Sistem Penukar Kenangan

Pertarungan Pertama

Suara sistem bergema di dalam kepala Arya.

Suara itu tidak terdengar keras. Bahkan lebih mirip bisikan yang muncul langsung dari dalam pikirannya. Namun entah mengapa, dua kata sederhana itu membuat seluruh tubuhnya menegang.

 

Ia tidak punya waktu untuk berpikir. Tidak ada kesempatan untuk bertanya.

Karena sesaat setelah notifikasi itu muncul, tubuh Shadow Ghoul menghilang dari pandangan.

 

Mata Arya membelalak, kosong? Makhluk itu lenyap begitu saja.

Padahal beberapa detik sebelumnya masih berdiri tepat di hadapannya.

Refleks Arya langsung menoleh ke kiri dan kanan. Tidak ada. Di depan juga tidak ada.

 

Lalu sebuah hawa dingin tiba-tiba merayap di belakang lehernya.

Insting, murni insting, tubuhnya berusaha berbalik namun ia terlambat.

 

BRAK!

Sesuatu menghantam dadanya dengan kekuatan luar biasa.

 

Tubuh Arya terlempar beberapa meter dan menghantam lemari kecil di samping ranjang rumah sakit.

 

Lemari itu roboh. Peralatan medis berjatuhan ke lantai. Botol infus pecah.

 

Suara benturan menggema di seluruh ruangan. "Aaargh!"

Rasa sakit menjalar dari dada hingga ke seluruh tubuhnya, napasnya tercekat.

 

Untuk beberapa detik, ia bahkan tidak mampu menarik udara ke dalam paru-parunya.

 

Arya terbatuk keras. Pandangan di depannya berkunang-kunang.

Jika ini tubuhnya sebelum kecelakaan, mungkin beberapa tulang rusuknya sudah patah.

 

Namun anehnya, meski sakit luar biasa, tubuhnya masih mampu bergerak.

Masih mampu berdiri. Masih mampu bertahan.

"Statistik fisik pengguna telah meningkat."

Suara Aether terdengar tenang.

 

Arya menoleh. Gadis kecil berambut perak itu melayang di dekat jendela.

Tubuhnya memancarkan cahaya kebiruan yang lembut.

 

Kontras dengan aura gelap yang memenuhi ruangan.

"Kalau meningkat kenapa tetap sakit?" gerutu Arya sambil memegangi dadanya.

 

"Sistem meningkatkan peluang hidup. Bukan menghilangkan rasa sakit."

 

Arya hampir tertawa, entah kenapa jawaban itu terdengar sangat menyebalkan.

 

Namun sebelum ia sempat membalas, suara tawa lain terdengar.

 

Tawa yang jauh lebih mengerikan. Shadow Ghoul.

Makhluk itu berdiri di tengah ruangan sambil memiringkan kepalanya.

 

Matanya yang merah menyala menatap Arya seperti seekor predator yang sedang mengamati mangsanya. "Aneh."

Suara seraknya bergema. "Biasanya manusia mati setelah menerima serangan seperti itu."

 

Arya perlahan berdiri, lututnya masih gemetar. Tetapi ia memaksa dirinya tetap tegak. "Aku juga heran kenapa masih hidup."

Untuk pertama kalinya, Shadow Ghoul terlihat tertarik.

 

Makhluk itu menyipitkan matanya. Lalu tersenyum."Kau benar-benar pengguna sistem."

Arya mengernyit. "Terus kenapa kalau aku pengguna sistem?"

 

Senyuman Shadow Ghoul perlahan memudar.

Aura hitam mulai menguar dari tubuhnya udara di ruangan menjadi lebih berat.

Seolah gravitasi meningkat beberapa kali lipat.

 

"Karena pengguna sistem adalah musuh alami kami."

Arya terdiam. Musuh alami? Apa maksudnya? Dan yang lebih penting, kami?

 

Berapa banyak makhluk seperti Shadow Ghoul di luar sana?

Pertanyaan itu membuat bulu kuduknya meremang.

 

Untuk pertama kalinya sejak sistem muncul, Arya mulai menyadari bahwa dunia yang selama ini ia kenal mungkin hanyalah sebagian kecil dari kenyataan yang sebenarnya.

 

Mungkin selama ini ada sesuatu yang hidup di balik bayang-bayang dunia manusia.

Sesuatu yang mengintai dalam kegelapan.

Sesuatu yang tidak pernah diketahui orang biasa.

 

Dan sekarang, karena sistem yang ia miliki, Arya telah dipaksa masuk ke dalam dunia tersebut.

 

Shadow Ghoul kembali melangkah maju. "Kau tidak seharusnya hidup."

"Aku juga tidak pernah minta semua ini."

"Itu tidak penting."

Aura hitam di sekitar tubuh monster itu semakin pekat.

 

Lantai keramik mulai retak, lampu ruangan berkedip tidak beraturan.

Arya merasakan jantungnya berdetak semakin cepat.

 

Rasa takut masih ada namun kini ketakutan itu bercampur dengan rasa penasaran.

 

Apa sebenarnya sistem itu? Mengapa dirinya dipilih? Dan mengapa monster ini begitu ingin membunuhnya?

"Aether."

Arya berbicara tanpa mengalihkan pandangan. "Apakah aku bisa menang?"

Gadis kecil itu terdiam sesaat, kemudian menjawab. "Probabilitas kemenangan saat ini: dua belas persen."

 

Arya hampir tersedak. "Dua belas persen?"

"Ya."

"Itu kecil sekali!"

"Itu lebih baik daripada nol persen."

Arya tidak tahu harus merasa lega atau putus asa.

 

Sementara itu Shadow Ghoul kembali tertawa.

"Kau berbicara dengan pendamping sistem?"

Mata merahnya menyala terang. "Menarik."

Tiba-tiba tubuh monster itu menghilang lagi, kali ini Arya langsung menggunakan Analisis.

 

[Analisis Aktif]

Dunia di sekelilingnya seakan melambat, mata Arya menangkap gerakan samar di sisi kanan ruangan.

 

Di sana!

Ia langsung menjatuhkan tubuhnya ke bawah.

SWIING!

Cakar hitam melintas tepat di atas kepalanya.

 

Rambut Arya bahkan ikut terpotong sedikit, jantungnya hampir berhenti.

Terlambat sepersekian detik saja, kepalanya mungkin sudah terbelah dua.

 

"Bagus." Aether mengangguk.

"Kau mulai memahami cara kerjanya."

Arya buru-buru bangkit, keringat dingin membasahi dahinya. Ini bukan permainan, bukan simulasi.

 

Jika ia gagal, ia benar-benar akan mati. Shadow Ghoul mendarat beberapa meter di depannya.

Untuk pertama kalinya, monster itu terlihat kesal. "Kau belajar terlalu cepat."

 

Arya tidak menjawab. Ia terus mengamati, mempelajari dan mengingat.

Sebelum menyerang, Shadow Ghoul selalu sedikit menurunkan bahunya.

 

Gerakan yang sangat kecil namun cukup untuk dijadikan petunjuk.

Analisis tidak membuatnya lebih kuat tetapi memberinya kesempatan untuk membaca lawan.

 

Dan kesempatan sekecil apapun sangat berharga dalam pertarungan hidup dan mati.

Tiba-tiba layar biru muncul lagi. [Skill Berkembang]

Analisis Lv.1 → Analisis Lv.2

Arya membelalakkan mata. Skill bisa naik level?

 

"Setiap kemampuan akan berkembang jika terus digunakan," jelas Aether.

Sistem ini ternyata jauh lebih rumit daripada yang ia bayangkan.

 

Namun sebelum sempat berpikir lebih jauh, suara Shadow Ghoul kembali terdengar.

"Kau mengingatkanku pada seseorang."

Arya mengernyit. "Seseorang?"

 

Monster itu terdiam beberapa saat kemudian tersenyum tipis.

"Seseorang yang pernah hampir membunuhku."

 

Mata Arya membesar, berarti monster ini sudah pernah bertarung melawan pengguna sistem lain.

Dan orang itu cukup kuat hingga hampir membunuhnya.

 

Harapan kecil mulai muncul dalam benaknya.

Kalau ada pengguna sistem lain, mungkin ia tidak sendirian.

Mungkin ada orang yang bisa menjelaskan semua ini.

 

Namun harapan itu langsung sirna ketika Shadow Ghoul mengangkat tangannya.

Aura hitam mulai berkumpul di sekitar cakarnya.

 

Jauh lebih besar dari sebelumnya, udara di ruangan menjadi semakin dingin.

Kaca jendela mulai retak, lantai bergetar pelan.

Aether langsung berubah serius. "Bahaya tinggi terdeteksi."

"Apa lagi sekarang?"

 

"Serangan berikutnya berpotensi mematikan."

Arya menelan ludah. "Tingkat keberhasilan bertahan?"

"Dua puluh tiga persen."

"Itu masih buruk!"

"Lebih tinggi dari sebelumnya."

Arya ingin berteriak namun tidak ada waktu.

 

Shadow Ghoul perlahan menundukkan tubuhnya.

Seperti seekor binatang buas yang bersiap menerkam.

 

Aura hitam mengelilinginya seperti kabut gelap. "Akhirnya."

Suara monster itu terdengar pelan. "Aku bosan bermain."

 

Mata merahnya bersinar terang. "Selamat tinggal, pengguna sistem."

Tubuhnya menghilang, ledakan angin menghantam wajah Arya dengan sangat cepat.

 

Bahkan lebih cepat dari sebelumnya namun kali ini Arya tidak mundur, ia teringat wajah ibunya.

 

Teringat rumah kecil mereka, teringat semua mimpi yang belum sempat diwujudkan.

 

Ia belum ingin mati, belum sekarang, ia belum sebelum membahagiakan ibunya. Arya mengepalkan tangannya, seluruh keberaniannya terkumpul menjadi satu.

 

Jika ia terus menghindar, ia akan kalah. Jika ia terus bertahan, ia akan kalah, maka hanya ada satu pilihan yaitu menyerang.

 

Untuk pertama kalinya, Arya melangkah maju menghadapi ketakutannya. [Pukulan Diperkuat Lv.1 Aktif] Cahaya biru menyelimuti kepalan tangannya.

 

Shadow Ghoul muncul tepat di depannya.

Cakar hitam dan kepalan tangan Arya bergerak pada saat yang sama dan dalam sepersekian detik itu nasib Arya akan ditentukan.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!