Takdir Purba
OBROLAN DI RUMAH BAGJA
“Mamah hafal banget. Hehehe.”
“Hafal dong. Ibu kamu itu ya, duh ampun deh Mamah mah. Sekolah tinggi, jadi dosen, tinggal di kota, tapi pikirannya aneh. Suka dengerin omongan orang yang nggak penting. Kadang suka sampe dipikirin serius.”
Galuh tersenyum miris. Begitulah Ibu. Dalam beberapa hal, logika dan perasaannya sangat tidak sinkron. Salah satunya urusan jodoh. Menurut Galuh, seharusnya Ibu sudah sangat paham kalau jodoh adalah ranah Tuhan. Tapi Ibu masih saja sering mendengarkan omongan sanak saudara. Entah kenapa, kemarin pun Ibu malah menganggap umur Galuh sudah masuk kategori darurat menikah.
“Galuh udah lama di sini?” Bagja duduk di kursi yang ada di seberang Galuh.
“Lumayan A, tadi sih dari rumah sekitar setengah delapan.”
“Kenapa nggak ngabarin kalau mau ke sini? Kan Aa bisa buru-buru pulang.”
“Aku kemarin lupa nanya nomor telepon Aa.”
“Sok atuh dilanjut ngobrolnya. Mamah mau nerusin kerjaan di dapur.” Sundari kembali ke dapur setelah sebelumnya mengusap kepala Galuh.
“Iya Mah, maaf tadi ganggu Mamah.”
Sundari hanya tersenyum tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
“Masih penasaran dengan kejadian kemarin?” tanya Bagja. Matanya tak lepas dari wajah Galuh. Sepuluh tahun cukup untuk mengubah beberapa hal di wajah Galuh, meski Bagja masih bisa mengingatnya dengan jelas.
“Penasaran banget. Kemarin Aa belum cerita apa yang Aa alami sebelumnya di sana.”
Bagja menyandarkan punggung pada sandaran kursi. Matanya menerawang menembus jendela. Lalu meluncurlah cerita itu dari bibirnya.
Cerita dimulai dari kehampaan yang Bagja rasakan setelah Duriyat meninggal. Bagja nyaris tidak punya waktu untuk berduka. Duriyat meninggalkan tanggung jawab begitu besar di pundak Bagja.
Peternakan sedang di masa keemasan. Duriyat memiliki empat puluh ekor sapi yang bisa menghasilkan ratusan liter susu dalam sehari. Selain itu, Duriyat juga memberikan sumbangsih luar biasa dalam memajukan koperasi yang melindungi para peternak Cipari.
Kiprahnya makin besar ketika Duriyat terpilih sebagai ketua koperasi. Beberapa aturan koperasi yang dirasa sudah tidak sejalan mulai diperbarui. Audit dan disiplin ketat diberlakukan. Para peternak bisa memanfaatkan jasa koperasi dengan mudah, namun harus bertanggung jawab penuh. Perlu waktu dua tahun bagi Duriyat untuk membangun fondasi kuat koperasi.
Hingga pagi itu, pagi di hari ke tujuh belas bulan Ramadan, Duriyat tiba-tiba saja merasa dadanya sesak. Selang setengah hari kemudian, Duriyat sudah tak bernapas lagi. Pulang untuk selamanya dengan tenang.
Banyak hal yang berubah setelah Duriyat meninggal. Beban tanggung jawab keluarga itu beralih ke pundak Bagja. Pemuda dua puluh satu tahun yang bahkan kuliah pun belum lulus. Selain ibu dan ketiga adiknya, ada puluhan sapi dan beberapa orang para pekerja di kandang yang harus Bagja pikirkan.
“Terus, A Bagja pulang dan lanjut meneruskan mengurus sapi?” sela Galuh.
“Aa nggak punya pilihan. Aa harus buru-buru menyelesaikan kuliah supaya bisa pulang. Kalau kuliah Aa nggak beres, gimana mau ngurusin kandang? Aa nggak sanggup kalau tiap waktu harus bolak balik Bandung Kuningan. Aa lanjut cerita dulu, ya.”
Persis seperti prediksi Bagja. Bukan hal mudah meneruskan usaha ayahnya. Meski sejak kecil Bagja selalu ikut kemana pun Duriyat pergi atau bermain di sekitar kandang saat Duriyat sibuk memberi sapi-sapi makan dan memerah susu, Bagja merasa dia tidak memiliki ketertarikan sama sekali terhadap sapi. Apalagi untuk menjadi peternak.
“Aa belajar lagi dari nol. Menghitung kebutuhan pakan, menentukan mana pakan yang bagus untuk sapi, ngarit rumput, belajar membuat komposisi pakan yang tepat, Aa juga mulai ngobrol dengan sapi-sapi. Rasanya seperti orang gila. Tiap hari harus bangun jam tiga pagi terus ke kandang untuk menyiapkan sapi-sapi yang akan diperah susunya. Butuh kekuatan fisik dan mental yang luar biasa.” Bagja memberikan jeda sejenak terhadap ceritanya.
“Jujur aja,” lanjut Bagja. “Awalnya Aa menjalani kehidupan sebagai peternak dengan seperempat hati. Bayangkan, setengah hati pun nggak. mimpi Aa adalah jadi arsitek. Membangun gedung-gedung estetik dan futuristik, punya kantor sendiri di Jakarta. Bukan ngantor di kandang sapi. Ironi itu aa rasakan hampir tiga tahun. Tapi Aa sadar, hidup harus terus berjalan. Suka atau tidak, sapi-sapi telah memberikan kehidupan bagi keluarga Aa. Lama-lama Aa bisa menikmati ritme sebagai peternak.”
“Aa mulai bisa menerima semuanya, ketika bencana itu datang dalam bentuk Covid 19. Susu yang dihasilkan sapi memang tidak mengalami penurunan jumlah, tapi permintaan mulai menurun. Kami tetap rugi karena banyak susu yang tidak terjual. Berawal dari situ, pelan-pelan Aa mencoba mengolah susu menjadi yogurt. Sekarang sudah berjalan hampir empat tahun. Kami di sini masih bisa mengatasi Covid 19. Tapi ada masalah lain yang mengiringi Covid 19, yaitu penyakit mulut dan kuku. Sapi-sapi di sini banyak yang tidak bertahan. Meski begitu, kami tetap masih bisa berdiri tegak.”
“Alhamdulillah Covid 19 reda. Penyakit mulut dan kuku yang menyerang sapi juga berakhir. Aa mulai bisa fokus membesarkan usaha yogurt. Tapi, dua tahun lalu, badai itu datang lagi. Pagi-pagi saat Aa ke kandang, sapi di kandang mati. Totalnya ada dua puluh ekor. Wabah penyakit mulut dan kuku kembali menyerang kami. Kali ini, Aa dan peternak yang lain benar-benar hancur. Saat hancur dan nggak tahu harus ngapain, entah kenapa Aa terpikir untuk mendatangi situs Taman Purbakala. Tempat kita main saat kecil dulu.”
“Aa di sana mengalami kejadian seperti kemarin?” cecar Galuh.
“Nggak persis sama seperti kemarin. Tapi kejadian dua tahun lalu pun tak kalah aneh. Awalnya, Aa terganggu dengan omongan Abah Jumali. Si Abah bilang, kematian sapi-sapi itu bukan tanpa sebab, tapi karena ada yang 'bangun'. Abah Jumali sempat melihat ada cahaya merah dari arah batu Menhir yang kemarin kita pegang. Mungkin karena ucapan itu, tanpa sadar Aa datang ke situs.”
“Lalu, apa yang terjadi setelah Aa ke sana?”
“Aa berdiri dekat sekali dengan Menhir. Udara di sekitar batu tiba-tiba berbeda. Terasa lebih padat, lebih hangat, dan bergetar halus seolah-olah ada sebuah mesin raksasa yang sedang beroperasi jauh di bawah permukaan bumi. Lalu tanah di bawah kaki Aa berdenyut mengikuti irama detak jantung Aa sendiri. Cahaya merah redup yang diceritakan Abah Jumali benar-benar ada. Cahaya itu memancar dari dasar Menhir, membentuk jaring-jaring halus yang merayap di atas rumput.
Aa menyentuh Menhir sama seperti yang kita lakukan kemarin. Rasanya seperti ada sebuah ledakan sensoris menghantam. Aa berpindah tempat entah di mana. Badan Aa seperti ditarik menembus lapisan tanah, melintasi samudra, dan terhubung dengan sebuah titik di belahan bumi lain. Aa merasakan aroma tanah yang berbeda. Lebih lembap, lebih liar, bercampur dengan bau kayu terbakar dan mesin-mesin besar yang sedang merusak hutan. Oh ya, Aa melihat sebuah gua yang di bagian atasnya ada tanda atau cap tangan manusia. Aa nggak tahu gua itu atau Aa sendiri sedang ada di mana.”
***