Sistem Penebusan Ibu Pemarah
11. Resep Pertama
"Resep sambal bisa menghasilkan uang?"
Mira menatap layar sistem yang masih melayang di depannya. Cahaya kebiruan itu hanya bisa dilihat olehnya, sementara rumah di sekelilingnya tetap sunyi.
Ia kembali membaca tulisan yang muncul.
Resep Sambal Rumahan Premium.
Efek: Disukai sebagian besar pelanggan.
Mira mengernyit.
Selama ini ia memang pandai memasak. Bahkan sebelum menikah, ibunya sering memintanya memasak untuk acara hajatan. Namun setelah hidup dalam kemiskinan dan dipenuhi amarah, ia mulai memasak asal kenyang.
Sudah lama ia tidak menikmati kegiatan itu.
"Bagaimana cara menggunakan resep ini?" gumamnya.
Layar sistem berubah.
Apakah pengguna ingin mempelajari resep?
Ya / Tidak
Mira memilih Ya.
Seketika, berbagai informasi mengalir ke dalam pikirannya.
Takaran cabai. Perbandingan bawang. Cara menggoreng agar aroma tetap harum. Waktu mengulek. Bahkan cara menyimpan sambal agar tahan lebih lama.
Mira memejamkan mata beberapa saat.
Ketika membuka mata kembali, semua langkah itu masih tersimpan jelas di kepalanya.
Seolah-olah ia sudah membuat sambal itu berkali-kali.
"Hebat...."
Namun sistem segera memberikan peringatan.
Pengetahuan bukan jaminan keberhasilan.
Rasa tetap bergantung pada keterampilan pengguna.
Mira mengangguk.
Ia semakin menyukai cara kerja sistem.
Tidak ada hasil instan.
Tetap harus ada usaha.
***
Keesokan paginya, Mira bangun sebelum azan Subuh. Ia menanak nasi, lalu melihat beberapa cabai yang masih tersisa di dapur.
Bahan-bahannya sebenarnya sangat sederhana.
Cabai merah.
Cabai rawit.
Bawang merah.
Bawang putih.
Terasi.
Tomat kecil.
Semuanya bisa didapat dengan harga murah.
"Aku ingin mencoba."
Ia mulai menyiapkan tungku.
Suara minyak yang mulai panas memecah kesunyian dapur.
Mira mengikuti semua langkah yang diberikan sistem.
Tidak terburu-buru.
Tidak asal mencampur.
Setiap bahan dimasukkan sesuai urutan.
Aroma harum perlahan memenuhi ruangan.
Lila yang baru bangun mengendus udara.
"Ibu...."
"Iya?"
"Harum sekali."
Mira tersenyum. "Ibu sedang mencoba resep baru."
Lila masuk ke dapur sambil membawa boneka kainnya. "Boleh lihat?"
"Tentu."
Anak kecil itu berdiri di samping ibunya.
Matanya mengikuti setiap gerakan ulekan. "Ibu kelihatan senang."
Ucapan polos itu membuat Mira berhenti sesaat.
Senang?
Sudah berapa lama ia tidak memasak dengan perasaan seperti itu?
Ia bahkan tidak ingat.
Saat sarapan tiba, sambal baru itu disajikan bersama tempe goreng dan sayur bening.
Arman mengambil sedikit.
Begitu mencicipinya, gerakan tangannya berhenti. Ia mengunyah perlahan.
"Lho."
Raka ikut mengambil.
Beberapa detik kemudian ia juga mengangkat kepala.
"Enak."
Mira menatap mereka bergantian. "Benarkah?"
Arman mengangguk.
"Pedasnya pas. Aromanya juga beda."
Lila yang belum terlalu suka pedas hanya mencocol sedikit.
"Harum."
Mira tersenyum lega.
Setidaknya resep dari sistem memang bukan asal-asalan.
Di sudut pandangannya muncul pemberitahuan.
Resep berhasil dipraktikkan.
Kualitas: B.
Masih dapat ditingkatkan.
Mira tidak kecewa.
Justru ia merasa tertantang.
Berarti masih ada ruang untuk belajar.
Setelah sarapan, Arman bersiap berangkat kerja.
Namun sebelum pergi, ia berkata, "Kalau sambal ini dijual...mungkin laku."
Mira menatap suaminya.
"Aku juga kepikiran begitu."
"Tapi kita mulai dari sedikit dulu."
"Iya."
Arman tersenyum. "Jangan terlalu banyak ambil risiko."
Mira mengangguk. Ia sadar keadaan mereka belum memungkinkan untuk gagal.
Setiap rupiah sangat berarti.
Menjelang siang, Bu Rini kembali berkunjung.
Mira menyodorkan semangkuk kecil sambal. "Bu, coba rasanya."
Bu Rini tertawa.
"Kamu sekarang sering sekali menyuruhku mencicipi."
"Anggap saja Ibu penguji pertamaku."
Wanita tua itu mengambil sedikit sambal lalu mencicipinya.
Beberapa saat kemudian matanya membesar.
"Wah."
"Bagaimana?"
"Ini enak."
"Benar?"
"Kalau dimakan sama ikan goreng, pasti tambah nasi."
Mira tertawa kecil. "Itu berarti lumayan?"
"Lumayan?" Bu Rini menggeleng. "Ini bisa dijual."
Kalimat itu membuat semangat Mira semakin bertambah.
Siang hari, sistem kembali muncul.
Misi Sampingan.
Mintalah penilaian jujur dari tiga orang.
Progres:
2/3.
Hadiah:
10 Poin Kebajikan.
Mira baru sadar.
Ternyata Arman dan Bu Rini sudah dihitung. Berarti tinggal satu orang lagi.
Siapa?
Ia memikirkan beberapa nama.
Namun hampir semua tetangga masih menjaga jarak dengannya.
Saat itulah terdengar suara dari luar.
"Permisi."
Seorang pengantar paket berhenti di depan rumah Bu Ratna.
Pria itu tampak kebingungan.
"Rumah Pak Hasan yang mana ya?"
Mira mengenalnya.
Pak Hasan tinggal dua rumah dari tempatnya.
"Itu di sebelah pohon mangga."
"Oh."
"Terima kasih, Bu."
Pria itu tersenyum.
Sebelum pergi, Mira teringat sesuatu.
"Tunggu sebentar."
Ia masuk ke dapur lalu mengambil sedikit sambal dalam wadah kecil.
"Silakan dicoba."
Pengantar itu tampak sungkan.
"Tidak usah, Bu."
"Tidak apa-apa. Kebetulan saya masak sambal kebanyakan."
Pria itu akhirnya menerima. "Kalau begitu terima kasih."
Beberapa jam kemudian, tukang paket kembali melewati rumah Mira, pria itu berhenti.
"Bu."
"Iya?"
"Sambalnya enak."
"Kalau Ibu jual, saya mau beli."
Mira tersenyum lebar. "Terima kasih."
Layar sistem langsung muncul.
Misi Sampingan Selesai.
+10 Poin Kebajikan.
Total Poin: 115.
***
Sore harinya, Mira duduk bersama Arman di teras. Ia mulai menghitung.
"Kalau kita buat sepuluh bungkus sambal, lalu dijual bersama sayur...Mungkin ada untung."
Arman mendengarkan dengan serius. "Modalnya?"
"Masih kecil. Kita pakai hasil panen sendiri dulu."
Pria itu mengangguk. "Itu lebih aman."
Raka yang sedang menyiram tanaman diam-diam mendengar percakapan mereka.
Ia tidak ikut berbicara.
Namun sebelum masuk rumah, ia berkata singkat,
"Di sekolah banyak yang suka sambal."
Mira menoleh. "Kamu punya ide?"
"Kalau nanti jadi jualan...bungkusnya jangan terlalu besar. Biar anak sekolah juga bisa beli."
Mira tersenyum bangga. "Itu ide bagus."
Raka hanya mengangguk lalu masuk ke kamarnya.
Arman tersenyum tipis. "Dia mulai ikut memikirkan usaha kita."
Mira mengangguk pelan.
"Iya."
Dan itu jauh lebih berharga daripada keuntungan apa pun.
Malam menjelang. Sebelum tidur, Mira membuka layar sistem sekali lagi.
Misi Utama
Gunakan hasil panen pertama untuk menghasilkan uang.
Status: Dalam Proses.
Progres: 35%.
Kemudian muncul pemberitahuan baru.
Misi Baru
Jual produk pertamamu kepada pelanggan yang bukan kerabat.
Target: Minimal 5 pembeli.
Hadiah: Membuka Fitur Bisnis Dasar.
Mira memandangi tulisan itu cukup lama.
Ia belum pernah berjualan.
Dulu ia bahkan malu menawarkan sesuatu kepada orang lain.
Sekarang, ia harus mencari lima pembeli.
Tantangan itu terdengar jauh lebih sulit daripada menanam sayur.
Namun ketika mengingat wajah Arman yang mulai bisa tersenyum, Lila yang tidak lagi ketakutan, dan Raka yang perlahan membuka hatinya, Mira mengepalkan tangan dengan mantap.
"Aku akan mencoba."
Karena ia tahu, perubahan besar selalu dimulai dari keberanian mengambil langkah pertama.