Untuk FADHIL
Antar Pulang Laura
“Mah, bukankah Fadhil akan menikah denganku nanti,” ujar Laura tidak mau kalah.
“Laura jodoh itu tidak akan tahu, baik aku maupun lo sendiri jadi kita jalani saja masa muda kita dulu,” kata Fadhil bagaimana pun Laura seperti sahabatnya sendiri.
Dulu setiap kali Laura mencoba mendekatinya dia tidak bisa menolaknya bahkan mengabaikannya namun, ketika dirinya berpindah hati kepada Keyla membuatnya harus meninggalkan Laura meski perjodohan itu ada.
“Sayang, kamu gak bisa memaksakan Fadhil untuk menjadi pasanganmu kelak,” sergah Prisly sambil mengusap air mata Laura yang jatuh.
“Tante makasih udah ngajak aku makan malam bersama, aku merasa senang dengan makan malam ini,” ujar Fadhil.
“Iya saya juga senang kok coba kalau ada Mamah kamu pasti bakal nambah seru,” kata Prisly.
Fadhil memang anak yang humble meskipun nakal tapi dia punya sisi baik yang orang lain tidak ketahui, Prisly sudah kenal Fadhil sejak usianya yang masih 10 tahun awal Riska memperkenalkan putranya kepada semua orang dan kini Prisly sidikit kaget bahwa wajah Fadhil sangat tampan mirip dengan Haris.
Ponsel Prisly tiba-tiba berdering membuatnya pamit untuk pergi mengangkat telpon yang ternyata dari asistennya yang melaporkan akan ada meeting bersama owner dari Ilatia di kantor perusahaan.
“Seperti Mamah harus pergi dulu ya sayang karena ada meeting dadakan dengan owner dari Italia yang baru tiba di jakarta,” pamit Prisly sambil meraih tasnya.
Fadhil mengangguk dengan cepat, “Baik Tante gak masalah,” kata Fadhil.
“Kalian lanjut saja makannya ya! Owh iya sayang mobilnya Mamah bawa ya kamu bisa naik mobil bareng Fadhil, gak apa-apa kan Nak?” tanya Prisly sambil menatap mata Fadhil.
Karena merasa tidak enak hati Fadhil pun langsung mengangguk mensetuji permintaan Prisly.
“Baik Tante, saya akan antarkan Laura pulang ke rumah dengan cepat kok,” sahut Fadhil.
Prisly pun berlalu meninggalkan Fadhil dan Laura, kepergian Prisly membuat Fadhil dapat bernapas lega.
“Fadhil lo kenapa sih gak jujur aja sama Mamah kalau kamu emang suka sama aku?” gerutu Laura.
“Dengar ya Laura, cinta itu gak bisa di paksa!” ujar Fadhil sambil memainkan ponselnya.
Laura sadari bahwa Fadhil memang keras kepala, “Okey kalau begitu, gue juga senang dengan apa yang udah lo lakuin ini,” kata Laura sambil beranjak pergi.
Dengan cepat Fadhil menahan pergelangan tangan Laura, “Mau ke mana hah? Nakal banget sih jadi cewek,” celetuk Fadhil.
Kini Laura kembali terduduk di tempatnya semula, menatap Fadhil yang asik menyeruput kopinya tatapannya penuh kekesalan namun rasa cinta itu masih ada di hatinya membuatnya merasa kesulitan untuk menahan gejolak asmaranya.
“Gue bingung sama lo, kenapa mau sih nunggu yang dia sendiri gak pernah sadar kalau lo itu emang sayang sama dia,” kata Laura, selama ini dia diam melihat kedekatan kekasihnya dengan Keyla.
“Pada waktunya dia akan tahu dan itu butuh proses dan lo tahu gara-gara pertunangan kita Keyla jadi marah sama gue sehingga sampai sekarang gue belum pernah melihat dia lagi,” jelas Fadhil dengan tegas.
“Ya udah gak ada yang perlu di jelaskan lagi bukan? Mending langsung pulang aja,” kata Laura sembari bangkit dari tempat duduknya.
Fadhil pun ikut bangkit dan pergi ke kasir untuk membayar semuanya namun, Laura menghentikannya.
“Mamah gue udah bayar tadi, jadi lo gak usah bayar lagi.” Laura langsung berjalan menuju pintu keluar setelah menghentikan tindakan Fadhil.
Fadhil memasukan kembali atmnya dan pergi mengikuti Laura dari belakang, pakaian Laura membuat cowok-cowok yang ada di sana bersiul dengan genit hal itu membuat Fadhil langsung memberikan tatapan mematikan dan pergi menyusul Laura.
“Lain kali kalau pergi ke luar jangan makai baju terbuka kaya gini kaya gak ada baju lain aja yang lebih tertutup,” tegas Fadhil setelah mendorong Laura masuk ke dalam mobilnya.
Entahlah hati Laura merasa senang mendengar perhatian Fadhil meski hanya sedikit hal itu sudah membuat dirinya tersenyum senang, Fadhil masuk dan duduk di bangku pengemudi dengan cepat Fadhil meninjakan pedal gas mobil sehingga menimbulkan asap hitam yang menggumpal di atas udara yang gelap.
Fadhil kaget saat menerima panggilan dari Kevin tumben sekali cowok itu menghubungi dirinya.
“Hallo.”
“Lagi di mana lo sekarang?” tanya Kevin to the point.
Laura sibuk menonton pertunjukan girlband kesukaannya yaitu blackpink sedangkan Fadhil memakai earphonenya sehingga suara Kevin hanya bisa di dengar olehnya.
“Gue lagi di jalan, kenapa?"
“Gue minta temui gue besok di halaman belakang sekolah!”
Fadhil mengernyit heran perkataan Kevin membuatnya penasaran apa yang akan dia biacarakan sehingga sampai menghubunginya.
“Kenapa gak sekarang aja?”
Fadhil membujuk agar Kevin mau menceritakannya sekarang bukan nanti karena dia tidak suka di buat penasaran.
“Gue mau tunjukin ke lo sesuatu.”
Kevin menutup panggilannya meninggalkan bunyi kecil dari ponsel Fadhil, dengan gusar Fadhil mengepal erat tanganya.
“Ada apa?” tanya Laura yang melihat kemarahan Fadhil.
Tatapan Fadhil pokus ke arah jalanan, “Gak apa-apa, ini bukan urusan lo jadi jangan coba-coba bertanya dan ikut campur!” hardik Fadhil.
Laura mengangkat ke dua bahunya, “Ya sudah kalau begitu,” katanya sambil tersenyum yang dipaksakan.
Kini Fadhil membayangkan akan apa yang terjadi besok hal itu membuatnya gelisah, tentu saja cowok itu akan marah kepadanya karena sudah membuat Keyla menangis, Fadhil berharap agar Kevin tidak akan melarangnya menjauh dari Keyla.
Mobil Fadhil sudah sampai di depan pintu gerbang rumah Laura, Fadhil membunyikan klaksonnya agar sang saptam rumah Laura cepat membukakan pintu gerbang.
Tin, tin, tin.
“Owh Non Laura, tunggu sebentar ya Non!” ujar sang Saptam lalu bergegas membukakan kunci yang melekat di pintu gerbang dan mendorongnya hingga terbuka.
“Makasih Pak,” ujar Fadhil sambil menunduk.
“Thanks ya Fadh sebelumnya lo udah mau datang dan nepati janji lo buat hadir di acara makan malam meski jauh dari harapanku sebelumnya,” ujar Laura dan beranjak turun dari mobil Fadhil.
“Gue langsung pulang ya! Salam buat tante Prisly makasih udah setuju dalam keputusan gue,” tukas Fadhil sambil terkekeh dan mengerlingkan sebelah matanya kepada Laura.
Laura menghentakan kakinya merasa kesal dengan sikap Fadhil yang selalu membuatnya bingung akan apa yang sebenarnya cowok itu inginkan darinya.
Saat itu juga Fadhil pergi meninggalkan kediaman keluarga Laura, pikirannya kembali dihantui dengan perkataan Kevin tadi di telepon dia tidak tahu apa yang akan cowok itu katakan kepadanya yang pasti itu membuatnya penasaran.
"Besok gue harus minta maaf sama Keyla dan temui cewek itu langsung rasanya hidup gue gak bisa tenang kalau belum menemui Keyla, gue harap dia mau memaafkanku," racau Fadhil sambil mengendarai motor ninjanya dengan kecepatan tinggi, membelah kota Jakarta yang tampak sunyi dan indah ketika malam hari.
Sedangkan Kevin dia sedang menatap fotonya bersama seseorang dimasa kecilnya, sejak dulu dia mengenal temannya itu sikapnya tidak berubah selalu pamer dan keras kepala.
"Gue bakal rela lepasin Keyla buat Lo tapi jangan harap gue bakal diam saja kalau Lo berani sakitin Keyla!" tegas Kevin, jika cinta tidak harus memiliki dia siap menjadi apapun asal tetap berada di dekat cewek itu.
Ya kehadiran Kevin untuk Keyla bukan dianggap sebagai kekasih melainkan sahabat, kakak dan penyelamatnya.
****