Sistem Penebusan Ibu Pemarah

07. Bibir Harapan

"Ayah, tanahnya sudah siap!"

Suara Lila terdengar riang dari halaman belakang.

Pagi itu, sinar matahari baru saja menyentuh pekarangan rumah yang selama bertahun-tahun dibiarkan dipenuhi rumput liar.

Arman menancapkan cangkul untuk terakhir kalinya lalu mengusap keringat di dahinya.

"Sudah lumayan."

Tanah yang semula keras kini berubah gembur setelah dicangkul beberapa kali.

Mira berdiri di sampingnya sambil membawa kantong kecil berisi bibit dari sistem.

Di sudut pandangannya, layar transparan muncul.

Misi Aktif

Tanam Bibit Sayur Unggul.

Progres:

0/3

Mira mengeluarkan bungkus pertama.

Bayam.

Kemudian kangkung.

Terakhir cabai.

Lila memandang dengan mata berbinar.

"Bibitnya kecil sekali."

"Iya."

"Kapan jadi sayur?"

Arman tersenyum.

"Kalau dirawat baik-baik, beberapa minggu lagi mulai tumbuh besar."

Lila langsung berjongkok. "Aku mau bantu."

Mira menyerahkan beberapa butir bibit ke telapak tangan putrinya.

"Hati-hati, jangan terlalu rapat."

"Iya, Bu."

Ucapan "Bu" yang terdengar begitu alami membuat hati Mira menghangat. Anak itu kini tidak lagi berbicara sambil gemetar, meski masih menjaga jarak. Ketakutan di matanya perlahan mulai berkurang.

Mereka bertiga mulai menanam bersama.

Arman membuat lubang kecil.

Lila memasukkan bibit.

Mira menutupnya dengan tanah.

Sederhana.

Namun suasana itu terasa begitu damai.

Sudah bertahun-tahun keluarga kecil itu tidak pernah melakukan sesuatu bersama tanpa pertengkaran.

Saat bibit terakhir selesai ditanam, layar sistem menyala.

Misi Selesai.

+20 Poin Kebajikan.

Total Poin: 55.

Fitur Pertanian Dasar Terbuka.

Mata Mira berbinar.

Sebuah menu baru muncul.

Fitur Pertanian Dasar

Kondisi Tanah : Baik

Kelembapan : Cukup

Perkiraan Panen : Sangat Tinggi

Mira hampir tersenyum lebar.

Kalau perkiraan sistem benar, hasil panen mereka bisa jauh lebih baik dari biasanya.

Namun ia segera mengingat satu hal.

Semua itu tetap membutuhkan kerja keras. Sistem hanya membantu. Bukan melakukan semuanya.

Menjelang siang, Arman bersiap berangkat bekerja.

"Hari ini aku membantu bangunan di ujung desa."

"Hati-hati."

"Iya."

Sebelum pergi, Arman menoleh ke arah kebun kecil mereka.

"Semoga bibitnya tumbuh."

"Ya."

Pria itu mengayuh sepeda tuanya meninggalkan rumah.

Mira memandang punggung suaminya sampai menghilang di tikungan.

Ia baru menyadari satu hal.

Selama bertahun-tahun, ia hampir tidak pernah mengantar kepergian Arman. Tidak pernah mendoakannya. Tidak pernah mengucapkan hati-hati. Sekarang ia ingin mengubah semuanya, sedikit demi sedikit.

Saat sedang menyiram bibit, terdengar suara langkah kaki dari belakang.

Bu Rini datang sambil membawa ember kecil.

"Lagi menyiram?"

"Iya, Bu."

Wanita tua itu memperhatikan tanah yang baru ditanami. "Kamu tanam cabai juga?"

"Iya."

"Bagus." Bu Rini mengangguk pelan. "Harga cabai kadang bagus kalau panennya pas."

Mira tersenyum. "Aku juga berharap begitu."

Bu Rini lalu menyerahkan sebuah botol bekas.

"Ini pupuk organik yang kubuat sendiri."

Mira terkejut.

"Untukku?"

"Iya."

"Anggap saja hadiah karena akhirnya kamu mau berkebun."

Mata Mira langsung berkaca-kaca. "Terima kasih."

"Jangan berterima kasih dulu."

Bu Rini tersenyum. "Rawat baik-baik tanamannya."

"Iya."

Begitu Bu Rini pergi, layar sistem kembali muncul.

Selamat.

Anda menerima bantuan dengan rasa syukur.

+5 Poin Kebajikan.

Mira tertawa kecil.

"Bahkan mengucapkan terima kasih juga dapat poin?"

Rasa syukur memperkuat hubungan sosial.

Jawaban sistem singkat, tetapi masuk akal.

Siang menjelang sore.

Lila duduk di bawah pohon mangga sambil mengerjakan pekerjaan rumah sekolah.

Mira sedang menjemur pakaian.

Tiba-tiba terdengar suara gaduh dari depan rumah.

"Aduh!"

Seorang anak laki-laki terjatuh dari sepeda.

Lututnya berdarah.

Mira langsung berlari keluar.

Anak itu adalah Beni, putra tetangga.

Biasanya, anak-anak selalu menghindari rumah Mira. Namun kali ini kecelakaan itu terjadi tepat di depan pagar.

"Kamu tidak apa-apa?"

Beni mengangguk sambil menahan tangis. "Sakit."

"Lututmu lecet."

Mira membantu mengangkat sepeda.

Lalu mengajak anak itu duduk di bangku bambu. Ia mengambil air bersih dan membersihkan luka tersebut. Tidak lama kemudian ibu Beni datang sambil panik.

"Beni!"

Wanita itu langsung memeluk anaknya.

"Terima kasih, Bu Mira."

Mira mengangguk. "Sama-sama."

Ibu Beni tampak ragu beberapa detik. Mungkin ia masih mengingat sifat Mira yang dulu. Namun melihat wanita itu merawat anaknya dengan tenang, wajahnya mulai melunak.

"Aku pulang dulu."

"Hati-hati."

Setelah mereka pergi, sistem kembali berbunyi.

Misi Acak Selesai.

Membantu orang yang membutuhkan.

Hadiah: +10 Poin Kebajikan.

Total Poin: 70.

Mira tersenyum puas.

Hari ini benar-benar hari yang baik.

Sore harinya Raka pulang sekolah.

Begitu masuk halaman, ia langsung melihat kebun kecil di belakang rumah.

"Itu apa?"

"Kebun kita."

Jawaban itu keluar dari mulut Mira sebelum Arman sempat menjelaskan.

Raka mendekat.

"Kapan ditanam?"

"Pagi tadi."

Remaja itu memandang deretan tanah yang masih basah.

"Kecil sekali."

"Semua tanaman memang mulai dari kecil."

Raka tidak menjawab.

Namun sebelum masuk rumah, ia mengambil ember dan menyiram satu petak tanah yang belum terkena air.

Gerakannya sangat alami.

Tidak ada yang menyuruh.

Mira hanya memperhatikan dari kejauhan.

Hatinya menghangat.

Walau Raka masih dingin kepadanya, anak itu mulai peduli pada sesuatu yang mereka kerjakan bersama.

Malam tiba.

Keluarga kecil Mira kembali berkumpul di meja makan. Hari ini lauk mereka hanya tempe goreng dan sambal. Namun tidak ada yang mengeluh.

Saat makan hampir selesai, Arman tiba-tiba berkata, "Mandor tadi bilang minggu depan mungkin ada pekerjaan lagi."

"Itu kabar baik," ujar Mira.

"Iya."

Raka ikut mengangguk. "Kalau begitu uang sekolah bulan depan aman."

Arman tersenyum kecil. "Iya."

Mira memandangi wajah suami dan anak-anaknya.

Beginikah rasanya makan bersama sambil saling menguatkan?

Dulu ia selalu merasa rumah ini penuh kesialan. Padahal yang membuat suasana buruk bukan rumahnya.

Melainkan dirinya sendiri.

Usai makan, Mira membereskan meja.

Ketika sedang mencuci piring, layar sistem muncul lagi.

Misi Baru

Panen pertama akan menentukan masa depan kebun. Rawat tanaman selama tujuh hari berturut-turut tanpa lalai.

Hadiah:

Paket Nutrisi Tanaman.

Belum sempat Mira membaca lebih jauh, terdengar suara gaduh dari depan rumah.

"Pak Arman!"

Seorang pria berteriak tergesa-gesa.

Arman segera keluar.

"Ada apa, Pak Darto?"

Pria itu tampak panik.

"Mandor bangunan yang mempekerjakanmu tadi sore jatuh dari lantai dua."

"Warga sedang mencari pengganti mulai besok pagi."

Arman mengangguk cepat. "Aku akan datang."

Pak Darto menghembuskan napas lega.

"Bagus.Kalau tidak cepat, pekerjaan itu bisa diambil orang luar desa."

Pria itu segera pergi lagi.

Arman kembali masuk rumah.

Di wajahnya terlihat harapan sekaligus kekhawatiran.

"Pekerjaannya lebih berat. Tapi upahnya juga lebih besar."

Mira tersenyum. "Kalau itu kesempatan, ambillah."

Arman mengangguk. Ia tidak tahu mengapa. Namun sejak istrinya berubah, beban di pundaknya terasa sedikit lebih ringan.

Sementara itu, Mira memandang layar sistem yang belum menghilang.

Entah mengapa, ia merasa perubahan kecil dalam keluarganya mulai mengundang lebih banyak kesempatan.

Dan ia berjanji, kali ini ia tidak akan menyia-nyiakannya.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!