Untuk FADHIL

Fadhil ke Rumah Keyla

Fadhil pun langsung pulang setelah mengantar Laura pikirannya kini tertuju pada obrolannya dengan Kevin dan lagi-lagi dia penasaran ingin menanyakan akan identitas Kevin yang sebenarnya. Karena saking penasarannya akan hal itu Fadhil memutar balik mobilnya rasa penarasn akan sosok Kevin bergelut dalam pikirannya.

“Hallo Dit,” ujar Fadhil ketika panggilannya sudah terhubung.

“ ....”

“Parah banget lo gimana mau dapat cewek yang setia lo aja mainin perasaan cewek-cewek mulu, gak ada tobat-tobatnya lo.”

“Santai Fadh, gue masih nikmati wajah tampan gue buat bisa mendekati para bidadari cantik dan seksi,” gurau Adit sambil tertawa.

“Gue mau ke sekolah nih, lo gak mau nemenin gue?”

“Gak bisa Fadh, gue lagi asik sama cewek lagian ngapain sih malam-malam ke sana mau ketemu kunti?” ejek Adit.

Fadhil tertawa mendengar gurauan Adit, “Sue banget lo, awas aja ya kalau gue ketemu cewek cantik gak akan gue kasih tahu, ya udah bye!”

Fadhil memutuskan sambungan karena percuma saja dia mengemis-ngemis pun tidak akan Adit bantuin karena bagi dia, cewek lebih utama kecuali kalau sahabatnya membutuhkannya dalam keadaan sangat penting baru akan dia tolongi.

Fadhil mengusap layar dan mencoba menghubungi seseorang yang sudah 3 hari ini tidak pernah terlihat olehnya bahkan tidak pernah mendengar suaranya.

Sambungan itu tidak terjawab kini Fadhil memutuskan untuk mengirim pesan kepadanya, semoga saja besok dia bisa bertemu karena rindunya ini harus segera terobati.

Mobil Fadhil kini sudah melesat di sebuah gedung tinggi yang menjadi saksi dari perjalanan hidup Papahnya dalam membesarkan sekolah hingga kini bisa banyak di kenal orang.

Fadhil turun dan langsung menaiki tangga melewati lorong yang sudah sepi dan gelap, Fadhil menyalahkan senter yang dia genggam untuk menerangkan jalanan menuju sebuah kantor yang terletak di lantai dua.

“Untung gak di kunci,” gumam Fadhil dengan napas lega saat membuka kenop pintu.

Fadhil langsung menghidupkan lampu ruangan tersebut sambil mematikan senter yang dia bawa, Fadhil menelusuri lemari untuk mencari berkas data siswa satu persatu lemari dia buka dan akhirnya dia berhasil menemukan sebuah tumpukan data siswa dengan cepat dia mencari data seseorang, Kevin.

“Nah, ini dia datanya!” ujar Fadhil sembari menarik data tersebut dari tumpukan yang lain.

Fadhil membuka map tersebut dan mengeluarkan kertas-kertas dari dalam sana, perlahan Fadhil membaca keterangan dan identitas Kevin yang membuatnya penasaran.

Tangan Fadhil menjadi kaku saat membaca kenyataan dari data tersebut bahwa Kevin telah menambahkan namanya yang semula Hendra menjadi Kevin Agusta Mahendra, Fadhil membaca terus sehingga akhirnya dia menemukan bahwa Kevin mempunyai tanggal lahir yang sama dengan Hendra teman kecilnya Fadhil yang dulu pindah rumah.

Karena Fadhil sudah merasa yakin dia langsung memasukan berkas tersebut ke dalam lemari dan pergi meninggalkan kantor itu dengan perasaan yang entah mengapa tidak karuan ada rasa emosi dan juga marah saat mengetahui kebenaran dari teman kecilnya yang sekarang menjadi musuh baginya betapa bodohnya dia tidak menyadari kehadirannya yang memang dekat namun tidak terasa.

Keyla kaget saat keluar dari kamar mandi dan membuka ponselnya yang terdapat pesan dari Fadhil dengan rasa senang dia membalas pesan tersebut namun dengan cepat dia menghapusnya, dia ingin menguji kesabaran Fadhil. Setelah satu jam berlalu dia membalas pesan tersebut dengan singkat.

“Fadhil, kenapa lo baru mengirim pesan ke gue? Apakah lo gak bisa merasakan kerinduan ini?” gumam Keyla dengan nelangsa.

Matanya berbinar-binar seperti ingin menangis karena rasa rindu yang sangat berat dia rasakan, Keyla kembali meletakan ponselnya di atas meja belajarnya sedangkan dia kembali pokus mengerjakan tugas sekolah yang belum selesai.

Seperti biasanya Keyla selalu mendengarkan lagu korea atau Yovie dan Nuno untuk menemaninya jika sedang belajar atau menulis cerita baginya musik adalah seni yang paling indah mampu menenangkan jiwa dan menguap emosi di dalamnya.

“Sayang kok belum tidur?”

Sontak Keyla menoleh dan menatap Bundanya yang sudah berdiri di ambang pintu kamarnya menatapnya dari kejauhan.

“Ah Bunda, bikin aku kaget aja,” tukas Keyla sembari mengalihkan pandangannya.

Adiba pun menghampiri Keyla, “Kok belum tidur?”

“Masih mengerjakan tugas sekolah,” jawab Keyla sambil kembali menghitung angka yang sudah di jumlahkan sebelumnya.

“Ya udah jika sudah selesai lekas tidur ya! Dan matikan lampunya,” titah Adiba sambil mengecek tempat tidur Keyla.

“Baik Bun, owh iya Bunda Ayah kapan pulang?”

Sudah satu minggu Ayahnya tidak pulang membuat Keyla merasa kesepian tinggal berdua dengan Bundanya saja, jika ada Ayahnya dia bisa bercerita banyak hal dan menonton tv bersama.

“Bunda juga belum tahu tapi, besok Bunda akan tanya sama Ayah okey!” ujar Adiba yang mengerti perasaan Keyla saat ini.

Adiba memang selalu bisa menebak apa yang sedang Keyla alami dan rasakan namun dia bukan tipe orang tua yang selalu ikut campur urusan anaknya karena mengingat bahwa Keyla sudah dewasa itu semua akan melatih dirinya untuk lebih menjaga diri dan mampu menghadapi masalahnya sendiri.

“Okey Bun,” sahut Keyla sambil tersenyum manis kepada Bundanya.

“Good night sayang,” tukas Adiba sambil menutup pintu kamar Keyla.

“Good night to Bunda.”

***

Keyla terbangun dari tidurnya karena bermimpi Kakaknya yang ada di luar negeri dengan gusar dia pun meraih jam yang terletak di nakas.

“Non bangun sudah pagi dan ada Den Fadhil di bawah,” ujar Bi Ajeng.

Sementara membuat Keyla melongo mendengarnya, ‘Fadhil? Serius dia ada di bawah apa gue masih mimpi ya?’ gumam Keyla.

“Seriusan Bi? Mau apa dia pagi-pagi ke rumah?” tanya Keyla masih tidak percaya.

Bi Ajeng gemas dengan ketidak percayaan Keyla, “Serius Non, ya mungkin Den Fadhil mau jemput Non Keyla,” jelas Bi Ajeng sambil senyuman yang mengoda Keyla.

Keyla mengucek lagi matanya yang belum sepenuhnya terlihat jelas dia takut ini hanya mimpi Keyla dengan keras mencubit pipinya sendiri.

“Auww,” jerit Keyla saat rasa sakit dia rasakan akibat perbuatannya sendiri.

Bi Ajeng sampai melongo dibuatnya, “Aduh si Non mah ada-ada saja, ini teh bukan mimpi atuh Nong,” ujar Bi Ajeng.

“Ya sudah Bi suruh masuk aja dulu, Keyla mau mandi ya!” ujar Keyla langsung beranjak dari tempat tidurnya dan meraih handuk yang ada di gantungan dekat kamar mandi.

Seketika rasa kantuknya menghilang begitu saja saat mendengar bahwa Fadhil datang ke rumahnya, untuk menjemputnya namun Keyla kembali tersadar bahwa Fadhil belum menjelaskan pertunangannya dengan Laura akhirnya Keyla berencana untuk bersikap cuek kepada Fadhil agar cowok itu tahu bahwa dirinya sedang marah atas perbuatannya dan sudah mengikari janjinya.

“Hati ini berteriak merasakan kebahagian atas kehadiran lo Fadh, tapi ego gue mengalahkannya jadi maaf jika gue harus bersikap cuek.” Keyla tidak tahu kapan egonya akan hilang dan mau memaafkan Fadhil kembali.

Sejujurnya rasa rindu lebih mendominasi daripada rasa kesal Keyla terhadap Fadhil, bagaimana mungkin Fadhil dengan tega mempermainkan hatinya? Dia sudah membohonginya selama ini menutupi hubungannya dengan Laura.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!