Wanita Kedua

Berakhirnya Global Group

Fajar yang baru saja merekah tidak membawa kehangatan; cahaya pucatnya justru menelanjangi sisa-sisa debu kimia yang masih menggantung di udara. Damar berdiri di antara reruntuhan Sektor 9 dan moncong senjata hukum yang baru saja menunjukkan wajah aslinya. Komisaris Yudha, pria yang fotonya sering muncul di kolom pahlawan kepolisian, kini berdiri menyandar pada kap mobil patrolinya dengan santai.

“Kontrak cadangan?” Damar mengulang kata itu, suaranya parau, tenggorokannya terasa seperti baru saja menelan serbuk gaca. Ia tidak melepaskan rangkulannya dari bahu Kiara yang masih bergetar.

Yudha mengetukkan jari-jarinya di atas map hitam. “Ayahmu, Hardian, adalah visioner. Dia tahu bisnis limbah bukan hanya soal membuang racun, tapi soal membangun loyalitas. Aku adalah asuransi yang dia bayar selama dua puluh tahun agar kalian bisa tidur nyenyak di Global Group.”

Damar tertawa pendek, suara yang lebih mirip sedak napas. “Tidur nyenyak? Ibuku dibunuh oleh sistem yang kau lindungi, Yudha.”

“Kematian adalah biaya operasional, Damar. Kamu sudah dewasa, harusnya paham itu,” Yudha melangkah maju, sepatu botnya yang mengkilap kontras dengan tanah berlumpur di bawahnya. “Elena sudah menghapus bukti fisik di Sektor 9. Itu bagus. Sangat bersih. Sekarang, aku hanya butuh kunci akses ke akun 'Offshore 7'. Jika kau menyerahkannya, kasus Hardian ditutup. Kalian bebas membangun kembali kerajaan kalian dari abu ini.”

Kiara tiba-tiba menegakkan punggungnya. Ia menghapus air mata dengan punggung tangan yang kotor oleh jelaga. Matanya yang merah menatap Yudha, bukan dengan ketakutan, melainkan dengan ketajaman yang membuat perwira itu sedikit mengerutkan kening.

“Akun itu tidak ada di tangan kami,” suara Kiara tenang, terlalu tenang.

Yudha tersenyum tipis, jenis senyum yang tidak sampai ke mata. “Nyonya Kiara, jangan bermain-main. Hardian tidak mungkin meninggalkan kalian tanpa modal.”

“Dia meninggalkan kami utang darah, bukan modal,” Kiara melangkah maju, keluar dari pelukan Damar. Ia merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sebuah flashdisk kecil berwarna perak yang ujungnya sudah agak penyok. “Tapi Elena meninggalkan sesuatu di tasku sebelum dia melompat ke bawah tadi. Dia bilang, jika 'anjing penjaga' ayahku datang menggonggong, berikan ini padanya.”

Damar menatap Kiara dengan bingung, namun ia menangkap isyarat di mata istrinya. Sebuah kebohongan yang dibangun di atas keputusasaan.

Yudha mengulurkan tangan, matanya berkilat serakah. “Pilihan yang cerdas.”

“Tunggu,” Damar menahan tangan Kiara. “Jika kami memberikan ini, bagaimana kami tahu kau tidak akan menghabisi kami di sini? Sektor 9 sudah hancur. Tidak akan ada yang tahu jika ada dua mayat lagi di bawah sana.”

Yudha tertawa kecil, suara tawanya memantul di antara pepohonan kering pinggiran kota. “Aku bukan Aris yang emosional. Aku ini birokrat. Membunuh ahli waris Global Group hanya akan mengundang perhatian yang tidak kuinginkan. Berikan itu, dan kita selesai.”

Kiara melemparkan flashdisk itu. Benda kecil itu melayang di udara, berputar di bawah cahaya matahari pagi, sebelum ditangkap dengan sempurna oleh Yudha. Pria itu memeriksanya sejenak, memasukkannya ke dalam saku, lalu memberikan hormat dua jari yang mengejek.

“Selamat memulai hidup baru, Tuan dan Nyonya Hardian. Semoga kalian lebih bijak dari ayah kalian.”

Yudha masuk ke dalam mobilnya. Sirine dinyalakan singkat, seolah merayakan kemenangannya, sebelum mobil itu meluncur pergi meninggalkan debu yang berterbangan.

Begitu mobil itu hilang di tikungan, Damar langsung berbalik menghadap Kiara. “Apa yang kau berikan padanya? Kita tidak punya akses ke akun manapun.”

Kiara merosot, duduk di bemper jip mereka yang penyok. Ia mengeluarkan sebuah benda dari saku lainnya—sebuah flashdisk yang identik, namun yang ini berwarna hitam.

“Yang tadi itu hanya berisi virus enkripsi yang dibuat Reno untuk menjebil sistem keamanan kantor tahun lalu. Begitu dia memasukkannya ke komputer di markas, seluruh datanya akan terkunci dalam hitungan detik,” bisik Kiara. Ia memandang tangannya yang gemetar. “Elena menyelipkannya ke kantongku saat dia memelukku terakhir kali. Dia sudah tahu Yudha akan menunggu kita.”

Damar terdiam. Ia menatap ke arah lubang raksasa di mana Sektor 9 dulu berdiri. Bau belerang masih menyengat, tapi beban di dadanya sedikit terangkat.

“Kita harus pergi dari sini sebelum dia sadar dia ditipu,” kata Damar sambil membantu Kiara berdiri.

Tiga hari kemudian, suasana di kediaman utama keluarga Hardian terasa asing. Tidak ada lagi deretan pelayan yang berdiri kaku, tidak ada lagi aroma cerutu mahal yang biasanya memenuhi ruang kerja Hardian. Rumah itu terasa seperti museum besar yang menyimpan kenangan buruk.

Damar berdiri di balkon, menatap taman yang kini terbengkalai. Di tangannya ada secangkir kopi hitam yang sudah dingin. Suara langkah kaki di belakangnya membuatnya menoleh. Kiara datang membawa map putih berisi dokumen-dokumen hukum.

“Pengacara bilang proses likuidasi Sektor 7 dan 9 sudah dimulai,” Kiara berdiri di sampingnya, menyandarkan siku di pagar balkon. “Hampir separuh aset Global Group akan disita untuk kompensasi lingkungan dan denda pidana. Kita akan kehilangan hampir segalanya, Mas.”

Damar menyesap kopinya, wajahnya tampak lebih rileks daripada yang pernah Kiara lihat selama berbulan-bulan. “Segalanya? Tidak. Kita kehilangan beban.”

“Yudha sedang diperiksa secara internal,” lanjut Kiara. “Virus dari Elena tidak hanya mengunci datanya, tapi mengirimkan seluruh bukti komunikasi ilegalnya dengan ayahmu ke unit provost. Dia tidak akan bisa mengejar kita lagi.”

Damar meletakkan cangkirnya. Ia menarik napas dalam-dalam, menghirup udara yang—meski di tengah kota—terasa jauh lebih bersih daripada udara di Sektor 9.

“Apa kau menyesal?” tanya Damar lembut. “Kita bisa saja hidup mewah selamanya jika kita diam saja.”

Kiara menggeleng. Ia meraih tangan Damar, jemarinya bertaut di antara sela-sela jari suaminya. “Aku lebih suka makan nasi garam dengan tenang daripada makan steak di atas tumpukan mayat. Lagipula, kita masih punya kedai kopi kecil di Bandung milik ibuku, kan? Itu tidak termasuk aset yang disita.”

Damar tersenyum kecil. “Kedai kopi itu kecil sekali, Kiara. Atapnya bocor kalau hujan.”

“Kita bisa memperbaikinya bersama. Tanpa perlu meminta izin pada dewan direksi atau menyuap polisi,” Kiara menyandarkan kepalanya di bahu Damar.

Keheningan yang mengikuti bukan lagi keheningan yang mencekam seperti di jalanan rusak menuju pabrik kimia itu. Ini adalah keheningan yang penuh rencana. Di atas meja di dalam kamar, sebuah foto polaroid tergeletak. Foto Damar dan Kiara yang tersenyum di hari pernikahan mereka, sebelum semua kegilaan ini dimulai.

“Lela... apa menurutmu dia benar-benar tidak selamat?” tanya Kiara lirih.

Damar menatap ufuk barat di mana matahari mulai terbenam. “Elena selalu tahu cara menghilang. Dia adalah hantu yang diciptakan oleh ayahku dan Aris. Mungkin, di bawah reruntuhan itu, hantu itu akhirnya menemukan cara untuk beristirahat. Atau mungkin, dia sedang berada di suatu tempat, menggunakan identitas yang kita tidak akan pernah tahu.”

“Dia bilang aku punya kekuatan,” gumam Kiara. “Aku baru menyadarinya sekarang. Kekuatan untuk memilih kapan harus berhenti.”

Damar mengecup kening Kiara. “Dan kita memilih untuk berhenti sekarang.”

Di kejauhan, lampu-lampu kota mulai menyala satu per satu. Kehidupan terus berjalan, tidak peduli pada kerajaan yang baru saja runtuh atau rahasia yang terkubur dalam-dalam di bawah tanah. Bagi dunia, Sektor 9 hanyalah sebuah kecelakaan industri biasa. Bagi Damar dan Kiara, itu adalah gerbang menuju kebebasan yang harganya terlalu mahal untuk dibayar dua kali.

Mereka masuk ke dalam rumah, meninggalkan balkon yang gelap. Pintu kaca ditutup rapat, membiarkan masa lalu tertinggal di luar, sementara di dalam, lampu ruang tengah menyala terang, menerangi jalan menuju babak baru yang lebih sederhana, namun jauh lebih nyata.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!