Wajah Serupa Takdir Tak Sama

Separuh yang Hilang

Langit sore menggantung kelabu.

Alina duduk di bangku halte tua, jemarinya masih gemetar. Seragam kerjanya kusut, dan noda air mata belum sepenuhnya kering di pipinya.

Di tangannya, ponsel jadul bergetar pelan.

“Ibu…”

Suara di seberang ar lagi, Bu.”

Ia menatap kosong ke jalanan yang ramai. Orang-orang berlalu lalang, sibuk dengan hidup mereka masing-masing. Berbeda dengan dirinya… Yang baru saja kehilangan segalanya.

“Ibu masak sayur bening kesukaanmu,” lanjut suara itu lembut. “Kamu pasti capek ya hari ini…”

Kalimat sederhana itu justru membuat dada Alina sesak. Kalau Ibu tahu… bahwa ia dipecat. Dituduh mencuri. Dihina di depan banyak orang.

“Iya, Bu,” jawabnya pelan, berusaha terdengar biasa. “Alina pulang sekarang.”

Ia menutup telepon sebelum suaranya benar-benar pecah. Angin sore berhembus dingin. Tanpa sadar, ingatannya melayang… jauh ke masa lalu yang sudah lama ia kubur.

---

“Alya! Jangan lari!”

Tawa dua anak kecil menggema di halaman rumah. Dua gadis kecil berlari saling mengejar, wajah mereka identik, rambut mereka dikepang sama rapi.

“Ibu! Lihat Alya curang!” teriak yang satu sambil tertawa.

“Alina yang lambat!” balas yang lain, menjulurkan lidah.

Seorang wanita berdiri di teras, tersenyum hangat melihat mereka.

“Kalian ini, kembar kok berantem terus,” katanya lembut.

Alina kecil berhenti, terengah-engah. “Ibu sayang siapa?”

Wanita itu mendekat, berjongkok di depan mereka. “Sayang dua-duanya.”

“Tapi harus pilih satu!” Alya kecil memaksa.

Wanita itu tertawa kecil… tapi matanya sempat berkabut.

“Kalau suatu hari nanti kalian terpisah…” ucapnya pelan, “ingat satu hal, ya.”

Dua anak itu menatap polos.

“Kalian selalu punya satu sama lain. Tidak peduli sejauh apa pun.”

Alina tersentak. Napasnya memburu. Kenangan itu… tiba-tiba muncul begitu saja. Sudah lama sekali ia tidak mengingatnya. Atau mungkin… ia sengaja melupakan.

“Alya…” bisiknya pelan.

Nama itu terasa asing… tapi juga sangat dekat. Ia memejamkan mata, mencoba mengingat lebih jauh. Namun bayangan itu tiba-tiba pecah, digantikan oleh suara teriakan.

“Bawa Alina! Cepat!”

“Alya ikut saya!”

“Jangan pisahkan mereka!”

Tangisan anak-anak memenuhi ruangan. Tangan kecilnya ditarik paksa.

“Ibuuu!!” teriak Alina kecil, berusaha meraih sesuatu—atau seseorang—yang perlahan menjauh.

“Alyaaa!!”

Tapi tangannya tidak pernah sampai.

---

Alina membuka mata dengan napas tersengal. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Itu… bukan mimpi. Itu ingatan. Ingatan yang selama ini terkunci rapat di kepalanya.

Tangannya gemetar saat menyentuh dadanya sendiri. Kenapa sekarang? Kenapa semua ini muncul lagi… setelah ia melihat wanita itu?

Alya. Wajah yang sama. Nama yang sama. Dan perasaan aneh… yang tidak bisa ia jelaskan. “Tidak mungkin…” gumamnya.

Tapi hatinya menolak. Semua terlalu kebetulan. Atau… memang bukan kebetulan?

---

Di tempat lain… Alya berdiri di depan cermin besar di kamarnya. Lampu kristal di langit-langit memantulkan cahaya lembut ke seluruh ruangan.

Ia menatap bayangannya sendiri. Tapi yang ia lihat… bukan dirinya. Melainkan gadis itu. Gadis dengan seragam lusuh. Dengan mata yang… terlalu mirip dengannya. Alya mengernyit.

“Kenapa wajahnya…” bisiknya pelan.

Ia mengangkat tangan, menyentuh pipinya sendiri. Seolah mencoba memastikan sesuatu. Seumur hidupnya, ia selalu dipuji karena wajahnya yang sempurna. Unik.

Tidak ada yang benar-benar sama. Tapi hari ini… Ia melihat salinannya. Dan itu membuatnya… tidak nyaman.

Pintu diketuk.

“Masuk.”

Seorang wanita paruh baya masuk, membawa nampan teh.

“Nona Alya, Anda belum makan sejak siang.”

Alya tidak menoleh. “Aku tidak lapar.”

Wanita itu ragu sejenak, lalu berkata pelan,

“Nona… tentang gadis tadi…”

Alya akhirnya menoleh. “Ada apa?”

“Dia…” wanita itu menggigit bibir. “Wajahnya…”

Alya menatapnya tajam. “Kamu juga sadar?”

Wanita itu menunduk. “Maaf, Nona. Tapi… saya merasa seperti pernah melihat wajah itu sebelumnya.”

Jantung Alya berdetak lebih cepat. “Apa maksudmu?”

Wanita itu terdiam beberapa detik, seolah menimbang apakah ia harus melanjutkan atau tidak.

“Saya dulu bekerja di rumah lama keluarga Anda… sebelum perceraian itu.”

Alya membeku. Topik itu. Selalu dilarang.

“Lanjutkan,” suaranya lebih dingin.

Wanita itu menelan ludah. “Waktu itu… Anda tidak sendiri, Nona.”

Sunyi. Seolah seluruh dunia berhenti.

Alya menatapnya tanpa berkedip. “Apa maksudmu?”

Wanita itu mengangkat wajahnya perlahan. “Dulu… Anda punya saudara kembar.”

Deg.

Cangkir di tangan Alya jatuh. Pecah berkeping di lantai marmer.

---

Di halte tua itu, Alina masih duduk diam. Sementara di tempat lain, dunia Alya mulai runtuh perlahan. Tanpa mereka sadari… Benang merah masa lalu yang lama terkubur mulai terurai satu per satu.

Dan saat kebenaran itu benar-benar terungkap… Tidak hanya hidup mereka yang akan berubah. Tapi juga—siapa sebenarnya mereka.

 

 

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!