The Quest for The Lost Inheritors

Benih Kegelapan

Ketiga Takala itu berjalan melalui beberapa jembatan gantung, dan melewati selasar-selasar melingkar menuju puncak salah satu pohon paling ujung sebelah Barat. Jarang sekali ada dryad yang kelihatan di daerah tersebut, karena di sana adalah penjara para tahanan, dan selama beratus tahun, kaum dryad tidak pernah menahan siapa pun.

Mereka dimasukkan ke dalam satu sel yang jerujinya amat kokoh meskipun terbuat dari kayu. Kayu itu sudah diberikan mantra, di mana tahanan takkan bisa pernah mampu menyelinap kabur. Namun, ketiga Takala itu tak pernah berniat untuk lari, mereka lebih memilih menunggu keputusan dari sang ratu.

Seperti yang dipaparkan oleh Can’Eru, “Tidak masalah bagiku untuk mati esok, daripada melihat dëia membantai kota kita dan menghancurkan segalanya. Jika semua telah hancur, apa yang bisa kita pertahankan di kemudian hari? Apa kalian mau menjadi budak seumur hidup? Menurut penilaianku, lebih baik mati di tangan kaum dryadan—kaum kita sendiri, daripada di tangan bangsa lain.”

“Mengapa Gûr’adór menutupi kenyataan yang sesungguhnya,” gumam Cialla. “Sejak awal dia datang ke Akriár, aku merasa ada sesuatu yang ia sembunyikan dari kaum kita.”

“Entahlah, mungkin ada hubungannya dengan Kota Nanduél yang sengaja dia bangun,” jawab Can’Ara, tak yakin. “Mungkin ia sendiri tahu, mengenai ancaman bangsa dëia. Oleh karena itu, ia melarikan kaumnya ke barat.”

“Bukankah seharusnya ia menjalin kerjasama dengan bangsa elf? Setahuku hubungan centaur dan para elfelar sangatlah baik. Kenapa Gûr’adór tiba-tiba saja mengkhianati persahabatan mereka? Itu tak masuk akal,” timpal Can’Ara.

“Hanya Gûr’adór yang tahu jawabannya,” keluh Cialla. “Sekarang yang bisa kita lakukan hanya menunggu keputusan Yang Mulia Ratu, atau menunggu satu keajaiban. Yah … mungkin itulah yang bisa kita lakukan.”

“Seandainya saja Aldérin ikut bersama kita ke Akriár, mungkin nasib buruk ini takkan kita alami,” gumam Can’Ara, sedikit menyesal.

“Bisa saja nasibnya pun akan berakhir seperti kita di sini,” sanggah Can’Eru. “Gûr’adór bermulut ular, ia dapat membalikkan semua perkataan. Kemungkinan besar, Aldérin mendapat masalah apabila ikut dengan kita.”

Cialla dan Can’Ara tak membantah Can’Eru, sebagian benak mereka menyetujuinya. Mungkin ada benarnya yang Can’Eru katakan. Gûr’adór bisa saja melakukan segala cara untuk menutupi kebusukannya. Meskipun itu akan mengancam keselamatan orang lain.

*

Sementara itu di sisi wilayah lain…

Kota Nanduél begitu senyap di malam hari. Para centaur sudah terlelap dengan tenang di hari-hari mereka yang terasa damai. Meski perasaan gundah sebetulnya menyelimuti sosok-sosok centaur yang khawatir dengan kondisi alam yang semakin memburuk. Namun, mereka percaya bahwa Gûr’adór bisa mengeluarkan mereka semua dari kemelut.

Suatu saat, alam akan bekerja seperti biasa. Itu yang membuat harapan masih tetap mereka jaga dalam hati.

Gûr’adór mengamati langit gelap yang ditutupi selimut awan pekat berwarna kelabu, ia tidak bisa lagi melihat potongan masa depan yang selalu ditangkap oleh batinnya. Hanya kelam. Itu yang ia lihat kini.

Sepuluh tahun lalu, ia masih bisa meramalkan apa yang mungkin terjadi, dia masih dapat mencegah apa yang salah dan menjadikannya benar. Namun, sosok Gûr’adór sekarang sama lemahnya dengan seorang manusia. Buta dan tidak tahu apa-apa.

Anugerah yang diturunkan padanya memudar seiring benih kegelapan menebar di dalam hatinya. Gûr’adór merasakan itu, tetapi tak ada yang dapat dia lakukan untuk mencegahnya. Semakin hari, tekanan tersebut semakin merenggut kesadarannya. Ia tak mampu menolak bisikan-bisikan dari penguasa jiwanya.

Seperti saat ini, saat ia memandang langit. Suara itu datang lagi, mendengung di telinganya seperti seekor lebah yang tak berhenti mengganggunya,

“Aldérin? Siapa sosok ini? Mengapa kau tidak pernah mengatakannya padaku, Gûr’adór. Bukankah sudah kukatakan, jangan menyembunyikan apa pun! Karena satu kebohongan adalah kematian bagimu! Apa kau ingin Nanduél pun mengalami hal yang sama dengan Halrunën dan Lamvorels? Dihiasi selimut abu?”

Gûr’adór menggigil ketakutan, memohon pada dia yang ada di dalam pikiran agar mengampuni kesalahannya. Dan ketika Gûr’adór mengungkapkan bahwa Aldérin adalah elf dari Lamvorels, suara itu semakin keras terdengar. Marah dan mengancam,

“Cari dia! Cari dia sampai dapat! Jangan biarkan si elf itu menghirup lagi udara bebas. Atau kau akan merasakan akibat dari kelalaianmu, Gûr’adór.”

Lalu suara itu lenyap. Namun matanya tak pernah berhenti mengawasi.

“Gûr’adór?” panggil seseorang.

Kekalutan dan kengerian yang dialami Gûr’adór teralihkan, sosok yang berdiri di ambang pintu itu terlihat heran mendapati Gûr’adór yang begitu larut di dalam lamunannya. Ia menghampiri, terdengar ketukan langkah empat kakinya.

“Ada apa denganmu?” tanyanya.

Gûr’adór menggeleng dan menyunggingkan senyum. “Hanya berpikir keras, itu saja. Apa yang membuatmu masih terbangun selarut ini, Wédéal?”

“Kudengar para Takala ditahan oleh yang mulia ratu Reŷanim, meskipun itu bukanlah wewenangku untuk turut campur, akan tetapi hal ini sangat menggangguku, oleh karena itu aku ingin membicarakannya secara pribadi denganmu, tanpa ada telinga lain mendengar, khususnya para dryad,” tutur Wédéal.

“Ya, mereka terlalu lancang.”

“Kau ada di sana, Gûr’adór. Beberapa dryad mengatakan bahwa para Takala berdebat denganmu. Ini sama sekali bukan perangaimu,” sahut Wédéal. “Apa yang membuat kalian saling menjatuhkan? Seharusnya kita saling membantu.”

“Mereka mengatakan banyak omong kosong! Hanya itu.”

“Termasuk kisah bangsa dëia?” selidik Wédéal. “Dengar, ratusan tahun lalu Klor (Raja) Avesdâk pernah mengatakan akan datangnya badai kematian. Apa masih kau ingat hari itu? Hari di mana cahaya biru datang? Hari di mana Hirl (Ratu) Nevêrther dilahirkan?

Gûr’adór menjawabnya dengan anggukan lemah.

“Klor Avesdâk tidak bisa melihat apa yang menyebabkan kematian besar akan terjadi, melainkan dalam penglihatannya ia melihat api. Api, Gûr’adór! Apa itu tidak membuatmu berpikir bahwa api tersebut adalah tanda dari kebangkitan bangsa dëia?” tutur Wédéal. “Benakku mengatakan mereka belum musnah.”

“Aku tak mau membicarakan omong kosong lagi,” tukas Gûr’adór.

“Baiklah, jika itu yang kau inginkan,” ujar Wédéal, tenang. “Namun, secepat mungkin aku akan pergi ke Halrunën, hanya memastikan keadaan di sana baik-baik saja. Dan setelah itu mengunjungi Lamvorels, menemui Tylosae, karena aku membutuhkan banyak berita nyata, lebih dari sekedar rumor belaka.”

“Wédéal, kau tak bisa pergi ke sana!”

“Mengapa? Apa kau takut bahwa dugaanku benar?”

“Tidak, tidak, bukan itu,” jawab Gûr’adór. “Hanya saja … perjalanan ke timur sangat beresiko, penuh bahaya. Sungguh tak bijaksana bepergian sendiri.”

“Bahaya? Maksudmu manusia? Mereka menjadi buta di dalam hutan, kau tak perlu khawatir, aku bisa menjaga diriku sendiri.”

Wédéal bergegas pergi dari ruangan Gûr’adór dengan raut gusar. Sedangkan Gûr’adór hanya diam, tak membantah sama sekali. Namun, yang sama sekali tak diketahui Wédéal adalah, penguasa Gûr’adór telah membisikkan keputusannya,

“Oh, dia tak tahu bahaya macam apa yang ada di hutan. Bahaya yang seharusnya ia waspadai. Sayang sekali, Gûr’adór, tapi kau harus menghilangkan jejaknya, untuk selama-lamanya ….”

Ujung lidah Gûr’adór kelu. Ia menundukkan kepalanya.

“Aku tak akan membantah lagi, Ratu ….”

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!