Untuk FADHIL
Kembali Merindu
Angin sore terasa sangat sejuk saat ini, di tambah lagi pemandangan jembatan cinta yang sungguh indah, Keyla tidak lupa untuk mengabadikan moment hari ini dia pun mangajak Kevin untuk berfoto berdua.
“Sebelum pulang foto dulu ya!” pinta Keyla sambil tersenyum manis kepada Kevin.
Kevin pun mengangguk menuruti apapun yang cewek itu minta terhadapnya, karena hal itu mampu membuatnya bahagia melihat senyum terbit di bibir tipis Keyla.
Keyla menarik tangan Kevin untuk mencari tempat yang indah untuk berfoto dan akhirnya menemukan tempat yang sesuai dengannya dengan rasa bahagia Keyla mengabadikannya.
“Yuk pulang, Bunda lo udah khawatir dari tadi nanyain kabar dan keberadaan lo,” ujar Kevin sambil menatap layar ponselnya.
“Okey,” ucap Keyla lirih sambil menatap hasil jepretannya.
Hari ini sudah berlalu bersama rasa sakit yang mulai pudar, meski tidak semudah itu untuk melupakan apa yang telah terjadi tapi, keadaan Keyla sudah merasa lebih baik sekarang karena Kevin berhasil membuatnya lupa akan luka itu.
Keyla tadi sempat membuka whatsapp dan di sana terdapat 8 kali panggilan tidak terjawab dan 20 pesan dari Fadhil yang belum berani dia buka ada pula pesan dari sahabat-sahabatnya yang menanyakan keadaannya saat ini. Keyla jadi teringat tangisan histerisnya tadi pagi hingga membuatnya tidak sadar bahwa semua anak kelas pasti melihatnya dan itu membuatnya malu jika nanti bertemu dengan mereka.
Motor Kevin berjalan menembus arus jalanan yang terasa sejuk saat di sore hari, dengan hembusan angin yang menerpa kulit wajah Keyla yang hanya berbalut masker saja, matanya terasa perih dan mengantuk sebab habis menangis, Kevin masih pokus mengendari motornya.
“Vin,” ujar Keyla pelan di samping telinga Kevin.
Cowok itu hanya bergumam sambil sesekali menatapnya lewat kaca spion motor yang langsung menghadap wajahnya.
“Gue masih takut jika nanti bertemu dengan dia,” ungkap Keyla lirih.
Kevin sangat mengerti akan hal itu karena itu sebabnya dia berkata kepada Fadhil untuk tidak perlu menemui Keyla dulu karena saat ini Keyla butuh waktu untuk sendiri.
“Lo gak usah khawatir gue udah bilang sama Fadhil tentang itu,” jawab Kevin membuat Keyla sedikit terkejut dan merasa tenang.
“Kapan lo ngomong sama dia? lo ngomong apa sama dia?"
Keyla mengernyit bingung akan perkataan Kevin, saat ini dirinya tidak ingin menyebut namanya langsung, rasa sakit itu akan kembali dia rasakan jika mendengar nama Fadhil.
“Gue udah ngomong sebelum lo mengatakan itu sama gue, karena gue udah paham gimana lo,” jelas Kevin.
Keyla masih belum mengerti bahwa Kevin itu sangat sayang dengan dirinya bahkan melebihi sahabat tapi, dia gak bisa berbuat apa-apa mengetahui orang yang dia sayangi ternyata mencintai dia.
“Apa? Gimana maksud lo?” tanya Keyla karena kurang jelas saat mendengar perkataan Kevin yang bersamaan dengan angin ditambah suara bising pengendara motor lainnya.
“Iya, gue udah ngomong sama Fadhil saat lo masih menangisi dia,” ujar Kevin sambil terkekeh.
Keyla yang merasa bahwa bukan itu yang tadi Kevin katakan sebelumnya langsung memukulnya bahu cowok itu pelan karena sudah mengejeknya saat menangis tadi.
“Auww, tangan lo enteng banget sih Key, dikit-dikit nyubit dikit-dikit mukul.” tukas Kevin sambil dengan sisa tawanya.
Keyla pun ikut tertawa karena mengingat bahwa apa yang di katakan cowok itu benar adanya. Lagi-lagi dia juga teringat kepada Fadhil yang pernah mengatakan itu membuatnya rindu akan cowok itu tapi tetap saja rasa sakit masih mengusai dirinya saat ini.
“Udah gak usah bengong lagi nanti ke sambet aja!” ujar Kevin melihat Keyla yang sedang termenung.
Lamunan Keyla buyar, seketika dia kembali ke alam bawah sadarnya, “Cepatan bawa motornya gue mau cepet-cepet sampai rumah.”
Keyla merasa lelah hari ini dan ingin bercerita dengan seseorang yang lebih memahami dirinya selain sahabatnya ini, motor Kevin pun sudah memasuki gang rumah Keyla.
“Dah sampai,” ujar Kevin saat menghentikan motornya di depan gerbang rumah Keyla.
Keyla langsung turun dari motor Kevin, “Terima kasih ya buat semuanya,” ujarnya sambil tersenyum.
Kevin kembali tersenyum manis kepada Keyla, “Jangan nangis lagi! Dan jangan lupa istirahat ya!”
Keyla mengangguk meski dia gak tahu apakah air matanya tidak akan kembali menetes atau sudah cukup saat ini, lalu Kevin menjalankan motornya kembali meninggalkan kediaman Keyla.
“Assalamualaikum,” ujar Keyla saat membuka pintu rumahnya.
Bi Ajeng pun langsung menyambut kedatangan Keyla dan mengambilkan air minum untuk majikannya.
“Baru pulang Non?” tanya Bi Ajeng sambil memberikan segelas air putih kepada Keyla.
Keyla menyandarkan punggungnya ke sopa, “Iya Bi, Bunda mana ya Bi?” tanya Keyla yang tidak melihat kehadiran Bundanya.
“Lagi pergi ke luar Non sama Pak Ujang,” jawab Bi Ajeng sambil menunduk patuh. “Ya sudah Bibi permisi ke dapur dulu ya Non.” Bi Ajeng berlalu pergi untuk menyelesaikan tugasnya yang lain.
Ponsel Keyla berdering, seseorang meneleponnya membuatnya langsung menekan tombol hijau dan menempelkannya di telinga.
“Hallo Bell,” ujar Keyla saat sambungan sudah terhubung.
“Lo di mana Key?”
“Di rumah, baru banget pulang.”
“Bagus deh kalau udah pulang kirain masih sama Kevin.”
“Bell, main sini ke rumah gue, Bunda gue lagi ke luar sama Pak Ujang dan Ayah lagi ke luar kota.”
Bella yang memang merasa di butuhkan sebagai seorang sahabat curhat Keyla selalu menuruti permintaan Keyla.
“Okey gue izin ke Nyokap gue dulu ya tapi, lo harus sediakan makanan buat gue ya!” pinta Bella sambil terkekeh.
Hal itu pun membuat Keyla tertawa, “Baik, kalau urusan makanan mah gampang.”
Sambungan pun terputus setelah Bella mengatakan bahwa dia akan mengunjungi ke rumah Keyla, di saat kita sedang merasa patah hati oleh seseorang apa yang akan di lakukan selain ingin di temani oleh seseorang sahabat, padahal dia ingin bercerita kepada Bundanya tapi, Bundanya saat ini sedang pergi untung saja Bella menelponnya dan mau ke rumahnya.
Keyla pun bangkit untuk membersihkan tubuhnya yang sudah lengket dan terasa sangat lemas, dia mencoba melupakan apa yang telah terjadi hari ini meski Kevin sudah mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja dan berita itu tidak akan terjadi.
Keyla memakai baju kaos dengan celana pendeknya, Bella pun langsung di persilahkan masuk oleh Bi Ajeng untuk menemui Keyla di kamar karena Bi Ajeng sudah mengenal sahabat-sahabat Keyla.
“Baru selesai mandi?” tanya Bella melihat wajah Keyla yang nampak segar dan cerah hanya saja matanya yang sembab masih terlihat. “Ya Allah matamu gak bisa berbohong ya, kalau emang habis nangis,” ujar Bella sambil tersenyum.
Sontak Keyla langsung menatap dirinya di cermin dan yang benar saja matanya memang masih terlihat sembab mungkin terlalu banyak menangis.
Keyla mengambil posisi untuk duduk di atas kasurnya bersama Bella di sampingnya, yang akhirnya mereka menonton Drakor sambil menyandarkan kepalanya di kepala ranjang.
“Lo udah baik-baik saja Key?” tanya Bella sambil mengunyah snack makanan ringan.
Keyla mengangguk sambil fokus menatap drama kesukaannya, walau terkadang pikirannya masih teringat Fadhil.
“Tadi Fadhil ke kelas waktu lo udah pulang sama Kevin terus dia bilang kalau berita yang kita dengar adalah hoax dan itu tidak akan terjadi,” jelas Bella dengan pandangan yang menatap layar drama. Keyla diam mendengarnha
Adegan romatis dalam drama kembali membuat air mata Keyla jatuh, sungguh dia sangat merindukan seseorang saat ini dan rasanya dia sedang kehilangan seseorang.
“Keyla!” ujar Bella lirih menatap Keyla yang mulai menangis sambil menutupnya dengan bantal.
Keyla semakin terisak, “Gue rindu Lee Min Ho Bell, sebentar lagi dia akan pulang WAMIL.”
Bella membawa Keyla dalam pelukannya, “Lo gak usah sembunyiin semuanya dari gue Key,” ujarnya, dia tau bukan Lee min ho yang sedang Keyla rindukan melainkan sosok Fadhil.
“Hiks, hiks, Gu-e gak mau kehilang-an Fadhil Bell, gak tahu kenapa gue gak mau kehilangan dia.” Ternyata itulah alasan Keyla menjadi seperti ini.
Keyla tidak mengerti mengapa rasa rindu itu selalu hadir meski cowok itu sudah membuat dia patah hati, bagaimana bisa dia melupakan Fadhil yang menjadi penyemangat dirinya ketika di sekolah.