The Quest for The Lost Inheritors
Bincang Druid dan Elf
Dalam selang waktu beberapa jam, Aldérin menceritakan semuanya pada Élsus tanpa ada yang ditutup-tutupinya, terlihat bahwa elf dari Lamvorels tersebut amat mempercayai Élsus. Bahkan tak setitik pun ada keraguan dalam batinnya.
Begitu pula yang dilakukan oleh Élsus, ia mengatakan apa yang diketahuinya dari bisikan angin. Mengenai kesusahan para dryad, kekhawatiran para centaur, dan damainya dunia manusia yang seolah terbutakan oleh perubahan bumi.
“Jadi, tak terjadi apa-apa di dunia manusia?” tanya Aldérin, heran sekaligus terkejut. “Tetapi, bukankah bangsa dëia adalah bangsa pemusnah?”
“Kukira, menurut dugaanku, bangsa api itu memiliki rencana terselubung pada kaum yang merupakan bangsaku, Aldérin. Elf adalah makhluk bijaksana, bahkan bisa melihat apa yang disembunyikan; kurcaci, makhluk berhati kokoh, keteguhan mereka sebanding dengan menjulangnya pegunungan. Koreksi aku, apabila diriku salah, Aldérin. Namun manusia mudah goyah….
“Aku manusia, pada sebelumnya. Bahkan mungkin, saat ini juga hatiku dapat berpaling dari keyakinanku, apabila keliaran dari sifat-sifatku yang dikunci oleh Tar mendadak terbuka. Dan bangsa api, tahu kelemahan dari bangsaku,” kata Élsus.
“Mereka bermaksud memanfaatkan manusia!” seru Aldérin.
“Ya, itulah pemikiran dan juga kekhawatiranku,” timpal Élsus. “Meskipun kaum elf berhasil ditaklukkan, tetapi banyak dari bangsamu yang selamat. Lalu para kurcaci pun pasti melakukan perlawanan. Baik para centaur, dryad atau nymph, mereka juga akan melawan bangsa api, meskipun jumlahnya hanya sedikit.
“Namun jika semua terhimpun, itu merupakan batu penyandung bagi bangsa api, Aldérin. Mereka mungkin bisa melawan persatuan dari kita, tapi jika kaum manusia bisa mereka jajah, bangsa api tak perlu mengorban kaum sendiri.”
“Mereka ingin mengadu kita,” keluh Aldérin. “Mereka hanya ingin tiap makhluk merdeka di dunia ini musnah, dan menjadi pemilik tunggal dunia. Ildu shira (Ini bencana).”
“Ildu tharté, elthan (Ini akhir, kawan),” tambah Élsus.
“Bangsa dëia telah memikirkan hal ini sedemikian jauhnya,” keluh Aldérin. “Kurasa akan sangat sulit untuk meyakinkan manusia meskipun kubuka jati diriku di hadapan mereka, kemungkinan besar bukan kepercayaan yang akan kudapat.”
“Kau membutuhkan lebih dari sekedar keberuntungan, kawan,” timpal Élsus. “Hal yang bisa kusarankan adalah mencari dukungan sedikit demi sedikit, memang itu akan memakan banyak waktu, dan waktulah yang kita kejar saat ini.”
“Aku tak mungkin melakukannya, lagipula aku harus segera bertolak ke utara. Bangsa nymph air membutuhkan bantuan, Élsus, kaum mereka dalam bahaya.”
“Hmm … aku mendengar kabar bahwa di utara pun terjadi hal-hal misterius, banyak manusia dari barat yang sudah tak mau bepergian ke sana. Kisah dari dari para pemburu kadang kurang jelas, dan aku hanya mencuri dengar ketika mereka beristirahat di sekitar hutan. Sebaiknya kau mencari berita di Kota Hail mengenai hal tersebut,” kata Élsus. “Hanya untuk membuatmu lebih waspada, itu saja.”
“Tentu akan kulakukan, karena aku tak mungkin hanya bergantung kepada peta yang usianya lebih dari 450 tahun.” Aldérin menunjukkan peta itu pada Élsus.
Élsus mengamati peta tersebut. “Ini adalah peta yang hanya menunjukkan aliran air, akan sangat berguna bagi para nymph, sayangnya belum tentu untukmu. Kau benar-benar harus mencari peta yang dibuat oleh manusia, peta terbaru.”
“Terima kasih atas pemberitahuannya.”
“Ial Élsus,” kata Findarel, tiba-tiba. “Apa kau tahu manusia bernama Hering Bluelock?”
“Hering Bluelock?” Élsus kelihatan heran, hingga dahinya mengerut dan menunjukkan garis-garis dalam. “Ah, sama sekali tak mengetahui siapa dia. Banyak manusia bernama Hering, Findarel. Bahkan aku pernah kenal beberapa yang bernama sama, dulu sekali. Dan mengapa kau tiba-tiba menanyakan hal ini padaku?”
Findarel mengeluarkan bundel perkamen dari dalam kantung. “Karena dalam catatannya, tertulis bahwa ia pernah melihat bangsa dëia,” jawab Findarel. “Kukira orang yang pengalamannya sangat spesial ini, mungkin pernah kau kenali.”
“Kami menemukannya di Éba,” tambah Aldérin. “Namun jalan hidupnya sangat pahit, ia berakhir di penjara karena dianggap gila. Aku dan Findarel sengaja membawa catatannya, mungkin akan berguna, kelak.”
“Kejadiannya berlangsung 450 tahun lalu. Sayang, hubunganku dan manusia lain telah terputus lebih dari 450 tahun,” kata Élsus. “Maaf, aku tak bisa membantumu, Findarel.”
“Mungkin kita bisa menemukan petunjuk lain di Hail, Findareltan. Apabila Éba sudah tak dipakai lagi, mungkin para wea menyimpan catatannya di sana,” sahut Aldérin.
“Kau tidak salah, kawan. Catatan para wea telah dipindah semenjak cahaya biru itu datang, kurasa beberapa tahun setelahnya. Aku melihat iring-iringan manusia membawa berkas-berkas di atas kereta kuda, mereka tergesa-gesa, seolah takut pada sesuatu.”
“Apa yang membuat mereka pindah dari sana?”
“Kau tidak menduganya sama sekali?” Élsus berbalik bertanya. Aldérin hanya menggeleng. Élsus mendadak tertawa terbahak-bahak. “Para dryad, kawan! Kaum itu berpikir bahwa manusia yang telah membuat hutan menjadi sekarat, meskipun aku telah berusaha meyakinkan para dryad bahwa bukan kaumku yang melakukan itu semua, tapi mereka begitu keras kepala.”
“Aku bisa memahaminya, Cialla pun begitu keras kepala,” kata Aldérin.
“Cialla Yewa maksudmu?” tanya Élsus, terkejut. “Kau kenal dia? Kami bertemu dengannya, sebelum mencapai kediamanmu.”
“Ya, secara tidak sengaja, saat di Éba. Kurasa kau pun mengenalnya.”
“Dia sosok yang menyenangkan dan ramah, kami cukup berteman baik selama lima tahun ini, meski jarang sekali bertemu. Terakhir kali aku berjumpa dengannya tiga tahun yang lalu, ketika ia akan kembali ke Akriár setelah mengunjungi Nanduél.”
“Nanduél?”
“Ya, kota kedua para centaur.” Élsus mengacungkan jarinya ke sebelah kanan. “Di barat sana, dibangun lima tahun lalu. Para centaur begitu cemas dengan desas-desus yang tak menentu, maka mereka diam-diam membangunnya. Sedikit demi sedikit dari mereka pindah.” Élsus kembali mengacungkan jarinya. “Mereka berjalan menyusuri hutan, melewati danau Crath lalu berkumpul di Éba, setelah itu, mereka akan menemui utusan dryad yang menjemput dan mengantar hingga ke Nanduél. Mereka harus memutari jalan, karena tidak mungkin begitu saja lurus melewati jalan yang sering dilalui oleh para pemburu, manusia maksudku.”
“Apa karena itukah Cialla menunggu para centaur di Éba? Jadi ia sama sekali bukan menunggu utusan?”
“Tunggu sebentar, Aldérin. Kau benar-benar tak tahu mengenai Nanduél atau kepindahan para centaur ke hutan Andû di barat?”
Aldérin menggeleng. “Tidak, aku tidak mengetahuinya sama sekali. Dan aku tak mengerti, mengapa Cialla merahasiakan hal yang sebenarnya dariku? Padahal kami berbincang banyak. Meski waktu cukup singkat.
“Kau tidak mungkin mencari tahu akan hal ini karena keadaanmu lebih dari sekedar terdesak, biarlah aku yang menemui Cialla. Kaumnya memang sangat waspada dan penuh curiga, tapi aku takkan mengalami masalah hanya untuk bertemu dengannya di Akriár. Akan kulakukan secepatnya.”
“Maaf, aku telah menyusahkanmu, Élsus.”
“Jangan sungkan. Inilah gunanya teman, harus saling membantu."
Aldérin mengangguk, tanda mengiyakan. Namun pikirannya telah melayang pada Cialla. Apa yang sebenarnya yang kau sembunyikan, Cialla? Batin Aldérin keheranan.