Sistem Penebusan Ibu Pemarah
16. Kepercayaan Seorang Suami
Sejak mendapatkan izin menggunakan tanah milik Pak Hasan, semangat Mira semakin besar. Setiap pagi, sebelum menyiapkan sarapan, ia menyempatkan diri berjalan ke lahan itu untuk memastikan rumput yang sudah dibersihkan tidak tumbuh kembali.
Arman selalu menemaninya sebelum berangkat bekerja.
Mereka belum menanam apa pun.
Namun keduanya sama-sama tahu, sebidang tanah kosong itu adalah awal dari harapan baru.
Pagi itu, embun masih menempel di ujung rumput ketika Mira menaburkan pupuk organik ke beberapa bagian tanah.
Di sudut pandangannya, layar sistem muncul.
Bibit Cabai Premium x20 tersedia.
Disarankan ditanam dalam 48 jam.
Mira mengangguk pelan.
"Nanti sore," gumamnya.
"Apa?" tanya Arman yang sedang mencabut akar semak.
"Tidak... aku cuma berpikir kita harus segera mulai menanam."
"Aku juga."
Pria itu berdiri sambil menepuk-nepuk tanah di tangannya.
"Kalau panennya berhasil, kita tidak perlu membeli cabai lagi. Bahkan mungkin bisa menjualnya."
Mira tersenyum. "Itu juga yang kupikirkan."
Saat mereka hendak pulang, Pak Hasan datang membawa dua cangkul tua.
"Ini masih bisa dipakai."
"Daripada berkarat di gudang."
Arman menerimanya dengan hormat. "Terima kasih, Pak."
"Rawat baik-baik."
"Tentu."
Pak Hasan memandang Mira beberapa saat.
"Dulu aku tidak pernah membayangkan kamu akan sesabar ini."
Mira tersenyum malu. "Aku juga tidak."
Pria tua itu tertawa pelan.
"Bagus. Jangan kembali menjadi Mira yang dulu."
Kalimat itu sederhana. Namun cukup membuat Mira terdiam. Ia tidak ingin kembali menjadi wanita yang dipenuhi amarah.
Tidak akan pernah lagi.
Sesampainya di rumah, Arman bersiap berangkat bekerja.
Sebelum mengayuh sepedanya, ia berhenti di depan Mira.
"Aku mungkin pulang agak malam."
"Ada lembur?"
"Iya."
"Mereka kekurangan orang."
Mira mengangguk. "Hati-hati."
Arman tersenyum.
Ia memperhatikan wajah istrinya beberapa saat.
Dulu, setiap kali ia berangkat kerja, yang didengarnya hanyalah keluhan.
Hari ini, yang mengantarnya hanyalah doa.
Perasaan hangat memenuhi dada Arman. Tanpa sadar, ia mengulurkan tangan dan merapikan ujung rambut Mira yang tertiup angin.
Gerakan itu membuat Mira sedikit terkejut.
Sudah lama sekali mereka tidak melakukan hal sederhana seperti itu.
"Kenapa?" tanya Mira pelan.
"Tidak apa-apa."
Arman tersenyum.
"Lama-lama aku takut semua ini cuma mimpi."
Mata Mira langsung memanas.
"Bukan mimpi. Aku sungguh ingin berubah."
Arman mengangguk pelan. "Aku mulai percaya."
Kalimat itu membuat dada Mira bergetar.
Di saat yang sama, layar sistem muncul.
Kepercayaan Suami
20%
→28%
Mira menggigit bibir.
Naiknya delapan persen sekaligus. Itu kenaikan terbesar yang pernah ia dapatkan.
Siang hari, Mira mulai menyiapkan bibit cabai premium. Bibit itu tampak lebih besar daripada bibit biasa. Warnanya juga lebih cerah.
Mira membawa semuanya ke lahan Pak Hasan.
Lila ikut membawakan botol air.
"Ibu."
"Hm?"
"Nanti kalau cabainya banyak...kita buat sambal lagi?"
"Tentu."
"Aku boleh bantu bungkus?"
"Boleh."
Lila tersenyum lebar. "Aku sudah pintar mengikat karet."
Mira tertawa kecil.
"Kalau begitu nanti Lila jadi asisten Ibu."
"Iya!"
Anak kecil itu tampak bangga.
Menjelang sore, Raka datang langsung ke lahan sepulang sekolah. Ia masih mengenakan seragam. Tanpa banyak bicara, ia mengambil cangkul lalu membantu membuat lubang tanam.
Mira memperhatikan dari kejauhan.
Pemandangan itu terasa begitu indah.
Dulu Raka selalu berusaha menghindari rumah. Sekarang ia justru datang ke kebun lebih dulu.
"Ibu." Suara Raka memecah lamunannya.
"Iya?"
"Jarak tanamnya jangan terlalu dekat."
"Kenapa?"
"Guru IPA pernah bilang. Nanti akarnya berebut nutrisi."
Mira mengangguk kagum. "Kalau begitu ajari Ibu."
Raka tampak sedikit malu. Namun ia tetap menunjukkan cara memberi jarak antar lubang.
Pak Hasan yang kebetulan melihat dari teras rumah tersenyum puas.
"Anakmu pintar."
Mira memandang Raka dengan bangga. "Iya. Dia memang selalu rajin belajar."
Kalimat itu membuat Raka berhenti sejenak.
Seingatnya, itu adalah pertama kalinya ibunya memujinya tanpa syarat.
Tanpa embel-embel.
Tanpa membandingkan dengan orang lain.
Remaja itu kembali bekerja. Namun kali ini, senyum tipis terlihat di wajahnya.
Matahari mulai condong ke barat.
Semua bibit cabai akhirnya selesai ditanam.
Lahan yang kemarin dipenuhi rumput kini berubah menjadi deretan tanaman kecil yang tertata rapi.
Pak Hasan berjalan mendekat.
"Bagus. Kalian bekerja cepat."
Mira mengangguk. "Kalau ditunda, nanti malah malas."
Pak Hasan tertawa. "Itu benar."
Mira menyiram bibit terakhir. Saat air menyentuh tanah, layar sistem berbunyi.
Misi Selesai.
Bibit Cabai Premium berhasil ditanam.
+30 Poin Kebajikan.
Pertumbuhan Cabai +20%.
Belum selesai.
Muncul notifikasi lain.
Bonus Keluarga.
Ibu dan anak bekerja sama.
+15 Poin Kebajikan.
Mira menatap anak-anaknya satu per satu.
Raka sedang membersihkan cangkul.
Lial merapikan ember.
Dulu, mereka seperti orang asing yang tinggal di bawah satu atap.
Kini mereka mulai menjadi sebuah tim.
Malam harinya, Arman pulang. Setelah makan, Arman mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya.
"Mira."
"Iya?"
"Ini."
Ia menyerahkan beberapa lembar uang.
Mira mengernyit.
"Untuk apa?"
"Upah lembur."
"Kenapa diberikan padaku?"
Arman tersenyum kecil. "Selama ini aku selalu menyimpan sendiri. Bukan karena tidak percaya. Tapi karena takut uangnya habis."
Mira menundukkan kepala. Ia tahu maksud sebenarnya. Arman memang tidak percaya padanya.
Dan itu bukan salah siapa-siapa.
"Tapi sekarang,” ucap Arman lagi. “Aku ingin kita mengelola semuanya bersama."
Mata Mira langsung berkaca-kaca. Ia menerima uang itu dengan kedua tangan.
"Aku janji akan menggunakan setiap rupiah uang ini sebaik mungkin."
Arman mengangguk. "Aku percaya."
Ucapan itu terasa jauh lebih berharga daripada jumlah uang yang berada di tangannya.
Di sudut pandangannya, layar sistem muncul kembali.
Misi Tersembunyi Selesai.
Dapatkan kembali kepercayaan pasangan dalam urusan keuangan.
Hadiah: Buku Kas Usaha Digital.
Fitur Keuangan Terbuka.
Mira tersenyum kecil.
Sistem memang memberinya banyak hadiah. Namun malam ini, hadiah terbaik bukanlah fitur baru.
Melainkan kepercayaan dari suaminya.
Saat ia membuka fitur keuangan, sebuah laporan sederhana muncul.
Pendapatan keluarga.
Pengeluaran.
Tabungan.
Keuntungan usaha.
Di bagian paling bawah terdapat sebuah tulisan yang membuat jantungnya berdebar.
Analisis Sistem:
Dengan pola usaha saat ini, keluarga memiliki peluang keluar dari kemiskinan dalam waktu kurang dari dua tahun.
Mira memandangi kalimat itu lama.
Dua tahun.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, masa depan tidak lagi tampak gelap.
Namun tepat ketika ia hendak menutup layar sistem, muncul sebuah notifikasi baru berwarna merah.
Peringatan.
Terdeteksi ancaman terhadap lahan cabai.
Kemungkinan gangguan dalam waktu dekat: 87%.
Senyum di wajah Mira perlahan menghilang. Ia menatap keluar jendela ke arah kebun yang gelap.
Entah siapa...
Tetapi seseorang tampaknya tidak ingin keluarga mereka terus melangkah maju.