Sistem Penebusan Ibu Pemarah

20. Ujian Kejujuran

Mira membuka kaleng kecil tempat mereka menyimpan hasil usaha. Setelah dihitung berkali-kali, jumlah uang di dalamnya perlahan mulai bertambah.

Belum cukup untuk mengubah hidup. Namun sudah cukup untuk membuat mereka bernapas sedikit lebih lega.

Mira menuliskan setiap pemasukan dan pengeluaran di buku kas yang diberikan sistem.

Takaran cabai.

Harga minyak goreng.

Biaya plastik pembungkus.

Semuanya dicatat dengan rapi.

Arman yang baru selesai mencuci muka memperhatikan dari balik pintu.

"Kamu teliti sekali."

Mira tersenyum.

"Dulu aku tidak pernah tahu uang kita habis untuk apa. Sekarang aku tidak mau mengulang kesalahan yang sama."

Arman mengangguk pelan.

Ia semakin yakin bahwa perubahan istrinya bukan sesuatu yang sementara.

Setelah sarapan, mereka berangkat ke lahan Pak Hasan. Cabai-cabai muda mulai mengeluarkan daun baru.

Warnanya hijau segar.

Pak Hasan tampak tersenyum puas. "Kalau begini terus panennya pasti bagus."

"Semoga," jawab Mira.

Belum lama mereka bekerja, sebuah mobil pikap kembali berhenti di depan rumah.

Rudi turun sambil membawa dua pria yang bertubuh besar.

Mira dan Arman saling berpandangan.

Pak Hasan langsung menghampiri.

"Ada apa lagi?"

Rudi tersenyum tipis. "Kali ini aku datang membawa pembeli."

Pembeli?

Pak Hasan mengernyit.

"Maksudmu?"

"Seseorang ingin membeli tanah ini."

Suasana langsung hening.

Mira spontan menoleh ke arah Arman.

Pak Hasan menggeleng tanpa ragu. "Aku tidak menjual."

Rudi tertawa kecil.

"Pakde. Harga yang ditawarkan sangat tinggi."

"Aku tidak tertarik."

"Kita bisa bagi hasil."

"Tidak."

Jawaban Pak Hasan tetap tenang.

Namun tegas.

Rudi mulai kehilangan senyumnya.

"Pakde sudah tua. Untuk apa mempertahankan tanah seluas ini?"

Pak Hasan menatap keponakannya lurus-lurus. "Karena tanah ini masih berguna."

"Untuk siapa?"

"Untuk orang yang mau bekerja."

Kalimat itu membuat Rudi melirik Mira dan Arman dengan tajam.

Mereka tetap memilih diam.

Tidak ada gunanya ikut campur dalam urusan keluarga orang lain.

Akhirnya Rudi mengembuskan napas kasar.

"Kalau begitu terserah." Ia kembali masuk ke mobil. Namun sebelum pergi, ia sengaja berkata cukup keras agar Mira mendengarnya. "Hati-hati. Orang miskin sering lupa diri kalau mulai punya uang."

Mobil itu melaju meninggalkan debu.

Mira mengepalkan tangan. Ucapan itu jelas ditujukan kepadanya. Namun ia tetap menahan diri.

Pak Hasan menghela napas panjang. "Maaf. Dia memang keras kepala."

Mira menggeleng.

"Bapak tidak perlu minta maaf."

Arman ikut menambahkan, "Kami hanya akan fokus bekerja."

Pak Hasan tersenyum tipis.

"Itulah yang membuatku percaya kepada kalian."

Di sudut pandangannya, layar sistem muncul.

Kepercayaan Pak Hasan

25%

→30%

Mira tersenyum kecil.

Kepercayaan itu jauh lebih berharga daripada pujian.

Menjelang siang, Mira dan Arman hendak pulang. Namun di jalan setapak, mereka melihat sebuah dompet kulit tergeletak di pinggir jalan.

Arman memungutnya. "Siapa ya yang jatuh?"

Mira membuka sedikit bagian dalamnya.

Matanya langsung membulat.

Dompet itu berisi uang dalam jumlah cukup banyak.

Selain itu terdapat kartu identitas.

Milik Rudi.

Arman menatap istrinya. "Bagaimana?"

Mira terdiam beberapa saat. Kalau mengingat sikap Rudi tadi, mungkin lebih mudah membiarkan dompet itu tetap hilang.

Namun...

Ia segera menggeleng.

"Kita kembalikan."

Arman tersenyum.

"Aku juga berpikir begitu."

Mereka segera menuju rumah Pak Hasan.

Berharap Rudi masih ada.

Ternyata mobilnya memang belum lama pergi.

Pak Hasan memberikan nomor telepon Rudi.

Arman langsung menghubunginya.

Sekitar tiga puluh menit kemudian, mobil merah itu kembali datang.

Begitu turun, Rudi langsung bertanya, "Katanya kalian temukan dompetku?"

Arman menyerahkan dompet tersebut. 

"Tadi jatuh di jalan."

Rudi membukanya dengan tergesa-gesa. Semua uang masih utuh. Tidak ada yang berkurang. Ia tampak sedikit terkejut.

"Kalian tidak mengambil apa pun?"

Mira menggeleng. "Itu bukan milik kami."

Rudi memandang mereka bergantian. Tatapannya berubah rumit. Seolah ada sesuatu yang tidak sesuai dengan bayangannya.

"Aku...." Ia tampak ingin mengatakan sesuatu. Namun akhirnya hanya mengangguk singkat. "Terima kasih."

Pria itu pergi.

Pak Hasan yang menyaksikan semuanya tertawa kecil. "Sepertinya dia tidak menyangka."

Mira tersenyum tipis.

"Biar saja. Yang penting hati kami tenang."

Saat perjalanan pulang, sistem tiba-tiba berbunyi.

Misi Rahasia Selesai.

Mengembalikan barang berharga tanpa mengharapkan imbalan.

Hadiah: +50 Poin Kebajikan.

Item Baru: Kartu Kejujuran.

Mira mengernyit.

Akhirnya hadiah itu muncul.

Sebuah kartu berwarna putih keemasan melayang di layar.

Kartu Kejujuran

Efek: Satu kali penggunaan.

Membantu mengungkap kebohongan seseorang melalui petunjuk sistem.

Tidak dapat digunakan secara sembarangan.

Mata Mira berbinar.

Hadiah ini mungkin akan sangat berguna.

Terutama untuk menyelesaikan misteri perusakan kebun.

Sore harinya, Raka pulang dari sekolah. "Ibu."

"Iya?"

"Tadi aku dengar kabar."

"Kabar apa?"

"Orang-orang pasar bilang ada pengusaha yang sedang mencari tanah di desa kita."

Mira langsung teringat ucapan Rudi tadi. "Siapa pengusahanya?"

"Katanya orang kota."

"Tapi belum tahu siapa."

Arman yang sedang memperbaiki pagar ikut mendengar. Ia menghentikan pekerjaannya.

"Kalau begitu, bisa jadi Rudi memang sedang berusaha menjual tanah Pak Hasan."

Mira mengangguk pelan.

Semua kepingan mulai tersusun.

Tanah yang dulu dibiarkan terbengkalai tidak menarik perhatian siapa pun. Namun setelah kebun mereka mulai menghasilkan, tiba-tiba muncul pembeli.

Apakah benar hanya kebetulan?

Atau ada sesuatu yang lebih besar?

Malam hari, keluarga kecil Mira duduk di ruang tengah.

Lila tertidur di pangkuan Mira.

Arman sedang menghitung hasil upah.

Raka belajar di dekat lampu minyak.

Suasana terasa damai.

Namun layar sistem tiba-tiba berubah menjadi merah.

Peringatan Mendesak.

Seseorang akan mencoba mengambil kepercayaan Pak Hasan dalam waktu dekat.

Kemungkinan keberhasilan lawan: 68%.

Mata Mira langsung tertuju pada notifikasi itu.

Belum sempat ia berpikir lebih jauh, terdengar suara ketukan keras di pintu.

Tok!

Tok!

Tok!

Arman segera berdiri.

"Siapa malam-malam begini?"

Begitu pintu dibuka, terlihat Pak Hasan berdiri di depan rumah mereka.

Wajah lelaki tua itu pucat. Napasnya memburu.

"Mira…Arman…Saya... saya baru saja didatangi seseorang."

"Apa yang terjadi, Pak?" tanya Mira cemas.

Pak Hasan menelan ludah. "Ada yang membawa surat. Katanya, aku sudah menandatangani persetujuan menjual tanah itu."

Mira membeku. "Itu tidak mungkin."

Pak Hasan mengangguk dengan wajah tegang.

"Aku tidak pernah me

nandatangani surat apa pun."

Malam yang tadinya tenang berubah menjadi awal dari masalah yang jauh lebih besar daripada sekadar kebun yang dirusak.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!