Wajah Serupa Takdir Tak Sama

Meski Wajah Kalian Identik

Alya tertawa histeris. “Martabat? Dia itu kembaranku, Arya! Darah yang mengalir di tubuhnya sama dengan darahku! Kalau kamu bilang dia punya martabat dan aku tidak, itu artinya kamu sedang menghina dirimu sendiri karena memilihku!”

“Aku tidak memilihmu, Alya. Orang tua kita yang memilihkan. Dan sekarang, setelah aku melihat Alina… aku sadar betapa berbedanya kalian meskipun wajah kalian identik.”

“Jangan pernah sebut namanya lagi!” Alya menunjuk wajah Arya. “Aku akan pastikan toko itu rata dengan tanah. Dan perempuan itu… aku akan mengirimnya kembali ke selokan tempat ibunya menyembunyikannya selama ini.”

Arya mencengkeram pergelangan tangan Alya. Kuat. “Sentuh dia sedikit saja, dan aku pastikan investasi papamu di perusahaanku akan kutarik keluar, meskipun aku harus bangkrut. Aku tidak main-main, Alya.”

Alya tertegun. Ini pertama kalinya Arya mengancamnya demi orang lain. Amarahnya kini berganti menjadi rasa takut yang dingin, yang kemudian mengkristal menjadi rencana yang lebih gelap. Ia menarik tangannya kasar.

“Kita lihat saja, Arya. Kita lihat siapa yang akan bertahan.”

Minggu-minggu berikutnya di *A-Line Boutique & Mart* menjadi periode perang saraf yang melelahkan. Arya datang setiap pagi. Bukan untuk memeriksa laporan keuangan, tapi hanya untuk duduk di meja kecil dekat jendela, memesan kopi yang dibuatkan oleh Alina, dan memperhatikannya bekerja.

Alina memperlakukannya seperti pelanggan biasa. Sangat sopan, namun sangat jauh.

“Totalnya lima belas ribu, Pak Bos,” ucap Alina saat Arya membeli sebungkus roti yang sebenarnya tidak ia butuhkan.

Arya menyerahkan selembar uang seratus ribu. “Simpan kembaliannya.”

“Peraturan toko, kami tidak menerima tip berlebihan dari atasan untuk menghindari gratifikasi internal,” sahut Alina, menghitung uang kembalian dengan presisi dan meletakkannya di atas meja kasir. “Ini tiga puluh lima ribu… dan ini lima puluh ribu. Pas.”

Arya mendesah. “Sampai kapan kamu mau bersikap begini?”

“Sampai kontrak saya habis, Pak.”

“Alina, aku membangun tempat ini untukmu. Aku ingin kamu nyaman.”

Alina berhenti mengelap meja kasir. Ia menatap Arya lurus-lurus. “Pak Arya, Bapak membangun tempat ini untuk ego Bapak sendiri. Bapak merasa bersalah karena tidak bisa melindungiku dari Alya di kantor, lalu Bapak pikir dengan membelikan toko ini, semua selesai? Bapak hanya memindahkan saya dari satu sangkar ke sangkar lain. Bedanya, sangkar ini lebih banyak lampunya.”

“Aku mencintaimu, Alina.”

Kalimat itu meluncur begitu saja. Sederhana, namun beratnya seperti menjatuhkan beban berton-ton ke atas pundak Alina. Mesin kasir di belakangnya seolah berhenti berdengung.

Alina terdiam beberapa detik, lalu ia tertawa kecil. Tawa yang getir. “Bapak mencintai wajah ini, Pak. Wajah yang sama dengan tunangan Bapak. Bedanya, saya lebih mudah Bapak kendalikan karena saya 'miskin' dan 'butuh'. Jangan sebut itu cinta. Itu hanya obsesi seorang pria kaya yang ingin memiliki mainan yang belum bisa ia jinakkan.”

“Itu tidak benar—”

“Benar atau tidak, itu tidak mengubah fakta bahwa Alya adalah tunangan Bapak. Dan dia… kembaran saya.” Alina merendahkan suaranya. “Bapak tahu apa yang paling menyakitkan? Mengetahui bahwa orang yang selama ini memaki saya ternyata adalah saudari saya sendiri. Dan pria yang saya… hargai, ternyata adalah orang yang akan menikahinya.”

Arya terpaku. Ia ingin membantah, tapi setiap kata Alina adalah kebenaran yang telanjang.

Sementara itu, Alya tidak tinggal diam. Di sebuah kafe remang-remang, ia bertemu dengan seseorang dari masa lalu ibunya—seorang detektif swasta yang ia bayar mahal untuk menggali informasi tentang perpisahan orang tuanya.

“Ini datanya, Nona Alya,” pria itu menyodorkan amplop cokelat. “Ibu Anda, Ibu Shinta, pergi membawa salah satu anak kembar karena merasa tidak kuat dengan tekanan keluarga besar Ayah Anda. Dia memilih hidup miskin di pinggiran kota agar tidak ditemukan. Dia bekerja sebagai buruh cuci untuk membesarkan Alina.”

Alya membaca dokumen itu dengan tangan gemetar. Ia melihat foto ibunya yang tampak kusam, jauh berbeda dengan foto-foto sosialita yang biasa ia lihat di rumahnya. Ada rasa iri yang aneh merayap di hatinya. Kenapa ibunya memilih membawa Alina? Kenapa bukan dia? Kenapa dia ditinggalkan bersama ayahnya yang keras dan hanya peduli pada bisnis?

“Jadi, dia pikir dia adalah anak kesayangan?” gumam Alya sinis. “Dia pikir dia menang karena dibesarkan dengan 'kasih sayang' meskipun lapar? Lucu sekali.”

Alya mengambil ponselnya dan menelepon seseorang. “Halo, Papa? Aku ingin bicara soal proyek baru Arya. Aku ingin Papa menarik seluruh dukungan minggu depan. Ya, seluruhnya. Aku punya alasan yang sangat bagus.”

Senyum licik mengembang di wajah Alya. Jika dia tidak bisa memiliki hati Arya sepenuhnya, maka tidak ada orang lain yang boleh memilikinya. Dan jika Alina bangga dengan pekerjaan kasirnya, maka Alya akan memastikan bahwa toko itu akan menjadi tempat penderitaan terakhir bagi kembarannya.

Sore itu, minimarket mendadak ramai oleh beberapa pria berseragam dinas kesehatan dan perizinan. Pak Hadi tampak panik menghadapi mereka di depan.

“Ada apa ini, Pak?” tanya Alina cemas.

“Mereka bilang ada laporan keracunan makanan dari produk yang kita jual. Dan mereka bilang izin mendirikan bangunan toko ini bermasalah karena perluasan kemarin,” ujar Pak Hadi dengan suara bergetar.

Alina melihat ke arah luar. Sebuah mobil mewah yang sangat ia kenal terparkir di seberang jalan. Alya duduk di dalamnya, menurunkan kaca mata hitamnya, dan memberikan senyum kemenangan ke arah Alina.

Alina menarik napas panjang. Ia tahu ini baru permulaan. Ia melihat Arya yang baru saja tiba dan tampak kaget melihat petugas-petugas itu. Arya mencoba bernegosiasi, tapi para petugas itu tampak sangat kaku dan tak mau kompromi.

“Ini sabotase!” teriak Arya frustrasi.

Alina berjalan mendekati Arya. Ia menyentuh lengan pria itu pelan—pertama kalinya ia memulai kontak fisik.

“Pak Arya, biarkan saja,” ucap Alina tenang.

“Tapi mereka akan menyegel tempat ini, Alina! Semua yang aku bangun untukmu…”

“Bapak membangun ini dengan kekuatan uang. Dan Alya menghancurkannya dengan kekuatan yang sama,” Alina menatap Alya di seberang jalan. “Biarkan dia merasa menang hari ini. Tapi katakan pada saya satu hal… jika Bapak kehilangan segalanya, jika Bapak bukan lagi CEO atau pemilik toko ini, apakah Bapak masih akan berdiri di sini, di samping kasir yang 'miskin' ini?”

Arya menatap mata Alina. Di tengah kekacauan petugas yang mulai memasang garis kuning di depan toko, ia menemukan jawaban yang selama ini ia cari.

“Aku lebih baik menjadi kasir di sampingmu daripada menjadi raja di sampingnya, Alina.”

Alina tersenyum. Kali ini senyumnya benar-benar tulus. “Kalau begitu, bersiaplah, Pak. Karena perang yang sesungguhnya bukan soal siapa yang punya toko paling besar, tapi siapa yang paling tahan berdiri di tengah badai.”

Di seberang jalan, Alya mengepalkan tinjunya saat melihat senyum Alina. Ia berharap melihat tangisan, bukan ketenangan. Ia baru saja menyadari satu hal: ia bisa menghancurkan bangunan, tapi ia tidak tahu cara menghancurkan jiwa seseorang yang sudah terbiasa hidup dari nol.

Minimarket itu akhirnya disegel sore itu. Lampu-lampu neon indahnya dipadamkan. Namun, di dalam kegelapan yang remang, dua orang berdiri berdampingan—bukan sebagai bos dan karyawan, melainkan sebagai dua manusia yang siap menghadapi dunia yang mulai runtuh.

Dan jauh di dalam bayang-bayang, sebuah rencana baru mulai tersusun di kepala Alina. Ia bukan lagi gadis yang hanya bisa 'belajar'. Ia adalah wanita yang kini tahu persis bagaimana cara menggunakan kelemahan musuhnya untuk menjadi senjatanya sendiri.

“Pak Hadi,” panggil Alina saat mereka berdiri di trotoar. “Simpan kunci gudang belakang yang tidak diketahui petugas tadi. Kita belum selesai.”

Permainan takdir ini mungkin kejam, tapi Alina baru saja memutuskan untuk menjadi penulis naskahnya sendiri.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!