The Quest for The Lost Inheritors
Yang Datang dan Pergi dari Benteng
“Sampai berapa lama kita harus berjalan?” tanya Gôntra.
Dia tidak mengerti mengapa Yähgé seolah membawa mereka berjalan berputar-putar, tanpa tujuan yang pasti. Dan tidak ada satu petunjuk pun yang dikatakan oleh Yähgé, seolah mereka sedang bermain-main misteri dan petualangan.
“Lebih baik kau diam saja dan—”
Suara pekikan Yähgé memotong pembicaraannya sendiri. Perempuan dëia itu terhuyung.
Yähgé mengerang kesakitan saat mereka sedang berjalan melalui hutan mati Ebirus. Dia sampai berlutut di permukaan tanah sembari memegangi sebelah matanya. Bergegas Gôntra menghampiri perempuan dëia itu, dan merangkul bahunya.
Sedangkan Ninye hanya berdiri di tempatnya menjaga jarak, menatap hati-hati pada Yähgé.
“Apa yang terjadi padamu? Kau baik-baik saja?” tanya Gôntra.
Yähgé hanya bergumam pelan, dan belum menjawab apa-apa. Dia hanya mengatur napas dan berusaha untuk berdiri dibantu oleh Gôntra. Pandangan mata Gôntra tidak bisa berbohong, bahwa dia benar-benar mencemaskan Yähgé.
Karena belum pernah perempuan itu mengalami hal semacam demikian, selama ratusan tahun mereka saling mengenal satu sama lain.
“Ada yang menghancurkan mata-mataku.” Yähgé berkata lirih. “Sial, dan rasanya menyakitkan.”
“Mata-mata?” Gôntra tampak kebingungan.
“Aku menyimpan penjaga di tempat rahasia milikku.” Lalu Yähgé mempercepat langkahnya. “Kita harus lekas, aku tak mau ada yang mengganggu dan mengetahui apa yang kusimpan di sana.”
Gôntra belum pernah pergi ke tempat rahasia milik Yähgé selama ini. Bahkan dia tidak tahu apa yang perempuan itu lakukan selama mereka saling mengenal. Yähgé penuh dengan rahasia, dan butuh waktu sangat lama bagi Yähgé untuk mempercayai Gôntra.
Bahkan hanya sedikit yang Gôntra ketahui, itu pun sepertinya Yähgé pertimbangkan masak-masak sebelumnya.
“Baiklah, kami akan ikuti saja ke mana kau akan pergi,” tukas Gôntra.
“Cepatlah, Elf. Jangan terus berdiri di sana, seperti seseorang yang pandir,” ejek Yähgé.
Ninye tersenyum sinis. “Yang justru kulihat, ada bangsa dëia tersisih karena dia sangat lemah.”
Mata Yähgé berkilat marah, tetapi dia tidak membalas lagi perkataan Ninye, dia terus melangkah. Gôntra terkekeh pelan, melihat kedua perempuan yang selalu saling bersitegang di hadapannya.
“Setidaknya kalian mulai mengakrabkan diri satu sama lain,” seloroh Gôntra.
“Jangan harap!” balas Yähgé keras.
Mereka terus berjalan mengikuti Yähgé menghabiskan waktu beberapa jam, hingga akhirnya keluar dari tepi hutan mati Ebirus. Di depan mereka ada sebuah padang luas, permukaan tanahnya coklat kehitaman padahal itu merupakan tempat di utara, yang seharusnya dipenuhi oleh salju.
Ninye tersadar, bahwa di sana sudah tidak ada lagi kehidupan. Seolah-olah ada sesuatu yang menggerogoti dari dalam bumi, sehingga tak ada makhluk hidup yang bisa bertahan.
“Tempat apa ini?” bisik Ninye bahkan dia terdengar cemas.
“Tempat persembunyianku.” Ada seringai ditunjukkan oleh Yähgé.
Yähgé membawa mereka lebih jauh ke tengah padang tersebut, hingga tampak sebuah bangunan benteng hitam yang besar dengan puncak-puncak tinggi. Firasat Ninye benar-benar buruk, seolah napasnya tercekik, karena aura yang ditunjukkan tempat itu sangat buruk.
Mereka melewati jembatan untuk masuk ke benteng tersebut, yang kondisinya benar-benar gelap. Gôntra dan Yähgé mengeluarkan api dari telapak tangan mereka, agar mereka pun bisa melihat sangat jelas.
Tiba-tiba saja Yähgé melihat ke permukaan jembatan, tampak ada ceceran kemerahan yang kental. Dia berjongkok dan menyentuhkan telunjuk pada cairan tersebut.
“Darah,” gumamnya. “Bau ini, familiar. Siapa yang datang ke sini, dan berani-beraninya mengusik tempat milikku.” Suaranya mulai terdengar gusar.
“Apa itu darah manusia?” tanya Gôntra.
“Dari utara, sepertinya.” Yähgé mengangguk. “Aku akan memeriksa ke sana segera. Setelah urusanku di tempat ini selesai. Seharusnya tidak ada manusia dari sana yang bisa keluar dari kota itu.”
“Ke kota manusia utara?”
“Ya, Ferden’Lyf.”
Ninye hanya mendengarkan dalam diam. Dia tidak tahu mengenai kota manusia utara, atau manusia lain. Bahkan kunjungan ke Vôld pun kali pertama, dan dia harus menyaksikan kota tersebut dibumihanguskan bangsa dëia.
Lalu benteng yang mereka kunjungi sekarang, Ninye tak yakin jika itu benteng yang dibangun oleh Yähgé. Dari struktur bangunan, untuk bangsa dëia itu terlalu kecil, anak-anak tangga, juga ukiran-ukiran yang dipahat pada dinding.
Secara fisik, bangsa dëia tinggi besar. Bangunan itu, lebih pantas dijadikan tempat tinggal para manusia, meski mungkin manusia-manusia yang sedikit lebih jangkung.
Mata Yähgé mengikuti jejak darah yang menggenang, dan melihat lebih banyak di dalam benteng. Dia mendesah pelan, melihat ada anak panah yang berserakan di permukaan lantai berbatu.
“Kurasa mereka beruntung bisa menyelamatkan diri dan menghancurkan penjaga menaraku,” kata Yähgé. “Tapi sepertinya mereka sudah pergi dari sini. Kurasa mereka pun sekarat, dan entah pergi ke mana. Mereka takkan berani lagi menginjakkan kakinya di sini.”
Langkah-langkah mereka terdengar bergema di seantero benteng, hingga mencapai ke tengah-tengah benteng tersebut, di mana mata Ninye langsung menatap pada anak panah yang sangat dikenalinya. Dia ambil anak panah yang patah itu, dan menyentuh permukaannya yang halus. Sudah pasti, itu merupakan anak panah yang hanya dibuat di Lamvorels.
Batin Ninye mulai bergejolak, mungkinkah Aldérin yang datang ke sana bersama orang-orang dari utara? Lalu di mana dia sekarang? Apa dia selamat?
“Kau baik-baik saja?” tanya Gôntra yang sudah berdiri di samping Ninye.
“Aku memikirkan nasib orang-orang ini. Bagaimana kondisi mereka sekarang,” kilah Ninye.
“Tidak akan lama lagi mati,” sambar Yähgé. “Sudah, tidak perlu kita pikirkan. Aku harus melihat kondisi tawananku. Ini benar-benar membuatku gusar, karena manusia-manusia pengusik.”
“Tawanan?!” Gôntra dan Ninye sama-sama terkejut.
“Kau tentu tahu Hering, bukan?” Yähgé menatap pada Gôntra.
“Ya aku tahu, meski aku tak begitu jelas siapa manusia ini.”
“Aku takkan mungkin bisa memakai penyamaran dia atau pun istrinya, jika mereka sudah mati. Sihir payah bangsa dëia mengharuskan sosok itu harus tetap hidup.” Yähgé terkekeh pelan. “Karena itu, kubiarkan dia hidup di sini. Karena aku membutuhkan mereka.”
“Apa maksudmu?” Ninye benar-benar terkejut. “Kau menyekap manusia di tempat ini?”
“Kau akan lihat sendiri.” Yähgé menyeringai.
*
Tidak terjadi badai atau turunnya hujan, sehingga mereka bisa terus melangkah ke tepi hutan Skyringstall. Yang terlihat di depan mata, hanya ujung puncak benteng yang terlihat cukup jauh. Raven tidak mau mengambil risiko untuk beristirahat di sekitar benteng, karena instingnya merasakan bahaya yang sangat besar.
Sehingga mereka pun berhenti setelah waktu hampir larut, dan mencapai tepi hutan. Mereka tidak menyalakan api unggun, hanya memasang tenda, di mana Raven tetap bertahan di luar dan menyandarkan tubuhnya pada batang pohon pinus.
Luka menganga di punggungnya sudah berangsur pulih, dan itu merupakan hal yang terlalu aneh juga membuat bulu kuduk Lya meremang melihatnya. Namun, wajah Raven tetap terlihat sangat pucat, seolah dia membutuhkan energi tambahan.
“Aku harus kembali ke tanah kelahiranku,” kata Aldérin. “Lamvorels sudah porak-porandak, tapi mungkin ke sana aku harus pergi.”
“Kau mengikuti firasatmu lagi?” tanya Raven dingin.
Sudah merupakan janji pada Iroaél, bahwa Aldérin akan tetap merahasiakan pertemuannya dengan Fel’ Meth. Jadi apa pun yang disangka oleh Raven, mau tak mau Aldérin tidak bisa menyangkal.
Aldérin menggeleng. “Aku harus ke sana,” tegasnya.
“Sebaiknya kita membawa Lya kembali ke Hail,” saran Raven. “Setelah itu kau hendak menjalani petualangan tak masuk akalmu, takkan menjadi masalah.”
Lya hanya menatap pada Aldérin dan Raven bergantian, tetapi dia tidak mengatakan apa pun. Hanya diam dan termenung, sembari melihat pada bulan yang bersinar timbul tenggelam di balik awan.
“Akan kulakukan,” kata Aldérin. “Aku pun tak mau menyeret Lya dalam masalah dan bahaya. Entah sudah berapa kali, dia nyaris tewas karena ikut denganku.”
“Dua kali, seingatku,” kata Lya. “Betul, bukan?”
Lya melupakan kenangannya saat di Hail, ketika berhadapan dengan Yähgé. Mungkin tak sebaiknya Aldérin mengatakan dengan jujur, suatu saat Lya akan mendapatkan kembali ingatannya, itu yang dipercayai sang elf dari Lamvorels. Aldérin pun tak mau jika harus membuat nyawa Lya semakin terancam, apabila Lya terus ikut bersama mereka.
Ada perasaan di hati Aldérin, justru Lya enggan untuk kembali ke Hail. Karena mau tak mau, dia harus menemui Malda dan memberitahukan mengenai tewasnya Thane di Ferden’Lyf.
“Aku tak ingin pengalaman berbahayamu bertambah,” balas Aldérin.
“Setidaknya aku punya cerita untuk anak cucuku, kelak.” Lya mengendikan bahu. “Itu pun apabila aku selamat, dan hidup tua.” Ia pun terkekeh pelan.
“Kau harus pulang ke Hail. Aku tak mau terjadi sesuatu yang buruk lagi padamu,” tegas Raven.
“Aku tahu, kau tak ingin aku menjadi beban kalian,” keluh Lya. “Aku tak memiliki kemampuan bertarung atau apa pun. Suatu saat mungkin kehadiranku, malah membahayakan kalian.”
“Tidak begitu,” kata Raven. “Kau berhak hidup damai, dan tenang. Pergi bersama kami, hanya akan membuatmu hidup di masa tuamu penuh dengan kenangan buruk. Kau pikir, setiap kejadian buruk yang menimpamu meski itu sudah terlewati masanya, takkan terus teringat di benakmu?”
Lya terdiam beberapa saat. “Kau benar, Raven.”
“Kuharap kau tidak berpikir bahwa aku menganggapmu sebagai beban, Lya,” kata Raven.
Bergegas Lya menggeleng cepat. “Tentu saja tidak. Apa yang kau katakan sangat masuk di akal.”
“Baiklah, kita kembali ke Hail setelah pagi menjelang. Perjalanan kita masih sangat panjang,” tukas Aldérin. “Kurasa bekal makanan masih cukup, hingga kita tiba di sana?”
Raven hanya mengangguk. “Aku akan berburu, setelah kita melewati Skyringstall. Di sini sepertinya sudah dikuasai oleh sihir jahat, bahkan tak ada kehidupan apa pun.”
“Kau masih bisa bertahan?” tanya Aldérin.
Karena dia tahu, Raven pun memerlukan makan yang tak lazim. Dan akan sulit jika Raven tidak menemukan buruan apa pun. Yang Aldérin takutkan apabila Raven sudah terlalu lapar, dia bisa saja menyerang Lya. Meski Aldérin yakin, pasti Raven berusaha mati-matian untuk menahan lapar dan dahaganya.
Mereka memang harus segera pergi dari sana, agar Raven bisa menemukan binatang-binatang buruan, agar dia tetap berakal sehat.
“Aku berusaha, Aldérin.” Raven mendesah pelan. “Aku harus bisa.”