah dengan Bagas, Rena sempat mencari tahu kehidupan asmara lelaki itu. Rena nyaris tidak percaya ketika mendapati kenyataan bahwa hanya ada satu nama perempuan yang ditemukannya.
Apa hebatnya perempuan itu?
Dalam bayangan Rena, setidaknya dia akan bersaing dengan beberapa perempuan untuk mendapatkan cinta Bagas. Lelaki dengan karir cemerlang, keluarga terpandang, tampang rupawan, ah perempuan mana yang tidak akan bertekuk lutut kepada Bagas? Nyatanya, hanya ada perempuan bernama Sarayu Indurasmi di hati Bagas.
Rena menganggap jalannya menuju hati Bagas tentu sangatlah mudah. Bagaimana tidak? Rena cantik dan berasal dari keluarga yang sepadan dengan keluarga Bagas. Dia kuliah di luar negeri. Saat ini Rena juga sedang mengembangkan bisnis butiknya. Rena membidik kelas menengah ke atas. Tentu saja, secara materi Rena cukup bisa diperhitungkan sebagai perempuan mandiri yang sukses.
Sejak tahun pertama kuliah di Australia, Rena sudah berhubungan dengan Dion. Bahkan mereka memutuskan untuk tinggal bersama di apartemen Dion. Meskipun Rena dibelikan apartemen oleh orangtuanya. Ya, orang tua Rena memberikan kebebasan luar biasa kepada anak perempuannya. Semua baik-baik saja sampai ketika Rena lulus kuliah, Dion masih saja berkutat dengan kehidupannya yang tanpa arah. Dion yang selalu didukung materi yang berlimpah berpikir bahwa semuanya sangat mudah dia dapatkan. Tanpa perlu bekerja keras pun, sebagai anak sulung, dia akan menjadi pewaris utama perusahaan orang tuanya.
Di sinilah Rena mulai jenuh. Rena sudah berpikir tentang masa depan dan pernikahan. Dion malah menganggapnya berlebihan dan tidak bisa menikmati hidup. Pertengkaran demi pertengkaran mulai sering hadir di antara mereka.
Sampai kemudian Rena lulus kuliah dan memilih pulang ke Indonesia untuk mewujudkan mimpinya menjadi designer dan memiliki butik serta brand sendiri. Dia meninggalkan Dion tanpa kepastian.
Rena menganggap kisah cintanya dengan Dion sudah berakhir. Berbulan-bulan Dion tidak pernah menghubungi apalagi mencari dan menemui Rena.
Sedih? Pasti. Rena juga merasakan sakit teramat sangat. Ternyata selama bertahun-tahun dia hidup satu atap dengan Dion tidak berarti apa-apa bagi lelaki itu. Padahal Rena sudah menyerahkan segalanya. Termasuk hidup dan masa depannya. Rena mencintai Dion. Jangan diragukan lagi. Tapi bagaimanapun juga, Rena butuh kepastian. Tidak mungkin terus menerus hidup dalam dunia Dion yang hanya diisi dengan foya-foya dan bersenang-senang dari satu klub ke klub lainnya. Kebebasan versi Dion tidak pernah mengenal kata tanggungjawab. Setiap masalah selalu diselesaikan oleh pihak keluarga.
Maka, ketika ibunya menceritakan tentang Bagas, secercah harapan muncul di hati Rena. Apalagi saat Rena mengetahui kalau Bagas ditinggal menikah oleh kekasihnya. Rena berpikir, mungkin akan mudah mendekati lelaki yang sedang patah hati.
Pertemuan pertamanya dengan Bagas meninggalkan kesan luar biasa di hati Rena. Sosok Bagas jauh melampaui ekspektasi Rena. Laki-laki itu memancarkan kharisma luar biasa. Perpaduan antara romanstime dan maskulinitas yang begitu menggoda. Mata Bagas sangat tajam namun juga lembut.
Rena masih mencintai Dion. Namun, dia tidak menampik jika Bagas adalah sosok yang menarik. Kalau bisa menikah dan memiliki Bagas, kenapa nggak? Begitu pikir Rena.
Tiga bulan setelah pertemuan dengan Bagas, tiba-tiba saja Dion muncul kembali di hidup Rena.
Malam itu, Dion datang ke rumah Rena. Untung saja Rena sedang sendirian. Kedua orangtuanya sedang ke luar kota. Jadi Rena tidak perlu menyiapkan berbagai jawaban atas pertanyaan orang tuanya.
Meski sudah beberapa bulan berpisah, Rena tidak memungkiri kalau di masih sangat merindukan Dion. Maka malam itu pun akhirnya terjadi lagi apa yang seharusnya tidak pernah terjadi. Rena kembali menghabiskan malam bersama Dion. Awal yang buruk dan kelak membawa petaka bagi Rena.
Rena menggigit bibir mengingat kejadian malam itu. Dengan segala bujuk rayunya, Dion berhasil membuat Rena bertekuk lutut untuk kesekian kalinya. Rena mencoba jujur mengatakan kalau dia sedang dijodohkan dengan Bagas. Namun Dion tak peduli.
“Bagiku, kamu itu selamanya milikku.” Tegas Dion. Walaupun begitu, Dion tetap saja tidak memberikan jawaban ketika Rena bicara tentang pernikahan.
Akhirnya Rena memilih untuk menikah dengan Bagas. Naas, malam pertama yang seharusnya menjadi malam bahagia untuk mereka malah dihancurkan oleh Rena. Nama Dion meluncur begitu saja dari bibir Rena. Akibatnya fatal. Bagas pergi saat itu juga.
Meski menyesali semua kebodohannya, Rena tahu semua sudah terjadi. Tidak mudah mendapatkan kepercayaan Bagas apalagi cintanya.
Bagas memberi kesempatan agar Rena ikut bersamanya ke Lampung. Tentu saja itu adalah hal yang mustahil Rena lakukan. Hidupnya di Jakarta. Karirnya baru saja dimulai. Rena tidak mau mengorbankan mimpinya. Dia yakin, Bagas tetap akan jatuh cinta kepadanya tanpa Rena ikut ke Lampung.
Sayangnya, dalam hitungan bulan kepercayaan diri Rena mulai runtuh. Bagas tidak pernah menghubunginya sama sekali. Pesan-pesan yang Rena kirimkan pun hanya dibalas sekedarnya.
Ketika Rena berada di kamar Bagas, tempat paling pribadi bagi suaminya itu, Rena mulai mencari tahu lagi hubungan Bagas dengan Rayu.
Selain foto yang ada di meja, Rena juga menemukan banyak sekali foto Rayu di laci meja Bagas. Hampir seluruhnya foto-foto itu diambil Bagas secara diam-diam. Wajah Rayu dari berbagai sisi memang sangat menarik. Desir aneh tiba-tiba saja menjalar di hati Rena. Ada rasa nyeri ketika membayangkan bagaimana Bagas mencintai perempuan itu.
Bagaimanapun caranya, Rena hanya menginginkan Bagas ada di sampingnya. Walau Dion masih mengejarnya dan menjanjikan cinta yang membawa, Rena tahu tidak akan ada masa depan yang lebih baik jika bersama Dion. Toh sejauh ini apa yang mereka lakukan pun ternyata hanya untuk memenuhi hasrat sesaat saja.
Rena sudah menghubungi orang kepercayaannya dan memintanya melacak keberadaan Rayu. Hati kecilnya meyakini bahwa Bagas masih terhubung dengan mantan tunangannya.
“Rayu, siapa sih kamu sebenarnya?” Guman Rena.
***