Sistem Penebusan Ibu Pemarah

13. Hutang yang Mulai Terbayar

"Aku mau bayar utangku, Bu."

Pagi itu, warung kecil milik Bu Ratna baru saja dibuka ketika Mira datang membawa sebuah amplop coklat lusuh.

Beberapa warga yang sedang membeli kebutuhan sehari-hari langsung menoleh.

Mereka mengenali Mira.

Dan mereka juga tahu hubungan kedua wanita itu tidak pernah baik.

Bu Ratna mengangkat alis. "Bayar utang?"

"Iya." Mira mengangguk pelan. "Aku belum bisa melunasi semuanya. Tapi aku ingin mulai mencicil."

Suasana mendadak sunyi.

Bu Ratna menerima amplop itu dengan wajah penuh curiga.

Ia membuka isinya.

Beberapa lembar uang pecahan lima puluh ribu dan dua puluh ribu tersusun rapi.

Jumlahnya memang belum besar. Namun cukup untuk menunjukkan kesungguhan.

Bu Ratna menghitungnya perlahan.

"Lumayan."

Ia melirik Mira.

"Dari mana dapat uang?"

"Hasil jualan."

"Kemarin?"

"Iya."

Beberapa ibu yang berada di warung mulai berbisik.

"Jualannya ternyata laku."

"Pantas kemarin cepat pulang."

Bu Ratna mendengus pelan.

"Hmph. Setidaknya kamu tidak lari dari utang."

Mira mengangguk. "Sisanya akan kubayar sedikit demi sedikit."

Wanita itu tidak menjawab. Ia hanya memasukkan uang tersebut ke dalam laci. Namun kali ini, ia tidak lagi mengucapkan kata-kata yang mempermalukan Mira di depan orang lain.

Saat Mira berbalik hendak pulang, layar sistem muncul.

Misi Selesai.

Membayar sebagian utang dengan hasil kerja sendiri.

Hadiah: +30 Poin Kebajikan.

Total Poin: 210.

Mira menghembuskan napas lega.

Bukan poin yang membuatnya lega.

Melainkan perasaan bahwa ia akhirnya mulai bertanggung jawab atas kesalahannya sendiri.

Sesampainya di rumah, Arman baru saja bersiap berangkat bekerja.

"Sudah bayar utang?"

"Sudah."

"Bagaimana Bu Ratna?"

"Menerima."

Arman tersenyum tipis. "Itu sudah bagus."

Mira mengangguk.

"Aku ingin terus seperti ini. Tidak lari dari masalah."

Arman memandang istrinya cukup lama. Lalu berkata pelan, "Aku bangga sama kamu."

Kalimat sederhana itu membuat mata Mira langsung berkaca-kaca.

Dulu, ia selalu menuntut pujian.

Sekarang, ketika pujian itu datang dengan tulus, justru ia hampir menangis.

Setelah Arman pergi, Mira mulai menghitung sisa keuntungan hasil jualan.

Jumlahnya tidak banyak. Namun cukup untuk membeli beberapa bahan tambahan.

Cabai.

Bawang.

Minyak goreng.

Ia membuat daftar kecil di selembar kertas bekas.

Lila memperhatikan dari samping. "Ibu lagi apa?"

"Menghitung modal."

"Itu apa?"

"Uang yang dipakai supaya kita bisa jualan lagi."

Lila mengangguk meski belum benar-benar mengerti. "Kalau jualannya banyak...berarti uangnya juga banyak?"

"Tidak selalu."

"Lho?"

"Kita harus mengurangi biaya dulu."

Lila mengernyit.

Mira tersenyum. "Nanti kalau Lila sudah besar, Ibu ajari."

"Iya!"

Anak kecil itu tersenyum lebar.

Menjelang siang, sistem kembali muncul.

Fitur Bisnis Dasar Aktif.

Menu baru terbuka.

Laporan Penjualan

Pendapatan.

Modal.

Keuntungan.

Saran Pengembangan.

Mira menyentuh menu terakhir.

Tulisan baru muncul.

Saran Hari Ini:

Tambahkan produk pelengkap agar pelanggan membeli lebih banyak.

Mira membaca kalimat itu beberapa kali. "Produk pelengkap?"

Ia berpikir. 

Sayur sudah ada. 

Sambal juga.

Apa lagi?

Tiba-tiba ia teringat daun singkong pemberian Bu Rini beberapa hari lalu.

Kalau dibuat sayur matang?

Atau lalapan?

Ia mulai mencatat semua ide itu.

Sore harinya, Raka pulang sekolah sambil membawa selembar kertas.

"Bu."

"Iya?"

"Guruku bilang minggu depan ada bazar sekolah."

"Bazar?"

"Iya."

"Orang tua murid boleh jual makanan."

Mata Mira membulat. "Benarkah?"

Raka mengangguk. 

"Banyak siswa dan guru yang ikut berpartisipasi."

Mira menerima kertas itu. Di sana tertulis bahwa setiap peserta boleh menjual makanan rumahan.

Biaya pendaftaran sangat murah.

Jantung Mira mulai berdegup lebih cepat.

Ini kesempatan.

Kalau sambalnya disukai, mungkin ia bisa mendapat pelanggan baru.

Namun ia juga ragu.

"Menurutmu… Apa Ibu harus ikut?"

Raka terdiam sejenak. "Dulu aku pasti akan bilang jangan."

"Lalu sekarang?"

Remaja itu menatap ibunya. "Coba saja."

Kalimat itu terdengar sederhana.

Namun bagi Mira, itu adalah bentuk dukungan pertama dari anak sulungnya.

"Terima kasih."

Raka menggaruk tengkuknya. "Aku cuma kasih pendapat."

Menjelang petang, Bu Rini datang lagi.

Mira langsung menunjukkan pengumuman bazar.

"Bagaimana menurut Ibu?"

Bu Rini membaca dengan teliti. "Bagus sekali.”

“Tapi aku belum pernah jualan di acara seperti itu."

"Justru itu kesempatan belajar." Wanita tua itu tersenyum. "Kalau nanti butuh meja tambahan, pakai mejaku saja."

"Benarkah?"

"Iya."

Mata Mira kembali memanas. "Terima kasih."

"Jangan menangis." Bu Rini tertawa kecil. "Nanti aku ikut sedih."

Keduanya tertawa bersama.

Malam hari, keluarga kecil itu berkumpul di ruang tengah.

Mira menceritakan rencana bazar sekolah.

Arman mendengarkan sambil mengangguk. "Aku setuju."

"Lila?"

"Aku mau bantu!"

Semua tertawa.

Raka yang sejak tadi diam akhirnya berkata, "Teman-temanku suka makanan pedas."

"Kalau sambalnya dibungkus kecil...mungkin cepat habis."

Mira segera mencatat saran tersebut.

"Ada saran lagi?"

Raka berpikir sebentar. "Kasih nama."

"Nama?"

"Iya."

"Supaya orang ingat."

Kalimat itu membuat Mira dan Arman saling berpandangan. Mereka sama sekali belum memikirkan nama.

Lila langsung mengangkat tangan.

"Pakai nama Ibu!"

"Warung Bu Mira!"

Semua kembali tertawa.

Arman tersenyum.

"Itu juga tidak jelek."

Mira menunduk sambil tersenyum malu.

Entah mengapa, suasana seperti ini terasa begitu hangat.

Dulu mereka hampir tidak pernah berbicara santai.

Sekarang, mereka bahkan berdiskusi bersama.

Di sudut pandangan Mira, layar sistem kembali muncul.

Hubungan Keluarga Meningkat.

Kepercayaan Suami: 15% → 20%

Kepercayaan Anak Sulung: 8% → 10%

Kepercayaan Anak Bungsu: 18% → 21%

Mira menggigit bibir.

Angka-angka itu memang masih kecil. Namun kini pertambahannya terasa semakin cepat. Artinya keluarganya benar-benar mulai percaya.

Saat semua hendak tidur, sistem kembali memunculkan notifikasi baru.

Misi Khusus.

Ikuti bazar sekolah dan raih minimal sepuluh pelanggan baru.

Hadiah:

Peti Hadiah Perak.

Mata Mira membelalak. Perunggu sudah memberinya resep sambal. Kalau hadiah perak...

Apa isinya?

Ia menatap layar itu cukup lama. Lalu mengepalkan tangan. Bazar sekolah bukan lagi sekadar kesempatan berjualan.

Kini...

Itu adalah langkah berikutnya untuk mengubah kehidupan keluarganya.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!