Wajah Serupa Takdir Tak Sama

Kehangatan di Meja Makan

“Al, lepaskan dulu ID card magangmu itu. Kita mau pulang ke rumah Ibu, bukan mau sidak gudang kelapa sawit.”

Alina menarik pelan tali kain yang melingkar di leher Alya begitu mereka berdua masuk ke dalam lift khusus direksi. Bunyi denting lift yang halus mengiringi pergerakan mereka turun menuju basemen. Di dalam kotak logam yang dindingnya berupa cermin bersih itu, pantulan wajah kedua saudari kembar itu tampak sangat mirip, meski gurat lelah di bawah mata mereka tidak bisa disembunyikan.

Alya terkekeh, membiarkan Alina memasukkan kartu plastik itu ke dalam tas kerjanya. “Aku sampai lupa kalau benda ini masih menggantung, Lin. Seminggu ini rasanya napasku baru bisa lepas setelah Hendra resmi memakai rompi oranye tadi sore.”

“Semua berkas pengadaan sudah bersih, Al. Pak Hadi juga bilang sopir-sopir Trans Jawa sudah mulai tersenyum setiap kali lewat gerbang digital.” Alina menyandarkan punggungnya pada dinding lift yang dingin, melipat tangannya di dada. “Konflik di lantai dasar sudah reda. Sekarang, giliran kita memenuhi janji pada satu-satunya wanita yang paling cerewet di dunia.”

“Ibu sudah meneleponmu berapa kali hari ini?”

“Tiga puluh dua kali, Al. Dan semuanya cuma menanyakan hal yang sama: 'Alya suka ayam goreng mentega yang agak manis atau yang gurih?'” Alina meniru suara lembut ibunya dengan nada jenaka.

Alya tersenyum, matanya sedikit berkaca-kaca menatap pantulan mereka di cermin. “Aku merindukan bau dapur Ibu, Lin. Sudah terlalu lama aku hanya mencium bau solar dan kertas manifes.”

Mobil sedan hitam yang dikemudikan oleh Arya membelah jalanan perumahan yang tenang di pinggiran Jakarta. Berbeda dengan rumah utama Papa yang megah seperti istana kaku, rumah Ibu adalah sebuah bangunan bergaya kolonial dengan halaman luas yang dipenuhi pohon mangga dan tanaman melati. Angin malam yang bertiup di sini terasa lebih sejuk, membawa aroma tanah basah setelah siraman air selang sore tadi.

Begitu pintu mobil terbuka, seorang wanita paruh baya dengan rambut yang disanggul asal-asalan dan celemek beroda gambar bunga langsung berlari keluar dari teras.

“Anak-anak gadis Ibu! Astaga, kenapa kalian kurus sekali?” Ibu langsung memeluk Alya dan Alina sekaligus, mengabaikan Arya yang baru saja turun membawa oleh-oleh.

“Ibu, kami tidak kurus, otot kami malah bertambah karena sering angkat map di kantor,” canda Alina dalam dekapan ibunya.

“Ah, kamu ini selalu saja bicara soal kantor, Alina!” Ibu melepaskan pelukannya, lalu menangkup kedua pipi Alya dengan tangan yang masih terasa hangat bekas memegang spatula. “Alya... anakku. Kamu hitam sekali sekarang, Nduk. Tapi matamu... Ibu suka. Matamu sekarang mirip sekali dengan mata Papamu waktu pertama kali merintis usaha dulu.”

Alya memegang tangan ibunya, mencium punggung tangan yang mulai keriput itu dengan khidmat. “Alya sehat, Bu. Lebih sehat daripada waktu di Paris dulu.”

“Ayo masuk, ayo! Makanan sudah dingin semua kalau kalian cuma berdiri di keset!” seru Ibu sambil menarik tangan kedua putri kembarnya masuk ke dalam rumah.

Suasana di dalam ruang makan rumah Ibu sangat hangat. Sebuah meja kayu bundar di tengah ruangan dipenuhi oleh mangkuk-mangkuk ayam jago berisi sup ayam kampung yang mengepulkan uap hangat, ayam goreng mentega yang berkilat, dan sambal terasi segar. Tidak ada sendok perak yang berkilau atau gelas kristal kaku seperti di rumah Papa, hanya ada piring-piring keramik bermotif bunga yang sederhana.

“Arya, ayo duduk! Jangan cuma berdiri di pojok seperti satpam komplek!” panggil Ibu sambil menyendokkan nasi putih hangat ke piring Alya.

“Siap, Tante. Saya memang selalu jadi kru pengangkut yang paling setia,” sahut Arya sambil tertawa, mengambil posisi duduk di sebelah Alina.

Ibu duduk di antara Alya dan Alina, matanya memandang kedua putrinya bergantian dengan binar kebahagiaan yang sangat tulus. “Ibu seperti bermimpi. Dulu, setiap malam Ibu selalu menangis, memikirkan bagaimana nasibmu di Thailand, Al. Ibu takut kamu membenci Alina karena dia yang mendapatkan semua fasilitas di Jakarta.”

Alya meletakkan garpunya, lalu menggenggam jemari Alina di atas meja. “Dulu aku memang bodoh, Bu. Aku mengira Alina merebut segalanya dariku. Tapi setelah aku turun ke lantai dasar, melihat bagaimana Alina mempertahankan menara ini dari atas sendirian... aku baru sadar kalau beban Alina jauh lebih berat daripada beban koper belanjaku dulu.”

Alina menoleh, menatap kembarannya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. “Aku juga minta maaf, Al. Dulu aku terlalu kaku. Aku pikir dengan bersikap dingin, aku bisa melindungi nama besar keluarga. Tapi ternyata, tanpa keberanianmu turun ke lumpur lapangan, menara yang kujaga di atas mungkin sudah roboh dimakan rayap seperti Hendra.”

Ibu menghapus air mata di sudut matanya dengan ujung celemeknya. “Impian Ibu cuma satu, kalian berdua bisa saling menggenggam seperti ini. Terserah siapa yang di lantai atas atau di lantai bawah, yang penting fondasi kalian adalah darah yang sama.”

“Fondasi kami sekarang sangat kuat, Bu,” sahut Arya sambil mengunyah paha ayamnya. “Bahkan Pak Tan dan para komisaris tua di kantor sekarang tidak berani lagi macam-macam kalau melihat dua kembar ini sudah mulai berbisik di ruang rapat.”

Suasana makan malam itu pun pecah oleh tawa mereka berempat. Masalah-masalah besar yang beberapa minggu lalu terasa mencekik leher—mulai dari kasus Mas Haryo, manipulasi vendor, hingga sabotase internal—kini telah terurai satu demi satu seperti benang kusut yang menemukan ujungnya.

Setelah makan malam selesai, Ibu sudah tertidur pulas di sofa ruang tengah karena kelelahan memasak semalaman. Alya dan Alina berjalan keluar menuju beranda samping, duduk berdua di atas kursi ayunan kayu yang menghadap ke arah taman kecil.

Malam semakin larut, suara jangkrik di sela-sela tanaman merambat terdengar bersahut-sahut, menciptakan kedamaian yang tidak pernah mereka temukan di balik dinding kaca gedung pencakar langit.

“Jadi, besok kamu benar-benar akan mulai pindah ke lantai empat puluh dua, Al?” tanya Alina, menyandarkan kepalanya di bahu Alya.

“Iya. Bu Ratna tadi sore sudah memberikan berkas kelulusan magangku dengan tanda tangan tinta emasnya,” jawab Alya sambil tersenyum, memandangi langit malam yang bersih dari asap knalpot. “Tapi aku sudah bilang pada Papa, aku tidak mau kubikel yang tertutup dinding tebal. Aku mau meja kerja yang pintunya selalu terbuka untuk anak-anak lapangan.”

“Baguslah. Jadi kalau aku stres menghadapi dewan komisaris, aku tinggal turun satu lantai untuk meminta keripik pisang dari mejamu.” Alina terkekeh pelan.

Alya merogoh saku celananya saat merasakan getaran pendek dari ponselnya. Sebuah pesan teks dari nomor internasional masuk.

“Kudengar dari Ibu kalau malam ini kedua anggrek kembar sudah duduk di satu meja makan yang sama. Apa sup ayam di sana lebih hangat daripada teh jahe di Chiang Mai? - Kai”

Alya tersenyum simpul, jemarinya bergerak cepat mengetik balasan:

“Sup ayam Ibu tidak tertandingi, Kai. Tapi ketenangan di sini... rasanya persis seperti malam terakhir saat aku menatap bintang di teras pondok bambumu. Semua badai sudah lewat. Terima kasih sudah meminjamkan cerminmu selama ini.”

Hanya butuh beberapa detik sampai balasan terakhir dari Kai muncul di layar:

“Cermin itu sudah jadi milikmu seutuhnya, Alya. Selamat menikmati rumah baru kalian. Jangan lupa kirimkan aku foto anggrek hitam di meja kerjamu yang baru besok pagi.”

Alya menutup ponselnya, lalu menoleh ke arah Alina yang rupanya sudah memejamkan mata, tertidur pulas di bahunya karena ketenangan yang akhirnya datang. Alya menarik napas dalam-dalam, menghirup aroma wangi melati dari taman Ibu. Perjalanan panjang dari pengasingan di Thailand hingga pertarungan berdebu di lantai dasar Wijaya Corp telah membawanya kembali ke tempat yang seharusnya—bukan sebagai penonton yang manja, melainkan sebagai seorang Wijaya yang utuh, yang melangkah dengan kakinya sendiri di atas tanah yang nyata.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!