Wanita Penghibur untuk Suamiku
Dia Mengandung Anakku 26
"Maafkan aku, bukannya di surat kontrak kerjamu pun tertulis bahwa kita tidak boleh menggunakan perasaan?" ucap Abdi datar tanpa perasaan.
"Lagi pula, saat ini Naura sedang mengandung anakku. Aku tidak ingin membuat dirinya stres," sanggahnya lagi, sembari merangkul Naura mendekatkan dirinya untuk berdampingan dengan Abdi.
Bram menelan ludahnya kasar, ia sangat yakin janin Naura saat ini adalah benih dari dirinya. Dia mengamati tubuh Naura, lalu berhenti di pusaran perut Naura. Nampak sekali perut itu sedikit membuncit, Bram mengulum senyumnya. Saat ini ingin sekali ia memeluk dan mencium perut itu. Ntah mengapa Bram bahagia dengan kehamilan Naura, itu artinya dirinya sebentar lagi akan menjadi seorang Ayah.
Meski nanti ia akan menjadi Ayah yang mungkin tidak pernah anak itu mengenalinya. Atau mungkin ada yang lebih baik, anak itu mengenali dirinya sebagai teman dari ibunya.
"Jangan pernah memandangi istri orang sebegitu nafsunya, kau hanya mantan dan aku suaminya," bisik Abdi di telinga kanan Bram yang berhasil membuyarkan lamunan Bram.
"Enak aja mantan! Belum ada kata putus tau!" Bram mendengus sebal.
Mendengar kata-kata itu Abdi membulatkan matanya ke arah Bram. Dan merangkul Naura dengan melangkah secara bersamaan ke arah luar.
Bram memutar bola matanya ke arah Aqila, wanita yang lemah sekarat sedang terbaring lemah! Kasihan sekali! Apa lagi tidak ada sanak saudara satu pun yang menjaga dirinya.
Dirinya sendiri, harus menahan sakit nya akibat benturan rahim yang kuat. "Sialan Abdi sudah puas menikmati dirinya, dia dibuang begitu saja." Bram mengamati Aqila penuh prihatin.
Bram melangkah ke arah luar, lalu mengambil ponsel dari sakunya. Mengirim pesan ke Zoya. "Zoy Naura sedang hamil anakku, menurutmu aku harus bagaimana?" pesan itu langsung dikirim ke Zoya.
Tring!
Tak lama terlihat notif balasan pesan dari Zoya. "Kau harus diam saja. Jangan ikut mencampuri urusan rumah tangga mereka," isi balasan pesan Zoya.
Bram menatap layar ponselnya dan menggenggamnya seolah tak puas dengan balasan Zoya. Sebenarnya bukan ini yang ingin Bram lihat balasan dari Zoya, Bram ingin dirinya di dukung untuk mendapati Naura.
Bukankah Zoya pun tidak menyukai dengan keluarga jahanam itu? Lantas mengapa Zoya tidak mendukung kedekatan Bram bersama Naura.
"Hah!" Bram membuang napasnya dengan kasar, sembari menduduki kursi tunggu pasien. Dia menyenderkan kepalanya dan meremas rambutnya pusing.
"Perasaan ini tidak pernah berubah ... Nau, masih sama seperti dulu," ucap Bram pelan.
Bram beranjak dari duduknya, melangkah ke arah ruangan dokter. Namun belum sempat Bram sampai ke ruangan itu, ia melihat Naura sedang berdiri sendiri di sudut Ruangan UGD.
Bram segera menghampiri Naura, ternyata Bram salah. Naura tidak lagi sedang menyendiri, melainkan dirinya hanya menunggu Abdi yang sedang sibuk menenangkan pasien yang tengah membelalakkan matanya histeris.
"Nau," panggil Bram.
Naura menoleh dengan cepat, "Pasien itu siapa, Nau? Apa kerabatmu?" tanya Bram dengan tatapan sendu.
"Itu Adiknya Mas Abdi ... Bram, ia baru saja bebas dari hukuman pasung setelah bertahun-tahun lamanya. Dan sekarang sedang diperiksa karna kami mendapati tubuhnya penuh dengan luka memar. Sepertinya juga ia mengalami pelecehan seksual." Naura menjelaskan sangat detail.
Bram terbelalak mendengar jawaban Naura, "Pasung? Apa masih ada yang melakukan hal sekeji itu dengan dalih hukuman di jaman modern ini? Setahuku sekarang yang melakukan hukuman pasung dengan penganiayaan akan di kenakan pasal, Nau. Karna telah melanggar hukum hak asasi manusia," sahut Bram bangga ataz kepintarannya.
Naura memutar bola matanya dmalas. "Kalau itu juga kami tau ... Bram, makanya si Berlin diajak kesini untuk melakukan visum. Tapi belum aja ditindak, Berlin udah histeris tuh ngeliat para perawat. Karna tubuhnya di pegang-pegang," ujar Naura mendengus.
Tanpa jawaban Bram melangkah mengarah ke Berlin. Dengan sok pahlawannya Bram menghampiri Berlin dan mencoba untuk mengakrabkan dirinya tanpa mencoba menyentuh apa pun dari tubuh Berlin.
"Halo Berlin kenalin nama kakak, Bram. Temen akrab Abangmu nih. Kakak cuma pengen nanya luka itu kenapa ya?" ujar Bram dengan sangat lembut sembari menunjuk ke arah luka di tubuh Berlin, tanpa menyentuhnya.
Berlin mulai menenangkan dirinya sejenak. "I-ini kak Bryan yang mu-mukul kak, ka-kalo aku nggak mau nurut aku disabet pake tali pinggang," ucap Berlin terbata-bata.
"Emang Berlin disuruh ngapain?" tanya Bram menatap mata Berlin lembut.
"Waktu itu kak Bryan ngebuka gembok rantai, terus Berlin diletakkan lalu diikat ketembok. Kaki, tangan aku pun di ikat kak. Dan semua temen kak Bram masuk semua. Ke kamarku Mereka jahat kak," ucap Berlin mengadu dengan datar.
"Terus kak Bryan mengambil anakku," ucap Berlin menangis.
"Anak? Kamu belum punya anak ... Dek?" tanya Abdi yang sedari tangisannya pecah mendengar semua yang keluar dari mulut Berlin atas pengakuannya.
"Aku punya anak ... Bang, aku hamil! Dan kak Bryan ngambil anak Berlin!" ucap Berlin menangis tersedu-sedu meringkuk ketakutan.
Bram beranjak berdiri, menarik Abdi menjauh dari ranjang Berlin. "Di, Adikmu bisa dipastikan sudah mengalami kekerasan seksual dan ini bisa dilaporkan dengan pasal yang berlapis. Menurutku kasus ini sangat berat! Mending sekarang kamu melapor ke pihak kepolisian, aku beri surat perintah dari rumah sakit ya. Sekarang, Di! Karna aku takut mereka kabur!" ucap Bram tegas.
"Terimakasih ... Bram!" ujar Abdi sembari menepuk pundak Bram kuat. "Aku turut berduka atas keadaan adikmu." Bram tersenyum ke arah Abdi lalu melangkah cepat kearah luar.
Bram memutar kepalanya menoleh ke arah Naura, melempar senyuman dan kedipan mata yang manis dan Naura malah membalasnya dengan tangan yang di kibas kibaskan ke arah Bram.
Bram menemui Berlin dan mengajak seluruh perawat untuk tidak lagi mencoba berbicara dengannya, apa lagi dengan lancang menyentuh tubuhnya.
"Kak Bram tinggal dulu sebentar ya. Berlin istrahat dulu disini," ucap Bram dengan menarik seluruh gorden yang kini menutupi seluruh sisi ranjang Berlin.
Dengan terburu-buru Bram menggunakan kesempatan ini untuk mengobrol berdua pada Naura, "Nau ... aku ingin bertanya sekali lagi. Di dalam perut ini, anakku kan?" tanya Bram yang sangat lancang mengelus perut Naura.
Naura dengan cepat melepaskan tangan Bram dari perutnya. "Bram aku mohon, jangan pernah lagi mengatakan itu. Kamu cinta aku kan? Naura cuma pengen hidup damai Bram. Itu aja," lirih Naura.
"Lalu bagaimana dengan perasaanku ... Nau? Perasaan yang nggak akan pernah hilang sampai kapan pun! Aku nggak pernah berbuat salah sedikit pun, Nau. Aku cinta kamu dan itu anakku! Terus apa lagi yang mau kamu pertahankan dari Abdi. Sedangkan katanya kamu dendam kan, Nau?" ucap Bram dengan rentetan pertanyaan.
Naura dengan perlahan menunduk pilu, air matanya mengalir dari pelupuk mata yang indah itu. Bram benar, dirinya tidak pernah salah. Nauralah yang tiba-tiba meninggalkan dirinya tanpa alasan apa pun.
Dan bertemu di saat Naura sudah menjadi seorang istri.
Itu pasti sangat menyakitkan bagi Bram.
"Terima Kasih, Bram. Sudah mencintaiku sedalam ini ...."