Sistem Penukar Kenangan

Misi Pertama dimulai

Arya membeku di atas ranjang rumah sakit.

 

Makhluk yang berdiri di ambang pintu itu sama sekali tidak terlihat seperti manusia. Tubuhnya tinggi dan kurus, seolah hanya terdiri dari kulit hitam yang menempel pada tulang, kedua tangannya menjuntai panjang hingga hampir menyentuh lantai, sementara mata merah menyala di wajahnya menatap Arya tanpa berkedip.

 

Udara di dalam ruangan mendadak terasa jauh lebih dingin, lampu di langit-langit berkedip pelan, membuat bulu kuduk Arya berdiri.

 

Selama tujuh belas tahun hidupnya, ia tidak pernah benar-benar percaya pada hal-hal gaib. Monster, iblis atau makhluk dari dunia lain hanya ada dalam film, novel dan cerita yang biasa digunakan untuk menakut-nakuti anak kecil.

 

Namun malam ini, seluruh keyakinannya runtuh, makhluk itu berdiri di hadapannya. Nyata! Sungguh mengerikan dan ingin membunuhnya.

 

Kedua tangan Arya mulai gemetar hebat, napasnya memburu dan terasa sesak bahkan untuk berdiri saja terasa sulit.

 

Dalam benaknya hanya ada satu pertanyaan. Kenapa aku?

 

Ia hanyalah siswa SMA biasa, bukan atlet, bukan petarung, bukan orang hebat.

 

Ia tidak pernah bercita-cita menjadi pahlawan yang menyelamatkan dunia, yang ia inginkan hanya kehidupan sederhana. Lulus sekolah, masuk universitas, mendapatkan pekerjaan yang baik, lalu membantu ibunya hidup lebih nyaman. Itu saja.

 

Namun sekarang, di tengah malam yang sunyi ini, takdir seolah mencabut seluruh kehidupan normal itu dan melemparkannya ke dalam sesuatu yang sama sekali tidak ia pahami.

 

Arya mengepalkan kedua tangannya, pikirannya tiba-tiba melayang kepada ibunya.

 

Ia teringat bagaimana wanita itu selalu bangun lebih pagi daripada dirinya, menyiapkan sarapan sebelum berangkat bekerja, pulang dalam keadaan lelah, tetapi masih sempat menanyakan apakah Arya sudah makan atau belum.

 

Ia juga teringat mata sembab yang berusaha disembunyikan ibunya saat dirinya sadar dari koma beberapa jam lalu, mata yang menyimpan ketakutan.

 

Mata yang menunjukkan betapa takutnya seorang ibu kehilangan anak satu-satunya.

 

Dada Arya terasa sesak, bagaimana jika aku mati di sini?

Bagaimana kalau monster ini membunuhku sekarang?

 

Bagaimana kalau besok pagi dokter keluar dari ruangan ini dan mengatakan kepada Ibu bahwa aku sudah tidak ada?

Siapa yang akan menemani beliau?

 

Siapa yang akan mendengarkan semua nasihat yang selalu diulang setiap hari?

 

Siapa yang akan memperbaiki atap rumah saat bocor?

Siapa yang akan menjaga beliau saat mulai menua nanti?

 

Untuk pertama kalinya sejak kecelakaan itu terjadi, Arya benar-benar merasa takut, bukan takut karena rasa sakit, bukan karena kematian.

 

Melainkan takut meninggalkan orang yang paling ia sayangi.

 

Tanpa sadar bibirnya bergerak pelan. "Ya Allah..." Suara itu hampir tidak terdengar, namun cukup untuk membuat dirinya sendiri tersadar.

 

Sejak kecil, ayahnya selalu mengajarkan satu hal bahwa manusia boleh berusaha sekuat apa pun, boleh bermimpi setinggi apa pun, namun pada akhirnya tetap harus bersandar kepada Tuhan.

 

Karena ada saat ketika kekuatan manusia tidak lagi cukup, ada saat ketika logika tidak mampu menjelaskan apa yang sedang terjadi dan mungkin malam ini adalah salah satu saat itu.

 

Arya perlahan menutup mata, ia menarik napas panjang sekali, dua kali, tiga kali.

 

Di tengah ketakutan yang memenuhi dadanya, ia mencoba menenangkan diri. "Kalau ini benar-benar ujian..." Napasnya bergetar. "Tolong beri aku kekuatan untuk melewatinya."

 

Perlahan ia membuka mata kembali, monster itu masih ada, masih berdiri di sana.

 

Masih menatapnya dengan tatapan haus darah, ancaman itu tidak hilang, bahaya itu tetap nyata namun ada sesuatu yang berubah, dirinya sendiri.

 

Ketakutan yang sebelumnya hampir melumpuhkan tubuhnya mulai berkurang. Bukan hilang, tetapi cukup untuk membuatnya berpikir lebih jernih.

 

Ia masih takut, sangat takut namun kini ia menyadari satu hal, selama ia masih bernapas, selama jantungnya masih berdetak.

 

Selama Tuhan masih memberinya kesempatan untuk hidup maka ia tidak boleh menyerah.

 

Tidak peduli seberapa kecil peluang yang dimilikinya, tidak peduli seberapa mengerikan musuh yang berdiri di depannya.

 

Karena menyerah sekarang berarti mengkhianati semua orang yang mempercayainya, mengkhianati ibunya dan ayahnya serta mengkhianati dirinya sendiri.

 

Tok...

Tok...

Tok...

Makhluk itu kembali melangkah maju.

 

Setiap langkahnya menimbulkan suara aneh seperti sesuatu yang basah diseret di atas lantai.

 

Arya refleks mundur hingga punggungnya menempel ke kepala ranjang.

 

Pada saat yang sama, layar biru kembali muncul di hadapannya. [Makhluk Void Terdeteksi]

Nama : Shadow Ghoul

Level : 3

Tingkat Ancaman : F

Status : Bermusuhan

 

Mata Arya membelalak, belum sempat ia memahami tulisan itu, layar berikutnya muncul. [Misi Darurat] Bertahan Hidup

Waktu : 10 Menit

Hadiah : Skill Acak

Kegagalan : Kematian

 

Arya menelan ludah, kematian? Kata itu tertulis jelas, tidak ada ruang untuk salah paham. Jika gagal, ia akan mati.

 

Shadow Ghoul menyeringai, mulutnya terbuka semakin lebar hingga hampir membelah wajahnya menjadi dua.

"Akhirnya aku menemukanmu..."

 

Suara makhluk itu terdengar serak dan mengerikan. "K-kamu siapa?" Makhluk itu tidak menjawab.

 

Sebaliknya, ia terus berjalan mendekat. "Kau membawa tanda sistem."

 

Tatapan merahnya menyala semakin terang.

 

"Maka kau harus mati."

Seketika tubuh Shadow Ghoul menghilang.

 

Arya membelalakkan mata. "Di mana?!"

 

BRAK!

Sebuah benturan keras menghantam sisi ranjang.

 

Arya menoleh dan mendapati makhluk itu sudah berada tepat di sampingnya terlalu cepat, jauh terlalu cepat.

 

Dan untuk pertama kalinya, Arya menyadari bahwa malam ini benar-benar akan menentukan apakah ia tetap hidup atau menjadi mayat lain yang tak pernah sempat memahami alasan kematiannya.

 

Tubuh Arya menegang.

 

Keringat dingin mengalir dari pelipisnya meskipun suhu ruangan terasa sangat dingin, ia bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang berdentum keras di dalam dada.

 

Deg.

Deg.

Deg.

Setiap detaknya terasa semakin cepat, semakin berat dan tak berirama.

 

Seolah tubuhnya sedang berusaha memperingatkan bahwa bahaya besar berada tepat di hadapannya.

 

Shadow Ghoul terus menatapnya, senyumnya yang mengerikan tidak pernah hilang.

 

Mata merah menyala itu memancarkan kebencian yang tidak dapat dijelaskan, seakan-akan makhluk tersebut mengenalnya atau lebih tepatnya mengenali sesuatu yang ada di dalam dirinya.

 

"Apa maksudmu tanda sistem?" tanya Arya dengan suara bergetar.

 

Shadow Ghoul memiringkan kepalanya perlahan hingga terdengar suara retakan dari lehernya.

 

"Kau tidak tahu?"

Arya tidak menjawab. "Tentu saja."

 

Makhluk itu terkekeh pelan, suara tawanya terdengar seperti ranting kering yang dipatahkan satu per satu.

 

"Pengguna baru selalu tidak tahu apa-apa."

 

Tatapan Arya berubah. Pengguna? Makhluk ini tahu tentang sistem?

Jadi semua yang dilihatnya benar-benar nyata? Bukan mimpi, bukan halusinasi atau efek samping koma.

 

Shadow Ghoul melangkah semakin dekat.

"Kalian selalu sama."

"Kalian?"

"Kalian para pewaris sistem."

 

Arya mengernyit. "Pewaris?"

 

Makhluk itu tidak menjawab malah sebaliknya, senyum lebarnya semakin melebar.

 

"Sayang sekali."

"Apa?"

"Biasanya kalian mati sebelum sempat memahami apa yang sedang terjadi."

 

Jantung Arya berdegup lebih keras, perasaan tidak enak kembali muncul namun kali ini bukan hanya karena ketakutan.

 

Melainkan karena rasa penasaran. Apa sebenarnya sistem itu? Kenapa dirinya dipilih? Dan apa hubungan semua ini dengan kecelakaan yang dialaminya?

 

Sebelum sempat berpikir lebih jauh, layar biru kembali muncul di hadapannya. [Peringatan] Tingkat ancaman meningkat.

 

Disarankan segera melakukan perlawanan.

 

Arya menatap tulisan itu, lalu menatap monster di depannya. Perlawanan? Bagaimana caranya?

 

Ia bahkan belum pernah terlibat perkelahian sungguhan.

 

Saat SMP dulu ia pernah hampir berkelahi dengan seorang siswa lain. Namun sebelum pukulan pertama terjadi, guru BK sudah lebih dulu datang dan menyeret mereka berdua ke ruang konseling.

 

Sekarang sistem menyuruhnya melawan monster? Ini gila, benar-benar gila.

 

Namun jauh di dalam hatinya, Arya tahu satu hal. Ia tidak punya pilihan.

 

Jika melarikan diri tidak mungkin, jika meminta bantuan tidak ada gunanya, maka satu-satunya jalan adalah bertahan hidup, apa pun caranya.

 

Tiba-tiba pandangannya menangkap sebuah foto yang berada di atas meja kecil dekat ranjang.

 

Foto yang dibawa ibunya tadi siang, foto dirinya dan ibunya saat merayakan ulang tahunnya yang ketujuh belas beberapa bulan lalu.

 

Arya terdiam, untuk sesaat dunia seolah melambat. Ia melihat senyum ibunya dalam foto itu, senyum yang hangat, senyum yang selalu membuatnya merasa pulang.

 

Dadanya kembali terasa sesak. Tidak! Ia belum bisa mati.

 

Masih banyak hal yang ingin ia lakukan, ada mimpi yang ingin ia capai dan masih banyak waktu yang ingin ia habiskan bersama orang-orang yang dicintainya.

 

Ia belum sempat membahagiakan ibunya, belum sempat membalas semua pengorbanan yang telah dilakukan wanita itu selama bertahun-tahun.

 

Bagaimana mungkin ia menyerah sekarang?

Arya perlahan mengepalkan kedua tangannya.

 

Ketakutannya masih ada namun kini di antara rasa takut itu tumbuh sesuatu yang lain. Tekad, tekad untuk bertahan hidup, tekad untuk menemukan jawaban atas semua misteri yang tiba-tiba menghancurkan kehidupannya.

 

Shadow Ghoul tampaknya menyadari perubahan itu.

 

Makhluk tersebut menyeringai. "Menarik."

Arya mengangkat kepalanya, tatapannya kini tidak lagi sepenuhnya dipenuhi ketakutan.

 

"Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi."

Suaranya masih sedikit bergetar. "Tapi aku tidak akan mati disini."

 

Shadow Ghoul tertawa keras, suara tawanya memenuhi seluruh ruangan.

"Hahaha... manusia selalu mengatakan itu."

 

Makhluk itu menundukkan tubuhnya seperti binatang buas yang bersiap menerkam mangsa.

 

"Tunjukkan padaku." Aura hitam mulai keluar dari tubuhnya.

"Kau pantas hidup atau tidak." Mata Arya membelalak.

 

Instingnya langsung berteriak bahaya dan tepat pada saat itulah...

 

Tubuh Shadow Ghoul menghilang dari tempatnya berdiri, ledakan angin menghantam wajah Arya.

 

Makhluk itu bergerak jauh lebih cepat dibanding sebelumnya.

 

Seketika suara sistem bergema di dalam kepalanya. [Pertempuran Dimulai]

 

Arya hanya memiliki sepersekian detik untuk bereaksi.

Dan nasibnya akan ditentukan oleh keputusan yang ia ambil dalam detik berikutnya.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!