Sistem Penebusan Ibu Pemarah

15. Tanah yang Terlantar

Pagi hari, Mira tidak membawa keranjang sayur ke pasar. Setelah berdiskusi dengan Arman semalaman, mereka sepakat menunda satu hari berjualan demi mengejar kesempatan yang lebih besar.

Kalau mereka berhasil mendapatkan lahan tambahan, hasil panen di masa depan akan jauh lebih banyak.

Mira mengenakan kerudung sederhananya lalu memasukkan beberapa ikat bayam segar ke dalam keranjang kecil.

"Itu buat Pak Hasan?" tanya Arman.

Mira mengangguk. "Iya. Kita datang bukan hanya untuk meminta. Jadi, Kita membawa hasil kebun kita."

Arman tersenyum tipis.

"Itu lebih baik."

Raka yang sedang bersiap berangkat sekolah ikut mendekat.

"Pak Hasan biasanya duduk di teras setelah sarapan. Kalau datang terlalu pagi beliau masih di kebun."

Mira mengangguk. "Iya."

Remaja itu memberi anggukan kecil sebelum berangkat.

Beberapa minggu lalu, Raka mungkin tidak akan peduli dengan urusan ibunya. Sekarang, meski masih hemat bicara, ia mulai memberi perhatian.

Perubahan kecil itu membuat langkah Mira terasa lebih ringan.

Sekitar pukul delapan pagi, Mira dan Arman berjalan menuju rumah Pak Hasan.

Rumah lelaki tua itu berada di ujung desa, berdampingan dengan sebidang tanah yang dipenuhi rumput liar.

Tanah itulah yang dimaksud Raka.

Luasnya hampir tiga kali lipat dari kebun kecil mereka. Namun sudah lama tidak ditanami apa pun.

Mira sempat menelan ludah. "Kalau ditolak bagaimana?"

Arman menatapnya.

"Kita pulang."

"Hanya begitu?"

"Iya."

"Kita tidak kehilangan apa-apa."

Jawaban sederhana itu membuat Mira tersenyum.

Benar juga.

Yang paling buruk hanyalah ditolak.

Tidak lebih.

Sesampainya di halaman rumah, mereka melihat seorang pria tua sedang menyapu daun-daun kering.

Rambutnya sudah memutih seluruhnya.

Tubuhnya sedikit membungkuk.

"Selamat pagi, Pak Hasan."

Pria tua itu menoleh. "Pagi."

"Mira?"

"Iya, Pak."

Pak Hasan tampak sedikit terkejut.

Sudah lama Mira tidak pernah lewat di depan rumahnya.

Dulu, setiap kali bertemu, wanita itu selalu terlihat terburu-buru atau memasang wajah masam.

Hari ini berbeda.

"Ada perlu?"

Mira menyerahkan satu ikat bayam.

"Ini hasil panen pertama kami."

Pak Hasan memandang bayam itu bergantian dengan wajah Mira.

"Kamu yang menanam?"

"Iya. Bersama suami dan anak-anak."

Pak Hasan menerima bayam tersebut.

"Terima kasih. Silakan duduk."

Mereka bertiga duduk di bangku kayu sederhana di teras.

Beberapa saat tidak ada yang berbicara.

Mira mulai gugup. Namun ia teringat pesan sistem.

Bangun kepercayaan. Jangan terburu-buru meminta.

Ia menarik napas panjang.

"Pak… Bagaimana kesehatan Bapak?"

Pak Hasan tersenyum tipis. "Beginilah. Kalau terlalu banyak bekerja, pinggang mulai sakit. Ladang juga sudah tidak sanggup kuurus."

Mira melirik tanah kosong di samping rumah. Rumputnya hampir setinggi lutut.

"Ayah..." kata Arman pelan, "...dulu sering cerita kalau tanah Bapak paling subur di desa."

Pak Hasan tertawa kecil. "Itu dulu. Sekarang aku sudah tua. Tidak kuat lagi mencangkul."

Mira memandang pria tua itu dengan hati yang tergerak. Ia baru sadar. Tanah itu terbengkalai bukan karena pemiliknya malas.

Melainkan karena usianya.

"Kalau begitu..." katanya hati-hati, "...bolehkah kami membantu membersihkannya?"

Pak Hasan mengangkat alis. "Membantu?"

"Iya. Tidak usah bayar. Kami hanya tidak tega melihat tanah sebagus ini dipenuhi semak."

Pria tua itu tidak langsung menjawab. Ia memandangi wajah Mira cukup lama.

"Kamu banyak berubah."

Perkataan itu begitu tiba-tiba.

Mira tersenyum pahit. "Mungkin karena aku hampir kehilangan semuanya."

Pak Hasan mengangguk pelan.

"Orang memang kadang baru sadar setelah jatuh."

Keheningan kembali menyelimuti mereka. Beberapa menit kemudian Pak Hasan berdiri.

"Ayo."

Mereka mengikutinya menuju tanah kosong di samping rumah. Pria tua itu menunjuk hamparan rumput.

"Kalau kalian memang mau membersihkan...silakan."

Mata Mira membulat. "Benarkah?"

"Tapi hanya membersihkan. Kalau nanti kalian menyerah di tengah jalan, aku tidak mau tanah ini jadi lebih berantakan."

Mira segera mengangguk. "Kami tidak akan menyerah."

Pak Hasan tersenyum tipis.

"Kalau begitu buktikan."

Tanpa menunggu hari lain, Mira dan Arman langsung mulai bekerja.

Arman menebas rumput menggunakan sabit. Mira mengumpulkan semak ke dalam karung.

Matahari semakin tinggi.

Keringat membasahi pakaian mereka. Namun tidak ada satu pun yang mengeluh.

Sekitar satu jam kemudian, Pak Hasan datang membawa kendi berisi air.

"Minum dulu."

"Terima kasih, Pak."

Pria tua itu memperhatikan cara mereka bekerja. Tidak asal-asalan. Tidak terburu-buru. Semuanya dilakukan dengan sungguh-sungguh.

"Kenapa mau bersusah payah begini?"

Mira tersenyum. "Karena kami ingin hidup lebih baik. Tapi bukan dengan meminta. Melainkan bekerja."

Pak Hasan mengangguk pelan.

Tatapannya terlihat lebih lembut.

Menjelang siang, hampir sepertiga tanah berhasil dibersihkan.

Lila yang pulang lebih awal karena sekolah hanya setengah hari ikut datang membawa bekal makan siang.

"Ibu!"

"Ayah!"

"Aku bawa nasi."

Mira tersenyum bangga. "Terima kasih."

Lila lalu menghampiri Pak Hasan.

"Kakek mau makan juga?"

Pria tua itu tertawa. "Anak yang baik."

Mereka makan bersama di bawah pohon mangga.

Suasana sederhana itu membuat hati Mira terasa hangat. Sudah lama ia tidak merasakan kebersamaan seperti ini.

Setelah makan, Pak Hasan memandang tanah yang mulai bersih. Ia menghela napas pelan.

"Kalau kalian memang serius..."

Mira dan Arman langsung menoleh.

"...pakailah tanah ini."

Jantung Mira berdegup kencang.

"Kalian boleh menanam. Asal dirawat. Dan jangan dijual ke orang lain."

Air mata langsung menggenang di mata Mira. "Terima kasih, Pak. Benar-benar terima kasih."

Pak Hasan tersenyum.

"Aku tidak memberi cuma-cuma. Kalian sudah membayarnya dengan kerja keras."

Di saat yang sama, layar sistem muncul.

Misi Selesai.

Dapatkan lahan baru melalui kepercayaan.

Hadiah: Bibit Cabai Premium x20.

+40 Poin Kebajikan.

Total Poin: 250.

Belum selesai.

Notifikasi lain kembali muncul.

Reputasi Desa Meningkat.

Hubungan dengan Warga: Bertambah.

Mira mengepalkan tangan pelan. Kini mereka memiliki lahan yang jauh lebih luas. 

Bukan karena uang.

Bukan karena belas kasihan.

Melainkan karena seseorang mulai mempercayai mereka.

Saat matahari mulai condong ke barat, Pak Hasan kembali berkata,

"Minggu depan kita mulai menanam."

"Kita?" tanya Mira.

Pria tua itu tersenyum kecil. "Kalau kalian tidak keberatan...aku juga ingin ikut berkebun lagi."

Mira tersenyum lebar.

"Tentu saja tidak."

Namun dari balik pagar rumah yang tidak jauh dari sana, sepasang mata sedang memperhatikan semuanya.

Bu Ratna.

Wanita itu menyipitkan mata ketika melihat Pak Hasan berbicara akrab dengan Mira.

Raut wajahnya perlahan mengeras.

"Aku tidak akan membiarkan wanita itu berhasil semudah ini," gumamnya pelan.

Untuk pertama kalinya, rasa iri di hatinya mulai berubah menjadi niat untuk menjatuhkan Mira dengan cara apa pun.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!