Untuk FADHIL
Pertanyaan Keyla
“Yuk pulang!” ajak Fadhil sambil meraih tangan Keyla.
Keyla mengangguk dan menoleh pada teman-temannya yang lain untuk berpamitan.
“Gue pulang dulu ya gays,” ujar Keyla sambil tersenyum.
“Hati-hati ya Key, eh Fadh jangan di apa-apain temen gue ya!” celetuk Raya merasa sensitif pada Fadhil.
Keyla dan yang lain tertawa mendengar kecemasan Raya pada Keyla sedangkan Fadhil merengut bingung.
“Emangnya gue mau ngapain Keyla sih? Gak berani gue macem-macem sama dia,” sahut Fadhil sambil memandang ke arah Keyla, “Kecuali gak ada lo semua,” lanjutnya sontak membuat Keyla melotot.
“Huhf, Fadhil emang jagonya dalam rayu-merayu ya,” tukas Adit sambil terkekeh.
Malam ini terasa sangat istimewa saat semua teman-temannya hadir dan tentu saja kedua orangtuanya ada di rumah, masa lalu adalah kenangan yang memang tidak perlu di ungkit-ungkit jika akan menyakitkan diri sendiri, yang terpenting sekarang dia menjadi orang yang berharga di mata kedua orangtuanya, tentu saja mereka akan sangat membutuhkan Fadhil sebagai anaknya untuk membantu pekerjaan kedua orangtuanya seperti sekarang ini, mereka dengan tiba-tiba mendaftarkannya untuk menjadi CEO di perusahaan.
“Bercanda.” Fadhil mengerlingkan matanya kepada Keyla yang kini sedang menahan malu sebab ucapan Fadhil. “Ya sudah yuk pulang nanti gue di omelin nyokap lo lagi.”
Fadhil dan Keyla pun pergi meninggalkan teman-temannya yang masih berseru, ada tatapan tajam yang melihat mereka tatapan itu penuh kebencian dia tersenyum licik dan membuang pandangannya dengan kesal, hatinya tercabik-cabik tapi dia tidak mau menyerah begitu saja.
“Pak kuncinya mana? Biar saya aja yang bawa,” ujar Fadhil pada supir Papahnya.
Dengan patuh supir itu langsung memberikan kunci kepada Fadhil, “Ini Den.”
“Fadh,” ujar Keyla menghentikan langkah Fadhil sebelum masuk ke dalam mobil.
Fadhil menoleh menatap Keyla heran, “Ada apa?” tanyanya.
“Kayanya gue pulang sendiri aja deh, gue tadi lihat Mamah lo manggilin,” ujar Keyla dengan tatapan sendu dia sangat mengerti apa yang Mamahnya Fadhil inginkan.
“Sudahlah, kan sebentar doang nanti juga gue balik lagi kan gak bakal kabur dari rumah,” jelas Fadhil.
“Tapi, lo ngelihat gak sih tadi Laura natap gue sinis banget.” Keyla merasa gelisah akan tatapan Laura yang tajam ke arahnya saat dia keluar dari pintu rumah Fadhil.
Fadhil menghampiri Keyla dan meraih kedua tangan cewek itu, “Gue tahu lo takut kan kalau Laura nampar lo lagi?”
“Kok lo tahu sih?” Keyla kaget matanya melotot mendengar bahwa cowok itu mengetahui kejadian seminggu yang lalu mengenai dirinya.
“Percuma seberapa lama pun lo bakal sembunyiin rahasia ini dari gue karena pada akhirnya gue akan tahu semuanya tanpa harus meminta lo buat cerita,” sahut Fadhil sambil menganggkat sebelah alisnya.
Keyla diam merasa bahwa apa yang di katakan cowok itu benar meski dia penasaran siapa yang telah memberitahu cowok itu ada rasa aman saat Fadhil telah mengetahuinya tapi apakah cowok itu akan menjaganya seperti Kevin.
“Maaf karena gue telat mengetahui kebenaran ini gue akan pastikan Laura tidak akan berani nyentuh lo lagi,” terang Fadhil sambil tersenyum hangat kepada Keyla, “Ya sudah yuk masuk.”
Fadhil pun membukaan pintu mobil untuk Keyla dan berlalu pergi untuk duduk ke tempat pengemudi, jujur saja Keyla lebih suka naik motor di banding naik mobil seperti ini.
“Gak apa-apa kan naik mobil?” tanya Fadhil seperti sedang membaca pikiran Keyla.
Sontak Keyla kaget dan menganggukan kepalanya, “Iya gak apa-apa lagian pasti udara di luar sangat dingin pada malam hari.”
“Okey!” Fadhil mengangguk dan menjalankan mobilnya dengan pelan dia masih ingin bersama dengan Keyla dan melihat senyum manis serta sorot indah bola matanya.
Keyla menoleh menatap luar jendela yang sangat indah dengan lampu terang yang menyala dengan warna yang berbeda-beda.
“Aku si Bulan yang menyukai sinar Bintang,” gumam Keyla sambil tersenyum menatap kilauan Bintang di langit.
Fadhil menoleh dia mendengar ucapan Keyla yang menurutnya itu adalah kata-kata yang indah, tidak salah Keyla gabung di Ekstrakurikuler Sastra dan terpilih menjadi ketua mading yang tulisannya akan di tempel di dinding sekolah dan di baca semua orang.
“Fadhil, gue boleh nanya sesuatu sama lo?” ucap Keyla sambil menoleh ke arah Fadhil
“Silahkan, gue akan jawab apa pun yang akan lo tanyakan,” jawab Fadhil tanpa menoleh dia terlihat pokus pada jalanan yang sedikit macet.
Keyla diam sebentar seolah-olah sedang merangkai kata yang tepat untuk di ucapkan, “Lo beneran sudah tunangan sama Laura?” akhirnya pertanyaan itu lolos juga dari mulut Keyla.
Fadhil terkekeh mendengarnya, “Lo tahu dari siapa berita itu?”
“Gue denger dari Laura dan ternyata teman-teman gue juga tahu kabar itu,” sahut Keyla sambil menggigit bibir bawahnya.
“Berita itu sama saat gue mengira lo pacar sama Kevin karena pada saat gue mendekati lo Kevin sangat marah sama gue,” jelas Fadhil sambil sesekali menoleh ke arah Keyla.
Keyla mengerutkan keningnya bingung, “Maksudnya lo juga mengira kalau gue pacaran sama Kevin?”
Fadhil mengangguk pelan, “Iya”
“Tapi kenapa lo bisa mengira bahwa gue itu pacaran sama Kevin?” tukas Keyla yang masih bingung dengan ucapan Fadhil.
Fadhil terkekeh pelan, “Ya jelas dong, lo kan sama Kevin lengket banget jauh jika memang kalian hanya sekadar sahabat.”
Keyla menyetujui itu semua karena bukan hanya Fadhil saja yang berkata seperti bahkan teman dekatnya pun mengira bahwa ada hubungan khusus di anatar dirinya dengan Kevin, Keyla pun mengira bahwa kebencian Kevin berawal dari Fadhil yang mencoba mendekati dirinya, yang semua anak-anak pun tahu sikap Fadhil yang play boy dan nakal dia pun tahu bahwa Kevin akan melindungi dia bahkan perkelahian pun terjadi saat Fadhil ketahuan sedang berduan dengan cewek lain di caffe Jaya yang membuat Kevin sangat marah marah.
“Dan terus bagaimana dengan hubungan lo sama Laura?” tanya Keyla masih penasaran.
Fadhil menghela napas sebelum menceritakan semuanya kali ini dia tidak bisa lari dari pertanyaan Keyla.
“Seperti yang lo tahu, orangtua gue selalu mengambil keputusan tanpa seizin gue dan Laura gue memang salah dari awal sudah memperlakukan dia karena kesalahan gue sendiri Laura merasa kalau gue itu suka sama dia padahal gue pernah naruh rasa sama sekali sama dia begitu gue sama wanita yang lainnya yang pernah gue dekati tapi Mamah gue yang tahu bahwa Laura anak pewaris dari perusahaan mainan yang sedang meningkat dia berusaha menjodohkan gue dengan Laura.” Fadhil menatap Keyla yang tiba-tiba mengalihkan pandangannya.
“Tapi gue merasa beda saat gue melihat lo Key, bahkan gue harus berjuang dulu sebelum mendapatkan hati lo, gue merasa senang saat lo melihat lo duduk dengan teman-teman lo di lapangan setiap gue tanding futsal,” lanjut Fadhil.
Keyla menoleh kini matanya bertemu dengan bola mata Fadhil yang berbinar, Fadhil kaget saat melihat tetesan bening mengalir di pipi Keyla.
“Kamu nangis Key?” tanya Fadhil, dia langsung meminggirkan mobilnya dia pun mengganti kata lo menjadi kamu saat kecemasan itu selalu hadir. Perlahan namun pasti Fadhil memeluk Keyla dengan erat.
Fadhil menatap Keyla sendu, “Makasih Key, lo sudah menyadarkan gue bahwa wanita itu butuh kepastian bukan penantian.”
Fadhil sudah mengetahui bahwa Keyla sudah lama menyukainya karena itu dia tidak akan menyia-nyiakan Keyla lagi, Fadhil pun mengusap air mata Keyla, “Jangan pernah meneteskan air mata lo karena itu akan membuat gue terluka!”
Keyla mengangguk sambil tersenyum manis, Fadhil pun kembali menjalankan mobilnya dengan tangan kirinya yang saling bertautan pada tangan Keyla, semua orang tahu benar menjalin hubungan itu tidak seindah ekspetasi kita selama ini dalam memaknainya bagi Fadhil sendiri itu semua sulit.
***