"Hah gimana?" Naura mengerjapkan matanya. Seolah menyadarkan dirinya atas apa yang sedang terjadi.
"Iya ... Kamu masih dendam kan dengan keluarganya, Mas?" Abdi mengetukkan jemarinya ke ranjang, ia benar-benar sangat merasakan amarah sekarang.
Naura masih mengerjapkan matanya dan tiba-tiba tersadar atas ucapannya yang mengatakan sebab dan akibat. Oke sekarang ia mengerti bahwa suaminya telah salah menanggapi perkataannya itu.
"Mas maksutku bukan begitu yang Naura maksutkan adalah saat mereka melakukan kejahatan saat ini. Pasti lambat laun mereka pasti akan merasakan hal yang sama," gumam Naura pelan.
Abdi memicingkan matanya, mencoba mencerna apa yang baru saja Naura katakan.
"Mas ... sudahlah, jangan merusak moment ini. Dengan kesalah pahamanmu," ujar Naura dengan sangat lembut.
Abdi mengangguk cepat sembari mencium pipi istrinya, "Maafkan mas ... Nau, mas terlalu pusing atas apa yang terjadi saat ini," lirih Abdi sembari menyenderkan kepalanya di bahu Naura.
"Kamu tau ... Nau, dulu ada banyak harapan dan tingginya cita-cita Bunda untuk kami anaknya. Bahkan, bukan hanya untuk anak-anaknya saja ia berdoa. Tetapi juga untuk seluruh keluarga kecil kami, Bunda selalu berdoa agar kami selalu berkumpul sampai tua nanti," imbuh Abdi dengan pandangan yang kosong mengarah ke Adiknya.
Air mata itu kini lolos dari pelupuk matanya yang sejak dari tadi Abdi pendam. "Hidupku sekarang harus bagaimana ya, Nau?" tanya Abdi dengan keputus asaannya.
"Ya nggak gimana-gimana lah ... Mas, hidupmu akan terus berjalan. Kamu masih mempunyai Adik. Masih punya Bunda. Sedangkan Aku?" celetuk Naura keceplosan. Ia segera menutup mulutnya dengan ke dua tangan.
"Maafkan Aku ... M as," sanggah Naura lagi.
"Kamu benar, Nau. Mas mewakili keluarga besar mas, sangat-sangat meminta maaf ya," ucap Abdi pelan.
Sebenarnya hanya itu lah yang bisa Naura lakukan, mau bagaimana lagi? Dirinya pun saat ini masih dalam keputus asaan yang ada saat ini adalah dirinya tetap berjalan dengan seiring waktu dan mencoba memaafkan atas apa yang terjadi dulu.
Yah meskipun itu sulit! Tetapi bukankah lebih baik memaafkan? Setelah tahu pelaku dari semuanya, lebih menderita dibanding dirinya.
Jangan bertanya tentang perasaannya saat ini, setelah dirinya tahu yang sebenarnya menimpa keluarga Abdi. Ia tidak sama sekali merasakan rasa bahagia, menyaksikan kerabat pelaku pembunuhan keluarganya. Harus merasakan penderitaan yang amat sangat menyakitkan.
Tetapi ... bukan Abdi pernah mengatakan, jika yang menghamburkan seluruh uang bayaran itu adalah Ibu tirinya yang selama ini Naura kenal sebagai Ibu kandung dari Abdi.
Apa harus ia melakukan pembalasan dendam itu terhadap Ibu mertuanya? Menurut Naura jika pembalasan dendam itu terjadi, pembalasan itu akan bersifat Double Kill! Ia akan membalaskan dendam keluarganya, sekaligus dendam adik iparnya juga.
Dendam yang sangat jenius!
Jika sebelumnya Naura memaku telapak kaki Ibu mertuanya, lantas apa rencananya saat ini untuk melakukan dendam yang di beri nama 'Dendam Double Kill' itu?
Naura memutarkan bola matanya ke atas, seperti sedang berfikir dengan sangat keras. Di tengah sibuknya Naura berfikir, Abdi mengajak Naura menemui Bram. Untuk menukar fikiran agar sebaiknya harus melakukan apa demi kesembuhan mental Berlin.
"Yuk ... Nau," Abdi menarik jemari Naura, keluar dari balik gorden yang sudah menutupi rasa malu mereka.
Sebelum mereka melangkah untuk keluar, Naura dengan pelan membuka gorden itu sedikit. Untuk mengintip dan memastikan perawat di ruangan itu masih memperhatikan mereka atau tidak.
"Udah loh ... Nau, mereka juga nggak akan merhatiin segitunya. Kita ini bukan pasangan selebritis! Yang harus mereka perhatikan setiap detik!" ucap Abdi mendengus sebal melihat tingkah laku istrinya yang kaku, akibat kejadian tadi.
Padahal kan seharusnya Naura senang dan bangga, seperti anak SMP yang sedang dapat pernyataan cinta dari temannya, di lapangan sekolah dan diakhiri dengan gemuruh tepuk tangan oleh seluruh rakyat penduduk anak alay seperti mereka.
Abdi menarik paksa Naura keluar dan jalan bergandengan tangan, layaknya anak SMP alay yang tadi baru saja ia fikirkan.
Dengan gaya yang sok romantis Abdi menggandeng lengan Naura, melewati segerombolan para perawat yang sedang bertugas. Sontak hal itu membuat mereka kembali menjadi sorotan lagi.
Naura yang menyadari mereka kembali menjadi sorotan, hanya menutup malu wajahnya dengan rambut yang sengaja ia ke sampingkan.
"Kenapa sih sayang, rambutnya jangan diginiin! Ntar cantiknya nggak keliatan," ujar Abdi dengan suara yang sengaja di keras-keraskan sembari membetulkan rambut Naura.
"Plis lah ... Mas, jangan seperti anak kecil. Aku tau mas pasti sengaja begini kan?" sahut Naura mengucapkan sangat pelan.
"Apa sayang? Panas? sini mas tiupin," sanggah Abdi lagi. Kali ini dengan hembusan napas mas Abdi yang sengaja ia tiupkan ke arah wajah Naura.
Saat ini Naura ingin pinsan dan merangkak dengan kencang, ke arah pintu keluar ruangan UGD.
Ntah mengapa saat ini pintu keluar itu seolah jauh sekali rasanya, ada perasaan ingin berlari dan dengan cepat mencapai pintu keluar ruangan ini dengan kemenangan seolah baru saja mendapat lomba 17 Agustus.
Semua pandangan yang dilempar dari seluruh para perawat jaga itu, menambah keminderan Naura untuk berjalan melewati mereka satu persatu.
"Mas ayok cepet!" bisik Naura
"Jangan melangkah begitu cepat ... Nau, ntar mereka ngira kita ini sedang sangat malu karena tatapan mereka," sahut Abdi.
"Terserah dirimu lah ... Mas," jawab Naura dengan malas.
Dan sekarang mereka telah keluar dari ruangan UGD. Naura menghembuskan napasnya kasar. "Hahhh ... akhirnya keluar juga," ucap Naura tersengal-sengal, sembari menahan dadanya yang sedari tadi berdetak tidak beraturan.
Abdi hanya terkekeh melihat istrinya yang panik, seperti sedang digrebek dengan orang satu kampung karena telah berbuat mesum.
Naura yang sadar dirinya ditertawakan, hanya bisa melemparkan kode kotor jari tenga di hadapan Abdi. Kemudian ia melangkah cepat melewati jendela kaca ruangan ICU, Naura mengintip dengan rasa iba. Ia menatap Aqila dari kejauhan.
Dengan tubuh yang tidak menandakan kehidupan sedikitpun. Tubuhnya dipenuhi oleh kabel-kabel yang Naura pun tidak tahu itu apa.
Tiba-tiba Naura menghembus napas panas ke arah kaca, menggambarkan lambang love disertai dengan kata-kata bijak di kaca itu.
"Cepat sembuh calon maduku" tulis Naura di akhiri dengan lambang love.
Abdi yang berjalan menghampiri Naura, dengan cepat menghapus kata-kata itu. Naura menoleh ke arah Abdi. "Kenapa di hapus, Mas?" tanya Naura.
"Tidak akan pernah ada yang namanya madu lagi, Nau," bentak Abdi dengan jelas.
"Hah! Terus kamu nggak mau nikahin Aqila, Mas? Meski saat ini Aqila sedang mengandung anakmu? Bukannya dulu mas sangat ingin menikahi Aqila?" rentetan pertanyaan Naura ajukan ke suaminya
"Sebenarnya dulu mas hanya terpaksa saja ingin menikahinya. Itu pun karna godaan dari ibu dan soal kehamilannya, itu sudah menjadi resiko pekerjaannya, Nau. Jangan pernah memikirkan hal bodoh itu," jawab Abdi dengan sangat tegas.