Sistem Penebusan Ibu Pemarah
08. Tunas Pertama
"Yah... tanamannya tumbuh! Tumbuh!"
Teriakan Lila mengagetkan Mira yang baru saja selesai menanak nasi.
Ia segera berlari ke halaman belakang.
Lila berjongkok di samping petak kecil yang mereka tanami beberapa hari lalu. Jari telunjuknya menunjuk sesuatu di permukaan tanah.
Sebuah tunas hijau.
Kecil.
Rapuh.
Namun benar-benar muncul dari dalam tanah.
Mira ikut berjongkok. Senyum perlahan mengembang di wajahnya.
"Tanamannya tumbuh...."
Ia mengusap tanah di sekeliling tunas itu dengan hati-hati agar tidak merusaknya.
Tak lama kemudian Arman yang hendak berangkat bekerja ikut mendekat.
"Secepat ini?"
Biasanya benih yang mereka tanam dulu membutuhkan waktu lebih lama untuk berkecambah.
Kini hampir semua titik tanam mulai memperlihatkan warna hijau.
Arman mengangguk kagum.
"Bibitnya memang bagus."
Mira hanya mengangguk pelan.
Kalau saja Arman tahu dari mana bibit itu berasal.
Di sudut pandangannya, layar sistem muncul.
Fitur Pertanian Dasar Aktif
Pertumbuhan tanaman: Sangat Baik.
Tingkat keberhasilan: 98%.
Mira menarik napas lega.
Bibit itu benar-benar bekerja.
Namun ia juga sadar, tanpa tanah yang diolah Arman dan perawatan mereka setiap hari, hasilnya belum tentu sebaik ini.
Setelah Arman berangkat, Mira mengambil ember untuk menyiram tanaman.
Lila ikut membawa gayung kecil.
"Ibu."
"Hm?"
"Kalau sayurnya sudah besar, kita makan semuanya?"
Mira tersenyum.
"Sebagian dimakan."
"Sebagian lagi?"
"Dijual."
"Kalau dijual, kita dapat uang?"
"Iya."
Lila langsung tersenyum lebar. "Berarti Ayah tidak capek sendirian."
Kalimat polos itu membuat hati Mira kembali teriris.
Anak sekecil Lila ternyata sudah memahami betapa berat perjuangan ayahnya.
Dulu ia tidak pernah memikirkan hal itu. Sekarang justru putrinya yang mengingatkannya.
Selesai menyiram tanaman, terdengar suara seseorang memanggil dari depan rumah.
"Bu Mira!"
Mira menoleh.
Bu Rini datang membawa keranjang bambu. "Aku panen daun singkong."
"Ini buat kalian."
Mira buru-buru menghampiri. "Bu, jangan terus memberi."
"Ambil saja."
Wanita tua itu tersenyum hangat.
"Kalau nanti kebunmu panen, gantian kamu yang berbagi."
Mira mengangguk. "Iya."
Bu Rini melirik halaman belakang.
"Wah. Sudah mulai tumbuh."
"Iya."
"Subur sekali."
Wanita tua itu tampak benar-benar kagum.
Padahal baru beberapa hari.
Biasanya benih tidak akan tumbuh serata itu.
"Rajin disiram ya."
"Iya."
Bu Rini mengangguk puas sebelum akhirnya berpamitan.
Begitu ia pergi, sistem kembali berbunyi.
Hubungan Sosial Meningkat.
+5 Poin Kebajikan.
Total Poin: 75.
Mira tersenyum tipis.
Semakin hari ia semakin memahami cara kerja sistem.
Poin bukan didapat karena keberuntungan.
Melainkan dari kebiasaan baik yang terus dilakukan.
Siang hari...
Matahari terasa sangat terik.
Mira baru selesai mencuci pakaian ketika mendengar suara langkah tergesa-gesa.
Raka pulang lebih awal. Seragamnya kotor. Celananya penuh debu.
"Kamu kenapa?"
Raka terdiam.
Biasanya Mira akan langsung memarahinya.
Hari ini, nada suaranya justru terdengar khawatir.
"Aku jatuh."
"Apa kamu terluka?"
"Hanya lecet."
Mira segera mengambil kotak obat. "Duduk."
"Aku bisa sendiri."
"Duduk saja."
Raka akhirnya menurut.
Mira membersihkan luka di siku anaknya dengan kapas.
Raka meringis.
"Perih?"
"Iya."
Mira meniup pelan luka itu sebelum mengoleskan obat.
Tangannya bergerak sangat hati-hati.
Beberapa saat kemudian Raka bertanya lirih, "Ibu benar-benar berubah?"
Gerakan tangan Mira berhenti.
"Aku sedang berusaha."
"Karena kecelakaan?"
"Mungkin."
"Tapi... aku senang."
Kalimat terakhir diucapkan begitu pelan hingga hampir tidak terdengar. Namun cukup membuat mata Mira memanas.
Ia tidak menjawab.
Hanya melanjutkan mengoleskan obat.
Di sudut pandangannya, layar sistem berkedip.
Kepercayaan Anak Sulung
1% →3%
Hanya naik dua persen. Namun Mira merasa seperti baru memenangkan sesuatu yang sangat besar.
Sore hari Arman pulang lebih lambat dari biasanya.
Wajahnya tampak kelelahan. Namun kali ini ia membawa sekantong kecil berisi ikan asin.
"Hari ini upahnya lebih banyak."
"Alhamdulillah."
"Kita bisa makan sedikit lebih enak."
Mira menerima kantong itu.
Tiba-tiba ia teringat sesuatu.
"Besok aku ingin ke warung Bu Ratna."
Arman menatapnya."Untuk apa?"
"Membayar sebagian utang."
"Dari mana uangnya?"
Mira mengambil uang hasil sisa belanja yang berhasil ia hemat selama beberapa hari terakhir.
Jumlahnya memang tidak banyak. Namun ,cukup untuk menunjukkan niat baik.
"Aku tidak ingin terus menghindar."
Arman tersenyum kecil. "Itu keputusan yang bagus."
Malam kembali turun.
Setelah makan malam, Mira menyiram tanaman untuk terakhir kalinya hari itu.
Saat cahaya lampu minyak menyinari kebun kecil tersebut, ia menyadari sesuatu.
Tunas-tunas itu tampak lebih segar daripada pagi tadi.
Seolah tumbuh lebih cepat.
Layar sistem kembali muncul.
Notifikasi.
Pengguna merawat tanaman dengan konsisten selama dua hari.
Bonus Pertumbuhan +5%.
Mira mengangguk pelan. Tidak ada hadiah instan. Semuanya tetap membutuhkan proses.
Justru itu yang membuatnya terasa nyata.
Ia berbalik hendak masuk rumah. Namun langkahnya terhenti ketika mendengar suara Bu Ratna dari halaman sebelah.
"Tidak usah berharap terlalu tinggi."
Mira menoleh.
Bu Ratna berdiri di balik pagar sambil memandangi kebun kecil mereka.
"Tanam sayur di pekarangan sekecil itu paling cuma cukup buat makan sendiri."
Mira tersenyum sopan. "Semoga saja tetap berhasil."
"Huh."
Bu Ratna mendengus.
"Kalau semudah itu jadi kaya, semua orang sudah kaya."
Wanita itu pergi sambil terkekeh.
Mira tidak membalas. Ia hanya memandang tunas-tunas kecil di depannya.
Mungkin Bu Ratna benar.
Kebun sekecil ini memang tidak akan langsung mengubah hidup mereka. Tetapi kebun itu bukan sekadar tentang hasil panen. Melainkan bukti bahwa keluarganya akhirnya memiliki harapan yang sedang tumbuh bersama.
Saat ia hendak masuk rumah, layar sistem tiba-tiba berubah menjadi warna emas.
Tulisan yang belum pernah muncul sebelumnya perlahan terbentuk.
Misi Khusus Terbuka.
Dalam tiga hari, temukan cara memperluas lahan tanam tanpa mengeluarkan uang.
Hadiah: Peti Hadiah Perunggu.
Mata Mira membulat.
Peti hadiah?
Itu hadiah pertama yang benar-benar berbeda dari sebelumnya.
Namun sebelum sempat memikirkan isi peti tersebut, pikirannya dipenuhi pertanyaan lain.
Bagaimana mungkin memperluas kebun, tanpa mengeluarkan uang sepeser pun?
Ia menatap halaman belakang yang sempit.
Untuk pertama kalinya sejak mendapat sistem, Mira benar-benar tidak tahu harus memulai dari mana.