Wajah Serupa Takdir Tak Sama
Meja Perjamuan
“Kamu benar-benar tidak mau berganti pakaian dulu, Al? Setidaknya pakai sedikit bedak agar wajahmu tidak sekusam kertas manifes itu.”
Arya mencengkeram kemudi mobil sedannya dengan erat saat mereka memasuki gerbang besi tempa menjulang tinggi menuju rumah utama keluarga Wijaya. Di luar jendela, lampu-lampu taman berbentuk lampion kristal menerangi deretan pohon palem yang tertata rapi. Kemewahan yang akrab, namun kini terasa asing di mata Alya.
Alya yang duduk di kursi penumpang hanya merapikan ujung kemeja katun putihnya yang sedikit berkerut di bagian perut. “Tidak, Kak Arya. Kalau aku pulang untuk mandi dan memakai gaun sutra, berarti Alya yang duduk di meja makan malam ini bukanlah Alya yang menyelesaikan kasus Angkasa Raya tadi siang.”
“Tapi ini makan malam keluarga besar pertama sejak kamu kembali dari Thailand, Al. Tante Sofia dan sepupu-sepupumu yang hobi pamer itu juga datang. Kamu tahu sendiri mulut mereka seperti apa.”
“Biarkan saja. Mulut mereka tidak menghasilkan dividen untuk Wijaya Corp,” sahut Alya tenang, sambil memandang tas kain kanvasnya yang tergeletak di lantai mobil.
Arya menghentikan mobilnya tepat di depan undakan lobi marmer rumah utama. Seorang pelayan berseragam rapi bergegas membukakan pintu. “Baiklah, Gadis Tangguh. Bersiaplah memasuki medan perang yang sebenarnya. Ini jauh lebih kejam daripada bentakan Bu Ratna.”
Suasana di dalam ruang makan utama sangat megah, nyaris seperti aula hotel bintang lima. Sebuah meja panjang dari kayu ek pelitur gelap dikelilingi oleh kursi-kursi berukir emas. Kilau lampu gantung kristal di langit-langit memantulkan cahaya pada jajaran sendok perak dan piring porselen tipis.
Tante Sofia, dengan gaun brokat merah menyala dan kalung berlian yang berkilau, langsung menghentikan denting garpunya begitu Alya melangkah masuk.
“Astaga, Alya! Kamu baru dirampok di jalan atau bagaimana?” Tante Sofia menutup mulutnya dengan kipas tangan sutra. “Kenapa penampilanmu kusut begitu? Dan bau apa ini? Seperti... bau minyak tanah?”
“Ini bau solar dermaga, Tante,” jawab Alya, mengambil posisi duduk di kursi kosong tepat di sebelah Alina, tanpa melepas tanda pengenal magangnya yang masih menggantung. “Selamat malam, Papa. Selamat malam semuanya.”
Wijaya, yang duduk di kepala meja dengan kemeja batik sutra eksklusif, meletakkan gelas anggurnya. Matanya yang tajam meneliti penampilan putri keduanya dari ujung rambut hingga kemeja katunnya yang polos.
“Kamu langsung dari kantor, Al?” tanya Wijaya, suaranya berat namun tidak ada nada amarah di sana.
“Iya, Pa. Tadi ada penyelesaian draf jaminan korporat dengan Mr. Collins dari Angkasa Raya. Baru beres jam tujuh malam,” jawab Alya sambil menuangkan air putih ke gelasnya sendiri.
“Halah, paling cuma pura-pura sibuk demi cari perhatian Papa,” celetuk Dion, sepupu Alya yang duduk di seberang meja, sambil memotong steak dagingnya dengan angkuh. “Lagipula, anak magang di lantai dasar memangnya tahu apa soal negosiasi internasional? Jangan-jangan cuma jadi tukang fotokopi berkas mereka?”
Alina, yang sejak tadi diam, meletakkan pisau makannya dengan denting yang cukup keras hingga membuat suasana meja makan mendadak hening. “Draf jaminan korporat yang menyelamatkan kontrak senilai dua puluh juta dolar itu seratus persen dirancang oleh Alya, Dion. Kamu sendiri, apa yang sudah kamu hasilkan minggu ini di divisi pemasaran selain tagihan kartu kredit atas nama perusahaan?”
Wajah Dion langsung memerah padam, ia melirik ibunya, Tante Sofia, yang kini ikut bersungut-sungut. “Alina, kamu tidak usah membela adikmu yang mendadak jadi kuli ini. Sofia cuma khawatir nama baik keluarga kita turun kalau kolega Papa melihat Alya dengan baju loak seperti itu.”
“Baju ini bersih, Tante. Dibeli dengan uang hasil keringat saya sendiri, bukan dari komisi proyek yang dipotong di tengah jalan,” timpal Alya dengan senyum manis yang mematikan.
Wijaya berdeham keras, menghentikan perdebatan yang mulai memanas. Pria tua itu menatap Alya lekat-lekat. “Alya, Papa sudah membaca laporan dari Bu Ratna sore tadi. Dia bilang kamu menggunakan metode yang tidak biasa untuk menekan Mr. Collins. Dari mana kamu tahu bank penjamin mereka di Singapura tutup hari ini?”
Alya memotong ayam panggang di piringnya dengan tenang. “Dari pengalaman masa lalu, Pa. Dulu saya sering memaksa Arya mengantar saya belanja ke Orchard Road di tanggal yang sama, dan kami selalu mendapati bank serta beberapa butik besar tutup karena perayaan lokal mereka. Saya hanya menghubungkan titik-titik ingatan itu dengan manifes yang macet.”
Wijaya tertegun sejenak, lalu tawa ringannya pecah—sesuatu yang sangat jarang terjadi di meja makan itu. “Hahaha! Bagus! Ternyata hobi foya-foyamu dulu ada gunanya juga kalau dipadukan dengan otak yang encer.”
“Papa kok malah memujinya?” protes Tante Sofia tidak terima. “Bagaimanapun, sopan santun dalam berpakaian di rumah ini tetap nomor satu!”
“Sopan santun tidak menghasilkan baja untuk proyek pelabuhan kita, Sofia!” potong Wijaya tegas, membuat Tante Sofia langsung bungkam. Wijaya kembali menatap Alya, matanya berbinar bangga. “Bu Ratna itu orang paling pelit pujian di Wijaya Corp. Tapi hari ini dia menelepon Papa hanya untuk bilang kalau kamu adalah aset terbaik yang pernah menginjak lantai dasar divisi komplain.”
“Saya hanya melakukan apa yang perlu dilakukan, Pa,” sahut Alya, nadanya tetap rendah hati. “Di bawah sana, orang-orang tidak peduli saya pakai baju apa atau anak siapa. Mereka hanya peduli apakah saya bisa menyelesaikan masalah mereka atau tidak.”
Makan malam berlanjut dengan suasana yang terasa canggung bagi lini keluarga Tante Sofia, namun sangat hangat bagi Alya dan Alina. Setelah perjamuan selesai, Alya memilih untuk berjalan-jalan di taman samping rumah, menjauh dari kebisingan obrolan tentang perhiasan di ruang tengah.
Angin malam di taman itu berembus lembut, menggoyangkan daun-daun tanaman hias. Alya duduk di bangku taman besi, menikmati ketenangan sejenak.
Langkah kaki yang lambat terdengar di atas jalan setapak kerikil. Wijaya berjalan mendekat, bertumpu pada tongkat peraknya.
“Boleh Papa duduk di sini?” tanya Wijaya, suaranya terdengar seperti seorang ayah biasa, bukan lagi bos besar korporasi.
Alya bergeser, memberi ruang. “Tentu, Pa. Silakan.”
Wijaya duduk perlahan, menatap lurus ke arah kolam ikan koi di depan mereka. “Papa minta maaf soal ucapan Tante Sofia dan Dion tadi di dalam.”
“Tidak apa-apa, Pa. Saya sudah biasa menghadapi yang lebih buruk di meja komplain.”
“Kamu... benar-benar sudah dewasa, Al,” bisik Wijaya, jemarinya yang keriput mengetuk kepala tongkatnya. “Dulu Papa pikir, mengirimmu ke tempat terpencil di Thailand itu adalah kesalahan. Papa pikir kamu akan membenci Papa selamanya.”
Alya menoleh, menatap profil samping wajah ayahnya yang kini tampak semakin menua. “Awalnya saya memang marah, Pa. Saya merasa dibuang. Tapi di sana, di kebun jeruk Kai, di pondok tanpa AC, saya baru sadar kalau selama ini saya hidup dalam kepalsuan. Chiang Mai memberi saya cermin untuk melihat siapa saya sebenarnya.”
“Dan siapa kamu yang sebenarnya?”
“Seseorang yang berharga bukan karena nama Wijaya, tapi karena apa yang bisa saya lakukan dengan kedua tangan saya sendiri.” Alya menunjukkan telapak tangannya yang agak kasar kepada ayahnya.
Wijaya meraih tangan putrinya itu, menggenggamnya dengan erat. Air mata samar terlihat di sudut mata pria tua yang biasanya sekeras batu itu. “Papa bangga padamu, Alya. Sangat bangga. Besok, Papa akan meminta Alina memindahkanmu ke ruang direksi lantai atas. Kamu sudah membuktikan kelayakanmu.”
Alya menggelengkan kepala perlahan, lalu melepaskan genggaman tangan ayahnya dengan lembut. “Jangan sekarang, Pa.”
Wijaya mengernyit. “Kenapa? Kamu tidak mau bekerja di dekat Papa dan Alina?”
“Saya mau, Pa. Tapi belum saatnya. Menara runtuh di divisi komplain masih banyak yang belum beres. Kalau saya naik sekarang, orang-orang di bawah akan berpikir saya hanya menggunakan kasus Angkasa Raya sebagai batu loncatan berkat nama Papa,” jelas Alya dengan tatapan mata yang lurus dan mantap. “Saya ingin naik ke lantai empat puluh dua karena seluruh lantai di bawahnya memang sudah mengakui saya, bukan karena ditarik oleh lift khusus Papa.”
Wijaya terdiam lama sekali, mendengarkan suara gemercik air kolam. Perlahan, senyum tulus mengembang di wajahnya. “Baiklah. Lakukan sesukamu, Anak Keras Kepala. Tapi ingat, jangan telat makan siang. Arya bilang porsi makanmu sekarang sudah seperti kuli.”
Alya tertawa lepas. “Arya itu memang tukang mengadu, Pa!”
Setelah Wijaya kembali ke dalam rumah, Alya mengambil ponsel dari saku kemeja katunnya. Ada sebuah pesan gambar masuk dari nomor internasional milik Kai. Sebuah foto pot anggrek hutan di teras pondok Chiang Mai yang kini kelopaknya telah mekar sempurna, diterangi cahaya bulan subuh yang magis.
Di bawah foto itu, ada sebaris kalimat pendek:
“Dia sudah mekar seutuhnya di sini. Bagaimana dengan anggrek di hutan betonmu?”
Alya tersenyum, jemarinya bergerak cepat di atas layar, mengetik balasan sambil menatap kemeja katun putihnya yang bernoda samar di bawah cahaya lampu taman:
“Anggrek di sini baru saja melewati badai di meja makan malam, Kai. Dan warnanya... ternyata tetap putih bersih, tidak berubah jadi merah brokat. Sampai jumpa di titik nol berikutnya.”
Alya memasukkan kembali ponselnya, menarik napas dalam-dalam menikmati segarnya angin malam. Pertempuran di lantai dasar esok hari sudah menantinya dengan tumpukan map baru, dan dengan kemeja katun ini, ia siap melangkah kembali tanpa rasa takut sedikit pun.