Sistem Penebusan Ibu Pemarah
18. Orang yang Bersembunyi
Malam setelah kebun mereka dirusak, Mira tidak bisa tidur. Dia masih terjaga di ruang depan.
Di atas meja terdapat sobekan kain berwarna biru tua yang ditemukan Pak Hasan di dekat pagar kebun.
Benda kecil itu terus menarik perhatiannya. Ia sudah membolak-balik kain tersebut berkali-kali. Namun tetap saja tidak menemukan petunjuk baru.
Di sudut pandangannya, layar sistem muncul.
Misi Investigasi
Progres: 0%.
Petunjuk ditemukan: 1.
Jangan mengambil kesimpulan tanpa bukti.
Mira menghela napas.
"Aku tahu."
Ia menyimpan kembali sobekan kain itu ke dalam kotak kayu kecil.
Apa pun yang terjadi, ia tidak ingin mengulangi kesalahan masa lalunya.
Dulu ia sering menuduh orang lain tanpa berpikir panjang.
Sekarang ia harus belajar mencari kebenaran.
Keesokan paginya, Mira kembali ke kebun bersama Arman.
Enam bibit yang rusak sudah diganti dengan bibit pemberian Bu Rini.
Tanah kembali dirapikan.
Meski masih terasa sedih, setidaknya kebun itu tidak lagi terlihat berantakan.
Pak Hasan datang membawa sapu lidi. "Aku bersihkan jalan setapaknya. Biar nanti tidak licin."
"Terima kasih, Pak," ucap Arman.
Pria tua itu mengangguk. "Lahan ini sekarang bukan cuma milikku. Kalian juga ikut menjaganya."
Ucapan itu membuat hati Mira menghangat.
Kepercayaan memang tidak datang begitu saja.
Kepercayaan lahir dari tindakan yang dilakukan setiap hari.
Saat mereka sedang bekerja, seorang anak laki-laki berlari melewati kebun.
Namanya Beni.
Anak yang pernah terjatuh dari sepeda dan ditolong Mira beberapa waktu lalu.
"Bu Mira!"
"Iya, Beni?"
Anak itu tampak ragu-ragu.n"Aku... mau bilang sesuatu."
Mira berjongkok agar sejajar dengannya.
"Apa?"
Beni menoleh ke kanan dan kiri lebih dulu.
"Kemarin pagi...aku lihat ada orang keluar dari kebun ini."
Mata Arman langsung bertemu dengan mata Mira.
"Kamu kenal orangnya?"
Beni menggeleng."Dia pakai topi. Wajahnya tidak kelihatan."
"Tapi jaketnya warna biru."
Jantung Mira kembali berdegup.
Jaket biru.
Sama seperti cerita Raka.
"Satu lagi."
Beni menelan ludah.
"Orang itu naik motor."
"Motornya bunyi keras."
Arman mengangguk pelan. "Itu sudah membantu. Terima kasih."
Beni tersenyum malu sebelum berlari pergi.
Begitu anak itu menghilang, sistem kembali berbunyi.
Petunjuk Baru Ditemukan.
Progres Investigasi: 20%.
Mira mengangguk pelan.
Setidaknya mereka mulai memiliki arah.
Menjelang siang, Mira pergi ke pasar membeli cabai. Ia sengaja memperhatikan setiap orang yang memakai jaket biru.
Namun hasilnya nihil.
Desa mereka cukup besar.
Jaket biru bukan sesuatu yang langka.
Saat sedang memilih bawang merah, ia mendengar dua pedagang sedang berbicara.
"Kemarin ada orang beli racun rumput banyak."
"Iya."
"Katanya buat membersihkan kebun."
Mira tidak terlalu memikirkan percakapan itu. Namun kata "kebun" membuatnya sedikit waspada. Ia segera menyelesaikan belanja lalu pulang.
Di perjalanan pulang, ia bertemu Bu Rini. "Kamu kelihatan melamun."
Mira tersenyum kecil.
"Masih memikirkan kebun."
Bu Rini mengangguk. "Wajar. Lalu bagaimana?"
"Aku belum tahu siapa pelakunya."
Wanita tua itu menepuk pelan bahu Mira. "Kalau memang ada niat jahat suatu hari pasti terlihat. Tapi jangan sampai kebencian menguasai hatimu."
Mira mengangguk.
"Aku akan ingat."
Sore harinya, Raka pulang sambil membawa kabar.
"Bu."
"Iya?"
"Tadi di sekolah aku dengar sesuatu."
"Apa?"
"Teman sekelasku bilang, pamannya melihat seseorang berhenti dekat kebun Pak Hasan malam sebelum bibit dirusak."
"Siapa?"
"Katanya tidak tahu."
"Tapi motornya warna merah."
Arman yang baru datang ikut mendengar.
"Motor merah?"
"Itu mulai mengerucut."
Di desa mereka memang tidak banyak orang yang memiliki motor merah.
Namun Arman tetap menggeleng. "Kita tidak boleh menebak."
Mira setuju.
"Belum tentu orang itu pelakunya."
Raka mengangguk pelan.
"Iya."
Ia mulai mengerti mengapa ibunya terus menahan diri.
Menjelang malam, keluarga itu makan bersama seperti biasa.
Di tengah makan, Lila tiba-tiba berkata, "Ibu."
"Hm?"
"Kalau nanti ketemu orang yang merusak kebun ibu marah tidak?"
Semua langsung terdiam.
Mira meletakkan sendoknya perlahan. Ia memandang putrinya dengan lembut.
"Ibu pasti sedih. Kecewa juga. Tapi Ibu tidak mau membalas dengan kebencian."
"Kenapa?"
"Karena dulu Ibu sering marah. Dan hidup kita tidak pernah jadi lebih baik."
Lila berpikir beberapa saat. "Lalu sekarang?"
"Sekarang Ibu ingin menyelesaikan masalah. Bukan menambah masalah."
Arman tersenyum bangga.
Sementara Raka hanya menunduk. Namun dalam hatinya, ia mulai benar-benar percaya. Ibunya memang sudah berubah.
Bukan hanya di depan orang lain.
Tetapi juga dalam cara berpikir.
Malam semakin larut.
Saat semua sudah tidur, Mira keluar memeriksa kebun kecil di belakang rumah.
Tanaman bayam baru mulai tumbuh lagi.
Cabai premium di lahan Pak Hasan juga tampak baik-baik saja.
Ia menghembuskan napas lega. Namun tepat ketika hendak kembali ke rumah, terdengar suara motor dari kejauhan.
Brrmmm...
Suara knalpotnya keras.
Sangat keras.
Mira spontan mematikan lampu senter.
Motor itu melintas perlahan di depan rumah Pak Hasan.
Tidak berhenti.
Hanya melambat beberapa detik.
Karena suasana gelap, ia tidak bisa melihat wajah pengendaranya.
Yang terlihat hanya...
Motor berwarna merah.
Jantung Mira kembali berdegup.
Ia tidak mengejar. Hanya mengingat arah motor itu pergi.
Beberapa detik kemudian layar sistem muncul.
Petunjuk Baru Terkonfirmasi.
Motor merah.
Progres Investigasi: 45%.
Jangan bertindak sendiri.
Risiko bahaya meningkat.
Mira mengangguk pelan. Ia tidak akan gegabah. Namun kini ia yakin. Orang yang merusak kebun mereka belum menyerah.
Dan kemungkinan besar, orang itu masih mengawasi setiap langkah keluarganya.
Di balik kegelapan malam, sepasang mata kembali memperhatikan rumah sederhana Mira dari kejauhan.
Sosok tersebut menggenggam setang motor merahnya erat-erat.
"Kalau kebun itu terus berkembang, rencanaku akan gagal."
Suara pelan itu tenggelam bersama deru mesin yang kembali menghilang ke dalam gelapnya jalan desa.