Wanita Penghibur untuk Suamiku

Kamu!

Duk ... duk ....

 
Dengan tongkat kayu panjang calon mertuanya melangkah tertatih menghampiri Aqila, "Nak 
... kenapa rambutmu?" tanya wanita tua itu dengan bola mata yang membulat.
 
Aqila tidak menggubris, perasaan malu yang ada untuk saat ini. "Bukannya Ibu mengagumi kecantikanku? Lalu sekarang? Apa yang harus Aku lakukan? Jangankan untuk menjawab, menatapnya saja aku malu ...," batin Aqila yang tengah menundukkan kepalanya di antara tumpuan ke dua kaki.
 
"Lalu kau siapa?" tanya Ibu Abdi dengan tatap heran menoleh pada asisten baru Naura.
 
"Aku asisten pribadi nyonya Naura, Eyang." 
 
Wanita tua itu kini meloyor pergi dengan langkah kaki menghampiri pintu kamar Naura dan Abdi. Ibu Abdi berusaha untuk mengintip sebisa mungkin tidak boleh kelihatan, lalu wanita paruh baya itu melempar kepalanya ke arah lain dengan wajah yang sangat terlihat kasar.
 
"Hah! Balikan lagi? Sudah berharap mereka berpisah! Masih saja untuk kembali, dasar wanita rendah." Lalu wanita tua itu menghela napas panjang dan menghentakkan tongkatnya keras.
 
****
 Abdi menatap Naura datar, tatapan yang selalu Naura benci seumur hidupnya. Tatapan itu seolah hilang dengan hilangnya kasus pencarian pelaku utama dari kecelakaan tragis yang menimpa keluarganya.
 
"Jangan pernah menatapku seperti itu ... Mas, Aku benci!" ujar Naura sesekali mengusap kasar air yang membasahi pipinya. 
 
"Sejak kapan kau benci dengan tatapanku, Naura?" ucap Abdi dengan sumringah.
 
'Sejak saat kau memberiku dengan tatapan datar, dan pergi meninggalkanku dengan sekujur tubuh yang terkulai lemah dipenuhi Air mata keperihan.'
 
Ingin rasanya Naura meneriaki pria di hadapannya itu, dengan sekuat tenaga. Namun ia tidak mampu untuk melakukannya sekarang yang lagi-lagi dirinya hanya mengulum senyum manis ke arah suaminya. 
 
"Jangan pernah tinggalkan Mas, Nau ...," ucapannya lirih.
 
Abdi memeluk Naura dengan erat, tetapi kini hati Naura telah dipenuhi dengan amarah yang tidak pernah kunjung terhenti.
 
"Mas, Aku ingin Mas menyuruh Asistenku dan Aqila untuk pergi terlebih dulu dari rumah ini. Aku ingin menenangkan diri dan aku ingin hanya ada kamu tanpa mereka."
 
"Baiklah ... Nau," Abdi dengan cepat bergegas pergi.
 
Ntah apa yang Abdi katakan yang jelas saat ini dirinya mengambil pakaian Aqila dan melemparkannya dari balik pintu. 
 
Naura tersenyum dingin menatap ke arah langkah Abdi yang menghampirinya. 
 
"Mas ... Aku bisa berdiri," ucap Naura beranjak dari tidurnya.
 
Bola mata Abdi terbelalak spontan berhenti di hadapan Naura, dirinya kaku bak kanebo kering. Dengan keringat jagung yang mulai bercucuran. Bukankah saat ini Abdi seharusnya bahagia? Mendapati Naura akhirnya tengah sembuh dari lumpuhnya.
 
Tetapi ... mengapa senyuman itu seakan menandakan kebencian yang amat sangat dalam?
 
Abdi menelan ludahnya kasar, "Nau, Aku senang melihatmu berdiri," ucapannya kaku, kelu dan tergugu.
 
"Mengapa kau gugup, Sayang? Ingin menangis seperti seorang gadis yang kau dan keluargamu tinggalkan saat 5 tahun yang lalu?" Naura mulai mendekati Abdi.
 
"Aku nggak ngerti maksutmu ... Nau, sungguh." Abdi gelagapan menekan suaranya.
 
Kemudian Naura menangis tiba tiba mengarah ke wajah Abdi dengan tatapan iba dan tatapan penuh harapan.
 
"Apa sekarang kau paham?" tanya Naura dengan tersenyum sambil terisak merubah ekspresi wajahnya.
 
Abdi melangkahkan kakinya mundur secara perlahan.
 
"Kau wanita itu?" Abdi dengan tubuh yang mungkin saat ini telah memutih bagai mayat hidup.
 
"Kau ingat?" Naura tertawa dengan keras.
 
Abdi dengan langkah yang cepat mengarah keluar pintu. Tetapi ... segera dicegah oleh Naura. 
 
"Kau mau kemana sayangku? Bukannya kau selalu bilang kita akan selalu bersama." 
 
"Atau mungkin kau ingin merasakan, apa yang keluargaku rasakan saat kejadian di hari itu?" sanggah Naura mendekati wajah Abdi.
 
Abdi terdiam membatu, seandainya Naura tahu. Keluarganya sampai saat ini menaruh perasaan bersalah, apalagi Alm. sang papah yang terus merasakan kesalahan. Sesaat setelah dirinya mendapati berita di koran pagi itu. Papanya selalu mengurung diri tanpa minum, makan, dan akhirnya meninggal. 
 
Apa itu tidak cukup untuk dirinya menebus kesalahan?
 
"Aku mencintaimu, Nau ...," ucap Abdi dengan putus asa.
 
"Keluargaku pun mencintaiku, jauh lebih besar dari kamu, Mas." tatapan Naura semakin memanas.
 
Naura menarik Abdi ke kamar mandi, dengan kencang mendorong dirinya ke arah tembok.
 
Brak! 
 
Abdi terhuyung dengan tatapan samar, Naura yang saat ini menyirami bensin yang telah dirinya persiapkan dari jauh hari. 
 
Blam! 
 
Api dengan cepat menyambar dari penjuru kamar mandi ini, Abdi dan Naura saling bertatapan dari arah yang berlawan.
 
"Aku ikhlas ... Nau, demi dirimu. Maafkan semua kesalahanku. Aku selalu menyayangimu," ucap Abdi tersenyum sembari menjulurkan tangannya ke arah Naura.
 
Naura menangis dengan tatapan yang kembali ke masa 5 tahun lalu, dimana juluran tangan itu ia lihat dari dalam mobil. Meminta bantuan namun dirinya tak kuasa.
 
Dengan kedua tangan yang menampar diri, seolah sedang menyadarkan dirinya sendiri. "Kenapa aku harus sedih? Bukannya ini alasanku bertahan di pernikahan yang luar biasa menyakitkan ini?"
 
Tapi mengapa dengan melihat Abdi yang lemah tidak berdaya, hatinya seakan hancur.
 
"Aku juga mencintaimu ... Mas," jawab Naura 
 
Dirinya kini menerobos api yang berkobar dan memadamkam kobaran api dengan air dari keran shower.
 
"Mengapa kau sangat bodoh? Menyerah begitu saja, tanpa perlawanan," ucap Naura ketus.
 
"Untuk apa? Bukannya ini maumu? Aku mati di tangan istriku sendiri, aku mencintainya. Apa pun kupertaruhkan meski nyawa taruhannya.
 
"Cih omong kosong!" sanggah Naura dengan membopong tubuh Abdi ke kasur.
 
Kemudian Abdi menatap kembali ke arah Naura, "Apa benar kau yang melakukan ini semua?" ucap Abdi dengan suara yang sengaja di lembut lembutkan, agar tidak menyakiti wanita di hadapannya saat ini.
 
"Maksutmu?"
 
"Ya semua ini, dari kaki Ibu dan rambut Aqila. Apa semua ini ada kaitannya dengan balas dendammu?" 
 
Naura hanya mengangguk dengan jawaban anggukkan Naura. Abdi tidak terkejut sama sekali. 
 
"Aku sudah tahu hal ini dari awal, saat kamu melihatkan bagaimana cara berdirimu. Berdirimu sangat mantap. Apa kamu sudah lama sembuh ... Nau?" tanya Abdi.
 
"Itu bukan urusanmu meski pun kau suamiku."
 
"Oke ... lalu Aqila? Kau menggunakan balas dendammu kepada orang yang salah, Nau." 
 
"Aku tidak membalas dendamku pada Aqila. Aku hanya ingin memberinya pelajaran, bahwa semua yang ia miliki saat ini, itu hanyalah titipan." Naura menyebikkan mulutnya.
 
"Kau jahat, Nau." 
 
"Kau membela Aqila?" tanya Naura dengan tatapan yang kembali menjadi amarah.
 
Jantung Abdi seolah berdegup kencang, menghadapi perubahan sikap istrinya yang selalu saja tiba-tiba. Seakan dirinya belum siap untuk menerima sikap dingin ini.
 
"Tidak! Aku hanya ingin memberi tahu dirimu ... Nau, Mas nggak mau kau salah melangkah." 
 
Naura mengrenyitkan dahi mendengar jawaban suaminya, apa dirinya gila atau pura pura tidak tahu? Bahwa yang ingin Aku bantai ini adalah keluarganya.
 
Tetapi mengapa dirinya bilang, jangan sampai aku salah melangkah! 
 
"Ah dasar Abdi-Abdi, nggak aku sangka. Kau bodoh sekali." Naura terkekeh di dalam hati.
 
 

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!