Sistem Penebusan Ibu Pemarah
19. Permintaan yang Tidak Disangka
Pagi hari, udara desa terasa lebih sejuk setelah hujan turun semalaman. Tanah di kebun Pak Hasan masih basah, sementara daun-daun cabai muda tampak semakin segar diterpa sinar matahari.
Mira berjalan perlahan menyusuri setiap barisan tanaman.
Sejak melihat motor merah semalam, ia menjadi lebih waspada. Namun ia tidak menemukan tanda-tanda kerusakan baru.
Mira menghembuskan napas lega.
"Syukurlah."
Di sudut pandangannya, layar sistem muncul.
Status Tanaman
Cabai Premium: Sehat.
Risiko Gangguan Hari Ini: Rendah.
Mira tersenyum tipis.
Setidaknya untuk hari ini mereka masih aman.
"Bu Mira."
Suara seseorang membuatnya menoleh.
Pak Hasan berjalan pelan sambil membawa sebuah map cokelat yang terlihat sudah tua.
"Ada yang ingin Bapak bicarakan."
Mira segera menghampiri.
"Ada apa, Pak?"
Pria tua itu duduk di bawah pohon mangga. Tatapannya mengarah ke lahan yang kini mulai dipenuhi tanaman.
"Dulu, tanah ini dikelola bersama istriku."
Mira memilih diam. Ia tahu Pak Hasan sudah lama menjadi duda.
"Setelah dia meninggal, aku kehilangan semangat."
Pria tua itu tersenyum pahit. "Rumput tumbuh lebih cepat daripada niatku untuk bekerja."
Mira menundukkan kepala. Ia bisa merasakan kesepian dalam suara lelaki tua itu.
"Lalu kalian datang."
Pak Hasan memandang Mira.
"Tanah ini hidup lagi."
Kalimat sederhana itu membuat hati Mira menghangat.
"Bapak terlalu baik."
"Bukan."
"Aku hanya mengatakan kenyataan."
Pak Hasan membuka map yang dibawanya.
Di dalamnya terdapat beberapa lembar kertas lama.
"Ini surat kepemilikan tanah."
Mira terkejut. "Pak?"
"Aku ingin membuat perjanjian."
"Perjanjian?"
"Selama aku masih hidup, kalian bebas mengelola tanah ini."
Mata Mira membulat. "Pak, kami tidak berani."
Pak Hasan mengangkat tangannya.
"Dengar dulu. Hasil panennya kita bagi."
"Tujuh puluh persen untuk kalian."
"Tiga puluh persen untukku."
Mira langsung menggeleng. "Itu terlalu banyak."
"Justru terlalu sedikit."
Pak Hasan tersenyum. "Yang bekerja kalian."
"Kalau bukan karena kalian, tanah ini tidak menghasilkan apa-apa."
Mira merasa tenggorokannya tercekat.
Ia tidak pernah membayangkan akan mendapat kepercayaan sebesar itu.
Siang harinya Arman datang ke kebun saat jam istirahat.
Pak Hasan kembali menjelaskan maksudnya.
Arman mendengarkan dengan sungguh-sungguh.
"Pak. Kami tidak ingin Bapak merasa rugi."
"Aku tidak rugi." Pria tua itu tertawa kecil. "Aku justru senang setiap pagi ada suara orang bekerja di sini."
"Rumahku tidak lagi terasa sepi."
Arman menatap Mira.
Keduanya saling memahami.
Bukan hanya soal tanah.
Pak Hasan sebenarnya sedang mencari keluarga.
Seseorang yang mau menghidupkan kembali tempat yang pernah penuh kenangan bersama istrinya.
"Kalau begitu, kami menerima. Tapi dengan satu syarat."
Pak Hasan mengangkat alis.
"Apa?"
"Kalau panennya bagus, bagian Bapak tetap setengah."
Pak Hasan tertawa keras. "Kalian ini. Baiklah. Nanti kita bicarakan lagi."
Melihat mereka saling tersenyum, hati Mira terasa hangat.
Sore hari, saat mereka sedang bekerja, sebuah mobil bak terbuka berhenti di depan rumah Pak Hasan.
Seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun turun.
Pakaiannya rapi.
Sepatunya mengkilap. Ia memandang kebun dengan alis berkerut.
"Pak Hasan."
Pria tua itu menoleh. "Oh. Rudi."
Mira memperhatikan wajah pria tersebut. Tatapannya tajam. Terutama ketika melihat tanaman cabai.
"Siapa mereka?" tanya Rudi.
"Mereka yang mengelola kebun."
Rudi menatap Mira dan Arman dari ujung kepala sampai kaki.
"Kapan sejak orang luar ikut mengurus tanah keluarga?"
Mira dan Arman saling berpandangan.
Keluarga?
Pak Hasan menghela napas. "Mereka bukan orang luar. Mereka membantuku."
Rudi mendengus.
"Membantu atau mengincar tanah?"
Suasana langsung berubah tegang.
Mira menggenggam ujung bajunya. Namun ia memilih tetap diam.
Pak Hasan berdiri. "Jaga ucapanmu."
"Aku hanya bilang yang sebenarnya." Rudi melirik kebun. "Tanah itu nanti juga jadi milik keluarga. Buat apa dikelola orang lain?"
Pak Hasan menatapnya tajam. "Selama bertahun-tahun tanah ini terlantar. Ke mana saja kamu?"
Rudi terdiam.
Pria tua itu melanjutkan, "Waktu rumput setinggi dada tidak pernah kulihat kamu datang. Waktu aku sakit tidak pernah sekali pun kamu bertanya. Sekarang setelah tanah ini mulai menghasilkan baru kamu muncul."
Wajah Rudi memerah. Ia mengepalkan tangan. Namun tidak mampu membalas.
Beberapa detik kemudian ia berbalik menuju mobil.
"Saya akan datang lagi."
Mobil itu melaju meninggalkan debu di jalan desa.
Mira memperhatikan kepergiannya.
Entah mengapa, ada sesuatu dalam tatapan pria itu yang membuatnya tidak nyaman.
Setelah Rudi pergi, Pak Hasan duduk kembali. Wajahnya tampak lelah.
"Maaf. Kalian jadi ikut mendengar."
"Tidak apa-apa, Pak," jawab Arman.
"Dia keponakan Bapak?" tanya Mira hati-hati.
Pak Hasan mengangguk. "Anak adik."
"Sudah lama tinggal di kota. Jarang pulang."
Mira tidak bertanya lagi. Namun dalam hatinya muncul dugaan.
Apakah pria itu marah karena tanah mulai dikelola?
Ataukah...
Karena takut kehilangan sesuatu?
Di sudut pandangannya, sistem tiba-tiba berkedip.
Perhatian.
Karakter Baru Terdeteksi.
Rudi
Tingkat Risiko: Sedang.
Mata Mira membelalak.
Ini pertama kalinya sistem memberikan informasi tentang seseorang.
Berarti...
Kedatangan Rudi bukan kebetulan.
Malam harinya, Mira menceritakan semua itu kepada anak-anak.
Raka mendengarkan dengan serius. "Berarti dia mungkin tidak suka kita menggarap kebun?"
"Mungkin." Jawaban Mira singkat.
Lila yang sedang mengerjakan tugas sekolah ikut bertanya, "Kalau dia minta tanahnya kembali bagaimana?"
Arman tersenyum menenangkan. "Tanah itu milik Pak Hasan. Selama beliau mengizinkan kita tetap bekerja seperti biasa."
Mira mengangguk.
"Yang penting kita menjaga kepercayaan beliau."
Semua kembali terdiam.
Di luar rumah, suara jangkrik memenuhi malam.
Mira memandang kaleng kecil tempat mereka menyimpan uang hasil usaha.
Jumlahnya memang belum banyak.
Namun perlahan bertambah.
Begitu juga kepercayaan orang-orang di sekitar mereka.
Di saat itulah layar sistem kembali muncul.
Misi Baru.
Pertahankan kepercayaan Pak Hasan selama 30 hari.
Hadiah: Hak Kelola Permanen.
Jantung Mira berdegup kencang.
Hak kelola permanen?
Kalau hadiah itu benar-benar mereka dapatkan, masa depan keluarga mereka akan berubah.
Namun sebelum sempat merasa terlalu senang, sebuah notifikasi merah muncul tepat di bawahnya.
Peringatan.
Kemungkinan konflik dengan Rudi meningkat menjadi 82%.
Mira perlahan menutup layar sistem.
Ia memandang keluar jendela ke arah kebun yang diterangi cahaya bulan.
Nalurinya mengatakan satu hal.
Kerusakan tanaman beberapa hari lalu, mungkin bukan sekadar ulah orang iseng.
Dan kedatangan Rudi hari ini membuat teka-teki itu mulai mengarah pada sesuatu yang jauh lebih besar.