The Quest for The Lost Inheritors

Kebohongan Gûr’adór

Sehelai daun kering menyambut kepulangan Cialla, Can’Eru juga Can’Ara. Ketiganya mendongakkan kepala pada langit, betapa terhenyaknya mereka, ketika mendapati pepohonan yang senantiasa menaungi, telanjang tanpa dedaunan. Ranting-ranting kering hanya mampu menahan beberapa helai daun yang telah kering dan tak mungkin hijau kembali.

Alam sekarat, bahkan nyanyian hutan tak lagi diperdengarkan, bayang-bayang kematian merasuki seluruh makhluk. Begitu pilunya keadaan di Akriár.

“Semakin hari, semakin banyak yang berguguran,” desah Can’Ara. “Kutukan apa yang menimpa bangsa kita?”

“Ini bukan kutukan,” ralat Cialla. “Semua merupakan perbuatan dëia, meski aku tak tahu bagaimana mereka melakukannya. Tapi akan kuselidiki dan kubuktikan secepatnya.”

“Kita yang akan menyelidiki dan membuktikannya, Cialla. Kau, Can’Eru dan aku,” kata Can’Ara. “Kau tak sendiri.” Cialla pun mengangguk, tatapan haru menyelimuti rautnya.

Mereka masuk ke dalam gerbang terselubung yang tertutupi dedaunan lebat lalu menarik tuas, dan di depan mereka turun sebuah papan yang sangat lebar. Mereka naik ke atas pepohonan tinggi setelah menarik pengungkit. Warna dari batang pepohonan berubah menjadi lebih lebih coklat keemasan, dan hijau.

Papan berhenti, setelah mencapai tingkat paling atas. Pemandangan alam pun berubah menjadi bentuk kehidupan yang lebih ramai, jembatan tali di sana-sini; kamar-kamar kecil di celah batang pohon yang pintu dan jendelanya tertutupi tirai berwarna krem dan coklat.

Bentangan jalan-jalan yang terbuat dari kayu kokoh; aliran air berkelok-kelok yang tertampung pada selokan kayu; lalu pada ujung di sebelah utara, menderas jatuh ke danau kecil, air terjun yang menyejukkan.

Dan di sanalah kota Akriár berada.

Di atas pepohonan tinggi, pepohonan yang mengintari lingkaran pohon suci, Akishá dan tiga keturunannya. Kota yang penuh damai, dan dijaga sangat ketat keamanannya. Namun, karena begitu waspada, para dryad tidak mengetahui apa yang terjadi di luar sana, jauh dari jangkauan pengawasan mereka.

“Kita sudah disambut,” bisik Can’Eru.

Tidak jauh dari tempat mereka, ratu dari para dryad, Reŷanim Arun, sudah menunggu di luar singgasana istananya, bersama sesosok centaur berkulit hitam, dan empat dryad; pengawal sang ratu.

“Gûr’adór,” desis Cialla. “Katakan padaku, alasan apa yang bisa membuatku dapat menyukainya dan tidak membencinya?”

“Sudahlah, Cialla. Jangan membuat masalah,” peringat Can’Ara.

“Berita apa yang telah kalian bawa dari Éba?” tanya ratu Reŷanim.

Cialla dan kedua saudarinya membungkuk dalam, yang dibalas oleh sang ratu dengan sebuah anggukan anggun. Cialla pun bertumpu pada sebelah lututnya, hal yang sama pun dilakukan oleh Can’Ara dan Can’Eru. Ini merupakan tradisi para dryad ketika mereka hendak berbicara pada penguasanya.

“Atas ketidaksengajaan, aku dipertemukan dengan dua orang elf di reruntuhan Éba, Yang Mulia. Aldérin Varwendil dari klan Sholyrn dan Findarel Elderhel dari klan Andilosh, elf dari Lamvorels yang kini telah hancur menjadi abu,” kata Cialla. Ia mendongakkan kepalanya dan menatap tajam pada Gûr’adór, “karena diserang oleh bangsa dëia.”

“Dëia? Kaum apa itu?” tanya ratu Reŷanim, heran.

“Kurasa Yang Agung Gûr’adór sudah seharusnya memberitahukan mengenai hal ini, bahkan pada awal-awal bangsa mereka menawarkan persahabatan kepada bangsa kita beberapa ratus tahun yang lalu,” jawab Cialla. “Dan menjadikannya menjadi suatu peringatan bagi kita.”

“Lelucon macam apakah ini, Cialla? Apa kau hendak mengatakan kisah lampau yang belum tentu kebenarannya?” tantang Gûr’adór. “Bangsa itu telah musnah, oleh karena itu tidak perlu mengingat-ingat lagi tentang mereka!”

“Ini bukan lelucon,” desis Cialla. “Apa yang terjadi pada bangsa kita, ini pun terjadi pada para nymph air! Kita lengah, Yang Mulia. Kehancuran akan segera datang, apabila kita tak membantu bangsa elf.”

“Jangan mengada-ngada, Cialla. Elf bangsa yang kuat, aku ragu kota mereka dapat dihancurkan. Jika Lamvorels ditaklukkan, sebelumnya bangsa dëia itu akan memusnahkan kota centaur terlebih dahulu dan saat ini tak kuterima kabar buruk apa pun,” cibir Gûr’adór.

Gigi-gigi Cialla bergemeretak. “Tentu saja begitu, karena akulah yang menjadi pembawa berita untukmu, Yang Agung Gûr’adór. Untuk kau ketahui, belum kutemui salah satu dari utusan kaummu. Mungkin benar apa yang telah kau katakan, bahwa kota Halrunën telah binasa, sebelum kota Lamvorels. Aku sendiri sama sekali tak meragukan apa yang menjadi dugaanmu.”

“Cialla!” peringat ratu Reŷanim, tegas. “Kuharap kau bisa menjaga sikapmu di depan sekutu bangsa kita. Di mana tatakramamu?”

“Maafkan aku, Yang Mulia.” Cialla menunduk patuh.

Can’Ara menatap ke arah ratu Reŷanim. “Yang Mulia, tidak ada maksud di benak Cialla untuk mencemooh Yang Agung Gûr’adór. Namun, apa yang ia paparkan aku sendiri meyakini dan mempercayainya,” ujarnya. “Aldérin mengatakan kepada kami, bahwa kemungkinan besar bangsa dëia telah melakukan banyak hal jahat yang mengakibatkan gejala kehancuran alam. Yang harus kita lakukan sekarang adalah memerangi dëia, dan mempersatukan aliansi kita.”

“Kita masih memiliki kesempatan untuk membangun kerjasama dengan para kurcaci di Pílghym, juga para nymph air. Kita harus segera mengirim utusan ke sana, dan membuat pertahanan di satu titik kuat, di mana tak ada bangsa yang terpencar,” tambah Can’Eru. “Dan yang terakhir, membuka tabir rahasia kita kepada para manusia.”

“Manusia? Bangsa busuk itu? Apa yang telah merasuki kalian?!” seru ratu Reŷanim, marah.

“Tetapi Yang Mulia ….” Cialla tercekat, ketika sebuah ujung tombak mendadak saja terhunus dari belakang lehernya. Di sana sudah berdiri pengawal pribadi sang ratu, yang menatapnya dengan penuh kebencian.

“Mengenai bangsa dëia ini, kurasa mereka hanya mengarangnya saja, Yang Mulia,” bisik Gûr’adór. “Aku tahu aku salah karena tidak memberitahukan kisah bangsa tersebut, akan tetapi dëia sudah musnah. Tak ada ancaman berarti bagi kita kecuali gejala alam yang ganjil, dan kupastikan kepindahan bangsa kami ke Kota Nanduél, karena ingin membangun kehidupan baru. Bukan karena desas-desus mengenai bangsa api yang telah punah, para elf pun memahami betul.”

Ketiga Takala terhenyak, tak menyangka dengan sangkalan Gûr’adór. Bahkan mereka tak percaya dengan apa yang mereka dengar.

Dia berbohong! jerit Cialla dalam hatinya. Pembohong besar!!

“Cialla?” Tiba-tiba terdengar suara lain dalam batin Cialla, yang ternyata suara Can’Eru. “Apa kau yang mengatakan hal itu?”

Keduanya saling berpandangan, seolah tak mengerti apa yang terjadi pada diri mereka masing-masing. Sesuatu yang ganjil merasuki mereka!

“Sejak kapan kau bisa memasuki pikiranku, Can’Eru?” desak Cialla.

“Maaf, tetapi teriakan batinmu begitu keras, bahkan aku bisa mendengarnya,” timpal Can’Ara, tiba-tiba. Ia melirik pada Cialla. “Lalu apa kau bisa mendengar apa yang kukatakan, saudariku?”

“Ya,” jawab Can’Eru dan Cialla, berbarengan.

“Selamat! Ternyata kita diberikan keajaiban secara tiba-tiba,” ujar Can’Ara.

“Namun, meski begitu, aku mengenali betul siapa itu Aldérin Vanwerdil, Gûr’adór,” kata ratu Reŷanim, mengalihkan perhatian ketiganya untuk kembali pada masalah awal. “Dia elf bijak dan baik, pernah ia mengunjungi bangsa kami, ratusan tahun lalu, meski sangat lama, tapi kesannya tetap abadi. Kita tak bisa mengabaikan mengenai Aldérin.”

“Yang Mulia, bagaimana jika Aldérin hanya bepergian dan bertualang? Kau pun tentu tahu seorang druid yang tinggal di dekat Nanduél? Setahuku, ia adalah sahabat baik Aldérin,” debat Gûr’adór, sambil berbisik pelan.

Alis sang ratu naik. “Élsus?”

“Ya, dia. Apa kau tidak berpikir bahwa Aldérin hendak mengunjunginya dan secara tak sengaja bertemu dengan Cialla? Lalu di saat mereka berbincang, Aldérin pun menceritakan mengenai kisah dëia, sehingga itu menimbulkan satu pemikiran cemerlang bagi Cialla untuk membuat satu masalah baru bagi bangsa dryad dan centaur?

“Ketahuilah, Yang Mulia, masalah utama bagi kita adalah memikirkan bagaimana caranya mengembalikan kesehatan pohon Akishá, bukan ikut campur dalam berita simpang siur yang dibawa oleh seorang elf. Jika memang itu benar, mengapa Aldérin tidak datang sendiri ke Akriár, sebagaimana yang aku lakukan untuk menghormati persahabatan kita?” ujar Gûr’adór panjang lebar dan penuh tipu muslihat.

“PEMBOHONG!!!” seru Cialla, murka. Ia hendak mencabut pedang pendeknya, tapi satu pukulan telak langsung menjatuhkannya ke lantai kayu. Darah kehijauan pun menetes dari sudut bibirnya yang mungil.

“Yang Mulia!! Itu tidak benar!!!” jerit Can’Ara. Dan satu pukulan diterimanya. Ia jatuh tersungkur ke pangkuan Can’Eru. “Apa yang dikatakannya adalah dusta!!!”

“Tolong, Yang Mulia. Can’Ara, Cialla dan aku tak mengarang apa-apa! Terlebih Cialla, ia mengatakan yang sesungguhnya! Percayalah!” pinta Can’Eru.

“Kukagumi tali persaudaraan bangsa dryad yang begitu erat, Yang Mulia. Tetapi seperti yang kita tahu bahwa para Takala memiliki pemikiran yang … cukup ganjil bagiku,” desis Gûr’adór. “Kau tentu mengerti maksudku.”

“Ya, aku tahu persis dugaanmu,” kata ratu Reŷanim, dingin. “Mereka sepakat untuk berkilah agar aku percaya. Jangan kira aku bodoh, Gûr’adór!”

Kau memang bodoh! batin Cialla berteriak.

“Yang Mulia, kumohon dengarkan kami,” pinta Can’Eru. “Semua ini sangat berkaitan erat dengan bangsa dëia! Itulah yang dikatakan oleh Aldérin. Kita harus membangun pertahanan, atau kita akan bernasib seperti bangsa elf! Kumohon, dengarkanlah kami ….”

“Jika memang begitu, mengapa Aldérin tak menunjukkan wajahnya di Akriár? Apa dia takut kebohongannya akan terbongkar jika lebih lanjut diselidiki?” tanya Gûr’adór, sinis.

“Kau!!” desis Can’Eru. “Alderin harus menyelamatkan dunia! Ia dalam ketergesaan meneruskan perjalanannya! Betapa lancangnya kau katakan elf itu seorang pembohong! Satu-satunya pembohong di sini adalah KAU!”

“CUKUP!” seru ratu Reŷanim. Ia menggelengkan kepalanya, gusar. “Tahan mereka, sampai aku memutuskan ganjaran apa yang tepat bagi ketiga Takala ini karena membohongi penguasanya. Sampai saat itu, tidak ada yang diperkenankan untuk menemui ketiganya, meskipun itu adalah pemimpin dari klan dryadan.”

Cialla tidak berusaha berontak ketika para penjaga mencengkram lengannya dan mengikatnya dengan kasar. Ia hanya menatap pada Gûr’adór dengan tatapan penuh kebencian, yang dibalas Gûr’adór dengan mata gugup.

“Semoga tumpukan kekelaman di hatimu di sapu bersih oleh putihnya salju dari Estion,” bisik Cialla, ketika ia memapasi Gûr’adór. Centaur itu hanya terhenyak, tetapi ia tak mengatakan apa-apa. “Tentu kau tahu benar akan kisah tersebut ….”

Samar-samar ketika ketiganya melangkah, Cialla bisa mendengar percakapan antara Reŷanim dan Gûr’adór.

“Siapa itu Estion?” tanya Reŷanim.

“Entahlah, Yang Mulia. Mungkin hanya nama yang dikarang Cialla,” jawab Gûr’adór. “Banyak tumpukan nama dan cerita di Éba, kau bisa menemukan kisah-kisah lucu di sana.”

Ya, dan akan sangat lucu bagiku jika melihat kau dibakar hidup-hidup oleh kaum dëia, batin Cialla. Satu kenangan terindah sebelum aku mati di tangan bangsa pemusnah itu!

“Semoga saja kita masih hidup untuk menyaksikannya, Cialla,” kata Can’Eru.

Cialla menoleh dan mengulaskan senyum. “Setidaknya kita masih bisa bicara satu sama lain apabila Yang Mulia Ratu memutuskan membuat kita menjadi bisu.”

Ketiganya pun mendadak tertawa, sehingga membuat dryad yang menggiring mereka dibuat heran. Karena tahanan mana pun takkan pernah tertawa atas apa yang terjadi pada mereka, terlebih jika mereka menjadi tahanan kaum dryad.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!