Takdir Purba

Nama di Hati Bagja

Bagja berjalan menuju bagian belakang kandang, tempat dia bisa menatap puncak Menhir tanpa harus mendekatinya. Kepala Bagja sedikit mendongak agar bisa melihat puncak Menhir.

Dada Bagja terasa berdebar ketika mengingat obrolan di rumahnya tadi. Benarkah kriteria perempuan yang diidamkannya selama ini ada pada Galuh? Benarkah hatinya tidak bisa menerima kehadiran perempuan lain karena dia memang menunggu Galuh? Benarkah ada perasaan lain di hatinya terhadap Galuh?

Tanya demi tanya datang silih berganti mengganggu isi kepalanya. Telapak tangan Bagja terangkat menuju dadanya. Perlahan, Bagja menempelkan telapak tangannya di dada. Matanya terpejam. Otaknya sibuk meraba dan membaca apa yang tersimpan dalam hatinya tentang perempuan bernama Galuh yang sudah dikenalnya sejak mereka anak-anak. 

Tak bisa dimungkiri, ternyata nama Galuh tersimpan rapi dalam empat lobus yang ada di hati Bagja. Baik sebagai bayi mungil dengan pipi gembul, sebagai adik kecil berambut panjang yang selalu Bagja bela ketika menangis, sebagai remaja yang banyak bertanya tentang berbagai hal yang dilihat dan didengarnya, maupun sebagai perempuan dewasa dengan segala pesonanya.

Sejak sepuluh tahun lalu, ketika Bagja mendengar tentang perjodohannya dengan Galuh, dia memang tidak pernah memberikan penolakan. Bagja mengakui kalau dirinya menyimpan perasaan kepada Galuh. Perasaan laki-laki kepada perempuan atau bisa juga disebut cinta.   

Tanpa harus dicomblangi Mamah, Bagja menyadari kalau dia memang menaruh hati pada Galuh. Perasaan yang muncul sejak beberapa tahun lalu dan nyaris berhasil dia bunuh karena hampir sepuluh tahun ini mereka tidak pernah bertemu. 

***

Langkah kaki Galuh terasa berat, seolah-olah sepasang kakinya baru saja dicelupkan ke dalam semen basah yang mulai mengeras. Ia meninggalkan pelataran rumah Bagja tanpa kata-kata pamit yang layak. Hanya anggukan kaku dan tatapan kosong yang ia berikan pada Mamah Sundari, perempuan yang baru saja meletakkan beban takdir di pundaknya seolah itu hanyalah sebuah selendang ringan.

Galuh berjalan menyusuri jalan yang terasa makin menyempit dibandingkan sepuluh tahun lalu. Kepalanya berdenyut pusing mencium bau kotoran sapi yang mau tidak mau terhirup bersama oksigen yang masuk ke dalam paru-parunya. Kepala Galuh juga bising oleh suara Mamah Sundari yang berputar-putar di sana seperti kaset rusak.

Galuh berhenti sejenak, cuping hidungnya mengendus-endus berusaha menghirup udara yang tak bercampur bau kotoran sapi. Karena tak berhasil, Galuh pun meneruskan langkah sambil memandang tangannya yang sedikit gemetar.

Tangan yang selama bertahun-tahun ini menari di atas keyboard dan sesekali memegang kamera untuk mendokumentasikan kehancuran hutan di Belitung Timur serta Kalimantan Timur. Tangan yang ia pikir bebas menentukan arah kompas hidupnya sendiri. Ternyata, menurut Mamah Sundari, setiap langkah yang ia ambil—bahkan pelariannya ke pedalaman Kalimantan—hanyalah sebuah putaran besar untuk membawanya kembali ke titik ini. Ke Cipari. Ke hadapan Bagja.

Rumah Bi Yoyoh tampak sunyi saat Galuh tiba. Bi Yoyoh mungkin sedang mengaji di kamarnya atau sedang di dapur menyiapkan makan malam sederhana. Galuh tidak ingin bicara dengan siapa pun saat ini. Ia menyelinap masuk, melepas sandalnya dengan hati-hati, dan langsung menuju kamar di bagian belakang.

Kamar itu kecil, berbau kayu tua dan kapur barus. Galuh merebahkan tubuhnya di atas kasur tanpa mengganti pakaian. Ia menatap langit-langit kayu yang memiliki bercak-bercak bekas rembesan air hujan. Pikiran Galuh melayang kembali ke ruang tamu Bagja tadi.

Dia teringat wajah Bagja. Laki-laki itu hanya diam saat ibunya bicara. Bagja tampak seperti seseorang yang sudah lama menerima beban ini, seseorang yang sudah berdamai dengan ketidakpastian, sementara Galuh merasa seperti ditabrak kereta api dari arah samping.

Apa Bagja juga merasakannya? batin Galuh. Getaran itu?

Kemarin, saat mereka berdiri di depan Menhir yang tegak membisu, Galuh merasakan sesuatu yang tidak masuk akal bagi logikanya. Saat jemarinya menyentuh permukaan batu andesit yang kasar itu, dia merasa seolah-olah ada arus listrik yang menghubungkan sel-sel tubuhnya dengan inti bumi. Dan saat itu juga, dia melihat Bagja. Bukan Bagja yang ada di sampingnya, melainkan bayangan Bagja yang seolah sudah ada di sana sejak ribuan tahun lalu, menunggunya pulang.

Galuh bangkit dari kasur, duduk di tepinya dengan kedua tangan memijat pelipis. Ia membuka tas ranselnya, mengambil buku catatan lapangan yang sampulnya sudah mulai mengelupas. Di dalamnya terdapat coretan-coretan tentang ekosistem, jenis-jenis pohon, dan koordinat GPS. Namun, di halaman-halaman terakhir, coretan itu berubah menjadi sketsa-sketsa abstrak tentang mimpi-mimpinya belakangan ini.

Dia melihat sketsa Gua Mengkuris di Kalimantan yang pernah dia kunjungi dua tahun lalu. Cap-cap tangan merah purba di dinding gua itu. Saat itu, dia merasa ada yang memperhatikannya dari kegelapan terdalam gua. Dia pikir itu hanya perasaan paranoid seorang rimbawan yang terlalu lama di tengah hutan. Tapi Bagja tadi berkata bahwa dia melihat Galuh di dalam gua itu melalui 'penglihatan' saat menyentuh Menhir di Cipari.

"Ini gila," bisik Galuh pada dinding kamar. "Ini sama sekali tidak masuk logika."

Namun, di sudut hatinya yang paling dalam, Galuh tahu bahwa logika ilmiahnya sedang runtuh. Di Cipari, hukum alam seolah bekerja dengan aturan yang berbeda. Di sini, waktu tidak berjalan lurus; ia melingkar.

Ketukan pelan di pintu membuyarkan lamunan Galuh.

"Galuh? Sudah pulang?" Suara lembut Bi Yoyoh terdengar dari balik kayu.

Galuh menarik napas panjang, mencoba menetralkan suaranya. "Iya, Bi. Baru saja sampai."

Bi Yoyoh mendorong sedikit pintu yang tidak dikunci oleh Galuh. “Ada Bagja di depan nyariin kamu.”

Tubuh Galuh terlonjak mendengar Bi Yoyoh menyebut nama Bagja. .

“Bagja ngapain ke sini?”

“Bibi nggak tahu. Tadi Bibi nggak nanya dia mau ngapain. Cepat temui dia.” Bi Yoyoh menutup pintu tanpa menunggu jawaban dari Galuh.

***

Bagja sedang duduk di teras dan mengawasi tanaman bunga Bi Yoyoh ketika derit suara pintu tertangkap oleh telinganya. Bagja menoleh dan melihat Galuh membuka pintu lalu berjalan ke arahnya. Galuh duduk persis di seberang Bagja, dipisahkan oleh meja marmer bundar. Secangkir kopi buatan Bi Yoyoh sudah terhidang di depan Bagja.

“Lagi tidur, ya? Maaf Aa ganggu.”

“Nggak kok, A. Tadi agak pusing aja karena bau tai sapi. Ampun banget baunya.”

“Kalau orang sini mah udah biasa. Nggak ada yang komplain masalah bau sapi. Katanya, nggak ada yang mati gara-gara nyium bau tai sapi.” Bagja terkekeh.

 “Tapi, bukannya bisa ganggu pernapasan dan kesehatan, ya? Banyak bakteri loh A dari bau kotoran itu.”

“Mau bagaimana lagi. Bagi orang Cipari, bau kotoran udah dianggap biasa.”

“Susah juga ya, A. Gimana kita mau mengubahnya kalau masyarakat udah menganggap biasa kayak gini.”***

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!