Takdir Purba
Bertemu Rama Anom
"Duduklah, Sukma," suara Rama Anom tenang, namun ada ketegasan yang tidak biasa. "Aku sudah tahu kenapa kamu datang sepagi ini. Getaran yang terjadi di Cipari tidak hanya terasa di sana, tapi juga di fondasi bangunan ini."
Sukma duduk, meletakkan tasnya di kursi kosong di sampingnya. "Rama, saya tidak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi atau apa yang sedang dibuka oleh leluhur kita. Namun, Bagja dan Galuh sudah ada di sini. Saya bisa memastikan mereka siap untuk bersatu."
“Terima kasih, kamu sudah menjaga Galuh dengan sangat baik. Ttu tidak mudah. Dua anak muda itu belum tentu bisa melihat maksud leluhur mereka. Di zaman ini, bahkan di zamanmu, perjodohan sudah dianggap sesuatu yang sudah tidak relevan. Menjaga keduanya untuk tidak salah memilih pasangan adalah tugas yang berat. Tanpa campur tangan dan restu semesta, hal ini tentu tidak akan terwujud. Bagaimana? Apakah ada pertentangan dari Galuh?”
“Sampai tadi malam, Galuh masih menolak, Rama. Sepertinya, cara kami ketika mengatakan tentang perjodohan ini yang membuat anak itu berontak. Kalau Bagja, saya melihat dia lebih bisa menerima.”
“Mereka memiliki cinta yang setara. Hanya saja, cangkangnya belum terbuka. Baiklah, lupakan dulu tentang dua anak muda itu. Mereka pasti akan bersatu pada waktunya. Sekarang, ada yang lebih mendesak yang harus kita lakukan. Kamu sudah mendengar demo warga Winduherang?”
“Sudah Rama. Bahkan Bagja juga menjadi korban pemukulan.”
“Hari berikutnya, terjadi longsir di Munjul Nini. Kamu pasti sudah tahu juga.”
“Di Munjul Nini, Galuh mengalami luka. Dia sedang ada di sana saat longsor terjadi.”
“Kamu tahu apa artinya?”
“Apakah ini pertanda yang diberikan oleh Eyang Banantaka dan Eyang Sigrawana?”
“Benar. Leluhur sudah mulai bergerak atas perintah Batari Watu. Sudah terlalu lama kita menunggu orang-orang yang bisa mengembalikan fungsi alam yang sebenarnya.” Rama Anom menggeser salah satu gulungan yang berisi peta lama ke arah Sukma. "Ini adalah peta jaringan drainase alami Cipari yang dibuat oleh leluhur kita. Lihat garis-garis merah ini. Ini adalah jalur patahan mikro yang stabil. Selama berabad-abad, jalur ini tidak pernah bergerak karena terkunci oleh formasi batuan keras yang terhubung ke Munjul Nini dan Gunung Ciremai."
"Lalu kenapa sekarang bergerak?" tanya Sukma.
"Karena ulah manusia sendiri," jawab Rama Anom pendek. "Pohon-pohon yang ditebang, tanah yang mulai tercemar, bangunan yang makin tidak terkendali membuat kerusakan sudah masuk ke dalam lapisan akuifer. Tidak ada lagi yang mengunci batuan di dalam tanah. Akhirnya batuan tersebut bergeser."
“Sukma,” Rama Anom menegaskan suaranya. “Sebagai rimbawan, kamu tentu tahu kalau air ibarat darah bagi tubuh kita. Rungkun awi yang dianggap angker, sesungguhnya adalah penyelamat kita. Rungkun awi tidak boleh ditebang karena dia berfungsi menjaga mata air. Coba kamu lihat di Cipari sekarang. Satu-satunya mata air yang masih bisa ada airnya hanya Cisumur. Itu karena penjagaan ketat dari Eyang Banantaka dan keberadaan Eyang Hiji Telasan yang dikuburkan di sana.”
“Karena air itu ibarat darah, maka wajar saja jika penduduk Winduherang marah. Air sebagai sumber kehidupan mereka sudah tercemar. Darah mereka kotor oleh limbah kotoran hewan. Hal ini harus segera dhentikan.”
“Saya bisa memahami pemikiran orang Winduherang itu, Rama. Bukan hanya air mereka yang tercemar, kotoran sapi juga mengganggu areal tempat tinggal mereka, belum lagi baunya. Saya sudah melihat upaya penduduk Cipari untuk menanggulangi limbah tersebut, tapi sepertinya belum maksimal.”
“Sapi buang kotoran tidak mengenal waktu. Jumlahnya juga tidak menentu. Sedangkan kapasitas pengolahan limbah kotoran hewan jumlahnya belum bisa banyak. Ini menjadi masalah tahunan terutama saat musim hujan tiba.”
“Paham, Rama.”
“Sudah ngobrol dengan Abah Yusman?”
“Belum, Rama. Saya belum sempat ke sana.”
“Bicaralah. Beliau sangat memahami Cipari. Jangan lupa, kamu dan Galuh adalah rimbawan. Leluhur dan takdir sudah menggiring kalian untuk kembali mencintai alam. Sejatinya, hutan adalah penyembuh. Ada banyak tanaman obat yang bisa kita pakai untuk tubuh kita. Sudah tidak ada hutan di Cipari. Bahkan pohon-pohon di Munjul ditebangi dan diganti dengan rumah. Galuh belum memiliki pengalaman yang mumpuni dan kebijaksanaan emosi. Sedangkan Bagja, Bagja pemuda yang pintar, tapi dia hanya melihat apa yang ada di permukaan sensornya," lanjut Rama Anom. "Dia harus tahu bahwa apa yang terjadi sekarang adalah reaksi berantai. Jika tekanan di bawah mencapai titik kritis, getarannya akan merambat lurus ke pilar utama Cipari. Pengetahuan yang dimiliki Galuh pun masih terbatas pada teori. Segera temui Abah Yusman. Ajak Bagja dan Galuh. Abah Yusman pasti akan memberikan pandangan dan pemahaman baru, terutama untuk dua anak muda itu.”
Sukma terdiam. Penjelasan Rama Anom terdengar sangat teknis untuk seseorang yang dianggap sebagai tokoh spiritual. Ia baru menyadari bahwa pengetahuan Rama Anom tentang Cipari mencakup aspek fisik yang sangat mendalam.
“Rama, mereka berdua sudah terhubung kepada Batara Giri.”
“Sudah sejauh mana?”
“Menurut pengakuan mereka, Batara Giri sudah memperlihatkan sosok aslinya dan membawa Bagja serta Galuh ke zaman Batar Giri. Mereka melihat ritual para pengikut Batara Giri sedang mengelilingi Menhir. Namun, mereka disuruh pulang karena belum waktunya mereka ada di sana. Batara Giri mengatakan, mereka berdua akan kembali datang saat purnama penuh.”
“Penyatuan mereka melalui pernikahan memang harus disegerakan. Jiwa dan raga keduanya harus menjadi satu frekuensi agar bisa terkoneksi dengan para leluhur.”
“Semalam saya sudah memerintahkan Galuh agar Bagja menemui saya siang ini. Awalnya, saya ingin bertemu Bagja pagi. Tapi anak itu pasti sibuk di kandang kalau pagi. Saya juga ingin bertemu Rama dulu sebelum bertemu Bagja.”
“Bagaimana dengan pekerjaanmu? Sudah mengajukan cuti? Kamu sudah siap kalau menikahkan Bagja dan Galuh dalam dua atau tiga hari ke depan? Purnama penuh yang dimaksud Batara Giri tidak lebih dari sepuluh hari lagi. Pernikahan harus diselenggarakan sebelum purnama penuh.”
“Insya Allah siap, Rama. Saya sudah mengambil cuti karena kemarin dapat kabar Galuh terluka di lokasi longsor. Saat ini Galuh juga sudah berhenti dari pekerjaannya. Dia tidak akan menemui kesulitan harus cuti kerja dan lain-lain.”
“Galuh berhenti kerja? Kapan?”
“Iya, Rama. Belum satu minggu dia berhenti kerja. Dia bilang, selama ini dia merasakan ketidaknyamanan saat membuka hutan. Dua tahun lalu, dia mengalami kejadian luar biasa di Gua Mengkuris. Katanya, dia merasa terhubung dengan masa lalu. Bermimpi didatangi oleh kakeknya yang menyuruhnya untuk pulang.”
“Percayalah. Tidak ada satu pun kejadian yang disebut kebetulan. Termasuk keinginan Galuh berhenti kerja. Semua sudah diatur. Akan terwujud saat waktu-Nya tiba.”
“Punten Rama, sebenarnya kenapa Bagja dan Galuh harus menikah? Sepenting apa dampak dari pernikahan mereka nantinya? Sejak dulu, saya maupun Duriyat tidak pernah memikirkan hal ini. Kami selalu meyakini kalau perjodohan Bagja dan Galuh memang sudah diatur leluhur. Selama untuk kebaikan, kami tinggal mengikuti saja. Pertanyaan itu mulai mengganggu saya ketika Galuh membahasnya beberapa hari lalu. Dia mempermasalahkan kenapa harus dia dan Bagja serta kenapa harus menikah.”***