Sistem Penebusan Ibu Pemarah

17. Jejak Di Atas Tanah

Keesokan paginya, Mira terbangun lebih awal. Namun kali ini bukan karena ingin memasak atau menyiram tanaman. Peringatan dari sistem semalam terus terngiang di kepalanya.

Kemungkinan gangguan dalam waktu dekat: 87%.

Ia tidak tahu apa arti peringatan itu.

Apakah hama?

Pencuri?

Atau seseorang yang sengaja ingin merusak kebun mereka?

Mira menarik napas panjang. Ia tidak menceritakan hal itu kepada Arman. Tanpa bukti, ia tidak ingin membuat suaminya khawatir.

Setelah menyiapkan sarapan, ia berkata pelan, "Aku mau ke kebun lebih dulu."

Arman mengangguk. "Aku menyusul sebentar lagi sebelum berangkat kerja."

Mira mengambil ember lalu berjalan menuju lahan milik Pak Hasan.

Embun pagi masih menempel di daun-daun kecil cabai yang baru ditanam kemarin.

Namun baru beberapa langkah memasuki kebun, jantungnya langsung berdegup keras.

"Astaga...."

Beberapa bibit cabai tampak tercabut dari tanah.

Ada yang patah.

Ada yang terinjak hingga batangnya remuk.

Mira menjatuhkan ember yang dibawanya.

Air tumpah membasahi tanah.

"Siapa melakukan ini?"

Tangannya gemetar ketika memungut salah satu bibit yang sudah layu.

Di sudut pandangannya, layar sistem muncul.

Peringatan terkonfirmasi.

Kerusakan tanaman: 6 bibit.

Penyebab: Faktor eksternal.

Mata Mira memerah.

Bibit itu baru ditanam sehari.

Belum sempat tumbuh.

Namun sudah dirusak.

Tak lama kemudian Arman datang. Begitu melihat keadaan kebun, wajahnya langsung berubah.

"Ini...." Ia berjongkok memeriksa bekas pijakan di tanah. "Bukan kambing. Bukan juga ayam."

"Apa?"

"Lihat jejaknya."

Arman menunjuk tanah yang masih lembap. 

Terlihat jelas bekas sandal orang dewasa.

Jejak itu mengarah dari pagar belakang menuju kebun.

Seseorang memang sengaja masuk.

Lila yang datang bersama Pak Hasan langsung menutup mulutnya.

"Cabainya...."

Pak Hasan menghela napas panjang. "Ada orang yang iri."

Mira mengepalkan tangan. Amarah mulai memenuhi dadanya. Namun sebelum emosinya meledak, sistem kembali berbunyi.

Misi Darurat.

Jangan mengambil keputusan dalam keadaan marah.

Hadiah:

20 Poin Kebajikan.

Mira memejamkan mata. Ia menarik napas perlahan. Lalu mengembuskannya.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Ketika membuka mata kembali, kemarahannya belum hilang.

Tetapi ia sudah bisa berpikir.

"Kita tanam lagi."

Arman menatapnya. "Apa?"

"Kita tanam lagi saja. Kalau kita sibuk mencari pelaku tanaman yang lain tidak ada yang merawat."

Pak Hasan tersenyum tipis. "Itu keputusan yang benar."

Mereka mulai memperbaiki kebun.

Bibit yang masih bisa diselamatkan ditanam kembali. Yang sudah patah dipisahkan.

Lila membantu mengambil air.

Raka datang setelah pulang sekolah lebih awal. Guru mengadakan rapat, jadi siswa di pulangkan. 

"Apa yang terjadi?" Saat melihat bibit yang rusak, rahangnya langsung mengeras. "Siapa pelakunya?"

Mira menggeleng.

"Belum tahu."

"Aku cari." 

Raka hendak berlari keluar.

Namun Mira menahan lengannya.

"Jangan."

"Tapi, Bu...."

"Dengar Ibu."

Remaja itu menatap wajah ibunya.

"Aku juga marah. Tapi kita tidak boleh menuduh tanpa bukti."

Raka menggigit bibir. Perlahan ia mengangguk. "Baik."

Mira tersenyum kecil.

"Lebih baik bantu Ayah."

Raka akhirnya mengambil cangkul. Amarahnya belum hilang. Namun ia memilih bekerja.

Menjelang siang, beberapa warga mulai berdatangan. Mereka mendengar kabar tentang kebun yang dirusak.

"Sayang sekali."

"Baru ditanam."

"Siapa yang tega?"

Berbagai dugaan bermunculan.

Ada yang menyebut anak-anak nakal.

Ada pula yang menduga orang luar desa.

Namun tidak ada seorang pun yang memiliki bukti.

Bu Rini datang membawa beberapa bibit cabai miliknya.

"Ini. Ambil saja."

Mira terkejut.

"Bu, jangan."

"Tanam saja. Daripada lahannya kosong."

Mata Mira kembali berkaca-kaca. "Terima kasih."

Bu Rini tersenyum hangat.

"Di desa ini masih banyak orang baik."

"Jangan hanya melihat satu orang yang berbuat buruk."

Kalimat itu membuat hati Mira terasa lebih ringan.

Sore harinya, saat semua orang sudah pulang, Pak Hasan menghampiri Mira.

"Aku mau menunjukkan sesuatu."

"Apa, Pak?"

Pria tua itu berjalan menuju pagar belakang.

Di salah satu tiang bambu tersangkut sobekan kecil kain berwarna biru tua.

"Tadi pagi belum ada."

Mira mengambil kain itu.

Warnanya sangat familiar.

Namun ia tidak langsung ingat.

Pak Hasan berkata pelan, "Pelakunya mungkin terburu-buru."

Mira mengangguk. "Kita simpan saja. Jangan disebarkan dulu."

"Kenapa?"

"Karena kita belum tahu milik siapa."

Pak Hasan tersenyum puas. "Kamu memang berubah. Dulu pasti langsung keliling kampung sambil berteriak."

Mira ikut tersenyum.

"Untung sekarang tidak."

Malam hari, keluarga kecil itu berkumpul di ruang tengah.

Suasana sedikit muram.

Lila memeluk boneka kainnya. "Ibu."

"Hm?"

"Cabainya nanti tumbuh lagi kan?"

Mira mengusap kepala putrinya. 

"Tumbuh. Kita kan sudah tanam lagi."

Arman ikut berkata, "Selama kita tidak menyerah selalu ada harapan."

Raka yang sejak tadi diam tiba-tiba mengeluarkan sesuatu dari tasnya.

"Sebenarnya...."

"Ada apa?"

"Aku melihat seseorang keluar dari arah kebun pagi tadi."

Semua langsung menoleh.

"Siapa?" tanya Arman.

Raka menggeleng. "Aku tidak melihat wajahnya. Tapi...orang itu memakai jaket biru."

Mira spontan melihat sobekan kain yang disimpannya. Warnanya sama. Jantungnya berdegup semakin cepat.

Apakah itu petunjuk?

Namun ia segera menggeleng pelan.

Belum cukup.

Mereka tetap belum punya bukti.

Di saat itulah layar sistem kembali muncul.

Misi Darurat Selesai.

Pengguna berhasil mengendalikan emosi.

+20 Poin Kebajikan.

Bonus Kebijaksanaan +10 Poin.

Total Poin bertambah.

Belum selesai.

Notifikasi berikutnya perlahan muncul.

Misi Investigasi Terbuka.

Temukan pelaku tanpa menuduh orang yang tidak bersalah.

Hadiah:

Kartu Kejujuran.

Mira mengernyit.

Kartu Kejujuran?

Ia belum tahu benda apa itu.

Namun satu hal sudah pasti.

Sistem tidak ingin ia membalas dendam.

Sistem ingin ia menemukan kebenaran.

Sebelum tidur, Mira kembali memandangi sobekan kain biru yang kini tersimpan di dalam kotak kecil.

Entah milik siapa.

Entah bagaimana cara menemukannya.

Namun jauh di dalam hatinya, ia merasa orang yang merusak kebun itu bukan sekadar iri pada tanaman mereka.

Orang itu takut melihat keluarganya benar-benar bangkit dari kemiskinan. Dan jika dibiarkan, gangguan seperti ini mungkin tidak akan berhenti hanya sekali.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!