Wajah Serupa Takdir Tak Sama

Wajah yang Sama

 

“Aku tidak mencuri…”

Suaraku terdengar lebih lemah dari yang kuharapkan. Tenggorokanku kering, telapak tanganku dingin, sementara puluhan pasang mata menatapku seolah aku memang pelakunya.

“Semua orang di sini melihat kamu yang terakhir keluar dari ruangan itu, Alina.”

Suara itu dingin. Tegas. Menekan. Aku menoleh perlahan.

Wanita itu berdiri dengan punggung tegak, gaun hitamnya jatuh sempurna membalut tubuhnya. Rambut panjangnya tergerai rapi, makeup-nya flawless, dan tatapannya… menusuk.

Dia tidak hanya cantik. Dia… sempurna. Dan entah kenapa, jantungku berdegup aneh saat menatapnya.

“Aku hanya membersihkan ruangan itu, Bu. Saya tidak menyentuh apa pun selain meja dan lantai.”

Tanganku mengepal. Aku berusaha menahan getar dalam suaraku.

Ini bukan pertama kalinya aku dituduh. Tapi ini pertama kalinya… aku merasa benar-benar ingin menangis di tempat.

“Lucu sekali,” wanita itu tersenyum tipis, sinis. “Kalung berlian senilai ratusan juta hilang tepat setelah kamu keluar. Dan kamu berharap kami percaya begitu saja?”

Orang-orang mulai berbisik.

“Sudah biasa, orang kayak gitu…”

“Pantas saja penampilannya…”

“Dari awal juga kelihatan…”

Setiap kata seperti jarum. Menusuk satu per satu.

Aku menunduk, menahan napas. Kalau aku menangis sekarang, mereka akan semakin yakin aku bersalah. Aku tidak boleh terlihat lemah.

“Aku tidak mencuri,” ulangku, lebih pelan, tapi kali ini lebih tegas.

Wanita itu melangkah mendekat.

Sepatu hak tingginya berdetak di lantai marmer, menciptakan gema yang terasa seperti hitungan mundur menuju kehancuranku.

Dia berhenti tepat di depanku. Terlalu dekat. Dan untuk pertama kalinya… aku melihat wajahnya dengan jelas.

Deg. Dunia seakan berhenti.

Mataku membesar tanpa bisa kutahan. Hidung itu. Bibir itu. Garis rahang itu Aku… seperti sedang melihat bayanganku sendiri di cermin.

“Apa?” alisnya sedikit terangkat, melihat reaksiku. “Kamu bahkan tidak bisa menatap saya sekarang?”

Aku mundur satu langkah tanpa sadar. Ini… tidak mungkin.

“Kenapa kamu…?” bisikku tanpa suara.

Wanita itu mengerutkan kening, tidak mengerti. Tentu saja dia tidak mengerti. Bagaimana mungkin dia mengerti… kalau wajah kami… sama?

“Cukup,” suara seorang pria memotong suasana.

Aku menoleh. Seorang pria berjas mahal berjalan masuk, langkahnya tenang tapi penuh wibawa. Tatapannya tajam, dingin, dan entah kenapa membuat ruangan itu terasa lebih sunyi. Semua orang langsung diam.

“Mas Arya,” beberapa orang menyapa pelan.

Dia tidak menjawab. Tatapannya langsung jatuh padaku. Aku refleks menahan napas.

“Apa yang terjadi?”

Wanita di depanku langsung menjawab, “Kalung klien kita hilang. Dan dia,” dagunya menunjuk ke arahku, “adalah orang terakhir yang berada di ruangan.”

Pria itu—Arya—mengamatiku dari atas ke bawah.

Bukan dengan jijik. Tapi dengan sesuatu yang lebih sulit kuterjemahkan. Menilai.

“Menggeledahnya,” ucapnya singkat.

Jantungku jatuh.

“A-apa?” aku menatapnya tidak percaya. “Saya tidak—”

“Kalau kamu tidak bersalah,” potongnya datar, “kamu tidak perlu takut.”

Kata-katanya tajam. Rasional. Tapi tetap saja… menyakitkan.

Dua petugas keamanan mendekat. Tanganku gemetar saat mereka mulai memeriksa tasku. Isinya hanya dompet tipis, ponsel lama, dan sebotol air minum. Kosong.

Tidak ada kalung. Aku mengangkat wajahku dengan harapan kecil yang tersisa.

“Aku bilang… aku tidak mencuri.”

Ruangan itu hening. Untuk satu detik… aku pikir semuanya selesai.

Sampai-“Coba periksa saku bajunya.”

Suara itu. Wanita itu lagi.

Aku menoleh cepat. “Tidak! Saya tidak—” Terlambat.

Salah satu petugas sudah merogoh saku apron lusuhku. Dan saat tangannya keluar… Sesuatu berkilau di antara jari-jarinya. Kalung berlian itu. Dunia runtuh.

“Apa…” napasku tercekat. “Bukan aku… aku tidak tahu itu ada di sana…”

“Cukup!” bentak wanita itu. “Bukti sudah jelas.”

Bisikan kembali memenuhi ruangan. Kali ini lebih keras. Lebih kejam.

“Aku tidak memasukkannya ke sana!” suaraku pecah. “Saya bersumpah!”

Tapi tidak ada yang mendengar. Atau… tidak ada yang mau mendengar. Tatapan mereka sudah berubah. Bukan lagi ragu. Tapi pasti. Pencuri.

Aku menggigit bibirku kuat-kuat sampai terasa asin. Air mata akhirnya jatuh juga. Bukan karena aku lemah.

Tapi karena… aku tidak punya siapa-siapa yang percaya padaku.

“Panggil polisi,” kata wanita itu dingin.

Jantungku berhenti.

Polisi? Tidak… Kalau aku sampai ditangkap, bagaimana dengan Ibu? Siapa yang akan mengurusnya?

“Aku mohon…” aku melangkah maju, hampir jatuh. “Tolong… saya tidak mencuri… saya butuh pekerjaan ini…”

Wanita itu menatapku tanpa ekspresi. Tidak ada belas kasihan. Tidak ada ragu. Seolah aku memang tidak berarti apa-apa.

Dan saat itulah…

Pria itu—Arya—bicara lagi.

“Tidak perlu.”

Semua orang menoleh padanya. Termasuk aku.

“Apa maksudmu?” wanita itu mengernyit.

Arya tetap menatapku. Lama. Seolah mencoba membaca sesuatu yang bahkan aku sendiri tidak mengerti.

“Dia dipecat saja,” ucapnya akhirnya. “Kita tidak butuh masalah lebih besar.”

“Mas Arya—”

“Ini acara penting,” potongnya dingin. “Saya tidak mau ada keributan.”

Wanita itu terdiam, jelas tidak puas. Tapi dia tidak membantah.

Aku berdiri kaku. Dipecat. Begitu saja. Tanpa kesempatan membela diri. Tanpa kebenaran.

“Pergi,” kata wanita itu padaku, suaranya rendah dan penuh jijik. “Sebelum saya berubah pikiran.”

Aku menatapnya. Menatap wajah yang… terlalu mirip denganku.

Dan untuk pertama kalinya, rasa takut di dadaku berubah menjadi sesuatu yang lain.

Sakit. Marah. Bingung.

“Kamu…” suaraku bergetar. “Siapa kamu?”

Wanita itu tersenyum tipis. “Orang yang hidupnya tidak akan pernah bisa kamu sentuh.”

Jawaban itu seperti tamparan. Aku menunduk, menggigit bibirku lagi, lalu berbalik.

Langkahku terasa berat. Setiap tatapan di punggungku seperti mendorongku jatuh lebih dalam.

Saat aku hampir mencapai pintu—“Alya.”

Langkahku terhenti. Itu suara pria tadi. Aku menoleh perlahan. Dia… tidak melihatku. Dia melihat wanita itu.

Alya. Nama itu menggema di kepalaku.

Alya. Aku menatapnya sekali lagi. Wajah itu. Wajahku.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku… aku merasa dunia ini tidak adil dengan cara yang paling kejam.

Karena di saat aku harus berjuang untuk bertahan hidup…

Ada seseorang di luar sana… Yang memiliki wajah yang sama denganku—tapi hidup di dunia yang sama sekali berbeda.

Dan entah kenapa… Aku merasa ini bukan kebetulan.

 

 

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!