The Quest for The Lost Inheritors
Akishá yang Mengering
“Atas inilah, keberadaanku tak diinginkan di Akriár. Tetapi, kurasa ini akan memberikan suatu keberuntungan jika berada di tangan kalian.” Cialla menghadiahkan cincin terbuat dari ranting yang patah dengan sendirinya dari pohon Akishá untuk Findarel dan Aldérin.
Hal ini sedikit mengejutkan bagi kedua elf dari Lamvorels itu, karena tak pernah tersiar kabar bahwa ranting atau dahan dari pohon kokoh tersebut dapat patah atau dipatahkan.
“Tetapi mustahil hal ini bisa terjadi,” ujar Aldérin, tak percaya. “Akishá adalah pohon yang diberkati, ia bagaikan sumber dari segala kehidupan.”
“Memang tidak,” sanggah Cialla. “Tetapi sejak 450 tahun lalu, induk kami menunjukkan gejala menuju kematian, begitu kata para leluhur dryadan. Pada hari itu, hari di mana cahaya biru melintas, kami terlahir dari induk Akishá, dan ketika kami menginjakkan tanah, tak lama berselang, tiga dari dahan kokoh induk kami, patah. Jatuh, mengering ke tanah.”
“Tunggu,” potong Aldérin, sebelum Cialla meneruskan. “Kami, katamu?”
“Ya, aku dan kedua saudariku, yang tentunya sama-sama Takala, Can’eru dan Can’ara. Kami bertiga lahir bersamaan dari pohon Akishá,” jawab Cialla.
Tiga dryad terlahir dari induk pohon Akishá, dan sama-sama memiliki tanda bola api, pertanda apakah ini? batin Aldérin pada dirinya sendiri.
Cialla melanjutkan, “Kami dikatakan sebagai pembawa musibah, Takala yang merubah keadaan menjadi lebih buruk. Bahkan semua keadaan, semakin kami dewasa, semakin mengenaskan. Tanah-tanah tidak begitu subur, sulitnya tumbuhan untuk hidup, dan semua penyebab hal itu terjadi, dituduhkan kepada kami. Aku berusaha untuk membalikkan pemikiran dryad yang lain, tapi usaha itu sia-sia hingga saat ini.
“450 tahun, Aldérin! Waktu yang sudah terlalu lama, aku tak mau meyakinkan mereka lagi. Oleh karenanya, apa pun yang mereka inginkan, kami lakukan, selama mereka tak membunuh kami bertiga. Hidup pun sudah cukup baik bagi kami.” Cialla pun tertawa sedih. “Inilah yang membuat para Takala tak diinginkan di Akriár, menurut mereka, kami kutukan.”
“Tetapi hal ini tidak bisa dibiarkan, Cialla. Terlebih induk dari para dryad tengah mengalami keganjilan seperti itu, apa tak bisa dilakukan sesuatu?”
Cialla menggeleng. “Bahkan centaur yang dikenal sangat hebat dalam menangani tumbuhan pun tidak memiliki cara untuk menyembuhkan induk kami. Selama 450 tahun kami bertukar informasi, sayang nihil, kaum centaur tidak bisa melakukan apa-apa. Bahkan beberapa puluh tahun ini mereka meminta bantuan dari kami untuk menumbuhkan tunas-tunas yang selalu mati sebelum mereka beranjak dewasa di hutan Elethäs,” jawabnya.
“Aku tahu itu,” timpal Aldérin. “Bangsa mereka pun datang pada kami, meminta bantuan atas hal yang sama. Tetapi kami pun tidak mampu menangani kemalangan di sisi hutan Elethäs di mana wilayahnya jauh dari kota elf, seolah-olah kekuatan kami lenyap.”
“Kita harus membangun kekuatan, Aldérin. Entah kenapa, aku merasakan semua ini disebabkan oleh bangsa dëia, kita harus memerangi mereka.”
“Hal itulah yang kini sedang kulakukan, Cialla.”
Cialla tersenyum. “Dengan darahku, meski aku harus mati, akan kuyakinkan seluruh dryadan untuk membantu elfelar, ini bukan hanya perangmu, tapi juga milik kami.”
“Ial,” panggil Findarel. Tiba-tiba tangannya menunjuk ke arah langit.
Sebuah cahaya berwarna merah redup melintas perlahan dan menghilang di balik awan kelabu. Seiring datangnya cahaya tersebut, binatang-binatang malam bersuara riuh, mencicit; melolong; berderik, seolah mereka pun membicarakan kedatangan cahaya itu.
“Apa itu?” tanya Cialla, cemas. “Tanda kedatangan dëia’kah?”
“Bukan, sesuatu yang lain.” Aldérin menajamkan telinganya, menutup kedua mata dan mendengarkan. “Itu adalah pertanda … telah lahirnya sebuah tekad besar.” Aldérin menatap ke arah Findarel dan Cialla dengan wajah berbinar. “Alam memberikan tanda bahwa salah satu takdir dari tiga hati yang menyatu, telah ditemukan.”
“Itu kabar yang menggembirakan,” seru Cialla. “Kau harus segera mencarinya, Aldérin. Waktu kita sangat mendesak. Dan dari bangsa manakah takdirmu itu?”
“Entahlah.” Aldérin menggeleng dan tersenyum. “Arunim Iroaél mengatakan, bahwa hal itu hanya hatiku yang akan merasakannya.”
“Ial pernah bertemu Fel’ Meth?” Findarel terkejut. “Ial tak pernah menceritakannya.”
“Maafkan aku, Findarel,” kata Aldérin. “Batinku sempat merasakan keraguan tuk berkata jujur, karena Fel’ Meth takkan mau menampakkan wujudnya kepada siapa pun, kecuali sesama Len Arna dan para Shlikalla Naorma.
“Aku berpikir, akan sangat tidak bijaksana mengumbar berita mengenai Fel’ Meth yang menemuiku. Lagipula, kedatangan Arunim Iroaél memberitahukan akan datangnya musibah kehancuran Lamvorels. Itu membuat hatiku terluka dan tak ingin mengingatnya lagi. Oleh karena itu, kututup mulutku.”
Aldérin tersenyum pada keduanya. “Namun, kini sudah tidak ada lagi keraguan di dalam hatiku. Aku merasa lebih kuat, sekarang. Dan aku yakin Arunim Iroaél akan mengerti, jika kukatakan pada bangsa lain, bahwa aku pernah bertemu dengannya.”
Findarel mengangguk. “Kurasa ia akan mengerti, Ial.”
“Dan seperti apakah wujud dari Fel’ Meth, Aldérin?” tanya Cialla.
Aldérin terdiam cukup lama, seolah mereka-reka kembali sosok Iroaél di dalam ingatan panjangnya. Namun, entah mengapa, begitu sulit bagi Aldérin diingatkan kembali pada Iroaél. Lalu ia menjawab, “Dia tanpa warna. Dingin bagaikan udara di pagi hari; hangat seperti sinar di siang hari; sejuk di sore hari; dan tenang, bak tidur alam di malam hari. Dia adalah wujud dari udara itu sendiri. Maula Angin.”
Cialla heran. Namun setelah Findarel membisiki, bahwa kemungkinan besar wujud Iroaél terlalu misterius untuk diingat, barulah Cialla mengerti dengan perkataan Aldérin. Bukankah Aldérin sendiri mengatakan bahwa Fel’ Meth sama sekali tak pernah menunjukkan wujudnya pada siapa pun? Dan atas itu, pasti ada penyebabnya. Salah satunya adalah, mungkin sihir yang dimiliki oleh Sang Fel’ Meth terlalu kuat, sehingga Aldérin tidak bisa lagi mengingat wujudnya.
Cialla merenung. Bukan sihir Iroaél yang ditakutkan olehnya, bila Fel’ Meth itu tiba-tiba datang menemui dirinya. Namun berita yang dibawa oleh Sang Abu-abu itu sendiri. Cialla takut menghadapi kenyataan—yang mungkin kelak suatu nanti akan terjadi, hancurnya Akriár.
Aldérin mendongakkan kepalanya dan langsung waspada ketika mendengar sayup-sayup suara dari luar reruntuhan Éba. “Tunggulah di sini,” ujarnya, sembari berbisik kepada Findarel.
Aldérin melangkah keluar. Matahari yang hangat menyinari tubuh kurus tingginya, sehingga ia terlihat bak gemerlapnya mutiara. Dan di tempat ia bermalam bersama Cialla juga Findarel, di sana sudah berdiri tiga dryad. Cialla, dan dua lainnya yang tak dikenal. Mereka hampir mirip satu sama lain, dengan kulit yang coklat, secoklat batang pohon oak. Rambut hitam lurus. Yang membedakan hanyalah panjang rambut. Satu sebahu, lalu yang satunya sepunggung, sedangkan rambut Cialla hanya sebatas leher.
Yang berambut sebahu, memakai pakaian warna hijau lumut mencapai lutut, celana panjang hitam dan sepatu bertali berwarna coklat sepanjang betisnya. Ia menyandang busur dan kantung berisi anak panah di punggung. Sebilah pedang pendek melengkung, terbungkus di sarung yang terikat kuat pada ikat pinggang. Pada lengan, sebuah gelang-gelang berwarna hitam menghias, berukir dedaunan warna putih gading.
Lalu yang berambut sepunggung, memakai pakaian yang seperti terbuat dari kulit berwarna coklat tanah sebatas perut, tanpa lengan. Bercelana panjang yang warnanya sama dengan sepatu botnya, hitam. Pada punggungnya bersandar dua buah sarung yang saling bersilangan, menutup dua bilah pedang panjang indah dan tajam. Ia menggunakan ikat kepala berwarna coklat, berhiaskan batu kecil berwarna hijau tua yang terletak tepat di depan dahinya.
Anggun namun gagah. Itulah para dryad.
Mereka menyadari kehadiran orang lain, lalu menghentikan perdebatan. Lalu Cialla tersenyum pada Aldérin, memberi isyarat agar ia mendekat kepada mereka.
“Aldérin, ini saudari-saudariku.” Cialla menunjuk pada dua dryad lainnya. “Can’Ara ….” Yang berambut sebahu. “Dan Can’Eru.” Yang berambut sepunggung.
“Enmouning (Selamat pagi),” sapa Can’Ara, ramah, dalam bahasa dryad. “Senang bertemu denganmu, Aldérin. Kami sangat terhormat bertemu dengan salah satu elfelar dari Lamvorels, ini merupakan kesempatan yang jarang terjadi.”
“Begitupun juga aku. Sudah sangat lama sekali tak pernah kulihat keagungan dan kokohnya pohon Akishá dan keramahan para dryadir. Dan berjumpa dengan kalian, mengingatkanku kepada masa-masa menyenangkan itu.” Aldérin membungkukkan badannya sedikit.
“Hell beth (Terima kasih),” balas Can’Eru. “Mendengar apa yang kau katakan, membuatku merasakan adanya sinar harapan lagi untuk Akriár.”
“Bukankah selalu ada harapan bagi mereka yang mengharapkannya?” tanya Aldérin. “Lihat, hari ini cerah juga hangat, hari yang sangat baik bagi kita untuk memulai sesuatu.”
“Ya,” jawab Cialla. Ia menatap ke arah saudara-saudaranya dengan raut kesal. “Namun, tidak baik memulai sesuatu dengan pertengkaran di hari yang menyenangkan.”
“Aku tidak mau mengganggu kalian,” ujar Aldérin. “Aku akan kembali saja, jika memang kalian harus menyelesaikan masalah.”
“Tolong, tinggallah,” pinta Can’Ara. “Kumohon, Aldérin, yakinkan Cialla untuk kembali ke Akriár. Ia harus segera pulang bersama kami, hari ini juga.”
“Aku tak berkeinginan untuk kembali ke Akriár!” tegas Cialla, gusar.
“Cialla!” seru Can’Eru. “Jangan keras kepala!”
“Tunggu sebentar.” Aldérin semakin heran. “Aku tidak ingin ada pertengkaran lain, jadi tolong jelaskan padaku, apa yang terjadi di Akriár.”
Can’Ara dan Can’Eru saling berpandangan, lalu mengangguk satu sama lain. Kemudian Can’Eru melepas kantung kecil yang terikat pada pinggangnya, ia pun mengeluarkan isinya yang langsung berjatuhan ke tanah.
“Kukira dengan menunjukkan ini, Cialla akan memutuskan untuk pulang,” ujar Can’Eru. “Tetapi ia sama sekali tak peduli.”
“Ini….” Aldérin bahkan tak sanggup berkata-kata lagi, ketika menatap dan tangannya meraih sehelai daun kering berwarna coklat. Rapuh, mati.
“Akishá.” Can’Ara mengatakannya dengan suara bergetar. “Seluruhnya, baik induk kami dan keempat penerusnya. Semua daun Akishá kering, semenjak Cialla pergi dari Akriár. Induk kami sedang sekarat, Aldérin.”
“Bukan kesalahanku jika Akishá menjadi kering,” jawab Cialla, gusar. “Apa ada hal buruk, yang pernah kulakukan kepada induk kami sendiri? Ini omong kosong!”
“Tidak, Cialla,” sanggah Can’Eru. “Yang Mulia mengharapkan adanya kekuatan yang akan bangkit jika kita bertiga bersama-sama menyembuhkan Akishá.”
“Kita tak bisa berbuat apa-apa, Can’Eru! Takala hanyalah sebuah simbol dari suatu perubahan!! Kita takkan bisa mengubah apa pun,” seru Cialla. “Dan apabila kita gagal, aku yakin kita akan disingkirkan. Itu sesungguhnya yang direncakan oleh dryadan yang membenci kita! Semua dryadan di Akriár benci pada kita!”
“Cialla, mereka membutuhkanmu, kembalilah ke Akriár. Jelaskan kepada semua saudari-saudarimu, bahwa kalian tidak mungkin bisa menyembuhkan Akishá, bahkan dengan sihir sehebat apa pun. Namun, kalian bisa berbuat sesuatu untuk memerangi bangsa dëia,” ujar Aldérin.
“Dëia?” Can’Ara terkejut. “Bangsa apa itu?”
“Bangsa yang kan membinasakan semua kehidupan di dunia,” jawab Cialla. Ia mendengus. “Lebih baik aku pergi dengan Aldérin, bersama-sama kami akan memerangi dëia, daripada kembali pulang dan dipermalukan lagi.”
“Aku senang kau berkeinginan untuk ikut bersamaku, Cialla.” Aldérin menarik nafas dan menghembuskannya. “Namun … aku sama sekali tidak berkeinginan jika kau dan saudari-saudarimu saling bertikai hanya karena masalah keputusanmu.”
“Jadi kau tidak berkenan apabila aku pergi bersamamu, Aldérin?” tanya Cialla.
“Ada tanggung jawab yang lebih besar dan lebih penting dari keberadaanku dan misi yang kini kuemban, Cialla. Yaitu bangsamu ….” Aldérin menatap dryad itu, sungguh-sungguh. “Mereka jauh lebih membutuhkanmu. Ingatkah bahwa kita akan memerangi dëia?
“Tanpa aku di sisimu, kau bisa melakukannya. Bukankah kau sendiri mengatakan, bahwa kau akan meyakinkan para dryadir, meski itu harus kau bayar dengan darahmu sendiri?”
“Mungkin aku melupakannya,” jawab Cialla. “Aku hanya takut kembali, karena aku tak mau dipermalukan untuk ke sekian kalinya.”
“Kau tidak menanggung semua itu sendirian.” Can’Ara mencengkram lembut bahu Cialla. “Apa kau lupa, selama ini pun kami merasakan yang kau rasakan? Dan saat ini adalah waktunya bagi kita untuk merubah keadaan.”
“Meski kita dikatakan sebagai sebuah simbol,” tambah Can’Eru.
Cialla terdiam, dia menatap saudari-saudarinya berusaha meyakinkan dirinya sendiri, bahwa ia takkan dijadikan sumber kesalahan apabila kembali ke Akriár.
“Maafkan atas pemikiran sesatku,” sesal Cialla. Ia tersenyum kepada saudari-saudarinya dan Aldérin. “Aku akan pulang ke Akriár, bersama kalian.”
“Keputusan yang sangat bijak,” puji Aldérin.
“Kita harus mengatakan kepada Yang Mulia Ratu bahwa sekaratnya induk kita, mungkin berhubungan dengan bangkitnya bangsa dëia,” lanjut Cialla. “Aku akan mengatakan semua hal yang kuketahui tentang sejarah masa lalu, dan kuharap Yang Mulia Ratu akan mengerti.”
“Kami akan membantumu,” timpal Can’Ara. “Yang Mulia Ratu takkan mungkin menganggap kisahmu hanya bualan belaka, karena kami akan menjadi saksimu. Dan Yang Mulia Ratu akan percaya, terlebih setelah kita bertemu Aldérin.”
“Apa aku harus ikut bersama ke Akriár, untuk ikut meyakinkan ratu kalian?” tawar Aldérin. “Jika dia memang sulit untuk mempercayai kisah dari para Takala.”
“Terima kasih, tetapi tidak perlu,” jawab Can’Eru. Ia meraih helai-helai Akishá dan menggenggamnya erat. “Kau menanggung beban berat, Aldérin. Kau harus terus dengan misimu dan kami akan berusaha meringankan bebanmu. Demi induk kami, aku sendiri takkan tenang jika bangsa dëia belum dimusnahkan.”
“Ya, Can’Eru benar. Aku tak mau semua terlambat dan sia-sia apabila kau ikut terlibat dalam masalah kami, Aldérin,” timpal Cialla. “Jangan sampai semua yang hijau dan sejuk menjadi kering seperti Akishá, induk kami.”
“Baguslah,” timpal Can’Ara.
*
Sekantung besar buah-buahan kering, satu botol Genyá dan satu botol Plósh; minuman yang dibuat khusus oleh para dryad, dan dua buah jubah juga kain syal, dihadiahkan oleh Can’Ara juga Can’Eru kepada Aldérin, sebagai salam perpisahan.
Dan khusus untuk Findarel, Can’Eru memberikan busur dan sekantung penuh anak panah miliknya. Ini merupakan hadiah yang tak terlupakan bagi Findarel, karena ia sama sekali tak pernah menduga bisa menyandang senjata kebanggaan para dryad.
Dan Can’Eru pun merasa tersanjung, bisa memberikan sedikit hadiah kepada bangsa elf. Bangsa yang turut berperan atas kelahiran dryad di dunia.
Siang itu, mereka bersiap-siap untuk meneruskan perjalanan masing-masing. Perasaan Cialla bercampuraduk; di satu sisi batinnya bahagia bisa kembali pulang ke Akriár. Di sisi lain ia merasakan takut akan tanggapan para dryadan.
Dan pada sisi lainnya ia merasakan sedih harus berpisah dengan Aldérin juga Findarel.
“Manusia tidak bisa menerima hal-hal aneh dan ajaib di kehidupan sehari-hari mereka, Aldérin,” kata Can’Eru, mengingatkan. “Ada baiknya kau memakai syal itu mulai sekarang, karena mereka sering terlihat di daerah ini oleh kami.”
“Dan beberapa dari mereka mati di tanganku,” tambah Cialla.
“Aku akan melakukannya,” sahut Aldérin. “Terima kasih atas peringatannya.”
Cialla mendongakkan kepalanya ke langit biru yang bersih, tanpa awan.
“Sudah waktunya,” kata Cialla. “Semoga kau selalu berada dalam lindungan dunia langit, Aldérin. Kami akan segera pergi, jagalah dirimu baik-baik.”
“Kalian juga,” balas Aldérin. “Kudoakan yang terbaik bagi kalian.”
“Ensaiya, Elfelar (Selamat tinggal, Elf),” pamit ketiganya.
“Ensaiya ….”
Ketiga dryad melangkah secepat angin dan sosoknya pun segera menghilang di balik pepohonan. Findarel pun meraih kantung berisi perbekalan, kain syal, dan jubah yang diberikan oleh Can’Ara juga Can’Eru. Ia mengeluarkan dua buah syal.
“Jika kita menyembunyikan identitas kita seperti ini, lalu bagaimana caranya meyakinkan manusia tentang kehadiran bangsa dëia, Ial?” tanyanya, bingung.
“Kita akan menemukan jawabannya, Findareltan.”
“Entah kenapa … aku merasakan bahwa semakin hari perjalanan kita semakin sulit, Ial.” Findarel menatap sedih pada Aldérin. “Perasaanku begitu khawatir, jika kita takkan mungkin bisa meminta persekutuan bangsa manusia.
Lalu bocah itu mengeluh pelan.
“Terlebih setelah mendengar kisah Cialla, bahwa manusia memiliki hati yang bercabang dua. Mereka mempunyai sisi gelap di dasar batin mereka.”
“Urn au (tidak semua), Findareltan,” kata Aldérin. “Banyak dari mereka yang berhati baik dan rela berkorban demi orang yang mereka sayangi. Kau akan melihatnya.”
“Apa Ial benar-benar yakin?”
Elf itu menggeleng tak pasti. “Mar.”
Findarel pun menggunakan syalnya tanpa mengatakan apa-apa lagi. Busur dari Can’Eru ia sandangkan di punggung bersama kantung anak panahnya. Aldérin tiba-tiba saja menyerahkan sebilah pedang pendek hadiah dari Anjuan—ajudan Titelénta, ratu nymph air—pada elterhel itu. Findarel menatapnya agak terkejut.
“Hanya untuk berjaga-jaga,” ujar Aldérin. “Kita tak pernah tahu apa yang akan kita hadapi setelah melewati reruntuhan Éba.”