Untuk FADHIL

Aku Tidak Bisa Membencimu

Rutinitas gadis manis yang berhidung mancung ketika hari minggu adalah membaca novel dan menonton Drakor, ketika Keyla sedang asik membaca novel di kamar, terdengar suara ketukan pintu. Keyla pun mendengus kesal.

"Kenapa Bun?" tanyanya, pada Adiba Bundanya Keyla, yang sedang berdiri di pintu.

"Ada Kevin tuh di bawah sama Ayah, katanya pengen ketemu kamu," ucap Adiba sambil tersenyum hangat.

Keyla terdiam, "Suruh pulang aja Bun, Keyla lagi malas ketemu dia, lagian ngapain sih malam-malam ke rumah," sahutnya sengit, sambil berjalan.

Adiba pun menghampiri putrinya dan duduk di tepi kasur, "Sayang, Bunda tidak pernah mengajarkan kamu seperti itu, kasihan nak Kevinnya masa jauh-jauh datang langsung di suruh pulang sih?" Adiba membelai rambut Keyla yang tergerai dengan lembut.

Keyla pun memeluk Adiba, entahlah apakah dia harus cerita tentang kejadian kemarin di sekolahnya atau tidak, tapi Keyla takut, "Bunda, Keyla sayang sama Fadhil." Entah dalam keadaan sadar atau tidak Keyla berani mengatakan itu pada Adiba, tanpa Keyla beritahu pun Adiba pasti paham.

Adiba sangat mengerti bagaimana perasaan anaknya, "Bunda tahu sayang, tapi kamu tahu sendirikan bagaimana Papanya Kevin itu? Dia sahabat dekat Ayah kamu sayang, dia juga sudah baik dengan kita, nak Kevin datang cuma ingin berbicara dengan kamu sebentar." Adiba memberi jeda pada perkataannya, "Ayo temui nak Kevin dulu ya." Keyla mengangguk. Membuat Adiba tersenyum. "Bunda tunggu di bawah ya."

Keyla menuruni anak tangga dengan memakai kaos dongker lengan panjang dan celana jins, matanya menatap cowok yang sedang duduk bersama kedua orangtuanya.

Kevin tersenyum, "Hai," sapanya yang hanya di balas senyuman oleh Keyla.

Keyla duduk di samping Bundanya, "Key, ikut keluar sebentar yuk?" ajak Kevin sambil mengangkat sebelah alisnya.

Keyla menoleh kepada orangtuanya, Adiba menggenggam tangan Keyla dan tersenyum. "Silahkan Ayah izinkan, asal jangan sampai larut malam ya nak Kevin," ucap Haikal Ayah Keyla, membuat Keyla terpaksa harus ikut dengan Kevin.

"Om Tante, kami pergi dulu ya," pamit Kevin sambil mencium tangan Adiba dan Haikal. Di ikuti oleh Keyla. "Hati-hati ya nak."

Keyla berjalan menuju pintu, menyusul Kevin yang sudah jalan terlebih dahulu untuk menghidupkan mesin motornya.

"Mau kemana sih?" Tanya Keyla pada Kevin yang sudah duduk di atas motornya.

Kevin mengulurkan helm kepada gadis yang kini sedang cemberut karena pertanyaannya tidak dijawab, "Nih pakai," pintanya, Keyla pun tidak membuang-buang waktu Ia langsung memakai helm dan duduk di atas motor milik Kevin, beda emang rasanya ketika Ia duduk di atas motornya Fadhil, Keyla pun berusaha melupakan kejadian di sekolah. Motor pun melaju dengan cepat.

"Key, lo masih marah sama gue?" tanya Kevin pada gadis di belakangnya yang sedang asik menatap kanan dan kirinya. "Keyla!" teriaknya.

Keyla kaget, "Hah, kenapa?" tanyanya, karena sibuk dengan pikirannya sendiri sampai tidak mendengarkan perkataan Kevin.

Kevin tersenyum, "Dasar bolot," ucapnya sarkastis. Yang di balas dengan pukulan pelan di bahunya. "Aww, sakit Key."

"Lagian, ngatain orang bolot, kaya sendirinya enggak aja." Keyla mendengus kesal, sedangkan Kevin malah tertawa.

Motor Kevin pun berhenti di tepi jalan, tepatnya di dekat tukang pecel lele. Makanan kesukaan Keyla, pecel lelenya Pak Abdul.

"Yuk turun, gue mau ngajak lo makan malam."

Kevin membantu Keyla turun dari motornya, dia pun duduk di samping tukang pecel lele itu diikuti oleh Keyla dari belakang.

"Bang! pecel lelenya dua ya, makan di sini," teriak Kevin pada Pak Abdul, yang di jawab dengan acungan jempol.

Keyla menatap layar ponselnya, Ia mencoba menghubungi Fadhil namun tidak ada jawaban, Ia takut jika Fadhil tahu bahwa dirinya sedang pergi bersama Kevin akan marah dan cemburu.

“Kenapa, Key?” tanya Kevin, dia melihat gadis di depannya ini yang nampak gelisah.

“Tidak apa-apa,” jawab Keyla, mana mungkin Ia jujur kalau sedang berusaha mengubungi Fadhil.

“Nih, pecel lele dan es teh manisnya,” ucap Pak Abdul sambil membawa pesanan Keyla dan Kevin.

Kevin pun membantu Pak Abdul menaruh makanannya, “Terima kasih Pak,” katanya kepada Pak Abdul sambil tersenyum.

Kevin tahu bahwa Keyla menyukai pecel lele di tempat ini, karena itu dia membawanya ke sini.

“Habis ini langsung pulang ya!” ujar Keyla.

Ponsel Keyla pun berdering, membuat Keyla langsung menekan tombol hijau. “Hallo,” ucapnya.

“Keyla, lo lagi di mana?” tanya seseorang yang di sebrang sana.

Keyla sibuk melahap ikan lele kesukaannya, “Gue lagi di pecel lele di Pak Abdul,” katanya terdengar kurang jelas.

“Sama siapa?” tanyanya penuh selidik.

Keyla menatap Kevin, “Gue sama Kevin,” jawabnya. Keyla takut sahabatnya ini akan marah mendengar bahwa dirinya sedang bersama Kevin.

Bella kaget, “Lo udah baik kan sama dia? Tadi pagi kayanya lo benci benget sama Kevin yang sudah menghajar Fadhil habis-habisan, sekarang lo lagi asik makan pecel lele sama dia, gimana sih lo, Key?” gerutu Bella, membuat Keyla tertawa kecil mendengarnya.

Kevin merebut ponsel Keyla, “Emang benar Keyla, kalau Lo marah sama gue gara-gara gue berantem sama si Fadhil?” tanyanya, membuat Keyla menatap Kevin kesal.

“Sini ah, ponsel gue!” Keyla berusaha merebut ponselnya dari Kevin.

Bella bingung harus jawab apa, terdengar keributan kecil antara Kevin dan Keyla dari sebrang sana, dia pun akhirnya memutuskan sambungan secara sepihak.

“Tuh kan, di matiin sama Bella, ya sudah nih ponsel lo.” Kevin nampak kesal, sahabat Keyla memang sangat pintar menyembunyikan rahasianya.

Keyla menutup ponselnya, dan pergi untuk mencuci tangan. “Pulang yuk, udah malam,” ujarnya pada Kevin yang masih terdiam sambil sibuk menatap ponselnya.

“Keyla, lo gak tahu bagaimana sebenarnya Fadhil, gue tahu lo suka sama dia, makanya itu gue ngasih pelajaran ke Fadhil karena dia itu udah jalan sama cewek lain.” Kevin tahu bahwa Keyla tidak akan percaya sama omongannya. “Jika lo benci gue gara-gara itu, gue minta maaf, gue gak mau lihat lo nangis lagi gara-gara cowok lo itu.” Kevin bangkit dari duduknya, dia berjalan ke Pak Abdul untuk membayar pesanannya.

“Ayo pulang,” kata Kevin, dengan raut wajah yang datar, Keyla tersadar dari lamunannya, dia egois sudah mencoba menjauh dari Kevin, yang berusaha melindunginya.

Dinginya malam membuat Keyla tak nyaman dengan pakaiannya sekarang, walaupun lengan panjang namun, kaosnya sangat tipis, sehingga angin sangat mudah untuk masuk.

“Nih pakai jaket gue,” ujar Kevin yang mencoba melepaskan jaketnya untuk Keyla.

Keyla mengambil jaket tersebut, Kevin sangat peduli dan baik kepadanya, tanpa Kevin sadari Keyla memang tidak bisa membenci dirinya, jika rasa benci itu ada, kenapa kini dia mau pergi bersama Kevin? Keyla hanya kesal akan sikap Kevin yang selalu emosional jika itu menyangkut dirinya.

Sedangkan Fadhil sedang sibuk berbincang-bincang dengan Mamahnya yang masih di Singapura.

“Pokoknya kamu gak boleh buat Laura nangis lagi! gak baik buat anak perempuan nangis!”

Fadhil mendengus kesal, “Iya Mah.” dia sudah mengira bahwa Laura telah melaporkannya lagi kepada sang Mamah.

“Kemarin Mamah denger kamu berantem dengan Kevin, apa bener itu?” Riska sudah mendengar itu dari Laura membuat dirinya sangat khawatir terjadi sesuatu dengan anaknya.

“Fadhil jawab Mamah! Kenapa kok sampai berantem gitu?”

“Mah, aku merasa senang mendengar Mamah mengkhawatirkan keadaanku, aku kira Mamah hanya mengkhawatirkan perusahaan dan uang saja.”

Fadhil menghela nafas pelan, dia selalu mengingat masa lalunya saat dirinya selalu dititipkan kepada sang pembantu, hal itu membuat dia tumbuh menjadi anak yang nakal karena kekebebasan yang diberikan kedua orangtuanya, untung saja Keyla hadir dalam hidupnya membuat dia sadar dan berubah.

“Sayang, Mamah ngelakuin ini demi pendidikan kamu, kamu harus mempunyai pendidikan yang baik sebagai pewaris, maafkan Mamah jika Mamah salah mendidik kamu.”

Hati Fadhil merasa teriris saat mendengar permintaa maaf sang Mamah, dia merasa tidak sanggup akhirnya memutuskan sambungannya secara sepihak, bagaimana pun dia hanya menginginkan keluarga yang lengkap, dia ingin merasakan makan bersama dengan kedua orangtuanya, mengingat bahwa dia akan menjadi pewaris rasanya dia belum siap untuk itu.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!