Wanita Kedua
Bertemu Madu
"Seperti yang kamu lihat, Ra. Tapi aku tidak pernah merasa sebaik sekarang saat melihatmu datang ke sini," jawab Lela lancar meski lirih.
Wanita yang masih terlihat lemah itu berusaha untuk duduk. Tiara dengan sigap membantunya. Tampak diantara keduanya seperti dua orang saudara yang saling menyayangi padahal sebelumnya Tiara sangat membenci Lela.
"Hati-hati, Mbak," ucap Tiara pelan.
Setelah mendapatkan posisi yang nyaman, Lela meraih tangan Tiara lalu menggenggamnya erat. Sorot matanya yang teduh menatap mata Tiara.
"Aku senang sekali kamu datang menemui ku, Ra." Lela kembali menyunggingkan senyum. "Aku ... aku sudah tidak punya banyak waktu di dunia ini. Kuharap kamu bisa memenuhi permintaan terakhirku, Ra."
Mendadak perasaan Tiara menjadi tidak nyaman. Permintaan apa yang akan diajukan oleh madunya ini?
"Katakan, Mbak."
"Jangan pernah tinggalkan Mas Damar. Kamu dan Ara adalah masa depan Mas Damar. Kumohon, tetaplah di sisinya apapun yang terjadi." Butiran kristal tampak meleleh di kedua sudut mata Lela.
Wanita yang memiliki kesabaran luar biasa itu merasakan nyeri yang teramat sangat di hatinya. Namun dia juga tak mau egois dengan memanfaatkan keadaannya untuk menjerat Damar.
"Kamu ngomong apa sih, Mbak? Hidup dan mati seseorang bukan ditentukan oleh dokter. Mbak harus yakin kalau Mbak bisa sembuh."
"Tidak, Ra. Aku sudah capek. Aku merasa hidupku sudah tidak lama lagi. Please, Ra jangan pergi lagi dari hidup Mas Damar, ya? Aku nggak akan mengganggu rumah tangga kalian lagi. Aku ... ingin pulang dengan dada lapang."
Kini giliran Tiara yang tak mampu membendung air matanya. Teringat kembali setiap kalimat yang terlontar dari mulut Mama mertuanya. Betapa menyakitkannya Lela jika harus pergi menghadap Sang Illahi dalam keadaan sendiri. Tidak. Dia masih memiliki keluarga. Ada Ara juga putri kecilnya. Akan sangat egois jika dirinya menerima permintaan wanita yang sempat membuatnya sakit hati itu.
"Mbak, lebih baik fokus pada kesembuhanmu. Jangan pikirkan aku karena aku bisa mengurus diriku sendiri."
Lela menggeleng. "Tidak, Ra. Aku tidak akan pergi dengan tenang kalau kamu belum mengiyakan permintaanku."
Helaan nafas berat terdengar dari mulut Tiara. Sungguh dia baru tahu kalau madunya ini sangat keras kepala.
Mendadak Lela merasakan dadanya sesak hingga membuat nafasnya tersengal-sengal. Rasa sakit kembali menggerogoti tubuhnya yang lemah.
"Mbak? Mbak Lela nggak papa?" tanya Tiara panik.
Sungguh ini pertama kalinya bagi Tiara menyaksikan Lela seperti ini. Dengan gerakan cepat Tiara bangkit dan hendak memanggil dokter, tapi langsung dicegah oleh Lela.
"Ma-u ke-ma-na?" tanya Lela terbata.
"Aku panggil dokter dulu, Mbak. Udah jangan bicara lagi!" Tiara sampai lupa kalau di atas kepala Lela ada tombol darurat yang bisa digunakan untuk memanggil tim medis tanpa harus ke stasiun ners.
Lela menggeleng. Memberi kode pada sang madu untuk tetap di tempatnya. Perlahan wanita yang tampak sangat lemah itu menarik nafas panjang hingga berangsur-angsur dadanya tak lagi sesak.
"Aku mohon, bahagiakan Mas Damar. Satu-satunya keinginanku saat ini adalah melihat Mas Damar bahagia dengan kamu dan putri kecil kalian," ucap Lela setelah kondisinya kembali stabil.
Tiara tak mampu lagi membendung air matanya. Wanita berhijab itu terus menggeleng-gelengkan kepala sebagai tanda tidak setuju. Ia pikir, justru di saat-saat terakhir hidup Lela, Damar harus selalu berada di sampingnya. Dia tak ingin menjadi wanita terjahat dengan menguasai Damar seorang diri sementara Lela sedang di ujung kematian.
Tiara sangat yakin jika dia pergi, Damar akan lebih fokus mengurus Lela dan bisa memberikan kebahagiaan di sisa umurnya.
"Maafkan sikapku selama ini, Mbak. Tolong jangan benci aku," lirih Tiara.
Mendengar permintaan maaf dari Tiara, Lela tersenyum dan kembali menggenggam erat tangannya. Kini hatinya semakin lapang ketika sang madu tak lagi membencinya. Ada ketenangan yang perlahan menyusup dalam hati.
"Justru aku yang seharusnya minta maaf sama kamu, Ra. Gara-gara aku, kamu harus bertengkar sama Mas Damar. Gara-gara aku juga waktu Mas Damar harus terbagi. Setelah ini, aku akan minta Mas Damar untuk fokus sama kamu dan anak kalian."
Lagi-lagi Tiara hanya bisa menggerakkan kepalanya ke kiri dan kanan mendengar ucapan Lela. Sungguh dia tak ingin menjadi egois lagi. Bahkan ucapan mertuanya yang meminta untuk tidak pergi sepertinya akan dia langgar kali ini.
***
"Sayang, kamu dari mana saja?"
Baru saja Tiara turun dari mobil sudah disambut pertanyaan dan raut khawatir dari suaminya.
"Dari rumah Mama," jawab Tiara singkat.
Wanita cantik dengan mata sejernih madu itu berjalan melewati suaminya begitu saja. Mengabaikan kekhawatiran yang tercetak jelas di raut wajahnya.
"Tapi kata Mama kamu sudah pulang dari tadi. Kenapa baru sampai rumah?"
Rupanya Damar masih belum puas dengan jawab sang istri yang terlalu singkat. Tadi, setelah dari rumah sakit, Damar menyadari kalau ponselnya tertinggal di rumah sehingga ia memilih pulang untuk mengambilnya terlebih dahulu. Namun sesampainya di rumah dia tak mendapati istrinya.
Kecemasannya semakin besar ketika melihat pesan dari Lela yang sepertinya sudah dibaca oleh Tiara. Dia takut istri keduanya itu kembali pergi dari rumah. Beruntung Mamanya telepon dan mengatakan kalau Tiara dari sana. Namun setelah dua jam menunggu, wanita yang telah melahirkan malaikat kecil untuknya itu tak kunjung datang.
Tiara menghentikan langkah kakinya lalu berkata, "aku ada keperluan. Lagi pula untuk apa Mas begitu khawatir padaku?"
Terdengar helaan nafas panjang dari mulut Damar.
"Kenapa kamu bicara seperti itu? Tentu saja aku sangat khawatir," jawab Damar sembari melangkah mendekat.
Damar meraih tubuh sang istri lalu mendekapnya dengan sangat erat. "Tolong jangan seperti ini, Sayang. Kembalilah menjadi Tiaraku yang ceria seperti dulu."
Dalam dekapan suaminya, Tiara bergeming. Namun diam-diam ia menghirup aroma suaminya yang ia rindukan. Menyimpannya dalam memori untuk ia kenang. Mungkin setelah ini dia tak lagi bisa seperti ini.
"Semuanya tak lagi sama, Mas." Setelah mengatakan hal itu, Tiara memilih untuk lepas dari dekapan suaminya lalu pergi ke kamar putrinya.
Ada yang kosong di hati Damar saat Tiara lepas dari dekapannya. "Kenapa kamu berubah jadi dingin seperti ini, Sayang," gumam Damar.
Akhir-akhir ini Tiara lebih banyak menghabiskan waktu di kamar putri kecilnya. Dia selalu menghindari Damar ketika pria itu berada di rumah. Namun begitu semua kebutuhan suamiya tetap ia siapkan. Seperti baju kerja, sarapan, maupun lainnya. Hanya saja Tiara akan bergerak cepat memilihkan baju kerja saat suaminya tengah mandi. Lalu semuanya akan siap ketika lelaki itu selesai mandi dan sudah tidak mendapati sang istri di kamarnya lagi.
Seperti pagi ini, Damar memandangi setelan baju kerja yang sudah siap di atas kasur. Lalu kaos kaki, dasi, sepatu dan jam tangan yang juga sudah siap di tempatnya.