The Quest for The Lost Inheritors

Delapan Tahun Lalu

Awan gelap mendadak datang, seiring tibanya mereka di batas Utara hutan Elethäs yang dipunggungi Gunung Glein’ Habér, Perut Hijau. Yähgé dan Gôntra sama-sama tersenyum, akhirnya mereka sudah sampai di tempat tujuan. Dan selanjutnya, hanya menjalankan rencana yang telah ditetapkan oleh Yähgé.

“Bagaimana kita bisa menemukan centaur di tempat ini?” tanya Gôntra.

Yähgé tertawa kecil. “Tidak sulit, dua puluh mil ke depan kau bisa menemukan sarang mereka yang tersembunyi,” jawabnya enteng. “Pilihlah satu yang kau suka jika kita tiba di sana.”

“Meskipun kita bangsa terkuat di dunia, tetapi menyerang tanpa pasukan itu namanya bunuh diri,” ujar Gôntra. “Ingat, kita hanya berdua, Yähgé!”

“Jika kau terlalu pengecut untuk mati di tangan mereka, kita hanya perlu mencari satu dari kaum mereka, bukan?”

“Aku tak mengerti maksudmu.”

Yähgé mendesah pelan. “Sudahlah, lakukan saja apa yang kuperintahkan,” ujarnya dingin. “Dan perintah pertamaku adalah, tutup mulutmu! Ikuti saja aku.”

Mereka melangkah menyusuri hutan dan semakin dalam memasuki rimbunnya dedaunan. Gôntra sedikit heran dengan tingkah Yähgé yang tampak menikmati perjalanannya, seolah ia sedang bertamasya. Sedangkan Gôntra sendiri merasa sesak yang amat sangat.

Udara di sana terasa menipis juga dingin, dan Gôntra tahu, di hutan Elethäs ada kekuatan sihir yang amat kuat. Hutan itu seperti merangkul dan mencekikkan cengkeraman tangan-tangan tak kasat matanya, menghisap kekuatan tubuh. Terlalu lama di sana, dapat membuat Gôntra kehilangan tenaganya.

“Elethäs adalah wilayah musuh,” desis Gôntra. “Apa kau tak bisa merasakan apa yang telah mereka perbuat pada hutan? Sihir, Yähgé.”

“Ya, tentu aku tahu. Namun tak kusangka begitu besar pengaruhnya padamu,” ejek Yähgé. “Seharusnya sejak awal aku tak perlu mengajakmu. Kau tak berguna! Lemah!”

“Maka pergilah sendiri! Lambat laun akan kau rasakan betapa busuknya hutan ini! Saat kau meminta bantuan, aku takkan berada di sisimu, aku telah pergi jauh. Dan aku tak sabar melihat mereka membunuhmu,” desis Gôntra.

“Pujian yang sangat manis. Sayang … aku tak berminat membalas pujianmu.”

Mereka sama-sama diam, meredakan amarah sedalam mungkin. Jika mereka hanya memikirkan pertengkaran di antara mereka, akan ada bahaya yang lebih mengancam yang datang mengintai. Apalagi di saat keduanya lengah.

“Dengar, jika kau ingin pergi, maka pergilah,” titah Yähgé. “Aku takkan pernah bisa terpengaruh atau dipengaruhi sihir hutan ini. Pandang mataku, kau bisa melihatnya, bukan?”

Yähgé mendekatkan wajahnya ke wajah Gôntra. “Aku terlahir berbeda dari dëia yang ada atau pernah ada di muka bumi. Keganjilan yang membuatku muak pada awalnya, tetapi lambat laun, baru kuketahui ini adalah hadiah besar untukku. Aku takkan terpengaruh oleh sihir hitam maupun putih.”

“Lelucon macam apa itu?”

“Lelucon? Jika aku tak memiliki kekuatan itu, seharusnya sekarang kau sudah mati karena tak menyadari kehadiran si kaki empat yang ada di belakangmu,” ujar Yähgé, dingin. “Untungnya kami mengenali satu sama lain, dengan baik.”

Gôntra membalikkan tubuhnya, dan betapa terkejutnya ia mendapati sesosok centaur berkulit hitam telah menghunuskan pedang panjang melengkungnya. Gôntra menghindar secepat mungkin lalu dalam hitungan detik, ia mencabut dua bilah pedangnya.

“Kau tepat waktu, Gûr’adór. Dan turunkan pedangmu, itu takkan kuat untuk menghabisi temanku,” titah Yähgé. “Sebaiknya kau mantrai dia, karena ia lemah terhadap sihir putih.”

“Aku takkan kuasa untuk melakukan hal selancang itu, Ratu,” bisik Gûr’adór, dengan suara bergetar. “Atas segala pengorbanan yang pernah kau lakukan ….”

Ratu? Sejak kapan ia menyandang nama itu? batin Gôntra sembari melirik pada Yähgé.

“Ah, aku senang kau masih mengingatnya.” Yähgé pun memberi isyarat pada Gôntra untuk menurunkan pedangnya, tetapi Gôntra terlihat enggan melakukannya.

Hanya saja, setelah melihat kilatan api di bola mata Yähgé, Gôntra menyerah. Ia masukkan kembali pedangnya.

“Dia adalah Gôntra Jârfirr, panglima ke-4 dari pasukan elit raja Kolé Alángdar, kakakku. Dan sayangnya, ia adalah saudara kandung istri Kolé,” tutur Yähgé.

“Aku Gûr’adór Ahrúmár, adik dari klor Avesdâk Ahrébärn, penguasa Halrunën,” salam Gûr’adór, sopan. Meski nyaris terlihat sinar kebencian di matanya.

“Lalu apa yang harus kukatakan padanya? ‘Senang berjumpa denganmu?’” bisik Gôntra pada Yähgé, tak senang. “Kenapa kau tak membiarkanku membunuhnya sekarang juga?”

“Aku susah payah membuatnya tetap hidup! Jangan membuatku gusar, Gôntra. Lebih baik kau diam dan dengarkan kami,” tukas Yähgé.

Gûr’adór mengajak mereka ke tempat yang lebih sunyi dan gelap, mereka pun bercakap-cakap di balik bebatuan tinggi tak jauh dari tempat pertemuan. Gôntra merasa bahwa Yähgé telah merencanakan perjumpaan mereka yang tak mungkin sekedar kebetulan. Namun ia tak tahu, kapan dan di mana Gûr’adór maupun Yähgé saling bertemu.

“Sesuai dengan perjanjian, bahwa kau akan melakukan apa saja setelah kuselamatkan nyawamu, inilah saat yang tepat, Gûr’adór,” ujar Yähgé, dingin.

Gûr’adór mengangguk, meski kelihatan enggan.

“Aku memerlukan pasukan dalam jumlah besar, bukan sekedar pasukan biasa … akan tetapi yang sangat istimewa. Maka mulai saat ini kumpulkan sebanyak-banyaknya prajurit centaur untuk mengabdi padaku!”

Baik Gûr’adór dan Gôntra keduanya sama-sama tersentak kaget. Sama sekali tak percaya apa yang mereka dengar.

“Tetapi, aku tak mungkin bisa melakukannya!” tolak Gûr’adór. “Dëia adalah kaum yang dibenci bangsa kami, mereka lebih memilih mati daripada menjadi budak!”

“Jadi kau benci mengabdi padaku?” tanya Yähgé, geram.

“Bukan seperti itu, tolong … mengerti’lah,” pinta Gûr’adór. “Aku tak memiliki kuasa, bahkan untuk mempengaruhi orang lain. Avesdâk adalah pemutus segala hal, jika ia tahu aku membangkang padanya, ia akan membunuhku.”

“Ini lebih rumit dari yang kukira!” dengus Yähgé. “Kalau kau cerdas, kau bisa memiliki segalanya, Gûr’adór! Setelah Lamvorels hancur, kakakku akan mengalihkan perhatiannya ke Halrunën, di sana kita jebak dia! Setelah Kolé tewas, maka Gôntra menjadi penguasa, dan kau akan mendapatkan bagian yang akan kujanjikan padamu. KEHIDUPAN.”

“Tetapi ….” Gûr’adór tercekat. “Sungguh, aku tak bisa.”

“Maka Halrunën akan hancur! Kau, keluargamu, rakyatmu, semua! Semuanya!”

“Kumohon, jangan lakukan itu. Berikan saja aku cara lain.”

“Tak ada cara lain lagi, Gûr’adór!! Jangan menghilangkan kesabaranku!”

“Tunggu, tunggu sebentar,” mohon Gûr’adór, panik. Ia begitu ketakutan ketika Yähgé membuka telapak tangannya yang sudah diselimuti api. “Para dryad! Kau tentu belum tahu tentang mereka, kaum wanita pohon!”

“Wanita pohon?” Yähgé keheranan.

“Para dryad terlahir setelah bangsa dëia terusir dari bagian tengah Khâli dan bersembunyi di utara. Mereka pun tak mengetahui tentang kalian, karena bangsa itu sangat waspada terhadap apa pun. Namun, tak tahu menahu mengenai sejarah di masa lampau,” ujar Gûr’adór.

“Hmm… lalu?”

“Jika kau menyetujui rencanaku, akan kuhasut mereka agar bersekutu denganku. Dryad bukan sekedar makhluk biasa, mereka sangat kuat dan mahir menggunakan senjata. Jauh lebih hebat dari manusia!”

“Tetapi mereka tahu tentang elf, bukan?” tanya Yähgé. Gûr’adór mengangguk. “Bagaimana kau bisa menghasut mereka? Elf bisa saja memperingatkan akan keberadaan bangsa kami! Jangan bodoh, Gûr’adór!!” Yähgé geram.

“Elf sudah tak lagi mengunjungi mereka, karena tiap-tiap bangsa memikirkan masalah masing-masing. Alam mulai menunjukkan gejala-gejala kematian, bahkan kami tak sempat lagi menalikan hubungan baik karena masalah ini.”

“Aku jelas tahu akan hal itu, kau pikir apa yang kulakukan selama 400 tahun lebih?”

Sepintar apa dirimu itu, Yähgé? Kau benar-benar cerdas atau benar-benar gila? Bahkan aku begitu ketakutan dengan setiap langkah yang kau buat, benak Gôntra.

“Begini saja,” putus Yähgé. “Buatlah koloni di mana para wanita pohon itu tinggal, yakinkan mereka untuk bersekutu denganmu, Gûr’adór. Aku tetap membutuhkan pasukan centaur, meski sedikit. Siapa pun yang berseberangan jalan denganmu, biarkan mati.”

“Kenapa aku harus membuat koloni baru?” tanya Gûr’adór, tak mengerti.

“Astaga? Apa kau tak memahaminya, Gûr’adór? Karena atas ketidakmampuan’mu ini, aku terpaksa harus menghancurkan Halrunën. Tak ada yang boleh menghalangi jalanku menuju kemenangan!” desis Yähgé. “Pilihlah, mati bersama seluruh centaur di Halrunën, atau membuat kota baru dan bersekutu denganku.”

Gûr’adór terdiam sesaat, menimang-nimang yang paling terbaik. Baginya dan untuk keluarganya. “Terpaksa, kujatuhkan pada pilihan kedua,” katanya, berat.

“Bagus!” Yähgé girang. Tawa kecil terdengar sumbang dari mulutnya. “Berdiplomasilah dengan bangsa pohon ini, secara diam-diam. Setelah mereka percaya padamu, maka bangunlah sebuah kota yang indah bagi bangsamu!

“Tiga tahun setelah ini, kau harus membangun kota baru! Cari pendukung dan bawalah mereka pindah. Jangan pernah mengatakan apa pun mengenai kami, kepada siapa pun! Tutupilah sebisamu. Kau lebih tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya.”

“Aku paham betul, Ratu,” balas Gûr’adór.

“Ingat baik-baik, Gûr’adór! Aku mengawasi langkahmu, satu kesalahan kecil dan akan kau rasakan kematian yang paling menyiksa ….” Yähgé menyunggingkan senyum iblisnya, “… meski aku berada sangat jauh darimu.”

“Akan kulakukan apa maumu, kumohon kasihanilah nyawaku, Ratu.”

“Tempatkan ini dalam sumber kehidupan para dryad,” titah Yähgé. Tangannya melemparkan kantung kecil yang terjatuh di sela kedua kaki depan Gûr’adór.

Gûr’adór meraihnya, membuka isi kantung dan mengerutkan dahi, heran. Ia menatap pada Yähgé, meminta penjelasan. “Benda apa ini?”

“Ir’atôn, Batu Hitam. Jangan tanya di mana aku menemukannya, tetapi itu cukup untuk menghancurkan seluruh yang hijau di dunia ini menjadi mati,” jawab Yähgé. “Setelah para dryad berada pada puncak penderitaan, bertindaklah sebagai pahlawan, Gûr’adór. Ambil kembali batu itu, saat mereka sudah jatuh di dalam genggaman tanganmu, dan jadikan budak. Mereka takkan mungkin berkutik jika tahu kau yang berkuasa atas mereka.”

“Kau sangat pintar, kuakui itu,” seloroh Gôntra.

“Inikah penyebab kematian perlahan di seluruh muka bumi?” tanya Gûr’adór, sembari menatap kantung pemberian dari Yähgé.

“Ya. Benda yang kecil, tetapi berpengaruh besar, bukan?” timpal Yähgé, sinis.

“Aku, entahlah ….” Gûr’adór menunjukkan raut tak mampu melakukannya.

“Tidak ada tawar-menawar,” potong Yähgé. “Waktuku kau buang percuma, aku harus segera melakukan perjalanan jauh! Jangan kecewakan aku, Gûr’adór!!”

Lalu Yähgé bergegas pergi meninggalkan Gûr’adór yang masih diam terpekur seolah tak sanggup menyangga beban hidupnya. Gôntra sesekali melirik ke arah belakang, cemas apabila Gûr’adór menikamnya dari belakang. Namun, si centaur itu masih di sana, tenggelam dalam lamunannya sendiri.

“Di mana kau bisa menemukan centaur yang begitu patuh?” tanya Gôntra.

“Kau masih juga mempertanyakan hal itu?”

“Banyak hal yang tak mau kau jelaskan, seolah aku akan berbalik dan menusukmu dari belakang! Sejak saat kita melakukan perjanjian, kuserahkan apa-apa padamu, bahkan hidupku!” kata Gôntra, kesal. “Tak bisakah kau berikan sedikit kepercayaan padaku?”

“Dibutuhkan waktu lebih dari 400 tahun menceritakan segalanya, Gôntra,” ujar Yähgé, tenang. “Karena kususun rencana ini selama itu, bahkan pada awalnya aku tak berniat memberikanmu peran penting.”

“Lalu mengapa pada akhirnya kau mengajakku? Karena kau tak berkemampuan lebih? Karena kau tak sanggup menjadi penguasa?” tanya Gôntra. “Kau bisa saja membunuh Kolé dengan tanganmu sendiri lalu kau bunuh aku, maka dengan begitu kau yang menjadi penguasa tunggal. Jika kau begitu pintar, aku yakin kau pasti menemukan caranya!”

“Kau tak mengerti, Gôntra.”

“Aku memang tak mengerti apa-apa!! Karena kau selalu menyembunyikan ini semua di balik topeng wajahmu yang dingin itu!!”

Yähgé berhenti melangkah. Ia mengembuskan napas berat, seolah memang ada beban menghimpit batinnya. Lalu ia membalikkan tubuhnya dan memandangi Gôntra dengan tatapan mata sendu. “Ketika waktunya tepat, kau akan tahu segalanya. Bahkan rahasia tergelapku, tetapi untuk sementara ini, kuharap kau bisa lebih bersabar menunggu.”

Dan itulah, yang membuat Gôntra jauh lebih sabar daripada dëia lain. Entah bagaimana sikap itu timbul dalam dirinya lambat laun kemudian. Mungkin karena pengaruh Yähgé, atau memang sejak awal ia memang berbeda dari kaum api, layaknya Yähgé.

“Dan mengenai Gûr’adór? Aku tak bisa menunggu akan hal itu,” tegas Gôntra.

“Aku memang berniat menceritakannya padamu.”

“Singkat saja.”

“Baiklah. Secara tidak sengaja aku melihat sepasukan kecil centaur berperang dengan pasukan manusia, di hutan Iringstall, dua tahun yang lalu. Pasukan centaur itu kalah, mereka semua mati. Dan betapa barbarnya manusia-manusia itu, meninggalkan jasad mereka tergeletak begitu saja di hutan,” jelas Yähgé.

“Tunggu, jangan teruskan dulu! Sebenarnya apa yang kau lakukan di hutan itu?”

“Bukan di hutan, lebih tepatnya di reruntuhan kota Trâg.”

“Dan?”

“Dan … ternyata manusia sudah berhijrah ke sana selama lima puluh tahun, membangun kota yang dinamakan Ferden’lyf. Namun, mereka tidak beruntung seperti yang mereka kira, alam di sana sungguh keras, karena mereka belum tahu bagaimana menggali lebih dalam, untuk mencari sumber kehidupan.

“Aku datang, mengunjungi kota itu dan menyamar sebagai peramal hebat. Sang ratu yang begitu ramah dan tanpa curiga, menyambutku dengan baik. Dia tak tahu, bahwa kedatanganku kesana adalah mencari batu Ratera, karena sejak 440 tahun lalu mencari, aku tak kunjung menemukannya!

“Ratu ini, Ilörin, memiliki dua orang putri. Satu yang membuatku tertarik pada dirinya, karena ia memiliki perasaan tajam. Ia tak menyukaiku, bahkan terang-terangan mengungkapkan kebenciannya meski selalu ditentang oleh Ilörin. Aku tak peduli akan ganjalan kecil dari putri yang keras kepala itu. Aku tetap meneruskan rencanaku, aku mulai memerintahkan sang ratu untuk menggali tiap saluran air dan mencari d imana sumber awalnya. Hasilnya nihil, selama sebulan aku tinggal di sana, tak ada apa pun.

“Lalu tepat di hari itu, hari di mana penobatan si putri keras kepala diresmikan sebagai perawan istana. Dari ruang gelap tempat di mana ia diuji selama tiga hari, muncul air dari sela-sela permukaan lantai batu. Dan aku tahu, di situlah Ratera selama ini tersembunyi.

“Ternyata air itu memberi banyak anugerah! Segala penyakit bisa disembuhkan dan alam menjadi lebih subur. Namun, sang ratu menjaganya dengan ketat, dia tak memperbolehkan siapa pun memasuki area mata air ajaib, bahkan aku!!”

“Usahamu menjadi sia-sia, heh?” Gôntra, terkekeh.

“Kau benar. Maka kuputuskan untuk kembali di lain waktu; mencari saat yang tepat. Lalu saat dalam perjalanan ke Karakh, secara tidak sengaja aku bertemu pasukan centaur. Dan itulah, perjumpaan awal’ku dengan Gûr’adór,” ujar Yähgé.

“Bukankah kau katakan mereka semua telah mati?”

“Di sini bagian yang paling mengejutkan, Gôntra.” Yähgé pun tertawa senang. “Sebelum aku pulang, aku meminta sedikit air dari mata air ajaib dari sang ratu, kulakukan uji coba, apakah air tersebut dapat membangkitkan yang mati ….”

“Dan air itu memang bisa melakukannya!” potong Gôntra.

Yähgé mengangguk. “Maka kugunakan mantra pengikat pada Gûr’adór. Dan rencanaku berjalan makin mulus dengan kehadirannya. Dan atas kehadiranmu … tentunya.”

“Hmmm … aku mulai mengerti maksudmu.”

“Sebagian kecil,” ralat Yähgé. “Nah, kita teruskan perjalanan kita ke utara!”

“Apa yang kita lakukan selanjutnya?”

“Berlibur. Aku bosan mendengar rencana Kolé untuk menghancurkan Lamvorels! Kita biarkan dia, karena beberapa tahun lagi hal itu akan terjadi,” jawab Yähgé, enteng. “Lebih baik kita mengunjungi Ferden’lyf.”

“Mengambil batu Ratera maksudmu?”

“Bukan, tetapi membuat pasukan manusia untukku.”

“Pasukan manusia?”

Yähgé mengangguk. “Batu Ratera memberikan sumber kehidupan tiada tara. Namun, jika batu itu terbagi dua, kekuatannya akan melemah,” ia menjelaskan.

Yähgé tiba-tiba saja mengeluarkan kantung kecil lain yang tergantung pada ikat pinggang gaunnya. “Ir’atôn adalah sumber kematian. Di mana pun ia diletakkan dia akan menggerogoti kehidupan, maka oleh sebab itu, batu ini hanya ditemukan di dinding dalam pegunungan api Kalvath, karena kekuatan mereka akan lenyap begitu saja. Aku tak tahu, siapa yang menyembunyikan batu ini, yang kutahu … aku hanya perlu memanfaatkannya.”

“Apa hubungan batu Ratera dan Ir’atôn dalam misimu?”

“Mudah saja. Aku hanya perlu mengambil setengah dari potongan batu Ratera dan memasukkan potongan Ir’atôn ke dalam mata air,” jawab Yähgé. “Manusia-manusia di utara itu akan menjalani kehidupan normal di siang hari, tetapi saat malam menjelang … mereka akan menjadi pemangsa kejam. Mereka akan memakan siapa pun yang datang ke Ferden’lyf, tetapi mereka tak bisa keluar, tidak sampai aku memerintahkannya.”

“Bagaimana jika mereka memakan satu sama lain dan hanya satu yang tersisa? Apa itu cukup berguna bagi rencanamu, kelak?”

“Gôntra … untuk apa tetap kubiarkan setengah dari bagian batu Ratera tetap berada di dalam mata air?” ujar Yähgé, jengkel. “Luka-luka mereka akan sembuh begitu pagi datang dan mereka akan hidup kembali.”

“Dan pendatang dari luar Ferden’lyf? Apa mereka akan terus tinggal di sana?”

“Ya, harus. Karena itulah, aku membutuhkan seseorang layaknya Gûr’adór. Dan penguasa kota adalah orang yang tepat untuk melakukannya.”

“Aku tak yakin kita bisa masuk begitu saja, meskipun menyamar.”

“Yah, karena kau tak pernah mau belajar sihir pada klan Dûrsugör. Ada banyak manfaat yang bisa kau ambil dari kemampuan mereka.”

Yähgé mengangkat telapak tangan kirinya dan mendadak saja seberkas sinar berwarna hijau tipis menyelubunginya bak asap. Sinar itu langsung membungkus Gôntra, tanpa bisa panglima dëia itu menghindarinya. Namun Gôntra tak merasakan rasa sakit, hanya gelitikan kecil pada setiap inchi tubuhnya. Dan betapa terkejutnya Gôntra ketika melihat kulitnya yang semula merah, menjadi putih bersih dan tinggi tubuhnya seolah menyusut.

“Apa yang kau lakukan padaku?!!” seru Gôntra, cemas.

“Perkenalkan, Advar (Tuan) Gôntra, itu adalah sosok Hering Bluelock, manusia yang mengalami ketidakberuntungan selama hidupnya,” kekeh Yähgé.

“Jadi kau pun melakukan ini dua tahun yang lalu?” tanya Gôntra, tak percaya. Yähgé hanya tertawa kecil. “Kau hebat! Lalu saat itu, kau memakai wujud siapa?”

“Siapa lagi jika bukan istri kesayangan Hering?”

“Ini akan menjadi permainan yang menyenangkan!!” sahut Gôntra, senang. “Lalu berapa lama kita akan tinggal di sana?”

“Sampai rencanaku berhasil, itu saja. Mengapa kau tanyakan itu?”

“Bisakah kita berlama-lama memakai bentuk ini? Beberapa tahun, misalnya?” tanya Gôntra, penuh harap. “Aku lebih suka bepergian daripada mendengar ocehan kakak-kakak kita!”

Sembari tertawa keras, Yähgé pun mengangguk setuju.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!