The Quest for The Lost Inheritors
Kesepakatan di Masa Lampau
Sapuan senyuman itu mengulas wajah Gôntra ketika ia melihat sosok Yähgé sudah berdiri di ambang pintu kamarnya, sama sekali tak tersirat raut kurang berkenan di wajah Gôntra bahkan ia terlihat sangat senang mendapati kedatangan adik perempuan Kóle itu.
Sedangkan Yähgé tidak memberikan ekspresi apa-apa, ia langsung berbaring di atas tempat tidur, dan memperhatikan Gôntra yang kini duduk di hadapannya sembari menikmati camilan daging panggang merah.
“Apa itu daging mayat elf?” tanya Yähgé, memulai percakapan mereka.
“Aku tak pernah memakan daging musuhku.” Gôntra pun tertawa terbahak-bahak. “Jadi kau pernah memakan daging bangsa elf?”
“Lebih baik aku mengikuti tradisi bangsa terkutuk itu, yang hanya memakan daun, daripada menikmati salah satu dari bangkai mereka.” Yähgé bergidik. “Oh, menjijikkan sekali, bahkan hanya untuk membayangkannya.”
“Hmm … kau mulai terdengar seperti mereka,” ejek Gôntra. “Apa karena kau telah cukup lama tinggal di kota Lamvorels ini? Maksudku, puing-puing kota ini.”
“Wah, sangat mengejutkan bahwa kritikanmu sama sekali tak membuat perasaanku marah. Ini terasa ganjil,” kata Yähgé, sinis. “Apa karena kau sudah terlalu lama tinggal di Lamvorels sehingga perkataan tajammu melemah, Gôntra?”
Gôntra tersenyum simpul, lalu kembali mengunyah dagingnya tanpa memberikan argumen lebih keras. Yang ia katakan hanyalah, “Kau tahu aku selalu lemah kepadamu.”
“Oh, kau membuatku muak!” seru Yähgé. “Tak bisakah kau bersikap lebih bertahan daripada menerima apa yang kukatakan?”
“Bukankah aku selalu lemah di hadapanmu?”
“Aku sangat terharu mendengarnya,” cibir Yähgé.
Dentingan para penempa besi dan suara kunyahan Gôntra mengisi suasana hening di antara keduanya yang mendadak diam beberapa lama, tanpa berbicara sepatah kata pun. Sesekali Gôntra melirik Yähgé yang menerawang, melayangkan pikiran kosongnya melalui atap kayu yang berwarna coklat bebercak warna arang. Ia tahu, Yähgé sedang memikirkan sesuatu.
Sesuatu yang hasilnya akan sangat luar biasa hebat, apalagi jika Yähgé terlahir sebagai sosok pria dëia.
“Apa yang kau inginkan dariku?” tanya Gôntra, memecah kesunyian.
Yähgé mengalihkan perhatiannya dari atap kayu, lalu melayangkan sorot mata sendunya pada Gôntra. “Kenapa kau selalu membuat masalah?”
“Ah, ini mengenai Ninye, bukan?”
“Bahkan kalian sudah berkenalan,” keluh Yähgé. “Katakan padaku, apa kalian saling berjabat tangan atau saling berpelukan seperti saudara?”
“Jika bukan kedua-duanya, apa itu membuatmu senang?”
“Hibur aku, Gôntra.”
“Kami berciuman …,” jawab Gôntra, enteng. Dan sekilas kobaran api memenuhi kedua bola mata Yähgé yang berwarna ungu. Gôntra tertawa, lalu menggelengkan kepala. “Tentu saja tidak. Dia lebih memilih mati daripada menyentuhkan kulitnya pada kulitku.”
“Bagaimana jika kau lontarkan lelucon murahanmu itu pada Kóle? Mungkin dia akan memancung kepalamu keesokan harinya,” saran Yähgé, mencemooh.
“Kóle mengeluh lagi tentangku, benar bukan?”
“Nihlá yang mengeluh, dan Kóle—kakakku yang dungu, mengulang keluhan kakakmu padaku,” jawab Yähgé. “Harusnya kau memperbaiki hubunganmu dengan Nihlá, karena ia kesulitan hanya untuk menyampaikan masalah sepele pada adiknya sendiri. Saranku, lebih baik kau habisi dia, dengan begitu, semua masalah di antara kalian selesai. Mengerti?”
“Akan kupikirkan,” balas Gôntra. Ia terkekeh, geli mendengar perkataan Yähgé yang selalu menyudutkan lawan bicaranya. “Lalu? Apa yang kau katakan pada Kóle?”
“Tentangmu?” tanya Yähgé. Gôntra mengangguk. “Hanya beberapa komentar sinis dan sangat sinis kepada Nihlá, tidak lebih. Aku tak mungkin membelamu atau Nihlá—dan jangan harap aku mau melakukannya, itu akan merusak segalanya,” lanjut Yähgé.
“Jadi kau akan tetap meneruskan rencanamu yang cemerlang itu?”
“Ya, dan sebaiknya jangan kau ceritakan masalah ini pada Ninye malangmu. Dia mungkin lemah, tetapi dia tidak bodoh,” peringat Yähgé. “Bahkan dia jauh lebih cerdas dibandingkan kau, Kóle, atau pun Nihlá.”
“Namun ia tidak lebih pintar daripada kau.”
“Ah, itu sudah pasti.”
Gôntra lagi-lagi menyunggingkan senyum. Bahkan sampai detik ini ia tidak memahami, mengapa ia bisa terlibat dalam suatu persekutuan terselubung yang direncanakan oleh Yähgé. Angan Gôntra tiba-tiba saja terkenang pada masa ketika dirinya dan Yähgé menyepakati rencana yang hebat sekaligus penuh resiko itu. Masa yang membuat hidup Gôntra—yang diselimuti kejemuan, menjadi jauh lebih menyenangkan.
…
Delapan tahun lalu, Yähgé tiba-tiba saja mendatangi Gôntra, di siang kelam nan redup, yang udaranya begitu pengap dan panas karena dipengaruhi golakan lahar dari pegunungan api Kalvath. Gadis itu duduk dengan santai di samping Gôntra, seolah dia dan Gôntra begitu akrab, padahal, selama 530 tahun lamanya Kóle dan Nihlá menikah, tak sekalipun Yähgé mau berbicara pada Gôntra.
Mereka sama-sama diam, seperti bingung untuk membuka pembicaraan awal. Namun, tiba-tiba saja Yähgé menoleh ke arah Gôntra dan memberikan senyuman begitu manis juga amat misterius. Gôntra membalasnya, meskipun terlihat jelas sekali ia sangat kikuk.
“Kau kelihatan lebih baik daripada kakakmu, tapi terlihat lebih bodoh juga,” ujar Yähgé. Gôntra terkekeh. Begitu pun dengan Yähgé. “Aku bisa membuatmu menjadi berlipat lebih pintar apabila kau setuju untuk bergabung dengan rencanaku. Namun, takkan kukatakan sebelum kau menyetujuinya,” sahut Yähgé.
“Aku tak mungkin mengiyakan atas hal yang belum tentu kepastiannya,” tolak Gôntra. “Bagaimana jika kau hanya ingin mempermainkanku?”
“Aku memang ingin membuat permainan. Dan kau akan menjadi bidakku.”
“Jika kukatakan ini kepada Kóle, kau berada di dalam masalah.”
“Dan biarkan begitu,” tantang Yähgé. “Kóle tak bisa melakukan apa pun tanpa petunjukku. Aku adalah otaknya, dia tak mampu berpikir.”
Gôntra tercengang. Yähgé begitu lugas, dingin dan tak kenal takut. Bahkan ia pun merasakan getaran kengerian mengguncang batinnya. Gôntra tahu siapa itu Yähgé, akan tetapi ia sama sekali tak mengetahui secuil pun tentang kepribadiannya. Dan sekarang, gadis dëia itu menunjukkannya tanpa ditutupi.
“Katakan apa rencanamu, dan aku akan menyetujuinya,” putus Gôntra.
“Itu sangat tepat dilakukan untuk seorang panglima ke-4 dari pasukan elit bentukan Kóle, yang disarankan olehku sebelumnya.”
“Oh, jadi kau membanggakan dirimu atas hal itu?”
Yähgé membuka telapak tangannya, lalu berkobar api merah kecil yang begitu saja ia mainkan sesuka hati. “Tentu saja. Aku bangga pada diriku sendiri.”
“Baiklah, Putri Yähgé. Lalu apa inti dari permainanmu?”
“Menurunkan Kóle dari tahtanya.”
“Kau gila!” Gôntra langsung berdiri dan menjarak dari Yähgé. “Aku tidak bisa melakukannya, aku tidak mungkin bisa! Apa yang kau pikirkan?”
“Jangan histeris seperti para nymph,” perintah Yähgé. “Kau lebih pantas berambut pirang dan berenang di air daripada menjadi seorang panglima pasukan dëia. Duduklah!”
“Dalam sekejap duniaku menjadi terancam setelah kau datang!” Gôntra membentak.
“Kau lebih terancam lagi apabila aku tidak datang!” balas Yähgé, lebih keras. “Apa kau tahu bahwa Nihlá takkan memberimu apa-apa karena kau tak berguna di matanya, Gôntra? Dia hendak menjadikanmu pasukan kecil yang ada di garis depan peperangan, bahkan ia tak berniat mengangkatmu menjadi panglima!”
“Apa maksudmu?”
“Dengar, akulah yang meminta Kóle menjadikanmu panglima. Aku yang membentuk pasukan elit agar kau bisa mendapatkan perananmu sebagai seorang adik dari ratu bangsa dëia! Dengan begitu, lambat laun kau akan bangkit dan meraih kemenangan yang sesungguhnya! Suatu pencapaian yang sama sekali tak diinginkan oleh Nihlá.”
“Nihlá tak mungkin berpikir seperti itu terhadapku! Ia kakakku!”
“Jangan membuatku tertawa, Gôntra,” cemooh Yähgé, sinis. “Dia membencimu, tapi ia jauh lebih benci kepadaku.”
“Sudah sewajarnya ia membencimu, penghasut!”
“Apa kau tahu bahwa Nihlá tak bisa memberikan keturunan?” tanya Yähgé. Gôntra terdiam sebentar, heran, lalu ia menggeleng. “Kóle tidak akan selamanya menjadi seorang raja, harus ada yang menggantikan, jika tidak begitu maka dunia yang jenuh ini akan terasa makin membosankan. Karena Nihlá tak dapat memberikan keturunan, maka kelak diputuskan kaulah yang akan menggantikan Kóle. Seharusnya aku yang menjadi pemilik tahta selanjutnya, tetapi aku tak bisa menuntut apa-apa karena aku wanita,” jelas Yähgé.
“Dan tunggulah sampai saat itu terjadi ….”
“Tidak, tidak, tidak, dengarkanlah dulu,” sanggah Yähgé, bersikeras. “Saat itu mungkin takkan pernah terjadi, apabila aku tak bersikeras menjadikanmu seorang panglima. Nihlá mencoba menghasut Kóle, agar kau diturunkan pada garis depan peperangan ketika bangsa kita menyerang kaum nymph beberapa ratus tahun yang lalu, tetapi Kóle lebih mendengarkan aku.”
“Cukup, aku tak mau kau terus menjelekkan kakakku!”
Yähgé tiba-tiba saja mengeluarkan secarik kertas lusuh dari dalam saku gaunnya. Lalu ia sodorkan pada Gôntra. “Kau tahu apa isi dari surat ini? Baca, dan marahlah!”
Dengan geram Gôntra mengambil kertas tersebut dengan kasar dari genggaman tangan Yähgé. Ia membacanya, dan rasa murka semakin mengacau di dalam batinnya. Itu merupakan sobekan catatan milik Nihlá, catatan yang sama sekali tak ia sangka isinya.
Kóle tak mengindahkan permintaanku.
Seorang bodoh telah meyakinkan dirinya untuk mengangkat Gôntra menjadi seorang panglima! Seandainya Kóle tahu jika suatu saat Gôntra yang akan naik ke atas tahta kerajaan, mungkin saat ini juga ia akan menghabisi adikku. Apa yang bisa dilakukan si dungu Gôntra apabila ia menjadi raja, kelak?
Dia tak lebih dari sosok pecundang! Dëia gagal dan memalukan! Dia lebih baik mati di medan peperangan dan menjadi pahlawan terlupakan daripada duduk di atas singgasana dan menjadi cemoohan semua bangsa dëia. Aku harus melakukan sesuatu sebelum semuanya terlambat. Aku tak bisa kehilangan tahtaku sebagai seorang ratu, dan aku tak mau kehilangan harga diriku apabila Gôntra menjadi raja.
“Menyenangkan sekali bukan, jika kita tahu bahwa saudara kandung yang kita banggakan dan sayangi, juga begitu perhatian terhadap diri kita?” ejek Yähgé. “Bahkan Kóle pun tak pernah memikirkan tentangku sejauh itu ….”
“Borgarn (Keparat)!” desis Gôntra. Ia mengalihkan pandangannya pada Yähgé, masih diliputi ketidakpercayaan. “Ke mana pun kau arahkan langkahku, akan kulakukan! Aku bersumpah!”
“Tidak semudah itu pula kau bisa ikut berperan dalam permainanku, Gôntra. Aku meminta satu hadiah kecil pada akhir permainan, kelak,” tawar Yähgé.
“Sebutkan dan kupastikan kau akan mendapatkannya!”
“Jadikan aku permaisurimu. Dan kelak, kau harus melaksanakan semua yang kuperintahkan kepadamu. Bukankah itu cukup adil bagi kita?”
“Cukup adil. Aku bisa mempercayaimu, karena saat ini pun kau telah merencanakan sesuatu yang hebat dalam pandanganku. Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?”
“Kita biarkan saja Kóle bersiap-siap menyerang Lamvorels,” desis Yähgé. “Dan untuk sementara itu, kita mencari sekutu baru, untuk permainan kita.”
“Sekutu baru?”
Yähgé mengangguk, lalu ia pun menyeringai, menunjukkan taringnya yang putih bersih. “Manusia dan centaur,” bisiknya. Gôntra terhenyak. “Tenanglah, aku sudah memiliki rencana. Lebih baik kau bersiap-siap saja, karena aku akan mengajakmu pergi berpetualang tidak lama lagi,” lanjut Yähgé.
“Kau benar-benar yakin, Yähgé?”
“Mau bertaruh?”
Gôntra menggeleng. “Kau bisa sebut aku pengecut, tapi bertaruh denganmu, hanya akan menjadikanku lebih dari sekedar pecundang.”
“Akhirnya kau bisa tahu di mana posisimu yang sebenarnya di mataku ….” Lalu Yähgé beranjak berdiri dan mendekatkan bibirnya ke telinga Gôntra. “… bidak.”
…
Bidak.
Gôntra mengakui bahwa kini ia bertekuk lutut dibawah bayangan Yähgé, dia akui betul dirinya tidak lebih dari sekedar bidak. Namun ia bangga berada dalam naungan Yähgé yang berpikiran cemerlang, selama ia terus berdiri di samping Yähgé, akan ada jalan keluar bagi segala masalah. Keuntungan yang berlipat!
“Bertindaklah hati-hati, Gôntra,” kata Yähgé, memecah lamunan panglima ke-4 dëia itu. “Aku sama sekali tak melarangmu untuk lebih dekat dengan Ninye, aku menyarankan agar kau mengakrabkan hubunganmu dengannya. Apabila elf itu mempercayaimu, maka permainan kita akan semakin menarik.”
“Jadi apa yang kau inginkan sebenarnya?”
“Pertama, aku hanya menyampaikan pesan Kóle agar kau tidak terus menerus bermain dengan Ninyemu itu. Kedua, aku memintamu untuk menjaga sikap di depan dëia lain, terlebih Nihlá. Biarkan dia berpikir bahwa kau sudah bosan pada Ninye dan menjadikan dirinya tak lebih dari tawanan.
“Akan tetapi di belakang, kau akan tetap berteman baik dan memanfaatkan apa yang diketahui oleh Ninye. Karena jika Nihlá terus mengawasimu, ia akan tahu ada hubungan erat antara kita, dan aku tak mau ia mengetahuinya! Seperti yang kusampaikan sebelumnya padamu, berhati-hatilah dalam melakukan sesuatu. Melakukan satu langkah salah saja, itu akan membuatku dan juga kau berada dalam masalah besar!”
Gôntra mengangguk. “Aku mengerti. Akan kulaksanakan permintaanmu.”
“Baiklah, aku pergi sekarang,” ujar Yähgé. Ia beranjak dari tidurnya lalu pergi ke arah pintu, tetapi mendadak saja ia berhenti. “Gôntra? Bisakah kau tanyakan pada Ninye, siapakah Aldérin? Seseorang memberitahukannya kepadaku nama asing itu, yang membuat perasaanku menjadi tak enak.”
“Dari mana kau bisa mendapatkan nama aneh itu?”
“Itu bukan urusanmu,” jawab Yähgé, ketus. “Dan tanyakan pula kepadanya, mengenai para pewaris klan elf. Ini merupakan masalah besar, nanti kuceritakan padamu, itu pun jika aku tak malas melakukannya. Sampai jumpa!”