Sistem Penebusan Ibu Pemarah

06. Godaan Emosi

"Bu Mira! Katanya sudah berubah. Masa utangnya saja belum dibayar?"

Suara Bu Ratna menggema dari depan pagar bambu.

Mira yang sedang menyapu halaman menghentikan gerakannya.

Ia mengangkat kepala perlahan.

Bu Ratna berdiri sambil berkacak pinggang. Di belakangnya ada dua orang ibu yang baru pulang dari warung. Mereka saling berpandangan, jelas penasaran dengan apa yang akan terjadi.

Dulu, pemandangan seperti ini hampir selalu berakhir dengan pertengkaran.

Bahkan tidak jarang Mira mengejar Bu Ratna sampai ke jalan desa.

Hari ini, Mira hanya menggenggam gagang sapunya lebih erat.

Sistem segera memunculkan layar.

Peringatan!

Emosi meningkat.

Jangan bereaksi dengan amarah.

Mira menarik napas panjang.

"Ada yang bisa saya bantu, Bu Ratna?" tanyanya setenang mungkin.

Bu Ratna tampak terkejut sesaat.

Namun hanya sesaat.

"Aku datang menagih utang."

"Iya."

"Kapan dibayar?"

Mira menunduk sebentar. "Belum bisa hari ini."

"Hah!"

Bu Ratna tertawa sinis. "Jadi cuma pintar janji?"

"Aku akan membayarnya sedikit demi sedikit."

"Kamu pikir warungku yayasan?"

Beberapa tetangga mulai memperhatikan dari kejauhan. Mereka menunggu ledakan amarah yang biasanya datang.

Namun Mira tetap diam.

Bu Ratna justru semakin kesal. "Dasar keluarga pemalas."

Kalimat itu membuat wajah Mira menegang.

Pemalas?

Arman bekerja sejak subuh sampai malam.

Ia mungkin miskin, tetapi tidak pernah malas.

Lagi-lagi kemarahan mulai naik.

Tangannya mengepal.

Layar sistem berkedip merah.

Emosi 65%.

Risiko kegagalan meningkat.

Mira menggigit bibir.

Ia mengingat wajah Arman yang selalu pulang membawa tangan penuh kapalan.

Mengingat Raka yang tas sekolahnya sudah sobek.

Mengingat Lila yang baru mulai berani mendekatinya.

Semua usaha itu, tidak boleh hancur hanya karena satu ledakan emosi.

"Maaf," ucap Mira pelan.

Bu Ratna mengernyit. "Apa?"

"Maaf karena belum bisa membayar."

Keheningan menyelimuti halaman.

Dua ibu yang berdiri di belakang Bu Ratna saling berpandangan.

Mereka bahkan mengucek telinga sendiri.

“Bu Mira...Meminta maaf?”

Bu Ratna mendengus.

"Percuma minta maaf kalau tidak ada uang."

"Aku tahu."

"Lalu?"

"Beri aku sedikit waktu."

Bu Ratna menatap Mira cukup lama. Entah mengapa ia justru merasa tidak nyaman. Ia datang dengan niat mempermalukan.

Namun lawannya tidak membalas sedikit pun.

Rasanya seperti meninju kapas.

"Hmph!"

Bu Ratna membalikkan badan.

"Satu minggu. Kalau belum dibayar juga, jangan salahkan aku kalau semua orang tahu keluargamu cuma numpang hidup!"

Wanita itu pergi sambil menggerutu.

Dua tetangga ikut menyusul.

Sebelum benar-benar pergi, salah seorang dari mereka sempat melirik Mira.

Tatapannya kali ini berbeda.

Tidak lagi penuh cibiran.

Melainkan heran.

Begitu mereka menghilang, Mira langsung terduduk di bangku bambu.

Tangannya gemetar.

"Menahan marah ternyata melelahkan."

Layar sistem muncul.

Selamat.

Pengguna berhasil mengendalikan emosi.

+10 Poin Kebajikan.

Total Poin: 35.

Mira mengembuskan napas lega.

Sepuluh poin hanya karena berhasil diam.

Dulu ia pasti menganggap itu mustahil.

***

Menjelang siang, Lila membantu menyapu halaman.

Mira mengambil kantong kecil berisi bibit dari lemari.

Ia memperhatikan tiga bungkus kecil itu.

Bayam.

Kangkung.

Cabai.

"Halaman belakang masih kosong," gumamnya.

Lila mendongak. "Ibu mau tanam sayur?"

"Iya."

"Boleh Lila bantu?"

Mira tersenyum. "Tentu."

Mereka berjalan menuju pekarangan belakang.

Rumput liar tumbuh hampir setinggi lutut.

Tanahnya keras karena lama tidak diolah.

Lila mengambil cangkul kecil.

"Ibu jangan capek. Kata dokter kepala Ibu belum sembuh."

Kalimat itu membuat langkah Mira terhenti.

Putrinya… Mengkhawatirkannya?

Meski hanya sedikit.

Tetap saja itu sebuah kemajuan.

"Ibu pelan-pelan saja."

"Iya."

Mereka mulai membersihkan rumput.

Tidak lama kemudian, suara seseorang terdengar dari balik pagar.

"Sedang berkebun?"

Mira menoleh.

Ternyata Bu Rini.

Tetangga yang rumahnya berada tepat di belakang mereka.

Wanita tua itu membawa sekeranjang daun singkong.

"Iya, Bu."

"Bagus juga." Bu Rini tersenyum ramah. "Tanah di belakang rumahmu sebenarnya subur."

"Aku tahu."

"Dulu kamu tidak pernah mau menanam."

Mira tersenyum malu. "Iya."

"Dulu aku pernah bilang, tapi kamu malah marah."

Mira menundukkan kepala."Aku ingat. Maaf ya, Bu."

Bu Rini tertawa kecil. "Kamu ini. Aku sudah lupa."

Ucapan sederhana itu membuat hati Mira sedikit lebih ringan.

Setidaknya masih ada orang yang bersedia berbicara baik dengannya.

Sore harinya Arman pulang.

Celananya penuh debu semen.

Hari itu ia mendapat pekerjaan membantu membangun rumah warga.

Mira segera mengambilkan segelas air.

"Minum dulu."

Arman tampak bingung. "Kamu tahu aku haus?"

"Kelihatan."

Pria itu menerima gelas tersebut.

Air putih biasa. Namun entah mengapa terasa berbeda. Sudah bertahun-tahun ia tidak pernah disambut seperti ini.

"Terima kasih."

"Sama-sama."

Arman duduk di kursi bambu.

Matanya kemudian menangkap tanah belakang rumah yang sudah dibersihkan.

"Kamu yang kerjakan?"

"Mengajak Lila."

"Kepalamu bagaimana?"

"Masih sedikit sakit."

Mira lalu mengambil kantong bibit. "Aku ingin menanam ini."

Arman membuka salah satu bungkus.

Tidak ada merek.

"Bibit dari mana?"

Pertanyaan itu membuat Mira terdiam.

Ia tentu tidak mungkin mengatakan bahwa bibit itu muncul dari sistem.

"Tadi... ada kenalan di rumah sakit yang memberikannya."

Arman mengangguk tanpa curiga. "Kalau begitu besok kita tanam."

Mira menghela napas lega.

Untung Arman tidak bertanya lebih jauh.

Malam harinya mereka kembali makan bersama. Suasana masih canggung. Namun tidak lagi setegang sebelumnya.

Lila bahkan mulai bercerita tentang pelajaran di sekolah.

"Ibu."

"Hm?"

"Besok kami disuruh membawa tanaman."

"Oh ya?"

"Iya."

Mira tersenyum.

"Nanti kita cari."

Lila mengangguk senang.

Raka tetap diam seperti biasa.

Namun kali ini ia tidak buru-buru masuk kamar setelah selesai makan.

Ia membantu Arman mengangkat ember ke dapur.

Pemandangan kecil itu membuat Mira sadar.

Selama ini keluarganya sebenarnya saling membantu. Hanya dirinya yang selalu merusak suasana.

Saat hendak membereskan meja, sistem kembali muncul.

Misi Baru.

Gunakan Bibit Sayur Unggul sebelum matahari terbenam besok.

Hadiah: 20 Poin Kebajikan.

Bonus: Membuka Fitur Pertanian Dasar.

Mata Mira berbinar.

Fitur baru?

Artinya sistem memang akan berkembang seiring usahanya.

Ia mengepalkan tangan pelan.

Besok pagi mereka akan mulai menanam. Mungkin hasilnya belum langsung terlihat. Namun setiap perjalanan besar memang dimulai dari langkah kecil.

Sebelum tidur, Mira berdiri di depan pintu kamar anak-anak.

Pintu sedikit terbuka.

Lila sudah tertidur sambil memeluk boneka kainnya.

Di ranjang sebelah, Raka masih membaca buku pelajaran di bawah cahaya lampu minyak.

Remaja itu menyadari kehadiran ibunya. "Ada apa?"

"Tidak."

Mira tersenyum tipis. "Ibu cuma mau bilang... selamat malam."

Raka terdiam beberapa detik. Tatapannya masih dingin. Namun kali ini tidak sekeras sebelumnya.

"...Malam."

Pintu kembali ditutup perlahan.

Mira tersenyum sendiri.

Jawaban itu mungkin hanya satu kata.

Tetapi bagi seorang ibu yang selama bertahun-tahun hanya menerima kebencian dari anaknya, satu kata itu terasa seperti secercah harapan.

Dan tanpa ia sadari, di layar sistem muncul perubahan kecil.

Kepercayaan Anak Sulung

0%→ 1%

Perjalanan panjang itu akhirnya benar-benar dimulai.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!