Bram mendongakkan wajah Naura. "Jangan nangis," ucap Bram sembari menarik lengan Naura mengarah ke ruang pribadinya.
Bram melangkah dengan cepat dan mempersilahkan Naura masuk sembari mengunci pintu ruangannya.
Bram mendudukkan Naura di ranjang pasien dan dirinya berjongkok di hadapan kaki Naura. "Aku mohon ... Nau, berterus teranglah padaku yang di kandungmu itu anakku kan?" tanya Bram dengan tatapan nanar.
Dengan perasaan yang tidak menentu, akhirnya berat hati Naura memberi tahu Bram. Naura membangunkan tubuh Bram, "Ini memang anakmu, Bram ...," ucap Naura perasaannya menahan hati yang berat untuk mengatakan yang sebenarnya.
Bram langsung menatap wajah Naura dari dekat. "Berarti aku akan menjadi Ayah kan? Aku menjadi Ayah dari anak yang di kandung olehmu kan, Nau?" ujar Bram dengan suaranya yang menggebu.
Sekilas Naura menghelakkan tatapan Bram yang begitu berharap, bahkan Naura tidak berani membalas tatapan itu. Tetapi dengan tiba-tiba ke dua tangan Bram memegang wajah Naura, Bram menyatukan bibirnya dan bibir Naura secara konstan. Lalu Ia memeluk Naura erat seakan tidak ingin melepaskan tubuh Naura sedetik pun.
Naura memberontak, "Sadar Bram! Naura ini udah bukan lagi milikmu, Aku udah punya suami Bram!" bentak Naura seraya ingin lepas dari rangkulan Bram
"Aku rela menjadi selingkuhanmu ... Nau, Aku rela menjadi apa pun itu. Asal Kamu tetap menjadi milikku. Aku sangat mencintaimu, Nau! Aku mohon," ujar Bram dengan bisikan panas di telinga kanan Naura.
Naura hanya bergeming tidak mampu lagi berkata apa pun, mau bagaimana pun semua ini Naura lah yang melakukan kesalahan besar.
Bram menyusuri bibir itu dan membelainya penuh dengan rasa cinta. Mungkin dengan cara inilah Bram mengobati rasa sakitnya, rasa sakit saat mengetahui Naura bukan lagi menjadi miliknya.
Bram ingin Naura seutuhnya ...
Menjadi permaisuri hatinya sampai kapan pun.
Bram membelai Naura dengan sangat buas, menyusuri setiap bagian sensitif wanita. saat ini Naura diperlakukan selayaknya mereka adalah sepasang suami istri.
Naura merintih dan rintihan itu membuat Bram sangat puas, itu artinya Naura menikmati semua ini.
Drrrtttt ... Drrrttt.
Dengan berusaha keras Naura menggapai ponsel di saku celananya yang tengah berada di samping Naura, Naura menatap layar ponselnya.
My Love Super, nama yang tertera di ponsel Naura.
"H-halo Mas," ucap Naura terbata-bata.
"Dirimu dimana, Nau? Mas cari ke taman, ke depan, ke kantin juga nggak ada. Mas udah di ruang UGD nih! Cepat kemari."
Tidak menunggu aba-aba dari Abdi, Naura segera mematikan ponselnya, mendorong tubuh Bram yang berat dan bergegas merapihkan dirinya semaksimal mungkin. Agar Abdi tidak memikirkan apa pun tentang Naura.
"Maaf ... Bram, Aku tidak ingin Abdi mengetahui tentang ini." Naura melangkah kencang meninggalkan ruangan Bram.
Setengah berlari ia mengarah ke ruangan UGD, Naura sangat takut membuat suaminya kecewa. Apa lagi saat Abdi tahu bahwa Naura telah berselingkuh. Naura sangat bergidik membayangkan itu.
Dengan napas yang tidak beraturan Naura menghampiri Abdi. "Hah ... hah!" Naura mulai mengatur napasnya kembali.
"Kau berlari ... Nau, jangan pernah lakukan itu lagi! Pikirkan janinmu. Nanti kamu bisa tersungkur tau!" ujar Abdi dengan bentakan kecil.
"Terus ... tadi kamu dari mana?" tanya Abdi kembali.
"Aku dari toilet, Mas ...," ujar Naura sembari menundukkan wajahnya secara perlahan.
"Syukurlah, padahal Mas sudah buru-buru. Khawatir jika dirimu digoda dengan dokter yang sok kegantengan itu! Liat tuh rambutmu nyampek berantakan gini, lain kali jalannya pelan-pelan aja ya," sanggah Abdi sembari merapihkan rambut Naura.
Sebenarnya jauh dari hati yang paling dalam, penyesalan dan rasa bersalah Naura sangat kuat, telah menghianati suami tercintanya ini.
Tetapi harus bagaimana lagi? Perasaan itu telah datang kembali, saat diri Naura sedang dalam keadaan terpuruk. Di saat dirinya tidak berharga oleh siapa pun! Di saat Abdi mengabaikannya demi bisa bersetubuh bersama wanita penghibur itu.
Lantas sekarang dirinya harus apa? Harus berlari dari kenyataan pun tetap akan terkejar oleh Bram.
Naura mengangkat kepalanya, mengamati wajah pria di hadapannya ini dengan tatapan nanar. "Mengapa rumah tangga kita tidak seperti yang lainnya Mas, aku ingin hidup bersamamu dengan damai. Maafkan aku, Mas."
Air mata itu mengalir dengan tidak tertahan menatap Abdi, kata-kata itu ingin sekali ia ucapkan untuk suaminya. Namun apalah daya, lidah ini kelu seperti mendadak kehilangan fungsinya.
Abdi mengusap air mata yang menetes dari pelupuk mata istrinya, pria tampan dengan setelan jas berwarna lavender ini, tidak segan-segan mencium kening istrinya di depan seluruh tenaga kesehatan yang sedang berjaga di ruangan UGD.
Dengan cepat Naura memegang keningnya dan menoleh ke sekitar mencari tahu bahwa adegan tadi terlihat dengan orang ramai atau tidak.
Dan benar saja seluruh mata di ruangan saat ini sedang mempertontonkan mereka, "Aku malunya bukan main, Mas!" ucap Naura sambil melangkah cepat keranjang Berlin.
Kini dengan bergantian, Abdi mengamati ke sekitar ruangan. Tatapan aneh yang mereka lemparkan. Ntah tatapan itu menggambarkan bagaimana dirinya yang jelas tatapan itu sangat aneh dan Abdi hanya bisa membalas mereka dengan senyuman yang sangat manis, sembari melangkah cepat mengekori Naura ke arah yang sama.
Sebenarnya Abdi sangat malas untuk menemui adiknya untuk saat ini, dirinya bukanlah orang sabar seperti Naura yang bisa bertahan untuk orang-orang yang menyakiti keluarganya.
Setiap kali ia melihat Berlin terbujur lemah tidak berdaya, seketika itu juga hatinya sangat hancur! Apa lagi mengingat kembali semua pengakuan Berlin, menceritakan sepenggal kenyataan yang mampu menghancurkan dirinya dengan mudah.
Setiap bait cerita yang diceritakan oleh Berlin, hatinya seolah ikut semakin menambah kebencian dan dendam. Abdi tidak mampu menggambarkan bagaimana keadaan dirinya, saat Berlin mengatakan seluruh isi kenyataan kronologinya dari awal sampai akhir nanti. Kemungkinan terbesar adalah, dirinya mampu untuk membunuh mereka secara berantai!
"Mas, mikirin apa?" tanya Naura sembari menepuk bahu suaminya itu dengan pelan.
"Berpikir yang dulu pernah kamu pikirkan, Nau. Sekarang mas tau di posisimu dulu!" sahut Abdi dengan pandangan datar, mengarah ke wajah Berlin yang tengah terlelap dalam tidurnya.
"Aku tau ... Mas, mungkin saat ini mas ingin melakukan hal yang sama ke mereka kan? Atau malah mas ingin sekali melenyapkan mereka dari muka bumi ini. Tapi mas harus tahu, semua sebab pasti akan ada akibatnya," imbuh Naura, mencoba mendinginkan hati Abdi yang sedang panas membara.
Mendengar perkataan itu, Abdi langsung menoleh ke arah Naura. Dengan perasaan sensitif Abdi menyimpulkan bahwa perkataan istrinya barusan adalah semua keadaan yang terjadi saat ini, semuanya dikarenakan akibat dari masa lalu keluarga mereka.
"Kau senang melihat keluargaku menderita? Kau masih dendam, Nau?" tanya Abdi dengan bentakan.
Naura yang merasa sudah melakukan tugasnya sebagai istri dengan benar, hanya menatap heran suaminya dan berfikir apa ada yang salah dengan perkataannya barusan?