Wanita Kedua
Diacuhkan Istri
Dalam kebimbangan, Damar melirik sang istri yang tampak acuh tak acuh. Sesuai perjanjian dengan Lela bahwa dia tak akan menghubungi Damar jika posisi suaminya itu sedang bersama Tiara. Namun telepon ini membuat lelaki itu berada di persimpangan jalan.
Di satu sisi dia ingin meyakinkan Tiara kalau dirinya mampu bersikap adil pada dua istrinya. Namun di sisi lain ada kekhawatiran kalau-kalau terjadi sesuatu pada Lela. Pasalnya wanita itu tidak akan pernah berani menghubungi dirinya jika sedang bersama dengan Tiara.
Cukup lama ponsel Damar menjerit-jerit minta diangkat. Namun pria itu tetap bergeming karena tak ingin kepercayaan Tiara padanya semakin hilang.
"Kenapa nggak diangkat, Mas? Bagaimana kalau istri tercintamu sedang membutuhkan kamu saat ini?" sarkas Tiara.
Sungguh Damar sempat terkesiap dengan cara Tiara bertutur yang mulai berubah. Namun pikirannya ia tepis jauh-jauh karena ia yakin perubahan Tiara karena kecewa. Ya, dia tahu pasti kalau wanita yang mengisi sebagian ruang hatinya ini sedang kecewa padanya sehingga sikapnya pun berubah sebagai bentuk protes atas dirinya.
"Tidak, Dek. Saat ini jadwalku bersamamu." Damar mengulas senyum manis pada Tiara.
Jika dulu Tiara selalu dimabuk cinta atas perlakuan manis sang suami sekarang sebaliknya. Ia merasa sikap manis lelaki itu hanya kamuflase untuk menutupi pengkhianatan yang dilakukan.
"Bagaimana kalau dia kritis?" sinis Tiara.
Wanita itu lalu melenggang meninggalkan suaminya yang masih termangu di tempatnya. Entah mengapa ucapan Tiara barusan membuat lelaki itu bimbang. Akhirnya, setelah Tiara tak terlihat, Damer melangkah keluar lalu mengangkat telepon tersebut.
Di balik tembok, Tiara menutup mulutnya dengan telapak tangan. Sekuat tenaga ia mencoba untuk meredam agar tangisannya tidak terdengar dari luar. Sebenarnya dia hanya ingin mengetes suaminya saja apakah pria itu benar-benar konsisten dengan ucapannya atau tidak. Ternyata setelah dia pergi sama suami justru mengangkat telepon yang katanya tidak akan pernah dianggapnya.
Mirisnya lagi yang bisa melihat dengan jelas raut wajah suaminya terlihat sangat khawatir saat menerima telepon. Dengan tergesa-gesa pria yang sudah menjadi imamnya selama 2 tahun itu berjalan menuju garasi dan menyalakan mobil tanpa berpamitan padanya.
Tubuh Tiara luruh di lantai. Sekuat apapun dia terus bertahan nyatanya hatinya tetap saja sakit melihat kenyataan sang imam tak lagi hanya miliknya. Lelaki yang dulu menawarkan cinta padanya kini justru menorehkan luka yang sangat mendalam di hatinya.
Tiara terbuku di ruang tengah. Jika tadi iya berusaha untuk meredam suaranya agar tidak lolos kini ia melepas semua beban itu dengan menangis meraung-raung seperti orang yang telah kesetanan. Siti yang sedang berada di belakang sampai berlari mendengar serangan Tiara.
"Ya Allah, Nyonya apa yang terjadi? Kenapa bisa sampai seperti ini, Nyonya?" tanya Siti.
Jalan terus meraung menyampaikan pertanyaan dari Siti. Wanita yang selama ini ditugaskan untuk membantu Tiara di rumah ini langsung mendekap tubuh sang majikan agar tenang.
Meski awalnya sedikit memberontak lama-kelamaan Tiara menjadi tenang. Tangisan yang semula terdengar memilukan sudah tersisa isakkan saja.
"Nyonya tenang, Nyonya. Yang sabar ya, Nyonya. Allah pasti punya rencana indah atas hidup Nyonya," ucap Siti mencoba untuk menenangkan majikannya.
Sedikit banyak Siti memang sudah tahu masalah yang menimpa majikannya itu. Sebagai sesama wanita Siti merasa ikut sakit melihat kondisi Tiara yang sangat menyedihkan. Kalau boleh jujur Tak ada satupun wanita yang rela untuk dimadu. Sekuat apapun imannya pasti ada yang namanya cemburu atau tidak rela berbagi suami dengan orang lain. Hanya saja bagi beberapa wanita yang memang mengedepankan akal mereka lebih memilih untuk mengikhlaskan suaminya menikah lagi dengan alasan tertentu.
Sayangnya bagi Tiara tidak ada alasan yang bisa memperkuat dukungan bagi suaminya untuk menikah lagi.
"Apa salahku, Bik? Tolong katakan padaku apa kurang ku selama ini sebagai istri hingga Mas Damar begitu tega untuk berbagi hati dengan wanita lain? Apa aku kurang cantik, Bik? Apa aku kurang baik dalam melayani suamiku selama ini hingga dia tega menduakan aku?" tanya Tiara dengan tatapan kosong.
Air mata Wanita itu sudah tak terbendung lagi seolah-olah stok air matanya begitu melimpah.
Mendengar pertanyaan sama jikan hati Siti seperti disayat-sayat sembilu. Tentu saja dia sangat tahu bahwa Tiara adalah wanita yang sangat lembut santun dan menghargai suaminya. Tak hanya itu Tiara adalah wanita sholehah yang rajin beribadah. Selama menjadi istri Damar tak pernah sekalipun Tiara meninggikan suaranya atau membangkang perintah lelaki yang telah menjadi imamnya itu.
Jadi ketika ditanya kurang baik apa selama ini tentu saja jawab Siti tidak ada yang kurang. Mungkin Damar yang kurang bersyukur sudah memiliki istri yang sempurna seperti Tiara tapi masih berusaha mencari wanita lain di luaran sana. Mirisnya wanita yang dijadikan istrinya adalah wanita penyakit dan yang bahkan untuk mengurus dirinya sendiri saja tidak mampu.
Andai mereka tahu bahwa di sini tiaralah yang telah masuk dalam kehidupan rumah tangga Damar bersama Lela.
***
Damar berlari menyusuri lorong-lorong Rumah Sakit dengan perasaan tak menentu. Kemarin Lela sudah tampak segar saat keluar dari rumah sakit dan mendadak hari ini dia masuk rumah sakit lagi. Pikiran pria itu terus berkecamuk memikirkan kondisi sang istri..
Sesampainya di depan ruang VIP gambar langsung masuk tanpa mengetuk pintu. Pandangannya nanar menatap lele yang terbaring lemah dengan muka pucat.
"Sayang, maafkan Mas karena baru bisa datang kemari," ucap Damar sembari menciumi tangan Lela yang terasa dingin.
Meski terlihat lemah tapi wanita itu masih bisa menyonggengkan senyum termanisnya untuk sang suami. Lela menggeleng lemah ketika lelaki yang sudah menemaninya selama beberapa tahun itu menyalahkan dirinya sendiri.
"Harusnya aku uang minta maaf Mas karena sudah mengganggu waktumu bersama Tiara." Lela menatap sendu suaminya.
"Tidak, sayang kamu membutuhkanku saat ini. Jangan memikirkan apapun biar kamu tidak kembali lagi ke sini," ucap Damar lembut.
Lela menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Selang oksigen yang terhubung di hidungnya memudahkan dia untuk mengambil udara.
"Bagaimana keadaan Tiara, Mas? Apa dia masih marah padamu?"
"Dia hanya butuh waktu untuk merelakan semua ini, Sayang. Percayalah Aku pasti bisa mengatasinya. Yang terpenting saat ini kamu harus fokus pada kesehatanmu saja." Damar mengelus puncak kepala sang istri yang tertutup hijab.
"Aku mau ketemu sama Tiara, Mas," lirih Lela.
Spontan lelaki bertubuh tinggi itu terkesiap mendengar permintaan Lela. Bagaimana dia bisa membujuk Tiara untuk bertemu dengan madunya sementara Ibu dari anaknya itu sedang marah padanya saat ini.
"Ta-tapi Mas nggak bisa janji, Dek. Ka-"
"Aku tahu, Mas. Aku hanya ingin mengatakan sesuatu padanya sebelum waktuku habis. Mas tahu kalau dokter sudah memvonisku tak bisa ber-"
"Sssttt, jangan mendahului takdir Allah, Dek. Kamu harus yakin pasti sembuh." Damar memotong ucapan Lela yang belum selesai.n
"Mas, please ... izinkan aku bertemu dengannya. Kalau dia nggak mau kemari, biarkan aku yang datang menemuinya."
Damar menarik nafas panjang. Berat. Sangat berat ia mengabulkan permintaan sang istri. Ia khawatir nasib rumah tangganya akan semakin memburuk jika menuruti permintaan Lela. Dalam kebimbangannya, Damar memilih untuk terdiam sembari menutup wajahnya dengan telapak tangan.
"Mas? Please ...!"