Takdir Purba

Bagja Terluka

Konflik itu berlangsung hingga sore. Mediasi di dalam kantor berlangsung alot, diiringi teriakan-teriakan dari luar yang menuntut audit lingkungan segera. Ketika massa akhirnya membubarkan diri dengan ancaman akan memblokir jalan desa jika tidak ada perbaikan dalam tiga hari, Cipari terasa seperti desa hantu. Bau limbah contoh yang ditumpahkan di depan kelurahan masih membekas, menguar tertiup angin sore yang dingin.

***

Bau itu tidak bisa lagi disembunyikan oleh parfum semahal apa pun atau ditutupi dengan janji-janji kemajuan ekonomi. Bau busuk itu telah menjadi napas Cipari.

Galuh berdiri di pinggir jalan. Niatnya, pagi ini dia akan berjalan-jalan berkeliling Cipari. Memanggil semua kenangan yang sudah lama dia simpan di tempat terdalam kepalanya.

Langkahnya terhenti saat melihat banyak sekali motor yang melaju kencang menuju kantor kelurahan. Suaranya memekakkan telinga. Galuh melanjutkan langkah ke kantor kelurahan. Mengikuti sinyal keramaian.

Sampai di depan kantor kelurahan, Galuh terbelalak melihat massa yang sudah berkumpul. Lewat lensa viewfinder, Galuh melihat wajah-wajah massa yang beringas. Mata mereka merah memancarkan amarah yang sudah mencapai titik didih.

"Keluar kamu, Pak Lurah! Keluar!" teriak seorang pemuda sambil menghentakkan bambu runcing ke aspal.

Di depan Galuh, Kantor Kelurahan Cipari yang biasanya tenang kini dikepung. Pagar besinya bergoyang hebat, ditarik-ulur oleh belasan orang yang menuntut pertanggungjawaban.

"Galuh, pulang! Jangan di situ!" Mang Dedi menarik lengan Galuh dari arah belakang.

"Aku harus memotret ini, Mang," bisik Galuh, nyaris tak terdengar.

Tiba-tiba, suara benturan keras terdengar. Pagar kelurahan roboh dengan bunyi berdentang yang memilukan. Massa merangsek masuk. Galuh melihat beberapa orang membawa jeriken plastik besar.

Byur!

Cairan hitam kental itu disiramkan ke aspal halaman kelurahan. Bau bangkai yang sangat tajam segera menguar, mencekik paru-paru.

Galuh terus menekan tombol shutter. Klik. Klik. Klik. Setiap foto yang  Galuh ambil terasa seperti tusukan jarum di hatinya sendiri. Galuh teringat pembicaraannya dengan Bagja tentang frekuensi dan takdir purba. Apakah ini yang dimaksud dengan 'penyelarasan'? Apakah tanah ini harus hancur dulu agar kami sadar bahwa kami tidak bisa memaksakan kehendak pada bumi yang sudah tua ini? Pikir Galuh.

Kericuhan semakin menjadi. Seseorang mulai menyulut ban bekas di tengah jalan. Asap hitam pekat membubung ke langit, menutupi pandangan ke arah Gunung Ciremai yang biasanya nampak megah dari sini. Langit Cipari yang biasanya biru kini berubah menjadi kelabu yang kotor.

"Bakar! Bakar kandangnya kalau besok air masih busuk!"

Kalimat itu terlontar seperti kutukan.

Beberapa jam kemudian, ketika sirine polisi mulai terdengar lebih banyak dan massa perlahan mundur karena kelelahan dan intimidasi aparat, Cipari berubah menjadi medan perang yang sunyi.

Galuh berjalan pelan menyusuri aspal yang kini hitam oleh tumpahan limbah dan bekas ban terbakar. Bau busuk itu seolah telah menyatu dengan udara, meresap ke dalam pori-pori kulit. Galuh melihat kantor kelurahan yang hancur; kaca-kaca pecah, pagar yang melunglai seperti tulang patah.

Lalu Galuh melihatnya. Bagja. Dia duduk di pinggir jalan, tepat di atas aspal yang masih basah oleh cairan hitam itu. Bajunya kotor oleh debu dan sisa kotoran sapi yang entah dilemparkan siapa tadi.

Galuh mendekat, "A..." panggil Galuh pelan.

Bagja tidak mendongak. Suaranya serak saat dia bicara, "Aku tidak sedang membangun masa depan. Aku sedang menggali kuburan untuk diriku sendiri dan desa ini."

Galuh berjongkok di samping Bagja. Tidak peduli dengan bau yang menyengat atau debu yang mengotori bajunya. Di saat seperti ini, frekuensi yang mereka bicarakan itu terasa begitu nyata. Getaran duka yang mendalam dari tanah Cipari yang sedang sakit.

"Jangan menyerah sekarang," kata Galuh, meski suaranya sendiri terdengar ragu.

"Menyerah?" Bagja tertawa pahit, sebuah suara yang lebih mirip isakan. "Tidak. Kita baru saja mulai."

Galuh menatap langit yang mulai berubah jingga. Matahari terbenam biasanya adalah momen favorit Galuh untuk memotret, tapi hari ini, langit itu tampak seperti luka yang meradang. Merah, perih, dan penuh nanah.

Sore itu, di tengah kehancuran Kantor Kelurahan Cipari, Galuh menyadari satu hal. Takdir memang telah membawa kami kembali ke sini.

"Ayo pulang, A," ajak Galuh sambil membantunya berdiri.

Bagja berdiri dengan langkah yang terseret-seret. Mereka berjalan menjauhi puing-puing itu, meninggalkan aroma jelaga dan limbah.

*** 

Pukul tujuh pagi. Bagja memaksakan diri untuk tetap hadir di kandang meski hati dan tubuhnya masih tidak baik-baik saja. Pagi itu, sapi-sapi miliknya tampak lebih gelisah dari biasanya. Si Putih, sapi perah paling produktif, terus-menerus menghentakkan kakinya ke lantai semen yang mulai retak.

Bagja sibuk menghitung liter susu yang bisa disetorkan ke koperasi hari itu, sembari mencatat penurunan drastis yang terjadi selama seminggu terakhir. Air yang digunakan untuk memandikan sapi-sapi itu kini berbau besi yang karatnya seolah menempel di kulit.

Bagja sedang menyeka tangannya yang basah ke celana jin yang sudah memudar warnanya ketika gawainya berdering tanpa henti di atas meja kayu. Ia melirik nama si penelepon. Sekretaris Lurah.

"Halo, Assalamualaikum," ujar Bagja setelah menekan tombol jawab. Ia menjauh sedikit agar suara lenguhan sapi tidak menenggelamkan pembicaraan.

“Walaikumsalam A Bagja. Punten ngaganggu. Begini A, saya menyampaikan amanat Pak Lurah, kalau A Bagja nggak sibuk, Pak Lurah mengundang A Bagja ke Kelurahan. Katanya mau membicarakan masalah demo kemarin.”

“Siap, Pak Seklur. Saya segera ke sana,” jawab Bagja akhirnya.

Kantor Kelurahan Cipari tampak suram di bawah cahaya pagi yang pucat. Aroma sisa ban terbakar dari protes kemarin masih tercium samar, bercampur dengan bau limbah yang seolah sudah menjadi parfum wajib bagi desa ini.

Bagja melangkah masuk. Di dalam ruang rapat yang pengap oleh asap rokok, Pak Lurah duduk dengan wajah kuyu.

“Duduk, Ja. Punten, jadi mengganggu waktu memerah susunya,” kata Pak Lurah sembari menggeser sebuah kursi kayu jengki yang tampak sudah kusam di hadapan Bagja.

Bagja menarik kursi itu, menimbulkan bunyi derit yang memecah keheningan ruangan yang pengap. Di dalam ruangan rapat yang sempit itu, selain Pak Lurah dan Sekretaris Lurah, sudah duduk dua tokoh masyarakat Cipari lainnya: Mang Nana, sesepuh peternak dari blok Tengah, dan Haji Syarif, pemilik lahan yang rumahnya tepat berbatasan dengan area terdampak limbah di Winduherang.

"Gimana kondisi kandangmu pagi ini, Ja? tanya Mang Nana.

Bagja menghela napas panjang. "Sapi-sapi saya  gelisah, Mang. Nggak tahu kenapa. Si Putih terus-menerus mengentakkan kaki ke lantai semen. Biasanya kalau begitu, ada sesuatu yang tidak tertangkap telinga kita, tapi tertangkap oleh mereka."

Pak Lurah mengetuk-ngetukkan jarinya ke atas meja kayu. Di hadapannya berserakan beberapa lembar kertas laporan warga dan peta kelurahan yang sudah mulai menguning.***

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!