The Quest for The Lost Inheritors
Mimpi Raja Bangsa Darah
Kolé berbaring di samping Nihlá, tampak raut wajahnya gelisah. Dia memimpikan sesuatu yang cukup mengganggu.
Dalam mimpinya, ada sebuah lapang yang sangat luas, di samping lapang itu ada sebuah gunung tinggi menjulang. Di sekitar sana semua gersang, debu-debu beterbangan, ketika pasukan bangsa dëia sudah dalam keadaan siaga untuk menyerang. Lalu agak jauh di seberang sana, pasukan bangsa elf, manusia, sisanya samar.
Kedua pasukan dari dua kubu saling beradu, Kolé terjebak di tengah-tengah. Dia bertahan dengan mengayunkan pedang pada pasukan musuh. Mengeluarkan api dari telapak tangannya.
Ketika ia mendongak ke arah gunung, ada sosok-sosok jangkung mengenakan jubah tertutup hingga kepala. Mereka hanya memerhatikan dari atas sana. Setelah itu para sosok jangkung mundur, dan tidak terlihat lagi sedang menyaksikan pertempuran sengit yang terjadi di padang gersang tersebut.
Dengan sekuat tenaga Kolé berlari menghampiri mereka, memasuki sebuah ambang pintu besar yang terletak di tengah-tengah. Di dalam sana begitu luas, dingin, dan Kolé bisa melihat ada banyak tangga melingkar menuju ke puncak gunung. Dia berlari secepatnya, hingga sampai di puncak, dan melihat ada sebuah gerbang lain yang begitu tinggi besar.
Gerbang yang seperti air, bergelombang.
Di depan gerbang tersebut, para sosok bertudung sudah berdiri di sana. Saling berhadapan dengan Kolé, seolah Kolé tidak diperkenankan untuk lebih dekat lagi. Salah satu dari sosok itu mengangkat telapak tangan dan membukanya ke arah Kolé.
“Len Arna!” seru Kolé sembari terbangun dari tidurnya.
Tentu saja Nihlá yang tertidur di sampingnya ikut terbangun juga. Perempuan itu langsung memeluk tubuh Kolé, menyentuh pipinya dengan lembut. “Apa yang membuatmu risau? Apa ada sesuatu yang kau mimpikan, Kolé?”
Kolé hanya mengangguk singkat, lalu dia beringsut dari tidur dan duduk di tepi tempat tidur. “Aku bermimpi, ada di suatu tempat yang sangat asing. Tidak, bukan di sini, tidak satu dari bagian di bumi Khâli ini, tetapi di belahan bumi yang lain.”
Mata Nihlá menatap nanar. “Apa maksudmu? Aku tidak mengerti.”
“Dalam mimpiku, pasukan kita bertempur habis-habisan dengan bangsa elf dan manusia. Aku yakin, itu adalah pertanda atau bagian dari masa depan, bahwa kami akan bertemu dalam pertempuran terakhir,” jelas Kolé. Sedangkan wajah Nihlá menunjukkan keterkejutan luar biasa. “Ini bukan hanya mimpi semata, ini adalah suatu pertanda. Dan aku akan menghancurkan para Len Arna.”
“Tetapi, Kolé—”
“Dengar, jika aku bisa membinasakan mereka, peperangan akan kumenangkan bagaimana pun juga. Bukan elf atau manusia yang menjadi penghalangku, tetapi para Len Arna,” potong Kolé.
“Itu hanya mimpi, Kolé.”
“Kau meragukanku? Dari semua yang ada di muka bumi ini, aku hanya berharap kau satu-satunya yang bisa mempercayaiku, Nihlá.”
“Aku akan selalu berada di sampingmu, sampai kapan pun. Bahkan hingga langit runtuh di atas kepala kita. Tetapi, Kolé, kau harus pikirkan matang-matang. Para Len Arna bukan sesuatu yang bisa kau anggap remeh begitu saja.”
“Kau harus percaya, bahwa aku bisa membuat mereka benar-benar lenyap dari muka bumi ini.”
“Kita tahu betul, bahwa mereka adalah bangsa yang sangat sakti dan ajaib. Mereka tidak dilahirkan di sini, melainkan entah dari langit mana. Jangan kau berpikir macam-macam, mereka bahkan bisa mendengar atau menyakitimu, Kolé.” Suara Nihlá terdengar bergetar.
“Aku tidak takut!”
“Aku yang takut kehilanganmu. Kumohon, pertimbangkan pikiranmu itu. Bangsa lain takkan mungkin datang dan menyerang kita, mereka sudah kehilangan tempat tinggal, dan kehidupan. Lebih baik, kita meredakan semua,” sergah Nihlá. “Jika kau masih ingin mencari pelarian para bangsa itu, musnahkan saja mereka. Jadi pemimpin di bumi ini, tetapi tak perlu usik keberadaan para Len Arna. Aku tidak mau, jika mereka justru berniat untuk membinasakan semua bangsa kita.”
“Karena itu, aku harus mengambil langkah lebih dulu.”
“Langkah seperti apa?”
“Biarkan aku memikirkannya, Nihlá.”
“Lalu bagaimana caranya kau bisa menghancurkan Len Arna? Dengan apa?”
“Dengan kekuatan yang sekarang dimiliki oleh para elf. Mereka pasti memiliki senjata rahasia, dan aku akan segera merebut itu dari tangan mereka.”
Lalu Kolé berdiri dan melangkah keluar dari peraduannya, sedangkan Nihlá masih terduduk di atas pembaringan, tidak mengerti dengan apa yang dipikirkan belahan hatinya. Perempuan itu turun dari tempat tidur, setelah itu melangkah keluar menyusul ke mana Kolé pergi.
“Kolé, tunggu! Hendak ke mana kau?” tanya Nihlá dengan napas terburu-buru sembari mengejar langkah Kolé yang sudah jauh di depan, didampingi kedua prajurit di sisi kiri dan kanan.
“Aku akan mengumpulkan pasukan,” jawab Kolé.
“Pasukan? Tiba-tiba seperti ini? Kita harus bicarakan hal ini baik-baik.”
Kolé berhenti melangkah, dan menatap pada Nihlá. “Apa yang harus kita bicarakan? Aku hanya tinggal mengumpulkan semua pasukan, lalu mencari di mana letak tempat pertempuran terakhir yang ada di dalam mimpiku. Pasti ada sesuatu yang bisa kutemukan di catatan sejarah terakhir, atau bahkan cerita sebelum tidur yang biasa diceritakan saat kita kanak-kanak.”
“Jika kau terus bersikeras seperti ini, para pemimpin klan bisa melakukan sesuatu terhadapmu, pada kita. Mereka memiliki wewenang untuk mencegah perbuatanmu, jika itu menurut mereka berbahaya.”
“Kau bisa bicara pada ayahmu, bukan? Bahwa aku memiliki rencana besar, yang akan mengubah masa depan bangsa dëia? Kau tentu bisa melakukannya.”
“Mengubah menuju masa depan yang seperti apa? Jika kau salah perhitungan dan tergelincir, masa depan bangsa dëia akan lebih gelap dari sebelumnya.”
Kolé tidak menjawab, dia meneruskan langkahnya meninggalkan Nihlá seorang diri. Perempuan itu hanya berdiri di tempatnya, tampak raut wajahnya mendadak murung.
Beberapa waktu sebelumnya, sang ayah memanggil Nihlá. Mengatakan bahwa tindakan Kolé mulai mengusik hati para pemimpin klan, dan seolah membahayakan keberadaan bangsa dëia. Ia meminta Nihlá untuk menyurutkan ambisi Kolé, setidaknya sampai semua merasa bahwa kekalahan Kolé dan membawa sedikit pasukan yang tersisa, tidak lagi menjadi buah pikiran semua orang.
Sedangkan jika sekarang Kolé berniat untuk mengerahkan semua pasukan dëia, dengan kedudukan yang ia pimpin sekarang, tentu bisa terjadi pertikaian di antara para pemimpin klan melawan Kolé. Hal itu yang tidak Nihlá inginkan.
Dia sudah berusaha keras untuk mempertahankan posisinya, membantu Kolé untuk menjadi raja. Hanya karena masalah sikap Kolé, semua bisa berantakan.
Perempuan itu harus melakukan sesuatu, untuk mencegah hal-hal buruk terjadi.
Akan tetapi, Kolé sangat keras kepala. Bahkan dia tidak lagi mau mendengar Nihlá yang memintanya untuk bergerak secara perlahan. Padahal mereka sudah membinasakan hampir semua kota dan bangsa lain di seantero wilayah Khâli yang mereka diami sekarang. Yang Nihlá takutkan, adalah Kolé menjadi buta dengan pikirannya, terlebih ambisi ingin memusnahkan para Len Arna.
Sedangkan dari cerita di masa kecil, mereka tahu betul makhluk-makhluk itu tak terkalahkan. Mereka bukan tandingan untuk bangsa mana pun.
*
Udara yang kering dan panas menemani Nihlá yang sedang duduk menunggu sang ayah, Yehdá, di serambi peraduan. Matanya menatap pada gunung api Kalvath yang terus mengeluarkan asap abu dan sesekali percikan lava. Tampak ada kegelisahan menggantung di wajah Nihlá yang cantik, tetapi angkuh juga kejam, dan kali itu raut wajahnya menunjukkan hal yang tidak seperti biasanya.
Pintu kamar Yehdá terbuka lebar, tampak sosok dëia yang gagah dan tinggi, dengan paras yang sekilas seperti Nihlá. Dia menutup pintu kamar, dan mendesah pelan, lalu melangkah menghampiri dan duduk di hadapan putrinya.
“Apa yang terjadi di pertemuan dengan para petinggi, Arjá (Ayah)?”
“Buruk.” Yehdá menjawab singkat.
“Maksudmu, Arjá?”
“Suamimu mulai menunjukkan taringnya, dan itu sangat tidak baik di depan mata semua pemimpin klan. Kau tahu sendiri, dia akan mudah untuk disingkirkan, jika sikapnya terus keras kepala dan tidak masuk akal.”
“Apa dia mengatakan akan mencari cara untuk membinasakan para Len’ Arna?”
Sang ayah mengangguk. “Ini yang membuat semua petinggi murka.”
“Oh, tidak.” Nihlá menggelengkan kepalanya tidak percaya.
“Kolé itu seorang raja yang hebat, tetapi dia ceroboh. Mungkin dia sangat kuat, secara fisik takkan ada yang mampu mengalahkannya. Tetapi, aku lebih mewaspadai Yähgé, adik perempuannya yang aneh dan tampak lemah itu. Dia justru berbahaya, karena apa?” Yehdá mengetuk-ngetuk pelipis dengan telunjuknya. “Dia memiliki pemikiran yang sangat dalam dan penuh perhitungan.”
“Kenapa Arja membicarakan tentang Yähgé tiba-tiba? Apa ini ada kaitannya dengan dia?”
“Para petinggi bermaksud mencari Yähgé dan adikmu, Gôntra. Mereka mulai memikirkan motif apa yang keduanya lakukan untuk menyingkirkan suamimu. Mungkin saja, apa yang mereka lakukan, justru karena sikap Kolé yang tidak masuk di akal seperti ini.”
“Itu omong kosong! Lalu Arja menyetujuinya?”
“Tidak. Tetapi aku tidak bisa menghalang-halangi, jika hal ini disetujui oleh semua,” jawab Yehdá lugas. “Karena itu, kau tenangkanlah Kolé. Karena sekarang dia akan berencana membuat sekutu dengan bangsa lain di sekitar Karakh.”
“Ah, menjijikkan. Para troll dan goblin. Makhluk-makhluk bodoh yang biadab.”
“Tetapi jika itu bisa menyelamatkan suamimu dari tahtanya, sebaiknya biarkan dia bekerjasama dengan mereka,” balas Yehdá.
Nihlá mendesah pelan. “Lalu apa yang harus kulakukan sekarang?”
“Pastikan Kolé tidak berbuat sembrono. Aku akan mencari adik-adikmu, dan menjauhkan mereka dari kejaran para petinggi klan.” Yehdá menatap pada Nihlá. “Tetapi aku akan tetap memastikan keduanya tetap selamat, karena bagaimanapun, keduanya adalah anggota keluarga.”
“Tidak untuk Yähgé.” Nihlá menggeleng tegas.
“Aku akan pikirkan tentang itu nanti. Kau tidak perlu mencemaskan apa pun.”
“Terima kasih, Arjá.”