"Yuk ahh ...," Abdi menarik lengan Naura dengan kencang.
Sesampainya di depan ruangan Bram, Abdi mengetuk pintu itu kuat.
Cklek!
Pintu itu terbuka dan disusul Bram keluar dari balik pintu. "Bisa pelan nggak? Disini aku dokter! Bukan maling tau!" Bram mendengus kesal.
Tetapi, lagi-lagi kekesalannya terpadamkan, saat melihat wanita yang sangat ia cintai itu berada tepat di belakang pria yang sangat malas Bram menyebutkan namanya.
"Harus berapa kali lagi Aku bilang Bram, jangan pernah menatap istri orang seperti itu! Tatapanmu itu mesum!" celetuk Abdi kesal.
"Mataku selalu tau di mana kekasih tercantikku berada," sahut Abdi memasang wajah datar.
Abdi mulai menarik napas dan menghembuskannya dengan kasar, ia tahu saat ini dirinya masih sangat membutuhkan bantuan Bram. Jika tidak ... ingin rasanya saat ini Abdi merusak wajahnya dengan pukulan demi pukulan yang Abdi layangkan. Ia benci sekali wajah itu! Wajah yang selalu memasang tampang sok tampan di depan istrinya.
"Oke Bram terserahlah, aku hanya ingin berkonsultasi tentang Berlin. Boleh aku masuk?" lirih Abdi dengan nada bicara yang telah berusaha sekuat mungkin ia rendahkan.
Bram menyunggingkan senyum dan mempersilahkan mereka masuk ke dalam ruangannya.
Abdi masih tetap menggenggam jemari Naura, seolah tidak ingin melepaskan jemari itu sedikit pun.
Dengan malas Bram mempersilakan mereka duduk dan saat ini posisi mereka sudah dalam berhadap-hadapan.
"Oke ... aku tutup point saja ya, Bram menurutmu bagaimana yang harus aku lakukan demi kesembuhan Berlin."
"Tidak ada!" jawab Bram dengan singkat.
"Nggak ada gimana sih? Kami itu mau si Berlin sembuh!" ujar Abdi menatap Bram dengan raut wajah bingung dan lumayan saat ini emosinya sudah mulai sedikit naik.
"Ya emang nggak ada, Berlin nggak membutuhkan apa pun dari kamu. Yang ia butuhkan hanyalah menenangkan diri sendiri. Mencoba untuk mengenal kembali hidup dan akulah yang akan menemani Berlin full saat dalam masa penyembuhan," jelas Bram.
Abdi mengrenyitkan dahinya seolah tidak puas atas jawaban Bram saat ini. "Tidak perlu dokter khusus? Untuk pemulihan mentalnya?" tanya Abdi tegas.
"Perlu dong, itu tugasku nanti menghubungi dokter yang lebih kompeten. Kau percaya padaku kan?" tanya Bram menaikkan alis sebelahnya sambil mencondongkan tubuhnya ke atas meja.
"Oke aku percaya," jawab Abdi malas. Sebenarnya ia malas sekali berurusan dengan pria di hadapannya ini.
Abdi berpamitan untuk segera keluar, tidak sanggup lagi berlama-lama menghadapi pria angkuh itu. Jelas sekali di wajah Abdi selalu memandang Bram penuh dengan kebencian.
Namun, Bram menyikapi semua itu hanya untuk bermain-main saja. Tidak pernah menanggapinya dengan serius. Bram hanya senang jika Abdi terus menerus mencemburukan dirinya, itu artinya Abdi akan terus menjaga Naura tanpa ada Bram di sisi Naura.
Bram menyenderkan kepalanya ke kursi dengan kedua tangan yang mengusap wajahnya. Bram bimbang atas perasaanya sendiri, ia harus apa sekarang? Harus pasrah dengan keadaan? Atau malah dengan lancang merebut Naura kembali.
"Naura ...."
"Apa sekarang perasaan itu masih ada seperti dulu?
Atau malah perasaan itu telah hilang seutuhnya. Bukankah dulu kita berjanji akan hidup semati? Bersama selalu, sampai maut memisahkan. Lantas sekarang? Mengapa diri itu susah sekali Aku gapai."
"Tuhan mempersatukan kita di saat waktu dan keadaan yang sangat tepat. Tapi ntah mengapa saat ini Tuhan mempertemukan kita kembali pada saat yang tidak pernah terbayangkan."
Jika harus memilih, ia lebih baik memilih untuk tidak bertemu sama sekali pada kekasih masa lalunya itu.
Bram beranjak dari duduk, mematikan lampu ruangan dan mengambil jas dinasnya untuk segera pulang, ia melangkah dengan wajah yang sangat kusut berjalan menyusuri koridor yang sepi seperti hatinya tanpa Naura.
***
"Berlin udah bangun?" tanya Naura dengan sangat pelan.
"Aku kangen bunda, Mbak ...," jawab Berlin sembari menatap Naura nanar.
"Mbak pun belum pernah ketemu dengan Bunda ... Dek, mbak kira mertua mbak ya Ibu tiri kalian," sahut Naura sembari mengelus rambut Berlin dengan lembut.
"Jangan pernah sebut dirinya lagi mbak, dirinya sangat tidak pantas disebut Ibu!" bentak Berlin.
Sontak bentakan itu membuat Naura kaget. Melihat kakak ipar tercintanya terkejut, Berlin langsung meminta maaf. Dan menjelaskan perihal yang terjadi sebenarnya.
Berlin mengatakan, jika bunda sebernarnya tidak pernah sekalipun mengalami gangguan kejiwaan. Itu hanya akal-akalan Ibu saja, agar bunda bisa didepak dari rumah itu dan bisa menguasai Abang Abdi sepenuhnya.
Masih teringat jelas di pikiran Berlin, saat Ibu tirinya mencengkram Bunda di hadapannya. Ibu selalu meneror Bunda dengan perkataan sebagai korban tragedi 5 tahun yang lalu. Yang mengakibatkan seluruh anggota keluarga itu meninggal.
Ibu selalu mengancam Bunda, karena Ibu tahu titik kelemahan mental Bunda ada di perasaan bersalahnya. Ibu terus mempermainkan Bunda. Seolah dirinya bisa melihat hal yang tidak bisa terlihat manusia.
Dirinya terus menerus mempermainkan titik kelemahan Bunda, Berlin bercerita Ibu tirinya selalu bertingkah seperti orang kesurupan dan mengaku jika yang merasukinya adalah salah satu anggota korban kecelakaan itu.
Naura bergidik ngeri dengan seluruh pengakuan Berlin, sekeji itu kah Ibu tiri mereka? Tergila-gila oleh harta, Sampai gelap mata ingin memusnahkan semuanya.
"Siapa yang tahan diperlakukan seperti itu, Mbak? Lambat laun pun Bunda akan semakin merasa bersalah dan mental yang tadi nya baik-baik saja. Jadi berubah rusak ntah bagaimana," ujar Berlin dengan wajah penuh penyasalan.
"Lah emang Abang kemana?" tanya Naura sembari menuangkan air hangat untuk diminumkan pada Berlin.
Berlin menjelaskan, saat itu Bang Abdi tengah mencoba peruntungan di perusahaan mereka yang sudah lama terbengkalai akibat kurangnya penanam saham yang masuk. Bang Abdi banting tulang terkadang tidak pulang dalam beberapa bulan, ia menjalankan kuliah sembari bekerja demi sang keluarga tercinta. Untuk menaikkan derajat keluarga mereka.
Tetapi, Bang Abdi tidak pernah tahu, penderitaan Berlin dan Bunda saat Abang tidak ada di rumah. Di setiap bang Abdi pulang, Berlin yang ingin mencari kesempatan untuk mengadu selalu saja tercegah oleh Ibu.
Ibu selalu membatasi pertemuan antara keluarga itu, Abdi selalu diperhatikan sangat sepesial oleh Ibu saat dirinya pulang. Padahal itu semua hanyalah akal bulus Ibu saja biar Abang tidak menaruh curiga padanya.
Sesaat Abdi pulang, Ibu berlaga seperti orang yang sangat sibuk di rumah. Ia berlaga seolah dirinya lah sangat capek mengurusi Bunda yang sangat histeris di dalam kamar sendirian.
Tak jarang Ibu mengeluh tentang perilaku pada Abdi, agar Abdi menaruh simpati padanya. Dan menganggap dirinya sangat berjasa untuk keluarganya.
"Aku benci itu Mbak!" ucap Berlin dengan air mata yang mengalir deras.
"Berlin ingin membalaskan dendam pada mereka? Jika ia ... mbak berserdia membantumu," ujar Naura dengan kepalan tangan yang menopang dagunya.