The Quest for The Lost Inheritors
Rencana Putri dan Para Raja
Pagi itu semua bekerjasama untuk membuat jebakan-jebakan yang setidaknya bisa membuat bangsa dëia tertahan dan kewalahan. Lubang-lubang besar dibuat cukup dalam, setiap lelaki sehat, para pemuda, para perempuan, saling bahu membahu. Istana dijadikan tempat pengungsian terakhir untuk anak-anak dan orangtua.
Raja Thornell pun turut membantu rencana yang dibuat oleh putri Thaira, setelah semalaman sang putri, para Takala, juga Élsus berembuk.
Adik-adik Lya tampak takjub melihat para Takala yang pergi ke sana kemari, karena para dryad itu berperan sebagai pimpinan beberapa pasukan dan penanggung jawab beberapa tugas. Larker yang penasaran langsung berlari menghampiri Cialla yang sedang memberi titah di halaman istana.
“Lark, tidak!” gumam Newtor, dia begitu ketakutan melihat Larker berlari begitu saja.
Bergegas adik Lya itu segera mencari Malda, sang ibu. Sedangkan Larker terus melangkah mendekat pada Cialla. Karena dia sangat tertarik melihat sosok dryad itu, yang sebelumnya tak pernah ia lihat. Hingga Larker kecil pun, tertangkap oleh pandangan mata Cialla.
“Oh, halo,” sapa Cialla sembari melambaikan tangannya pada Larker.
“Apa kau teman Findarel?” tanya Larker tiba-tiba.
Perempuan dryad itu mengerutkan dahinya. “Kau mengenali Findarel?”
Larker terkekeh. “Ya, tentu saja. Kami berteman baik.”
Malda tergopoh-gopoh menghampiri Larker, dia tampak sedikit rikuh saat bertatapan dengan Cialla.
“Maafkan, jika putraku mengganggumu,” ucap Malda.
“Tentu tidak.” Cialla menggeleng. “Dia pernah bertemu dengan Findarel? Sang pewaris Estion?”
“Findarel? Bocah malang yang sakit keras itu?” Malda tampak bingung. “Ya, aku tahu dia keponakan tuan Varwendil yang menghilang dari penjara. Aku sempat merawatnya sebentar, tapi tidak lama.”
“Jadi putrimu yang ikut dengan Aldérin?”
“Diculik, tapi entah oleh siapa. Aku pun tak tahu.” Malda tampak sedih.
“Aldérin tidak mungkin menculik putrimu. Berdoalah gadismu bersama dia, karena Aldérin pasti akan melindungi dan menjaganya dengan baik.”
Malda mengangguk, lalu dia cepat-cepat membawa Larker untuk menjauh dari Cialla. Tetap saja Malda tidak begitu nyaman melihat bangsa lain, yang sekarang ada di depan matanya. Dia masih merasa sangat ketakutan, terlebih mendengar berita adanya kedatangan bangsa dëia.
Can’Eru datang dari luar istana, lalu menghampiri Cialla. Dia menatap pada sosok Malda yang setengah menyeret Larker untuk masuk ke dalam istana.
“Ada masalah apa?” tanya Can’Eru.
“Perempuan itu, dia ibu dari anak perempuan yang kemungkinan besar ikut bersama Aldérin.”
“Oh, yang bernama Lya?”
Cialla mengangguk. “Aku berharap dia masih hidup.”
“Dia lebih beruntung dari manusia-manusia di sini, kurasa.” Can’Eru mendesah pelan. “Aku tidak yakin jebakan-jebakan kita akan berpengaruh banyak. Meski aku berharap betul.”
“Teman-teman kita akan segera datang, percayalah.” Cialla menepuk bahu Can’ Eru. “Yang perlu kita lakukan adalah bertahan selama mungkin.”
“Aku harap begitu.”
“Prajurit dari Kota Vôld itu sudah memberitahukan kita kelemahan bangsa dëia.” Cialla menyeringai. “Itu keuntungan bagi kita. Jika kita memotong tangan mereka, mereka pasti tewas, bukan?”
Semalam, prajurit yang berhasil lolos dari kejaran bangsa dëia menceritakan semua. Wujud bangsa itu pun digambarkan sangat baik oleh putri Thaira sehingga mereka mendapatkan sosok-sosok bangsa dëia. Dan lebih mengerikan dari yang dibayangkan.
Tidak ada prajurit lain yang selamat, selain dirinya. Bahkan ajudan raja Lord Raignald pun sepertinya sudah tewas, karena berusaha mengulur waktu bagi penduduk Kota Vôld untuk melarikan diri.
Sang prajurit tidak bisa memberikan estimasi kapan bangsa dëia akan datang ke Hail, tapi serangan mereka begitu cepat dan efektif. Sehingga tidak sampai semalam, kota manusia itu dengan mudahnya mereka rebut dan hancurkan.
Meski begitu, ada secercah harapan bagi para manusia. Bahwa mereka menemukan titik kelemahan dari bangsa dëia, yang tidak sengaja ditemukan.
“Karena kelemahan mereka di telapak tangan,” angguk Can’ Eru. “Semudah itu? Rasanya aneh.”
“Makhluk terkuat, kadang memiliki kelemahan yang tak tampak, padahal begitu jelas.”
Keduanya sama-sama diam untuk beberapa lama, memerhatikan orang-orang yang sibuk memasang kayu-kayu dan bebatuan untuk menambah pertahanan terakhir di Kota Hail, yaitu istana.
“Sebaiknya kita membantu orang-orang di depan gerbang masuk kota. Waktu kita begitu singkat,” putus Cialla. “Seperti sebuah tarikan napas, dan serangan akan datang.”
“Jangan putus harapan.” Can’ Eru menatap lekat pada saudarinya. “Jangan pernah.”
*
“Jika mereka bisa mengeluarkan api, kita tidak mungkin melapisi barikade dengan ter dan dibakar oleh api? Itu takkan berpengaruh pada mereka. Menurut teoriku, begitu.” Raja Thornell bergumam sembari menatap pada putri Thaira dan Lord Raignald. “Atau mereka akan tetap terbakar oleh api yang kita ciptakan?” lanjutnya.
“Bagaimana dengan air?” Lord Raignald melirik pada kedua kakak beradik di hadapannya.
“Kita tidak mungkin melempari mereka dengan berember-ember air. Itu terdengar konyol,” keluh Putri Thaira. “Kita membutuhkan air dalam jumlah banyak dan tekanan yang besar, tentu akan membuat mereka kesusahan untuk sementara.”
“Itu takkan memadamkan api di tangan mereka?” Raja Thornell terkejut.
“Mereka terbuat dari api, sekali air memadamkan api di tubuh mereka … tentu saja mereka bisa membuat api-api yang lain. Kecuali—”
“Kita menusuk telapak tangan mereka.” Lord Raignald memotong perkataan sang putri.
“Kedengarannya sangat sulit,” desah Raja Thornell.
“Jika mudah, Lord Raignald takkan melarikan penduduknya ke sini.”
Lalu sang putri pun meninggalkan kedua raja dari dua kota yang berbeda, dan perempuan itu membantu orang-orang dengan pekerjaan yang lain. Lord Raignald menoleh pada Raja Thornell sembari melepaskan embusan napas pelan.
“Kami sudah menyusahkanmu, Raja Thornell. Sepertinya kakakmu tidak menyukai kedatangan kami ke Hail,” ucapnya dengan suara lirih.
“Tentu saja tidak. Kau salah mengartikan maksud kakakku,” ralat Raja Thornell.
“Aku tahu, aku telah berbuat salah. Dan itu sangat fatal.”
“Kakakku tidak ada maksud untuk menyalahkanmu. Dia hanya mengatakan padaku, bahwa bangsa dëia harus dihadapi dengan strategi dan semacamnya.”
Namun, Lord Raignald merasa sangat bersalah hingga detik itu juga. Dia menyesal karena tidak mempedulikan peringatan Ninye, jika saja ia cepat tanggap, tentu dia akan meminta bantuan dari Raja Thornell. Mungkin keadaan akan berbalik jika Kota Vôld ditambah pertahanan yang lebih kuat. Sayangnya, semua takkan kembali. Kota itu sudah menjadi puing dan abu.
“Aku akan membantumu mempertahankan kota ini agar tetap berdiri, Raja Thornell, dan itu janjiku. Juga penebusan kesalahanku, karena bertindak gegabah sebelumnya.”
“Jangan khawatir, kita semua adalah teman baik. Kesusahanmu adalah kesulitanku juga. Apa pun yang akan terjadi kelak, ingatlah kita akan lalui bersama-sama, Lord Raignald.”
“Aku masih memikirkan mengenai air, apa kalian tidak memiliki sumber aliran air dengan tekanan yang kuat?” tanya Lord Raignald.
“Sayangnya tidak,” geleng Raja Thornell. “Sumber mata air kami tak beriak, meski hampir tidak mengering, bahkan tak membeku di musim dingin. Hanya saja, alirannya begitu tenang.”
Lord Raignald hanya mengangguk-angguk. Dia memikirkan cara lain untuk menghalau bangsa dëia, dan bertahan sebisa mungkin agar bangsa darah-api itu terpukul telak, lalu pergi meninggalkan Kota Hail.
“Apa lelaki bernama Élsus itu memiliki kekuatan?” tanyanya tiba-tiba.
“Kekuatan? Aku tidak mengerti apa maksudmu.”
“Kudengar dia berumur terlalu panjang untuk ukuran manusia. Dia termasuk makhluk ajaib seperti elf dan para dryad, bukan? Druid, jika aku tidak salah mendengar.”
“Oh ya, dia seorang druid. Namun, druid tidak memiliki kekuatan magis, mereka dikenal karena sifat yang bijak, dan hal-hal yang berkaitan dengan alam, dia memiliki pemahaman lebih tentang itu.”
“Apa druid bisa memanggil hujan badai yang besar?”
Raja Thornell terdiam untuk beberapa saat.
“Hujan besar?” ulang raja dari Kota Hail tersebut.
“Jika dia lebih memahami alam, dan alam bisa mendengar permintaannya, apa itu tidak menjadi satu kemungkinan, kita bisa meminta bantuan Élsus?”
“Astaga, tak pernah kupikirkan. Aku akan menemui Élsus sekarang juga.”
*
“Tidak.”
Begitu yang dikatakan oleh Élsus saat kedua raja menemuinya di istana. Di mana druid itu sedang mengobati penduduk Kota Vôld yang masih mengalami luka-luka serius.
“Aku tak memiliki kekuatan sedashyat itu, aku bukan penyihir,” kata Élsus.
“Tapi kau bisa berkomunikasi dengan alam, bukan?” tanya Raja Thornell.
Élsus tak serta merta menjawab, dia beranjak dari tepi tempat tidur pasien lalu melangkah keluar dari ruangan, diikuti oleh kedua raja di belakangnya.
“Alam memiliki aura dan energi yang mereka ciptakan sendiri. Aku tak memiliki wewenang untuk memerintahkan mereka mengikuti kemauanku,” kata Élsus. “Jika kalian menganggap aku ajaib, alam yang jauh lebih ajaib dibandingkan denganku.”
“Jadi kau tidak bisa melakukannya? Meminta alam agar terjadi hujan badai di Hail, agar kami bisa menahan laju bangsa dëia menghancurkan kota ini?” tanya Lord Raignald.
“Apabila aku bisa melakukannya, aku tak bisa mengontrol kekuatan alam itu sendiri. Lalu kalian akan membiarkan para prajurit yang berperang, harus merasakan dampak badai?”
“Kita bisa melakukannya di luar Kota Hail, kurasa.” Raja Thornell melirik pada Lord Raignald. “Menahan mereka di mana badai bisa berlangsung cukup lama, sehingga bangsa ini bisa kehilangan sebagian pasukannya atau memutuskan untuk mundur.”
“Mereka akan tetap melangkah untuk melewati badai, karena tahu badai takkan selamanya,” balas Élsus enteng. “Dan aku takkan bisa meminta pada alam untuk membuat badai berkali-kali.”
“Jika kau membuat badai di Hail, badai besar hingga waktunya selesai, mungkin kita bisa membuat para prajurit berlindung hingga badai itu selesai.” Lord Raignald berdeham pelan. “Maksudku, kita biarkan badai menghantam pasukan bangsa dëia, setelah itu kita serang dan mempertahankan kota.”
“Kau bisa melakukannya, Élsus?” tanya Raja Thornell penuh harap.
“Terlalu berisiko, karena aku tak bisa memprediksikan kapan alam akan membantuku. Aku tak ingin gegabah, dan menghancurkan rencana tuan putri Thaira.” Élsus menggeleng cepat.
“Rencana kakakku akan tetap dilaksanakan. Kami hanya membutuhkan waktu lebih lama untuk bertahan. Jika badai itu bisa terjadi, bangsa dëia tentu akan kewalahan untuk menyerang ke kota,” seloroh Raja Thornell.
Élsus tidak tahu apa rencana kedua raja ini benar-benar ide yang cemerlang, atau akan menjadi bencana tambahan. Namun, jika memang harus dilakukan, mungkin saja apa yang dipinta oleh kedua raja sudah mereka pertimbangkan masak-masak.
“Akan aku usahakan,” angguk Élsus meski wajahnya tampak ragu.
“Terima kasih,” ucap kedua raja serempak.