The Quest for The Lost Inheritors

Yang Datang ke Puing Kota Pertama

Bau sangit tercium sangat jelas, asap hitam membumbung ke angkasa, suara-suara keretakan dari api yang belum padam masih terdengar. Debu dan abu bercampur menjadi satu, membuat napas terasa sesak. Para dryad dan centaur akhirnya tiba di Kota Vôld, mereka melakukan perjalanan cukup panjang dan tidak berhenti, akan tetapi tidak menyangka bahwa kota manusia pun sudah hancur.

Ratu Reŷanim mendesah pelan, dia menatap pada Akoéta dengan tatapan cemas.

“Apa mereka semua telah tewas?” tanya sang ratu, suaranya terdengar lirih.

“Lebih baik kita masuk ke dalam untuk memastikan,” jawab Akoéta. Dia pun menoleh pada pasukan centaur dan dryad di belakang mereka. “Kita periksa ke dalam, tetap waspada dan berhati-hatilah,” titahnya.

Para centaur dan dryad memasuki Kota Vôld, yang sudah menjadi puing-puing. Meski benteng kota mereka sebagian masih berdiri, tapi hampir sebagian besar hancur porak poranda. Air yang seharusnya mengitari kota, sudah mengering. Meninggalkan lubang besar menganga di sana.

“Seperti apa bangsa dëia ini? Lihat akibat yang mereka lakukan, ini benar-benar mengerikan,” desis sang ratu. “Apa kita mampu untuk melawan mereka? Sedangkan kota sebesar ini, bisa mereka luluhlantakan begitu mudah. Aku merasakan adanya gentar di dalam hatiku, yang belum pernah kurasakan selama aku menginjakkan kaki di bumi ini.”

“Kuatkan hatimu, Yang Mulia. Jangan pernah takut akan sesuatu yang tak pernah kita lihat atau belum hadapi,” kata Akoéta. “Karena pikiran buruk, itu akan menarikmu ke dalam kegelapan.”

Mereka memasuki kota dan melihat kondisi kota yang mengenaskan. Namun, tidak satu tubuh manusia pun ditemukan. Hingga ke gerbang istana, barulah para centaur dan dryad melihat pemandangan menyedihkan. Di sana, tampak abu yang menggunung, dengan baju-baju zirah gosong tanpa pemilik. Sudah dipastikan, bahwa abu tersebut adalah para manusia yang terpanggang sebelumnya.

Dan ada hanya beberapa abu lain menumpuk terpisah, dengan gelang-gelang yang persis aliansi dryad-centaur temukan di Kota Pílghym sebelumnya.

“Sepertinya para manusia berusaha untuk melawan, tapi usaha mereka gagal,” kata ratu Reŷanim. “Beberapa dari mereka mungkin berhasil menghabisi bangsa dëia, tapi mereka tetap saja kalah jumlah.”

“Entah berapa prajurit yang gugur di sini,” gumam Akoéta. “Ada beberapa yang kami temukan di puing-puing kota. Mana mungkin kota sebesar ini, hanya memiliki sedikit penduduk.”

“Mungkin mereka bisa melarikan diri? Mencari tempat perlindungan baru? Seperti di Pílghym?” kata ratu Reŷanim. “Aku tidak mau membayangkan nasib penduduk kota ini, seperti Cilticpën. Musnah, tak bersisa.”

“Kurasa mereka melarikan diri. Hanya saja, jalan masuk dan keluar kota ini, hanya ada satu. Entah bagaimana mereka bisa melarikan diri tepat waktu.”

Penduduk Kota Vôld pasti ada banyak, dan membutuhkan waktu cukup lama agar bisa membawa iring-iringan manusia ke tempat yang lebih aman. Perjalanan mereka akan sangat lambat, bahkan mungkin bisa terdeteksi oleh bangsa  dëia. Namun, mereka bisa saja keluar dari kota tersebut tepat waktu, karena pemimpin dari Kota Hail sudah memberikan peringatan. Ada banyak hal bisa menjadi teori.

“Mungkin ada jalan lain?”

“Kami akan memeriksa seluruh kota, siapa tahu kita mendapatkan petunjuk.”

Sang ratu mengiyakan, dan dia pun ikut bersama kelompok pasukannya menyisir bagian kota yang lain. Berharap mereka mungkin menemukan orang-orang yang selamat dari pembantaian kaum dëia. Namun, yang mereka temukan hanya tulang belulang yang sudah setengah menjadi abu. Entah itu penduduk yang berusaha bertahan di kota dan mengorbankan diri untuk melawan bangsa dëia. Atau tertimpa oleh reruntuhan bangunan.

Selama beberapa jam pasukan centaur dan dryad bahu membahu mengumpulkan tubuh-tubuh tak utuh yang tertimpa oleh puing-puing dinding dan bebatuan. Lalu mereka menguburkannya dengan layak, meski dalam pemakaman yang sederhana. Sedangkan tumpukan abu yang mereka temukan di depan gerbang masuk ke istana, dimasukkan ke dalam satu lubang. Di atasnya, baju-baju zirah ditumpuk dengan rapi.

Bangunan istana sendiri sudah hancur dan tidak mungkin bagi para dryad juga centaur untuk melihat ke dalam istana, karena hampir rata dengan tanah. Dibutuhkan waktu lebih panjang dan lebih lama untuk menyingkirkan puing-puing bangunan istana, yang lebih besar dan berat dibandingkan rumah penduduk biasa. Akhirnya, mereka beristirahat dan berkumpul, untuk merencanakan ke mana langkah mereka selanjutnya.

“Keld Fielgreen meminta kita untuk datang ke Hail, kurasa kota itu tidak terlalu jauh dari kota ini, bukan?” tanya ratu Reŷanim. “Kita harus bergegas, karena yang kutakutkan bahwa bangsa  dëia mungkin sudah menghancurkan kota itu juga.”

“Ada kemungkinan jika Keld Fielgreen berhasil meyakinkan pemimpin di kotanya, mungkin mereka sekarang sedang melakukan perjalanan ke utara. Setahuku, dia sempat mengatakan ada kota manusia lain di sana,” kata Akoéta.

“Apa kita harus pergi ke utara? Sekarang?”

Sang ratu menatap lekat-lekat pada Akoéta, karena sebetulnya ada firasat tak mengenakkan jika memang mereka memaksakan pergi ke sana. Terdengar bisikan-bisikan dari pepohonan, bahwa sesuatu yang gelap sedang menanti di utara. Sang ratu tidak mau mengambil risiko.

“Bagaimana jika kota tempat Keld tinggal pun, sudah hancur?” Begitu kata Akoéta. “Lalu ke mana kita akan mencari manusia? Atau kita biarkan saja, dan segera mencari pelarian dari Kota Pílghym.”

“Tidak!” tolak ratu Reŷanim tegas. “Aku sudah mengucapkan janjiku untuk tetap datang ke Hail, dan itu yang akan kupegang meski pada satu orang manusia pun. Kita sebaiknya tetap pada rencana awal, mendatangi Hail, terlambat maupun tidak.”

“Aku hanya memberikan pendapat, aku tak mau kita menyia-nyiakan waktu, Ratu.”

“Akoéta, para Takala membawa benih dari ibu bumi kami. Aku dan kaumku harus melindungi mereka. Karena benih itu kelak, akan kami tanam setelah bumi damai dan menjadi tempat tinggal kami yang baru. Apabila ketiga Takala sampai tewas, dan benih hancur … maka kami pun akan musnah dari dunia ini.”

“Baik, Ratu Reŷanim.”

“Nah, aku membutuhkan peta di mana Kota Hail berada. Sayangnya, kita tidak mungkin mencari satu-persatu dari semua reruntuhan di sini, jika ada peta yang tertinggal. Sepertinya semua sudah hancur,” keluh ratu Reŷanim.

“Aku tidak tahu di mana letak Kota Hail, karena kaum kami tidak pernah keluar dari hutan sebelumnya,” sahut Akoéta. “Entah berapa lama perjalanan ke sana, dan entah letak persisnya di mana.”

“Serahkan itu pada kami. Para dryadan bisa membaca jejak dengan baik.”

Sang ratu memanggil salah satu sosok dryad dan mereka bercakap-cakap dalam suara rendah. Lalu si dryad itu pun undur diri, dan tidak lama beberapa sosok dryad bergegas berlari menuju keluar gerbang puing-puing Kota Vôld. Rupanya mereka diutus untuk mencari jejak bangsa dëia, yang mungkin akan membawa mereka menuju ke Kota Hail.

“Setelah beristirahat sejenak, kita segera berangkat menuju ke Hail,” ujar ratu Reŷanim.

*

Sementara itu di Hail, pertempuran tengah terjadi. Para prajurit, penduduk yang bisa berperang berjuang dengan gigih mempertahankan kota mereka. Panah-panah berdesing, menyerang pada bangsa dëia, meski sebetulnya serangan tersebut seperti gigitan serangga. Karena tidak ada manusia yang bisa mengincar telapak tangan bangsa darah dan api itu dengan mudah. Hanya para Takala yang merupakan pemanah jitu, yang sudah menjatuhkan beberapa belas kaum bangsa dëia menjadi abu.

Namun, serangan bangsa dëia begitu kuat. Mereka terus merangsek maju, jebakan-jebakan yang telah dibuat tidak begitu berarti. Kaum dëia tidak begitu kesulitan untuk melewati itu semua. Sehingga mereka tidak kesulitan untuk semakin dekat pada gerbang Kota Hail.

“Tutup gerbang dengan apa pun yang kalian temukan! Jangan sampai mereka bisa menembus itu, jika tidak, kita akan musnah!” putri Thaira dari atas kudanya.

Gerbang kota sudah ditutup oleh kayu-kayu besar, kereta dorong, apa saja yang bisa membuat gerbang dipertahankan agar tidak dijebol oleh bangsa dëia. Para pemanah sudah mundur dari arah benteng kota, karena bangsa dëia mulai merangkak naik ke atas benteng. Sebagian dari mereka, berusaha menghancurkan gerbang dengan senjata di tangan.

Terdengar gemuruh dari langit di atas sana, awan kelabu berarak datang dan angin bertiup sangat kencang. Raja Thornell dan raja Lord Raignald saling bertatapan, rupanya apa yang sedang dilakukan oleh Élsus membawa hasil. Badai pun datang.

“Kalian, kembali ke istana. Di sini tidak aman,” seru putri Thaira pada kedua raja yang berdiri tidak jauh darinya. “Badai ciptaan Élsus akan segera tiba.”

Keduanya mengangguk dan memacu kuda mereka menuju istana. Sedangkan prajurit infanteri berlindung di bawah bangunan-bangunan berdinding bata, agar mereka tidak terbawa oleh badai. Begitu pun dengan para pemanah. Para Takala masih berlarian dengan lincah di atas benteng, melepaskan anak-anak panah mereka, dibantu oleh prajurit pemanah yang pemberani dan mampu bergerak cepat.

“Badai datang!” teriak Can’ Eru. “Cepat, cari perlindungan!”

Para pemanah menuruti titah dryad itu, mereka menuruni tangga dan mencari perlindungan. Sedangkan amukan angin semakin kencang, bahkan kaum dëia pun beberapa terhempas oleh angin yang sangat kuat. Petir menyambar-nyambar di langit, tampak mengerikan. Suara guntur memekakkan telinga. Seperti badai itu tengah merengkuh semua yang ada di sana dalam genggamannya.

Putri Thaira menatap pada pusat badai yang ada di atas kepala. “Demi Stëvnŷa, lindungilah kami semua.”

Itu badai terbesar yang pernah dilihat sang putri dalam seumur hidupnya. Dia pun memacu kuda ke tempat perlindungan terdekat, berharap di mana tempat ia berteduh, tidak akan diterbangkan oleh angin.

“Cialla! Cepat!” teriak Can’ Ara.

Ketiga Takala berlari menuruni tangga, tubuh mereka sudah basah oleh air hujan yang menyapu dan mengamuk. Bahkan pandangan mata mereka mengabur, karena tiupan angin yang begitu kencang membuat sulit untuk melihat jarak jauh.

Dari luar gerbang terdengar teriakan-teriakan marah kaum dëia. Rupanya bangsa itu pun kesulitan karena serangan badai yang diciptakan oleh Élsus. Bahkan kilatan-kilatan petir menyentuh permukaan tanah dan menyerang pada bangsa api dan darah tersebut. Sehingga membuat barisan pasukan yang dipimpin oleh Kolé menjadi kacau balau.

“Sebaiknya kita menjauh dulu, Adegaz,” seru salah satu Oroizé. “Kita tunggu hingga badai ini reda. Jika tidak, pasukan kita pun bisa binasa karena badai tak biasa ini.”

Dengan kesal Kolé terpaksa mengikuti saran dari para Oroizé. Ia menarik pasukannya, untuk menghindar dari badai yang hanya ada di area Kota Hail. Akhirnya pasukan bangsa dëia pun mundur. Mereka akan kembali ke Kota Hail, setelah badai pun selesai.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!