Takdir Purba
MENUJU CIPARI
Laju kereta mulai melambat. Perjalanan hampir tiga jam nyaris tuntas dalam beberapa menit ke depan.
Tak lama, kereta berhenti di Stasiun Prujakan Cirebon. Hari sudah menjelang siang. Udara di luar terasa sama panasnya dengan Jakarta.
Galuh memesan taksi online, memasukkan tujuan: Taman Purbakala Cipari, Kecamatan Cigugur, Kuningan.
Sebuah mobil Avanza berwarna silver berhenti di sisi Galuh. Setelah memastikan mobil itu memang benar taksi online yang dipesannya, Galuh pun masuk. Perjalanan ke Cipari memakan waktu sekitar satu jam.
Mobil meninggalkan Kota Cirebon, masuk ke jalan yang mulai berkelok. Sawah berganti kebun, kebun berganti perbukitan. Makin mendekati Kuningan, udara terasa lebih sejuk.
“Orang sini, Mbak?” tanya sopir dari kaca spion.
“Orang tua saya,” jawab Galuh. “Saya baru pertama kali datang sendiri. Biasanya ke sini sama orang tua saat lebaran.”
“Oh, berarti banyak saudara di sana ya?”
Galuh tersenyum kecil. “Iya, banyak.”
Galuh memang punya banyak saudara di Cipari. Sepupu, paman, bibi, yang selama sepuluh tahun terakhir ini hanya dia temui setahun sekali. Ia hafal wajah mereka, tetapi tidak hafal namanya. Hubungan darah itu ada, tetapi jarak emosionalnya terlampau panjang.
Mobil mulai memasuki wilayah Kuningan. Di kejauhan, lereng Gunung Ciremai terlihat jelas, hijau dan kokoh.
Dari arah Gunung Keling, mobil berbelok ke kiri. Inilah Cipari. Rumah-rumah dengan arsitektur modern berdiri rapat. Hampir sudah tidak terlihat lagi rumah yang masih menggunakan kayu tua atau batu. Anak-anak bermain di halaman. Seorang ibu menjemur pakaian sambil bercakap dengan tetangga.
Mobil berhenti di depan rumah bercat hijau muda. Di blok kondang dekat dengan Masjid Al-Hidayah. Seorang perempuan paruh baya sudah berdiri di teras, menunggu.
“Galuuuh!” serunya dengan logat Sunda yang kental.
Itu Bi Yoyoh, adik bungsu Ibu. Galuh memeluk Bi Yoyoh sedikit canggung. Mereka tiga bersaudara. Ibu anak sulung. Anak nomor dua adalah Mang Dedi.
“Aduh, terakhir lihat kamu teh dua tahun lalu. Sekarang tambah cantik aja,” kata Bi Yoyoh sambil membawa tas punggung Galuh masuk ke dalam.
Di ruang tamu, beberapa wajah lain muncul. Sepupu-sepupu yang wajahnya sudah mulai berubah. Ada juga Mang Dedi yang langsung merangkul bahunya. Pertanyaan mulai datang bertubi-tubi. Apa kabar, kerja di mana, sudah menikah belum, berapa lama mau tinggal, bagaimana kabar bapak ibu, ada acara apa di Cipari. Tak lupa, mereka menyertakan mimik dan tatapan penuh rasa penasaran.
Galuh menjawab satu per satu dengan sabar. Tentu saja, Galuh tidak mengatakan kalau dia sudah tidak bekerja lagi.
***
Sore itu, setelah suasana rumah sedikit tenang, Galuh berjalan sendiri menyusuri jalanan Cipari. Jalan yang sudah lebih dari sepuluh tahun tidak pernah dia tapaki.
Langkah Galuh terhenti di depan rumah Abah. Tubuh Galuh membeku. Perasaan dingin merayap di hatinya. Mata Galuh sudah menganak sungai. Kepalanya tiba-tiba saja terasa seperti berputar. Lututnya goyah nyaris kehilangan kekuatan untuk menopang tubuh Galuh. Rumah itu sudah rata dengan tanah. Tak ada yang tersisa.
Galuh mengerjapkan mata dengan kuat. Mengusir semua hal yang membuat hatinya ingin meledak. Galuh memutar tubuh. Langkah kaki membawa Galuh ke arah Situs Taman Purbakala Cipari. Ada sedikit ingatan yang tersisa di sel kelabu Galuh. Dulu sekali, tempat itu menjadi tempat Galuh sembunyi apabila Emak sedang marah atau Galuh sedang sedih. Di depan Menhir, Galuh menceritakan cinta pertamanya yang tak pernah menjadi nyata.
Saat Galuh memasuki area situs, keheningan mulai menyapa. Tak jauh dari pintu masuk, tepat di sebelah kanan, Galuh melihat Menhir yang masih kokoh berdiri di tempatnya. Tatapan Galuh berhenti di situ. Galuh beringsut mendekat. Berdiri dengan jarak dua meter dari batu tersebut. Galuh menatap lekat Menhir selama dua menit sebelum tangannya mulai mengangkat kamera. Ada rindu yang tiba-tiba saja membiru. Perlahan Galuh membuka lensanya. Kini, dia memandang Menhir dari balik lensa kamera.
Klik.
Cahaya sore jatuh miring di permukaan Menhir, menonjolkan teksturnya. Galuh memotret beberapa sudut, lalu menurunkan kamera dan kembali memandang Menhir.
“Galuh.”
Sebuah suara berbisik membuat Galuh terlonjak dan hampir saja jatuh terjerembap.
***
Sore itu, langit cerah dan angin bergerak ringan. Bagja baru saja selesai mengantar rumput ke kandang ketika dorongan untuk pergi ke situs datang lagi. Ia tidak menunggu sampai senja. Ia mencuci tangan, mengganti baju, lalu berjalan kaki menuju situs.
Dari kejauhan, Bagja melihat seseorang berdiri di dekat Menhir. Seorang perempuan. Mengenakan kemeja lapangan berwarna cokelat muda dan celana panjang hitam. Rambutnya diikat ekor kuda. Sebuah kamera tergantung di lehernya dan dia terlihat serius memotret tekstur batu dari jarak dekat.
Bagja memperlambat langkah. Hampir tidak pernah ada orang yang memperhatikan batu itu sedetail itu. Kebanyakan pengunjung hanya memotret dari jarak aman, lalu pergi.
“Galuh.” Bagja berbisik dari jarak sekitar satu meter yang membuat Galuh terlonjak dan hampir saja jatuh terjerembap.
Galuh memandang tanpa kedip ke arah Bagja. “A Bagja?”
“Maaf, sudah bikin kamu kaget. Kapan datang?”
“Tadi siang, A. A Bagja apa kabar?” Galuh mengulurkan tangan.
“Alhamdulillah baik.” Bagja menerima uluran tangan Galuh. “Tumben Galuh pulang? Biasanya Lebaran pun A Bagja nggak pernah lihat Galuh.”
“Kesambet, A.”
“Masih aja kayak dulu. Kalau ngomong suka asal. Duduk di sana yuk. Pegel berdiri terus begini.” Bagja menunjuk kursi panjang di depan gedung pameran.
“Kalau udah berumur memang begitu, A.”
Bagja mengacak rambut Galuh gemas, sebelum beranjak menuju kursi panjang yang ditunjuknya. Tak urung, Galuh mengikuti langkah Bagja sambil merapikan rambut yang tadi diacak-acak Bagja. Kebiasaan lama yang ternyata belum hilang.
Mereka duduk di kursi kayu dengan lebar tak lebih dari jarak jari ke siku dan panjang sekitar satu setengah meter. Kursi itu menghadap langsung ke arah Menhir. Sebuah benda yang sejak tadi menarik perhatian Galuh.
“Taman Purbakala banyak banget berubah ya, A. Tapi A Bagja mah nggak berubah.” Galuh mengedarkan pandang menatap sekeliling situs.
“Sudah lama sekali kamu nggak datang ke sini. Aneh kalau situs ini tidak berubah. Tapi yang direnovasi hanya beberapa bagian aja, kok. Nggak semuanya diubah. A Bagja juga berubah. Buktinya tadi kamu bilang, faktor umur bikin A Bagja nggak kuat berdiri lama.”
“Dih, baper. Iya, tadi aku udah lihat nggak semua diubah. Sekarang jadi lebih rapi. Lebih nyaman. Tapi tetap sepi. A Bagja kok ada di sini? Bukannya dulu di Bandung?”
“Hmmm, berapa lama ya kita nggak ketemu?”
“Mungkin kalau sepuluh tahun mah lebih, A.”
“Waktu Bapak Aa meninggal, kamu nggak datang ya?”
“Nggak. Si Ibu sama si Bapak aja yang pulang. Aku sibuk di kampus.”
***